
“Matari, English lo bagus nggak sih?” tanya Gilang pada Matari saat jam istirahat pertama.
“Lebih bagusan dia daripada lo pastinya.” Kata Thea kemudian.
“Ngeselin lo. Gue nanya dia nih. Lo coba denger dua lagu ya. Cuma ini agak keluar dikit dari ciri khas lo. Untuk lagu pertama akan duet sama gue, jadi lo santai aja. Nah lagu kedua, gue pengen lo nyanyi sendiri.” Timpal Gilang.
“Emang lagu apaan sih, Lang?” tanya Matari sambil duduk di sebelah Gilang.
Gilang membuka majalah chord musik. Dibukanya dua halaman yang telah ditandainya.
“Tenang, semua anggota band udah gue rekamin di kaset. Tugas kalian semua minggu ini dengerin lagu itu berulang-ulang.” Kata Gilang dan menyerahkan kaset-kaset yang telah diisi dua lagu untuk didengarkan Matari dan beberapa sisanya untuk diserahkan pada anggota band yang lain.
“Wah, kayanya lagunya susah nih.” Kata Thea sambil melihat kaset rekaman itu.
“Hmmm, gue bawa Walkman nih. Gue dengerin dulu ya.” Kata Matari sambil merogoh tas ranselnya.
Matari mengeluarkan Walkmannya.
“Eh nama band kalian apa sih?” tanya Thea kemudian.
“Eeeee…. APA YA?” Gilang kemudian ngakak. “Nggak tahu juga gue. Apa ya, Ri?”
Matari mengangkat bahunya.
“Lo kan pinter nulis. Cariin kata serapan atau kata aneh-aneh gitu deh yang cocok.”ujar Gilang.
“Okeee, gue cariin ya. Gue ke perpus dulu sekalian cari referensi.” Kata Matari.
“Gue nggak ikut ya, gue nungguin es milo gue dari Lisa.”
“Nggak papa, gue ke sana sendiri.”
Matari mengambil walkmannya dan kemudian memakai jaket. Walkmannya diletakkan di salah satu sakunya yang cukup besar itu, headsetnya langsung dia pakai.
Perpustakaan sekolah Matari terletak di dekat ruang guru. Berlantai dua, karena tergabung dengan lab komputer. Jaraknya cukup jauh dari deretan kelas 1. Namun, Matari bisa berjalan cukup cepat untuk menghemat waktu. Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya dengan cepat.
Matari menghentikan langkahnya dan menoleh, Davi sudah berdiri di belakangnya. Meringis.
“Mau ke mana?” tanya Davi kemudian.
“Perpus. Mmm, mau ikut?”
Saat itulah wajah Davi berubah, selama ini Matari tidak pernah mengajaknya duluan. Selalu dirinya yang inisiatif memulai ajakan. Namun kali ini berbeda, Matari mengajaknya tanpa ragu.
Davi berjalan beriringan dengan Matari. Bukan hanya Matari saja yang selama ini merasa ada kupu-kupu berterbangan di perutnya. Bahkan Davi sudah merasakan sejak pertama kali melihat Matari memanah papan target beberapa bulan yang lalu. Dan kupu-kupu itu ibaratnya, bermukim di perutnya semenjak itu, bahkan tidak berhenti mengepak-kepakkan sayapnya.
Di dalam perpus, ramai beberapa anak kelas 3 yang sedang mencari referensi. Mengingat mereka sebentar lagi akan ujian nasional. Matari masuk ke dalam lingkungan perpustakaan dengan lihai, seakan-akan dia hampir tiap hari ke tempat ini. Davi menyadari, Matari mungkin yang dikenalnya akan banyak memberikan kejutan-kejutan lain yang tidak diketahuinya sebelumnya.
Seperti saat ini, saat dia berjalan di antara rak-rak buku perpustakaan yang panjang, mencari dengan rasa percaya diri. Seakan-akan Matari sudah tahu buku yang dicarinya ada di rak sebelah mana. Davi mengikutinya dengan penuh kekaguman. Dia tidak salah memilih gadis yang disukai sepertinya. Tidak membosankan dan selalu ada hal baru yang membuat rasa sukanya bertambah setiap hari.
__ADS_1
“Ini dia. Kemarin sempet lihat, kayanya bagus.” Kata Matari sambil mengambil sebuah buku dari rak.
“Apaan tuh?” tanya Davi, kepo.
“Novel gitu sih.” Sahut Matari sambil memperlihatkan halaman depan buku novel berjudul “Asmaraloka” itu.
“Bagus?” tanya Davi sambil meringis.
“Nggak tahu. Hahahah, cuma penasaran aja. Gue baca sekilas dulu ya, kalau bagus mau gue pinjem sebenernya.”
Davi sesungguhnya hanya berpura-pura tertarik. Buku adalah hal terakhir yang harus disukainya.
“Oke, cari bangku dulu yuk.” Kata Davi sambil berjalan meninggalkan area rak dan menuju ke area baca, sebuah area besar berisi deretan meja dan kursi.
Davi duduk di salah satu bagian meja yang agak sepi. Matari duduk di sebelahnya.
“Mau sambil dengerin musik nggak?” tanya Matari.
Davi melihat sekeliling dan menyadari bahwa di situ ada majalah bola. Dia merasa, majalah bola bisa sedikit mengisi waktunya sambil menunggu kegiatan Matari di perpustakaan.
“Boleh, boleh. Gue ambil majalah dulu ya.”
Kemudian mereka berdua duduk bersama. Matari mengambil walkmannya, dan memasang headset di sebelah kanan dan headset yang satunya diberikan kepada Davi. Dengan canggung, Davi memasang headset itu di telinga kirinya.
“Lagu apa sih ini?” bisik Davi.
“Ga tahu gue. Yang milih si Gilang. Gilang wakil ketua kelas gue.” sahut Matari sambil ikut berbisik juga.
“Hah? Buat apaan?”
“Kamu? Sama dia?”
“Iyaaa. Perwakilan kelas nanti waktu pensi. Ramean. Sama Lisa juga.”
Davi mengangguk-angguk. Akhirnya pilihan untuk main bandnya sudah jatuh juga kepada teman sekelasnya sendiri. Dari situ Davi cukup yakin, Matari adalah anak yang loyal. Padahal sudah banyak anak kelas 1 dan 2 yang mengajaknya bergabung untuk memperkuat band bentukan mereka, namun selalu ditolak Matari dengan baik-baik. Setidaknya itu yang didengarnya dari Abdi.
“Gue sambil baca ya…” kata Matari kemudian.
Matari mulai membaca. Lagu pertama, Kesepian Kita, yang dibawakan oleh Pass Band dan Tere, memang merupakan lagu duet. Pantas saja Gilang mengajukan dirinya untuk bernyanyi bersama. Lagu yang cukup bagus dan bermakna. Bukan tipe lagu cinta mendayu-dayu.
Tanpa sengaja jari telunjuknya bersentuhan dengan jari telunjuk Davi. Mereka memang sedang bersama-sama meletakkan tangannya di atas meja, menahan agar kabel headset tidak bergoyang.
Sentuhan beberapa detik itu membuat hati Matari berdesir. Rasanya dirinya tiba-tiba ingin meledak. Dia tidak tahu saja, Davi diam-diam merasakan hal yang sama.
***
“ASMARALOKA?” Thea dan Lisa berseru hampir bersamaan.
“Apaan tuh artinya?” tanya Gilang. “Giri loka, Griya loka, semacam itu?”
“Hmmm menurut kamus KBBI, Asmaraloka berarti dunia cinta kasih.” Sahut Matari sambil menunjukkan buku yang dipinjamnya dari Perpustakaan.
__ADS_1
“Haduh, terlalu menye-menye nggak sih?” tanya Gilang kemudian.
“Maklum, lo nanyanya sama orang yang jatuh cinta. Coba kalau sama orang yang abis patah hati, pasti namanya Nightmare.” Jawab Lisa yang disambut tawa penuh ejekan dari Thea.
“Iya juga ya… Ya udah, Asmaraloka, gue pertimbangkan lagi deh. Lo cari lagi dong, biar ada pilihan. Nanti kita vote sama anak sekelas.” Kata Gilang.
“Ya ampun, harus ya sama anak sekelas?” tanya Thea lagi.
“Iya dong, Bu Ketu. Harussss!!! Biar anak-anak kelas kita kaya seakan-akan diajak berpartisipasi. Pasti dengan sendirinya akan ngasih dukungan waktu kita manggung. Biar pada teriak-teriak heboh gituuuu... Biar banyak penontonnya!” Tandas Gilang.
“Tumben lo cerdas, Lang. Oke, gue setuju. Tolong ya, Matari….” Kata Thea sambil mengedip-ngedipkan matanya.
“Ih, jijay deh lo!” seru Matari sambil mencubit pipi Thea.
Matari mengusap-usap jarinya yang tadi bersentuhan dengan Davi. Tiba-tiba dia tersenyum sendiri.
“Woiiii, kenapa lo? Senyum-senyum sendiri? Pasti tadi ada kejadian seru ya di perpus waktu sama Davi?” tanya Lisa.
“Ah, enggak…” sahut Matari.
“Tuh, mukanya merah kan? Udahlah Ri, buruaaan jadian. Keburu basi lo.” Kata Lisa lagi.
Matari menarik napas. “Gue masih nggak yakin.”
“Nanti gue suruh Davi nembak deh.” Seru Thea kemudian.
“Jangan, Theee… jangan!” sahut Matari.
“Whyyyy?” tanya Thea bingung. “Soal apa lo masih bingung? Keliatan kok dia suka banget sama lo. Beda waktu sama gue dulu.”
“Theaaa, soal itu, sorry… Gue ngerasa gue belom pernah ngomong secara resmi sama lo soal ini semua.”
“Alah, nggak papa. Santai aja. Dulu waktu tahu pertama kali, gue sempet marah sama kalian. Sama Davi juga. Tapi sekarang udah nggak papa. Gue malah geemeeessss banget kalo kalian masih aja sama-sama malu-malu kucing.”
“Jadiiii… waktu dulu lo marah itu gara-gara itu, The?” tanya Matari.
Gilang pun langsung menyingkir. Dia tidak ingin terlibat dalam pertengkaran anak perempuan. Ribet.
“Iyaaa… ada dua alasan sih kenapa gue marah. Pertama, kenapa kalian nggak ngasih tahu gue soal itu? Kedua, kenapa Davi suka sama sahabat gue sendiri?”
Matari menelan ludah. Merangkul Thea. Lisa pun ikut melakukan hal yang sama.
“Maafin kita ya, The. Jujur, gue bingung pas tahu Davi suka sama gue. Mulai nelepon-nelepon gue. Mulai ngajak ngobrol ke gue secara intens. Dan pas itu lo sibuk kejuaraan basket. Gue bingung ngomongnya dari mana. Ngalir gitu aja. Gue takut ngeganggu waktu lo sama kejuaraan itu. Gue tahu, basket adalah hal yang penting buat lo sekarang.”
Thea menepuk-nepuk dua sahabatnya. “Yaaaa… kalo gue pikir-pikir, gue sih juga mungkin akan melakukan hal yang sama. Mungkiiiin ya…. Gue udah maafin kalian kok.”
“Iya, gue juga minta maaf banget, Thea. Lo tahu kan, gue itu dari dulu dukung lo, dukung Matari. Dan gue juga nggak bisa kalau disuruh milih diantara kalian berdua. Gue nggak bisa. Tapi kalo bisa jangan diem-dieman lagi ya." kata Lisa, bijak.
Thea hanya tersenyum. “Buat gue sekarang, yang paling penting adalah persahabatan. Toh, gue nggak ada perasan apa-apa sama Davi. Cumaaa… kaya agak sedih sih. Kaya gue tuh penyanyi trus kehilangan fansnya berpindah ke penyanyi lain yang kebetulan sahabat gue.”
“Lo akan ketemu orang lain, The. Siapapun itu. Gue yakin suatu hari nanti
__ADS_1
lo akan ketemu orang yang pas…”kata Matari sambil tetap memeluk sahabatnya.
***