Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama
Bab 12 Sihir


__ADS_3

14 Februari 2001


Semua siswa berkumpul di Gedung serbaguna berukuran sebesar lapangan


basket indoor itu. Ada yang duduk di kursi penonton, namun lebih banyak yang


memilih duduk lesehan di pinggir lapangan sambil membawa snack dan minum yang sudah dibeli di kantin. Panggung performance berada di salah satu sisi lapangan. Lengkap dengan lampu-lampu dan alat band. Tahun ini, lomba puisinya terasa megah dengan bantuan sponsor orangtua murid, termasuk orangtua Lisa tentu saja.



Dan karenanya, seluruh siswa tertarik untuk datang, mereka tidak menyangka akan diadakan semegah itu.


Tahun lalu mendapatkan peserta lomba saja sudah bersyukur. Tapi tahun ini


antusiasmenya luar biasa. Kak Ben sebagai ketua panitia tampak senang dan


sumringah. Tidak sia-sia usahanya selama ini.


Davi berjalan santai bersama Abdi. Di depan mereka, team ekskul sepakbola berjalan mendahului.


“Mau di atas atau di bawah aja?” tanya Davi pada Abdi sambil menunjuk kursi berjajar di area kursi penonton yang mulai penuh.


“Lo nggak mau lihat Matari nyanyi?” sahut Abdi kemudian.


Davi menghentikan langkahnya. “ Hah? Apa lo bilang?”


Abdi terkekeh. “Sorry, gue baru boleh kasih tahu lo sekarang, atas


permintaan Lisa, kalau Matari hari ini ikutan perform juga.”


“Anjirrr, lo serius?”


“Serius gue. ngapain gue bohong.”


Davi menatap sekeliling, saat itu Matari tak tampak di mana-mana.


Padahal seluruh panitia sudah stand by dengan seragam kaos mereka yang berwarna


Pink menyala. Menyesuaikan bahwa hari itu adalah hari kasih sayang.


“Gimana? Sini ikut gue, jangan terlalu dekat panggung, nanti muka Matari


nggak keliatan loh."


Abdi mengajak Davi duduk lesehan di pinggir lapangan, berjarak kira-kira


hanya sekitar 5 meter dari panggung. Namun dari tempat duduk itu seluruh


panggung akan terlihat jelas.


Davi duduk di sebelah Abdi. Masih dengan perasaan campur aduk, saat dia


melihat Thea ternyata duduk di dekat mereka. Tentu saja sahabatnya akan


perform, pasti dia akan mencari spot bagus juga. Thea membawa kamera roll. Dan


beberapa kali berfoto dengan team basketnya.


“Lo ada susunan acaranya?” tanya Davi.


Dia baru ingat, seluruh siswa seharusnya dibagikan, namun karena Davi


merasa tidak penting, kertas susunan acara itu dia buang begitu saja di tempat sampah.


“Tenanggg… ada dong. Makanya jangan dibuang. Nih…”


“Matari nomor berapa, Di?”


“Dia abis Made baca puisi.”


“Performance oleh ekskul Mading? Ini?”


“Iya. Emang sengaja ditulis gitu. Buat surprise katanya.”


Davi menatap Abdi bingung.


“JANGAN KE-GR-AN LO. Bukan surprise-in elo. Tapi buat surprise seluruh


siswa. Kata yang udah liat, kata si Ronald, bagus banget mainnya. Kayanya


semacam buat promoin ekskul juga sih.”


“Oh, gitu. Dia yang nyanyi beneran, Di?”



“Iyaaa, bujaaang. Diaaa yang nyanyi.”


Setelahnya Davi merasa waktu berjalan lambat. Performance demi


performance yang tak lebih dari 15 menit terasa lamaaa bagi Davi. Hatinya


berdegup, melihat gadis yang disukainya akan naik panggung. Dia bisa leluasa melihat Matari dari jarak sedekat ini. Tanpa ada penghalang dan bahkan terbiaskan oleh penonton lain.


Hingga akhirnya giliran I Dewa Agung Made tiba untuk naik ke atas


panggung. Ternyata Made sekaligus ingin menembak salah satu temannya serta ikut


lomba puisi. Puisinya tentu tentang perasaannya pada gadis yang disukainya. Made


anak kelas 1 B. Tubuhnya kurus dan tinggi. Tampak keringat membasahi wajahnya.


Ruangan Serbaguna yang dingin karena tambahan AC outdoor tak membuat


keringatnya berkurang.


Setelah dirinya membaca puisi, Made meminta izin untuk menembak Farah,


anak kelas 1 A kepada juri dan para guru. Supaya acara tidak monoton dan


membosankan, tidak ada satupun yang menolak permintaannya. Sayangnya, Farah


tidak menjawab apa-apa. Dia hanya bilang untuk menunggu beberapa hari lagi.


Penonton pun kecewa. Proses penembakan itu terasa cepat dan berlalu tanpa istimewa.


“Gile, Made berani juga.” Puji Abdi sambil tertawa sambil memperhatikan


Made turun panggung bersama Farah.


“Kalau orang udah suka juga apapun dilakuin kan?” sahut Thea yang


tiba-tiba ada di tengah mereka. “Di, habis ini Matari lho.”


Abdi menatap Thea dengan bingung. “Iya, gue tahu kok.”


“Gue penasaran banget performnya. Lo gimana, Di?”


“Iya, penasaran dong. Kan itu ekskul gue juga, The.”



Thea mengangguk-angguk, kemudian menoleh pada Davi. Dulu, biasanya Davi


akan bersikap kikuk jika berada di dekatnya. Malu-malu, mengajak ngobrol dengan


takut-takut atau hanya melihat sepatunya sendiri. Tapi tidak saat itu. Davi bahkan sangat


acuh dengan kehadirannya. Dia terus menerus melihat ke arah jam dan panggung


bergantian. Seakan-akan Thea tidak ada di situ.


“Oke, temen-temen. Made udah maju nyatain cinta nih. Ada lagi nggak yang


mau maju nyatain cinta? Hahahahha.” Suara Kak Onad tiba-tiba menggaung lagi.


Kak Onad dan Kak Rachel, anak Osis dari kelas 2 yang bertugas menjadi MC


saat itu sudah berdiri di atas panggung. Made sudah berlalu. Farah pun kembali


ke gerombolan kelas 1 A yang riuh menyambut kedatangannya kembali.


“Emang hari ini kan bertepatan dengan hari kasih sayang, Nad. Pasti


banyak nih di antara temen-temen semua di sini yang saling ngasih cokelat nih.


Lo dapet nggak Nad?” sambut kak Rachel.


“Dapetttt… dapet harapan palsuuuu, alias bungkusnya doang.” Sahut Kak


Onad dengan gayanya yang lucu.


Penonton tertawa.


Kak Rachel menatap sekilas CUE CARD-nya. Sebuah kartu yang berisi daftar acara dan sekilas informasi tentang setiap acara yang akan mulai


“Hahaha, gokiiiil. Oh iya, setelah ini akan ada performance dari ekskul


MADING. Temen-temen tahu nggak, ekskul madinggg?”


“TAHUUUUUU….!”


“Nah, mereka unjuk diri untuk perform. Mana nih yang punya gawe? Siapa


aja ini? Hmmm, SENOOOOO…. CITRAAAA….”


Kak Seno dan Kak Citra keluar dengan kostum gaya 80-an yang hype


berwarna-warni terang. Melambaikan tangan. Penonton bergemuruh.


Gaya mereka yang tidak membosankan membuat penonton kembali ceria.


“Terus ada PITOOOOOO….”


Pito naik ke panggung sambil membawa stick drum kesayangannya. Kostumnya


senada dengan Kak Seno dan Kak Citra.


“LISAAAAAA….”


Lisa naik ke panggung. Tingginya yang menonjol dan wajahnya yang blasteran


tampak bersinar di bawah lampu panggung. Penonton terpana. Lisa memang tampak secantik itu, seperti biasanya. Dan aura bintang memang terlihat penuh di sosoknya.


“WADUH, NAD. BULE DARI MANA INI NAD? MBA, MBA, BISA BAHASA INDONESIA


KAN?” seru Kak Rachel bercanda pada Lisa.


Lisa hanya melempar senyum. Kemudian berjalan ke arah keyboard. Tak banyak yang tahu Lisa bisa memainkan keyboard. Semua orang selalu berpikir bahwa dia hanya mengandalkan kecantikannya. Meskipun itu benar, namun bermain keyboard? Tidak ada yang berpikir ke arah sana.


“MASIH JOMBLO NGGAK YA????” seru Kak Onad iseng disertai gemuruh Gedung


serbaguna. “CANTIK YA? Tapiiiii…. Belum selesai, masih ada lagi….”


“MATARIIIII….!!!”


Davi langsung setengah berdiri. Thea sampai kaget dan terperangah


melihat tingkahnya. Abdi tertawa-tawa melihat tingkah laku sahabatnya itu.


“Dav, dav, duduk dav, belakang lo nggak bisa lihat tuh.” Kata Abdi


mengingatkan saat melihat gerombolan di belakang Davi yang protes.


Matari muncul tidak seperti biasanya. Tampak anggun dengan dress simple

__ADS_1


bermotif polkadot hitam putih. Rambutnya diikat ke atas. Lipstick dan sepatu berwarna merah menyala


yang sengaja disematkan di bibir dan kakinya tampak cocok dengan kostum hari itu.


 


 



“EH EH EH, INI ATLET PANAHAN KESAYANGAN SMP KITA ITU KAN? LO BISA


NYANYI, RI?” tanya Kak Onad bergurau.


Matari meringis sambil mendekat ke arah Kak Seno untuk di briefing sebentar


bersama teman-temannya yang lain.


“Emang kalau udah nge-band, siswa-siswa itu kaya keluar aura nya nggak


sih, Nad? Gila lho, Matari sama Lisa, gue sebelumnya nggak tahu mereka siapa.


Sekarang mereka berdiri di deket gue aja bikin merindingggggg. Oke, Sementara


mereka persiapan dulu, kita tanya sama temen-temen di sini…”


Davi tak melepaskan pandangannya dari Matari. Dan Thea memperhatikan


itu. Jangan-jangan…


“Parah loooo, masa nggak tahu siapa mereka? Rachel ini gaulnya sama anak


Basket terus temen-temen, jadi dia nggak tahu banyak makhluk-makhluk indah yang


lain di sekolah kita.”


“Enak aja. Ya mohon maaf ya, harap maklum team basket sedang sibuk


persiapan kejuaraan. Sambil menyelam sambil promo ekskul sendiri. Ya nggak?”


Kak Rachel dan kak Onad terus mengajak penonton untuk berinteraksi


mengenai Ekskul MADING. Seperti siapa pembinanya. Ruangannya di mana. Seperti


apa kegiatannya. Dan lain-lain sambil menunggu Matari dan teman-temannya siap.


“Gimana? Udah? Udah siap? Okeeeee, temen-temen ini dia persembahan dari


ekskul MADING…”


“SEANDAINYA AKU PUNYA SAYAP feat SAYAP-SAYAP PATAH” seru Kak Onad dan


Kak Rachel bersamaan.


KAK Seno memetik gitar listriknya. Lisa mulai memainkan keyboardnya


bersamaan dengan tabuhan drum lembut Pito. Matari mendekat ke arah dua microphone, yang sudah dipersiapkan team dekorasi untuk mereka, bersama Kak Citra. Kemudian menarik napas sebentar. Tak disangkanya, ruang


serbaguna yang selama ini menjadi tempat dirinya berlatih panahan, menjadi


saksi pertama kalinya dia harus tampil di depan orang sebanyak itu.


“Seandainya aku punya sayap


Terbang, terbanglah aku


Kucari dunia yang lain


Untuk apa disini...."


Alunan suara Matari yang halus, menyihir seisi ruangan. Termasuk Davi. Ruangan Serbaguna yang tadinya riuh, mendadak sunyi. Matari menyapukan padangannya dan bisa melihat kehadiran Davi di sisi sana, menatapnya penuh dengan kekaguman.


"Seandainya dapat kau rasakan


Kejam, kejamnya dunia


Tiada lagi keadilan


Untuk apa ku disini..."


Lagu berubah tempo, menjadi sedikit lebih cepat dan semangat, namun masih bergaya pop. Matari berubah lebih energik, dia sendiri merasakan bahwa energi teman-temannya yang membawa masing-masing alat musik, seakan-akan merasuki dirinya.


"Menjerit dan menangis, pilu dan derita


Merintih dan berdoa di manapun berada”



Suara Matari membius penonton di hadapannya. Semua terdiam. Kak Citra


mulai membacakan puisi Kahlil Gibran.


"Wahai langit


tanyakan pada-nya


mengapa dia menciptakan sekeping hati ini…


begitu rapuh dan mudah terluka…


saat di hadapkan dengan duri-duri cinta


begitu kuat dan kokoh


saat berselimut cinta dan asa…


mengapa dia menciptakan rasa sayang dan rindu


di dalam hati ini…


menyisahkan kegelisahan akan sosok sang kekasih


menimbulkan segudang tanya


menghimpun berjuta asa


memberikan semangat…


juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira


mengapa dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa


kegelisahan dalam relung jiwa


megepit bayangan


menyesakkan dada…


tak berdaya melawan gejolak yang menerpa…


wahai ilalang…


pernah kan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini…


mengapa kau hanya diam


katakan padaku


sebuah kata yang bisa merendam gejolak hati ini…


sesuatu yang dirasakan raga ini…


sebagai pengobat tuk rasa sakit yang tak terkendali


desirangan angin membuat berisik dirimu


seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku


aku tak tahu apa maksudmu


hanya menduga… bisikanmu


mengatakan ada seseorang di balik bukit sana..


menunggu dengan setia…


menghargai apa arti cinta…


hati yang terjatuh dan terluka


merobek malam menoreh seribu duka


kukepakkan sayap-sayap patahku


mengikuti hembusan angin yang berlalu


menancapkan rindu…


disudut hati yang beku…


dia retak, hancur bagai serpihan cermin


berserakan …


sebelum hilang di terpa angin…


sambil tertunduk lemah…


ku coba kembali mengais sisa hati


bercampur baur dengan debu


ingin kurengkuh…


ku gapai kepingan di sudut hati…


hanya banyangan yang kudapat..


ia menghilang saat mentari turun dari peraduanya


tak sanggup ku kepakkkan kembali sayap ini


ia telah patah…


tertusuk duri duri yang tajam…


hanya bisa meratap…


meringis…


mencoba mengapai sebuah pengangan…"


 


Kak Citra membacakan puisi dengan penuh penghayatan. Musik


masih mengalun pelan di sampingnya. Kak Citra seakan-akan bisa memboyong piala juara jika dia ikut kompetisi. Namun tidak dilakukannya. Dia tahu, dia sebagus itu. Kahlil Gibran adalah idolanya.


Davi merasa dirinya ingin meledak saat Matari hanya berdiri sambil menari-nari kecil di depan microphone-nya menunggu gilirannya menyanyi lagi. Baginya, Matari sungguh mempesona dibanding hari biasanya. Dulu, saat menyukai Thea, dia tidak pernah merasakan hingga seperti itu.


“Seandainya aku punya sayap


Terbang, terbanglah aku


Kucari dunia yang lain

__ADS_1


Untuk apa disini


Seandainya dapat kau rasakan


Kejam, kejamnya dunia


Tiada lagi keadilan


Untuk apa ku disini


Menjerit dan menangis, pilu dan derita


Merintih dan berdoa di manapun berada


Seandainya aku punya sayap


Terbang, terbanglah aku”


Suara Matari menggaung hingga detik terakhir. Tanpa sadar air matanya


menetes. Dari jauh, Davi menatap Matari tanpa berkedip. Dan Matari menyadari


hal itu beberapa detik. Video tentang perang kemerdekaan yang diputar di layar besar di belakang mereka, tampak cocok membuat lagu itu terdengar dan terlihat sungguh sangat menyayat dan menyedihkan.


Matari mengusap air matanya. Dia melirik Kak Citra. Matanya juga basah.


Beberapa penonton di hadapannya juga tampak sedikit menangis. Bahkan Bu Tasya


menangis sesenggukkan dari tempatnya duduk.  Kemudian beliau mendahului bertepuk


tangan yang diikuti oleh penonton lainnya.


“Wowww, LUAR BIASA!!! Tunggu-tunggu jangan bubar dulu. Kita sebagai MC


mau nanya nih. Siapa yang mau jawab? Seno? Mba Matari yang nyanyinya dahsyat?” suara


Kak Onad terdengar mendekati mereka.


“Huhuhuhu… bagus banget, gue sampe nangis juga. Cocok banget sama video di belakang, kaya pengiring lagu jaman perang gitu. Iya, nggak, Nad?” timpal Kak Rachel.


“Iyah, parah sih, ini bagus banget. Kalian keren banget sih. Siapa yang


punya ide?” tanya Kak Onad sambil menyodorkan microphone ke Matari.


“Bu Tasya.” Sahut Matari pendek.


Guru-guru langsung heboh memuji Bu Tasya.


“Kenapa memilih lagu ini? Seno?”


“Hmmm, sebenarnya gini, Nad. Bu Tasya awalnya ngasih kita ide untuk


nyanyi sambil baca puisi, tapi lagunya harus lagu 80-an gitu, yang bisa


diterima oleh guru-guru. Dibantu beberapa orang, kita aransemen ulang lagu


BAPAK RINTO HARAHAP ini. Biar bisa didengar oleh semua penonton juga. Video pengiring pun sebenernya itu ide dadakan. Karena kan kita juga mau menunjukkan bahwa ekskul mading itu seru lho. Kerjaannya nggak


nempel-nempel mading doang. Tapi kita juga bisa perform kaya gini. Jadi kalau


tahun ajaran baru ada yang mau gabung, silahkan ya.”


Tepuk tangan terdengar riuh membahana.


“Eh, Bu Tasya mau naik? Mari… mari bu…”


Bu Tasya naik dengan cepat. “Terimakasih untuk Seno, Citra, Lisa, Pito


dan Matari. Kalian semua luar biasa. Hebat! Ibu bangga sama kalian. Seperti yang


dibilang oleh Seno, jika memang ada yang mau gabung dengan ekskul Ibu, kalian


bisa bergabung di tahun ajaran baru. Kalian akan ketemu dan belajar jadi


orang-orang luar biasa seperti mereka.”


Tepuk tangan terdengar lagi.


Bu Tasya mengelus Pundak Matari. “Hebat kamu. Terimakasih banyak ya.


Suara kamu bagus. Saya sampai terharu.” Bisiknya.


Matari tersenyum puas. Latihannya yang tanpa jeda seminggu lebih kemarin


tidak sia-sia.


***


“Keren, dik. Keren banget!” beberapa anak band yang akan perform saat


itu memuji Matari. “Kalian KEREN banget!”


Kak Nana mendekat. “Gilaaaa… Matari, lo keren banget. Citra menghayati


banget. Semuanya BAGUS. Gue sampe merinding di belakang stage. Gue udah lama


nggak kaya gini. Feel kalian dapet banget.”


“Calon penerus lo kayanya nih, Na!” kata anggota band Kak Nana, Kak Fatur.


“Enggak, dia nggak cocok main musik rock. Suaranya halus, lembut dan


bening, kaya menyihir gue ke belahan dunia lain gitu. Apalagi pas videonya perang kemerdekaan. Gile, gue kaya ngerasa nunggu boka” Sahut Kak Nana.


Matari cuma tersenyum-senyum. Lisa mendekat dan mengajak untuk mengganti


baju mereka sekaligus menghapus riasan make up Mama Lisa yang sengaja dibuat


tebal agar menyesuaikan tema tahun 80-an.


“Ma, tadi ambil foto kita nggak, Ma?” tanya Lisa pada Mamanya yang


menunggu di belakang panggung.



“Ambil dong. Nanti mau Mama cuci cetak yang besarrrr. Biar Papamu lihat.


Pasti seneng dia.” Sahut Mama Lisa sambil membantu Lisa melepas aksesoris.


“Eh tante, kita-kita juga mau dong.” Kata Kak Seno kemudian.


“Siap. Kalian terima beres aja. Matari juga mau kan?” kata Mama Lisa senang.


“Saya yang kecil aja, Tante. Biar bisa dimasukkin ke album foto.”


“Okeee, siappppp. Tadi Tante takjub sama kalian. Terutama Matari. Hebat


banget. Pasti Ibumu bangga sama kamu, Nak.” Kata Tante Lisa yang membuat


tenggorokan Matari tercekat.


“Mama nih. Matari jadi sedih tuh.” Ujar Lisa.


“Aduh, maaf ya, Nak. Kamu jangan sedih ya. Sini Tante peluk. Panggil


Mama aja ya ke Tante. Kalian semua juga. Pokoknya semuanya yang main sama Lisa


udah kaya anak Tante semua.” Kata Mama Lisa kemudian disusul sorakan teman-teman


Matari.


“Eh udah-udah, foto dong, ayo fotooo semuanya sama-sama.” Ajak Kak Nana


sambil menyuruh teman-teman sekaligus adik-adik kelasnya berpose.


***


Matari memainkan ikat rambutnya sambil bersandar di dekat dinding pintu


masuk ke area kamar mandi. Di dalam, Lisa dan Kak Citra masih sibuk menghapus


riasan masing-masing dibantu oleh Mama Lisa.


“Matari…”


Matari menoleh dan melihat Davi berdiri beberapa meter darinya. Entah sudah


berapa lama Davi berada di situ tanpa disadarinya. Menatapnya dengan lekat.


Perutnya kembali terasa aneh, kupu-kupu itu rasanya hadir lagi di perutnya.



“Bisa ke sini sebentar nggak?” tanya Davi sambil melambaikan tangannya.


Matari berjalan pelan mendekat ke arah Davi. Pandangan matanya yang


tajam namun sekaligus terasa lembut itu membuatnya terasa kikuk.


“Kamu tadi… can… keren…” kata Davi terbata. “Sini tangan kamu…”


Matari merasa bingung dan malu. Kenapa Davi jadi mendadak kamu-kamu ke


dirinya.


“Sorry, aku cuma sempet beli Toblerone di toko deket sekolah. Happy Valentines’s


Day.”


Matari menerima pemberian Toblerone yang sudah terasa empuk di dalamnya


karena mencair kepanasan. Menyadari itu, Davi tertawa.


“Aku janji nanti beliin yang lebih oke.”


Matari tertawa.


“Itu sebenernya tadi beli asal aja. Kalo kamu ada, ya aku kasih. Kalo


enggak ya aku makan sendiri. Maaf ya. Kayak nggak niat ngasih. Soalnya kupikir


kamu panitia dan bakalan sibuk banget jadi bisa aja kita nggak ketemu. Tapi


kamu malah nyanyi di depan.”


“Siapa yang bilang kalo gue panitia?”


“Li…sa?”


“Hahahaa, gue bukan panitia. Ini udah mau pulang kok, yang perform boleh


pulang lebih awal.”


“Mau balik lagi ke sana nggak? Nonton bareng?”


Matari menoleh dan melihat Lisa, Kak Citra dan Mama Lisa yang diam-diam


memperhatikan mereka berdua. Lisa memberi isyarat agar Matari kembali ke Gedung


Serbaguna bersama Davi.


“Iya, boleh deh. Tapi bentar aja ya. Gue cape banget.”


“Siap, Nyonya.”

__ADS_1


***


__ADS_2