
Matari membantu Ayahnya menurunkan sisa-sisa furniture yang ringan. Furniture lama itu tampak bersih. Sepertinya sebelum di bawa, orang suruhan Ayah sudah membersihkannya secara detail. Dia memakai furniture bekas di kamar kakaknya dulu di rumah lama mereka. Sedangkan Bulan masih bertahan di lantai bawah, hanya mengeluarkan barang-barang milik Matari dan Sandra, kemudian pergi ke sekolah seperti biasanya.
Sandra tampak bergantian membantu Matari dan Ayahnya yang sengaja ambil cuti untuk kepindahan kamar anak keduanya. Saat itu hari Jumat di penghujung liburan Ujian Nasional. Wajah Sandra tampak berseri-seri dengan kamar barunya. Matari pun tampak senang dengan keadaan itu. Dia merasa memiliki dunianya sendiri yang
tanpa perlu berbagi dengan orang lain.
Tante Dina yang ternyata juga cuti setengah hari di kantornya untuk mengurus perpanjangan kabel telepon dan membaginya dengan cara parallel dengan lantai bawah sudah stand by dari tadi di dekat meja telepon baru dan sekaligus teleponnya bahkan yang nirkabel, alias tanpa kabel.
“Teleponnya udah siap, Din?” tanya Eyang sambil berdiri di dekat meja telepon.
Matari dan Sandra yang mendengar pertanyaan itu dari dalam kamar Matari sambil merapikan kamar Matari saling bertukar pandang.
“Udah, Bu. Cuma tadi nyari yang modelnya ada kabelnya susah, adanya yang model kaya gini.” Kata Tante Dina.
“Hampir kaya handphone ya. Saya nggak masalah sih, asal dikunci biar anak-anak nggak bisa pakai seenaknya. Kalaupun mau pakai harus izin dulu sama saya. Ruang cuci juga sudah siap ya?” sahut Eyang Putri.
“Udah juga, Bu. Tapi beneran nggak mau pakai mesin cuci di rumah saya? Maksud saya daripada nganggur gitu, Bu. Biar Mbok Kalis nggak harus cuci pakai tangan. Jadi si Mbok bisa sambil ngerjain yang lain,” ujar Tante Dina memberikan saran.
“Udah saya bilang berkali-kali ya, Din. Saya tuh nggak suka mesin cuci. Nggak bersih. Lagian Kalis juga nggak masalah kok. Kamu nggak usah ngatur-ngatur saya, ya!” seru Eyang menggelegar.
Sandra berdecak dan menarik napas. Matari tahu, Sandra pasti sedang berupaya menahan diri untuk tidak keluar dan membela ibunya.
“Saya cuma nawarin kok, Bu. Kalau nggak mau ya nggak papa. Cuma kalau pakai mesin cuci, bisa setengah kering terus diangin-angin paling malam udah bisa disetrika. Anak-anak kan kadang mau pakai seragam juga ternyata pagi-pagi seragam belum siap,” kata Tante Dina lagi.
Matari menyadari, tante Dina ada benarnya. Bahkan, Matari pun selama ini memakai seragamnya dua kali berturut-turut agar ada jeda hari dia bisa memakai seragam yang baru.
“Nggak usah sok ngajarin saya, kamu! Kaya becus aja ngurus anak!” kata Eyang Putri dengan nada yang semakin tinggi.
Sandra akhirnya keluar kamar. Matari hampir ingin menahannya namun diurungkannya.
“Nggak usah ngomong sampai kaya gitu deh, Yang, kalau cuma masalah mesin cuci. Kalau nggak mau ya udah, nggak usah sampai komen ke Mama nggak becus urus anak segala. Emangnya Eyang liat nggak, selama ini aku ada masalah apa? Aku baik-baik aja, aku sehat. Itu nggak becus di mananya?” sahut Sandra dengan nada yang sama tingginya.
“Eh kamu, masih kecil juga, nggak usah ikut-ikut urusan orang dewasa!” seru Eyang.
“Ya emang kalau Eyang jadi aku, bakalan terima, Mamanya dikatain? Udah, Ma. Masalah mesin cuci nggak usah dipusingin. Nanti kalau buru-buru kita ke laundry aja.” Kata Sandra sambil menggandeng Mamanya pergi turun dari situ.
Matari menarik napas. Keinginan untuk segera menjadi sarjana dalam dirinya semakin kuat. “Aku harus segera pergi dari sini!”
***
Tasyakuran sekaligus arisan bulanan berjalan lancar. Sandra dan Tante Dina tampak berpura-pura tidak ada masalah apapun namun sebisa mungkin menghindari berurusan dengan Eyang. Akhirnya, kebanyakan Matarilah yang disuruh-suruh oleh Eyang ke sana ke mari. Matari tak bisa protes, mengingat ada Ayahnya di situ. Ayahnya akan selalu membela ibunya. Sehingga Matari malas berkonfrontasi sedikitpun.
“Sibuk banget kayanya?” tanya Iko tiba-tiba yang sudah berdiri di dekat Matari.
“Iya, Ko. Maklum, banyak tamunya,” jawab Matari sambil menyerahkan snack di dekat meja Iko.
“Emang yang lain mana?” tanya Iko.
“Kakak gue kan masih sekolah. Emangnya lo? Malah bolos. Kalau Sandra sama Tante Dina di belakang. Biasaaaa beberes piring, gelas, dicicilin biar ntar kalau udah pada pulang, nggak numpuk,” jawab Matari. “Udah ah, gue *s*tand by sini aja. Bosen gue di dalam. Isinya orangtua mulu.”
“Iya kan nggak bolos-bolos amat, gue mau ke Bandung jalan-jalan. Tapi mampir dulu ke sini,” kata Iko sambil mengambil salah satu snack yang tersedia yaitu bolu kukus.
“Enak banget ke Bandung main, malah diizinin orangtua segala,” kata Matari. “Gue mana bisa. Mana pernah. Pendidikan nomor satu.”
“Kalo nyokap bokap sih asal gue nggak ranking paling bawah aja udah seneng mereka. Jadi kadang weekend gini kita jalan-jalan sebentar. Refreshing. Yang deket-deket aja kaya Bandung, Anyer, Sukabumi atau Bogor, gitu-gitu aja sih. Baru ntar kalo liburan panjang suka ngajak gue ke luar,” jawab Iko. “Justru malah enak kalau lo pinter. Nggak malu juga kalo ditanya ibu-ibu kompleks. Hahahah.”
“Hahahha. Lo bertiga doang?” tanya Matari.
“Nggak. Nanti mampir ke rumah Raline. Dia ikut juga,” jawab Iko.
Matari mengangguk-angguk. “Kirain belum dapat restu, orang gue disuruh tutup mulut waktu Raline nangis waktu itu.”
Iko tertawa. “Nggak. Itu cuma berantem-berantem kecil aja. Biasalah kalo pacaran. Cuma nggak enak aja kalau Mama tahu gitu. Dikiranya gue ngapain anak orang. Lo sendiri, gimana?”
__ADS_1
“Gimana apa maksudnya?”
“Bukannya lo lagi deket ama cowok ya?”
“Ah, kata siapa?”
“Gue pernah liat kalian boncengan sepeda bareng pake sepeda lo. Terus lo turun depan rumah bawa sepeda lo masuk, dianya jalan kaki lewat depan rumah gue, teruuuus aja, sampe nembus ke kompleks sebelah tuh, yang kalau malam, gang situ suka gelap. Tapi dia berani banget. Gue yang khawatir, hehe.”
“Oh…”
Matari menyadari bahwa yang dimaksud adalah Davi. Selama ini Matari tidak pernah tahu jalan tembus ke kompleks Davi. Bahkan yang menurut info dari Iko gelap itu.
“Kok Oh? Siapa dia? Kayanya gue pernah ketemu ya? Yang waktu itu di pos security itu kan?”
“Hmmm, iya, kok lo inget aja sih?”
“Ya ingetlah. Temen gue nggak seberapa banyak, Ri….”
“Masaaa? Lo aja punya temen-temen genk sepedaan?”
“Hahaha, iya, tapi kan nggak deket banget. Maksud gue, lo kan deket sama gue, jadi gue ingetlah momen-momen sama lo. Orang-orang di sekitar lo. Apalagi gue lihat kalian boncengan ga sekali dua kali.”
Matari cuma tersenyum. Jika didengarnya beberapa bulan yang lalu, mungkin saat ini dia akan berdebar kencang seperti sebelumnya.
“Jadi, siapa?”
“Apaan?”
“Cowo itu. Siapa namanya?”
“Ada deh….”
“Hmmm, udah mulai rahasia-rahasiaan ya?”
“Nggak. Cuma gue masih kecil, Ko. Emangnya boleh ya pacaran? Bokap gue nggak ngebolehin juga.”
“Trus bokap gimana?”
“Yaelah, nggak usah dipikirinlah. Backstreet aja dulu. Kalau misal efeknya bagus, baru lo kenalin. Setuju atau nggak setuju belakangan. Wajar kali, namanya juga masa puber. Asal lo jangan macem-macem yeeee….”
“Macem-macem gimana?”
“Lo polos atau beneran nggak tahu sih?”
Matari menggeleng.
“Lo tahu kan. Kaya sampe ML gitu. Lo belum saatnya deh.”
“Apaan tuh ML?”
Iko terkekeh. “Lo nggak tahu?”
Matari menggeleng.
“Udah, lo keep aja dulu. Nanti lo tanya Sandra atau Bulan deh. Eh jangan Bulan. Bahaya dia. Bisa ngadu ke Raline. Hahahah. Tapi jangan tanya sama para orangtua di rumah lo ya. Bisa dikurung lo ntar nanya gituan. Katanya pamali hahahah…”
Matari cuma meninju lengan Iko dengan keras. Tamu-tamu masih berlalu Lalang. Sebagian besar adalah tetangga satu kompleks beserta para suaminya. Tidak ada yang bernar-benar dikenal Matari. Saat itu dia merasa beruntung, Iko bisa ada di dekatnya dan seolah-olah menggantikan tempat Bulan, jika dia tidak ada.
***
Matari mengetuk kamar Sandra dengan pelan. Sandra membukanya. Ternyata gadis itu belum tidur.
“Gue masuk ya?” tanya Matari sambil membawa selimutnya.
“Masuk aja. Ada apaan? Gue udah mau tidur. Lo mau tidur bareng, bawa-bawa selimut gitu?” tanya Sandra heran.
__ADS_1
Matari meringis.
“Iya. Gue mau nebeng lo. Kan Kasur lo size queen, bisalah berdua.”
Sandra mengangguk kemudian mempersilahkan Matari masuk kemudian menutup pintu kamarnya. Matari sedikit agak iri karena kamar Sandra ternyata memakai AC sedangkan kamarnya hanya memakai kipas angin lama yang suaranya berisik. AC itu sudah dikompromikan dengan Eyang dan tidak bisa berdebat lagi, karena kamar Sandra
tidak ada jendela. Kamar tidur Matarilah yang mendapatkan sisi jendela di lantai dua.
Matari menatap sekeliling kamar Sandra yang isi furniture-nya lebih modern dibanding miliknya. Karena dia anak semata wayang dan kedua orangtuanya berkecukupan, furniture yang dibelikan pun hasil pilihan Sandra sendiri. Bukan tipe furniture childish, namun yang long lasting dan minimalis.
“Kalau lo nggak bisa tidur, tidur sini aja. Wajar, lo belom pernah tidur
sendirian sebelumnya kan? Pasti rasanya aneh. Kalo gue udah biasa. Apalagi kalo
nyokap bokap lembur semua. ART gue pun, Mbak Arini, tidurnya di kamar belakang.
Jauh dari kamar gue.”
“Oh iya. Mba Arini di mana sekarang, Ndra?”
“Hmmm, dia ikut sama pengontrak rumah gue sekarang. Emang disuruh sama
Mama. Biar rumahnya tetep bersih. Sharing budget gitulah ceritanya. Kalo di
sini nggak mungkin kan. Udah ada Mbok Kalis. Lagian Eyang kurang cocok sama Mba
Arini, katanya berisik. Yah gimanaaa, orangnya emang gitu sifatnya. Cuma cocok
aja sama rumah gue yang sepi banget dulu.”
Sandra merebahkan ke kasurnya. Matari tiduran di sampingnya. Kamar Sandra lebih nyaman dan hidup, karena hampir seperti kamar anak perempuan pada umumnya. Bahkan ada televisi di sana. Sedangkan Matari, untuk meminta komputer pada Ayahnya saja tidak berani.
“Ndra, gue mau nanya dong.”
“Apaan?”
“ML tuh apaan sih?”
Sandra menoleh, kemudian terduduk. “HAH? KENAPA LO NANYA ITU? DAVI NGAJAK LO ML?”
Matari melempar bantal ke Sandra. “NGAWUR! Makanya gue nanya sama lo. Gue nggak tahu.”
Sandra kemudian berbisik. “ML itu making love. Tahu kan? Itu loooohhh…. Gituan…” sahut Sandra sambil memberikan isyarat gerak yang lucu dengan kedua tangannya.
Matari tertawa, kemudian mengerti maksudnya, free sex. “Ya ampuuuun, baru tahu gue. Polos banget dah.”
“Jadi beneran?”
“Apaaaa?”
“Davi ngajak lo ML?”
“GILA LO! Kagak! Kok mesum banget pala lo. Kagak! Tadi si Iko ngasih wejangan sama gue. buat kalo mau pacaran ya pacaran aja. Nggak usah takut. Tapi harus bisa jaga diri gitu. Jangan sampe ML.”
“Oalaaaah, si Iko toh yang ngomongin.”
“Iyaaaa….”
“Hahahaha, lo mainnya kurang jauh sih. Soalnya kalau pas gue abis pramuka atau malam-malam kan, gue suka nongkrong di Lia. Nah kakaknya tuh kalo pacaran suka nggak tahu tempat. Kadang sampe di kamar berduaan. Yaa si Lia udah suudzon aja. Ya udah dia suka ngomong lagi ML kali. Gituuuu…”
“Ohhh, gitu. Makanyaaa si Iko wanti-wanti banget ama gue.”
“Iyalah. Iko kan anak baik-baik. Lo nggak liat dua orangtuanya bentukannya kaya untouchable gitu? Mama gue yang orang kantoran aja auranya beda sama Tante Indira. Bener-bener aura bangsawan deh, hahahaha….”
“Hahahaha, iyaaa. Ya udah gue cuma mau tanya itu aja sih. Tapi btw, kamar lo enak juga, adem.”
“Hmmm, kalo lo lagi pengen tidur sini ya ke sini aja. Tapi jangan tiap hari ye. Gue juga butuh waktu buat sendiri.”
__ADS_1
“Iya, iya. Makasih ya, Sandra….”