
Matari menatap lapangan sekolahnya yang telah disulap menjadi panggung pensi sekaligus perpisahan kelas 3. Saat itu begitu ramai. Runtutan acara berulang-ulang ditayangkan di layar proyektor yang dipasang di tengah panggung, dan beberapa titik yang cukup terjangkau untuk dapat dibaca oleh pengunjung. Acara belum mulai sepenuhnya. Sambutan pembukaan dari wakil wali kelas 3 telah berlalu satu jam yang lalu. Band Element masih bersiap di ruang VIP dadakan, yang terletak di dekat ruang Kepala Sekolah. Rencananya, Element hanya menyanyikan 3 buah lagu hitsnya. Sesuai yang sudah direncanakan panitia.
Kali ini panitia dibantu EO besar, karena jika hanya mengandalkan panitia dari lingkungan sekolah tentu SDMnya tidak memadai. Apalagi memanggil band besar seperti Element. Keamanan harus diperhatikan. Mengingat acara dibuka untuk umum meskipun dikenakan HTM (Harga Tiket Masuk) yang murah dan terjangkau di kalangan pelajar SMP.
“Nyokap lo dateng kan?” tanya Matari pada Lisa.
“Dateng. Selain emang dia udah gue booked buat ngurusin performance kita kaya sebelumnya, doi juga dapet undangan kok dari panitia. Biasalah, sponsor,” sahut Lisa tanpa sedikitpun berniat menyombongkan diri.
“Element jam berapa tampil?” tanya Thea.
“Kata panitia dan di rundown acara sih seharusnya jam 2an. Abis jadwal ishoma dan istirahat siang. Band pembukanya Bandnya Kak Nana. Terus ada kaya dancer lokal gitu deh perform. Abis gitu Element,” sahut Matari panjang lebar.
“Kalo kalian?”tanya Thea. “Kaya akhir-akhir mau bubar nggak sih?”
“Iyah, kita dapet undiannya kaya gitu. Nggak papalah. Paling sambil nunggu Latihan akustikan aja di kelas. Malah enak bisa nonton Element duluan,” jawab Lisa tenang. “Lo gimana, Ri? Ini bakalan lebih banyak yang nonton dari
lomba puisi kemarin. Jadi lo kudu prepare mental ya?”
“Gue sebenernya agak grogi. Ini baru jam sebelas tapi udah rame banget. Dan panasnya ampun-ampunan. Untung panitia nyediain kipas angin air di beberapa titik, kalo nggak bisa panas banget di depan sana,” sahut Matari. “Dan gue takut mengganggu perform gue.”
“Justru, kalau menjelang sore atau menjelang selesai acara tuh biasanya ya, udah nggak seberapa ramai. Orang-orang cuma nungguin guest star. Paling yang masih bertahan anak sekolah kita. Cuma gue agak parno, takutnya rusuh,” kata Thea kemudian.
“Rusuh gimana?” tanya Lisa.
“Kaya tahun lalu, juga rusuh. Jadi kalo menjelang akhir acara gitu tamunya ada anak-anak dari sekolah lain kan. Kadang juga bukan anak SMP juga. Beberapa anak SMA juga kadang masuk. Kan hari ini kita baju bebas, bawahan doang yang boleh seragam. Kadang nggak ketahuan juga anak mana. Jadi mereka pasti ada yang
berantem\, misal nggak sengaja nyenggol atau gimana. Makanya tahun ini pake EO\, permintaan orangtua lo sama orangtuanya Kak Gita kelas 3 yang anak pengusaha properti itu lho. Dia kan nge*-dance* sebelum tutup acara. Tahun ini juga kita bisa sewa petugas keamanan. Lumayan kan. Biar agak tertib. Tahun lalu sih parah banget\, ada yang kena tusuk\,” jawab Thea panjang lebar.
“HAH? SERIUS LO, THE?” tanya Lisa dan Matari bersamaan.
“Iya, tapi bukan anak sekolah kita. Cuma pihak sekolah kan kena imbasnya karena lalai dalam segi keamanan. Makanya tahun ini gue bilang tadi, pakai EO dan sewa pihak keamanan lebih banyak. Semoga aman yaaaa!” kata Thea sambil menutup pembicaraan.
***
“Ri, beli apa?” tanya Davi saat melihat Matari sedang membeli snack di stand makanan yang kebanyakan dibuka oleh orangtua murid dan petugas kantin sekolah.
Stand makanan diserbu banyak pengunjung. Karena selain harganya terjangkau juga saat itu telah menjelang ishoma dan jam makan siang.
“Beli batagor aja, nih. Mau?” tanya Matari sambil menyiram batagornya dengan kuah kacang yang telah disediakan.
“Nggak suka gituan gue. Hahahah…,” sahut Davi. “Mau aku beliin minuman? Aku haus nih. Sekalian gitu.”
“Hmmm, boleh deh. Air mineral aja ya. Soalnya gue belum manggung,” kata Matari sambil duduk di kursi-kursi yang disediakan panitia untuk menikmati makanan.
“Siap, bos!” seru Davi sambil berlalu menuju stand minuman yang terletak di ujung.
Saat kembali, Matari telah duduk sambil menikmati batagornya. Matanya tidak beralih dari panggung pensi di kejauhan. Yang membuat Davi senang, Matari mempersiapkan satu bangku kosong di dekatnya, untuk dirinya. Mengingat saat itu sedang padat, mencari bangku kosong sangatlah sulit.
“Ini airnya, ak bawain ya. Kamu makan dulu aja. Makasih ya dicariin bangku,” kata Davi sambil duduk di sebelah Matari.
“Penuh soalnya. Kasihan nanti lo berdiri,” sahut Matari sambil mengunyah batagornya.
“Eh, anak lain mana?”
“Siapa?”
“Temen-temen kamu. Thea dan Lisa? Trus anak-anak band kelas kamu yang lain?”
“Oh, mereka di kelas. Gue belum makan dan laper. Sebenernya kita dapet nasi kotakan dari panitia, cuma punya gue jatoh kesenggol. Apes dah, hahaha….”
“Trus, kamu kenyang batagor doang?”
Matari mengangguk. Meskipun itu tidak sepenuhnya benar. Namun saat itu, hanya harga batagor ini yang masuk akal dengan uang sakunya. Apalagi kemungkinan hari ini akan sampai sore. Dia harus bisa menyisihkan uang saku hingga bisa dipakai sampai dua kali makan. Mengingat kejadian nasi kotak tadi tidak bisa dihindarinya.
“Oh iya, tadi air mineral berapa ya?”
“Ya ampun, Ri, nggak usah. Itu kan sekalian sama aku beli minum juga.”
__ADS_1
“Jangan gitu dong. Nggak suka ngutang gue.”
“Hmmm kalo gitu, bayar utangnya temenin aku makan.”
“Hah?”
“Yuk, ah. Di kantin aja. Lebih sepi di sana, nggak antri.”
“Gue ngabisin batagor dulu.”
“Oh, iya. Lupa, hehehe.”
Davi duduk lagi. “Nanti kamu sekitar jam berapa manggungnya?”
“Jam 4an. Menjelang penutupan.”
“Wah, sore banget.”
“Iya, dapat undian jam segitu. Mau gimana lagi…?”
“Iya juga ya. Btw, nanti waktu Element main, nonton sama aku ya?”
Jantung Matari serasa mau copot. Meskipun itu bukan kali pertama Davi mengajaknya. Ini kali kedua Davi mengajak nonton Element. Matari tentu ingat, meskipun dia sama sekali tidak mau menyinggungnya duluan.
“Iya….”
“Tapi, kamu makan dulu ya sekalian temenin aku nanti.”
“Gue udah makan batagor kok.”
“Makan lagi. Nanti kan kamu manggung, butuh energi.”
“Hmmm. Liat nanti ya.”
“Kan bayar utang?”
“Hah? Maksudnya?”
“Bayar utang sama aku beliin kamu air mineral. Kamu nemenin aku makan. Tadi katanya iya.”
“Harus makan!”
Matari menarik napas. “Iya, iya….”
***
“Lama bener? Ditemenin Davi ya?” tanya Lisa sambil memainkan Walkman miliknya, model terbaru berwarna pink, limited edition, hanya anak orang kaya yang bisa membelinya. Karena Walkman yang dijual biasanya warna gelap atau silver.
“Kok tahu?” seru Matari.
“Tadi dia nyariin ke sini. Katanya lo di lapangan ngga ada. Ya nggak ada lah. Panas. Anak-anak yang bertahan paling anak-anak kelas 3 doang. Kenapa sih nggak diadain di Gedung serbaguna aja?”
“Kaga cukuplah, Lis. Kan ini dibuka buat umum. Gimana sih?” tandas Thea yang sedang iseng bermain gitar yang tidak bisa benar-benar dimainkannya.
“Iya juga sih. Ah, tahun depan di GBK aja. Di indoor senayan. Bisa nggak sih?”
“Duit bokap lo ye? Lagian susah prosedurnya. Kebanyakan anak SMA yang main di sana. Atau EO-EO papan atas,” celetuk Gilang yang sedang tidur-tiduran di kursi kelas yang disejajarkan membentuk bangku panjang.
“Udah-udah. Apaan sih, Lis? Enakan juga di sekolah. Nggak ribet persiapannya. Gampang transportasinya. Iya, nggak?” sahut Matari sambil duduk di bangkunya.
Matari menatap ke sekeliling kelasnya. Hanya beberapa siswi perempuan yang sedang tidur-tiduran di meja mereka sambil mengobrol. Sisanya adalah band kelas mereka termasuk Thea yang sedang malas ke lapangan.
“Sepi amat, pada ke mana?” tanya Matari pada Lisa.
“Nggak ngerti. Pada jajan kali, atau nonton di pinggir lapangan,”sahut Thea. “Sejam lagi Element manggung, kita ke sana ya? Nggak mau pada Latihan lagi nih?”
Matari menatap Gilang yang sedang tertidur pulas. Ricko pun tampak tak peduli dan tetap bermain game snake di handphonenya.
“Tuh kang gitarnya pada bobo,” kata Matari.
__ADS_1
“Kalo mau, Latihan sama gue gimana?” tanya Rocky yang tiba-tiba muncul sambil membawa batagor untuk saudara kembarnya, Ricko, yang segera bangkit dan melahap batagor tanpa jeda.
“Boleh, boleh. Ri, sana Latihan,” kata Lisa menyetujui. “Hari in ikan baru Latihan sekali tadi pagi.”
Matari mengangguk. Kemudian mengikuti Rocky yang sudah duduk di dekat Ricko sambil mengambil gitar akustik milik Gilang yang memang sengaja dibawa hari ini untuk berlatih. Sedangkan gitar akustik milik kapel sudah dikembalikan sejak kemarin sebelum pensi berlangsung.
Rocky mulai memainkan intro. Matari terperangah saat melihat permainan gitar Rocky yang lembut dan entah kenapa, pas mengisi suasana kelas yang hening itu. Matari yakin, Rocky pasti sudah bertahun-tahun menguasai permainan gitar akustik dibanding Gilang. Meskipun Ricko juga sama, dan Matari telah melihatnya selama sesi Latihan band di studio Lisa tempo hari, namun Rocky terlihat berbeda dibanding saudara kembarnya. Permainannya lebih halus dan tanpa cela.
“Ayo, masuk ke lagu, Ri,” ujar Rocky sambil melihat ke Matari yang masih terdiam di tempatnya.
“Sorry, sorry. Permainan gitar lo bagus banget,” puji Matari yang diiyakan oleh Thea dan Lisa bersamaan.
“Iyalah, dia duluan yang bisa dibanding gue, Ri. Gue belakangan dan emang pake guru les musik. Kalau dia otodidak. Trus karena dia bisa, gue juga disuruh bisa ama ortu gue, akhirnya kita sama-sama dilesin,” jawab Ricko tanpa beranjak sedikitpun dari sikap tidurnya yang nyaman.” Udah, lo bantu dia Latihan. Kita mau hemat tenaga buat nanti. Tapi jangan kelamaan, Ri. Takut suara lo abis duluan sebelom manggung.”
“Oke, gue ulangin ya…,” kata Rocky sambil memetik gitarnya lagi.
Tanpa kesusahan menyesuaikan ritme, Matari masuk ke petikan gitar Rocky dengan pas. Rocky diam-diam merasa senang, bisa mengiringi orang yang disukainya sejak pertama kali masuk sekolah itu. Petikan demi petikan sengaja dimainkannya dengan apik, dengan harapan Matari bisa melihat sisi baik dalam dirinya. Tak terasa mereka berlatih hingga satu jam. Bahkan Rocky memainkan lagu-lagu lain yang Matari bisa nyanyikan.
Latihan itu terhenti ketika Davi sudah datang dan mengetuk pintu kelas.
“Ri, udahan nyanyinya. Tuh udah dijemput buat nonton Element. Yuk, kita refreshing juga lihat mereka,” ajak Lisa sambil menepuk bahu Matari.
“Oh, sorry, sorry. Udahan ya, Rock? Makasih banget. Permainan gitar lo dahsyat banget. Gue sampe terlena nyanyi mulu,” kata Matari sambil tersenyum pada Rocky.
Rocky cuma tersenyum dan menoleh ke arah Davi yang berdiri di luar kelas mereka tanpa ekspresi apapun. Rocky tahu di luar sana, ada seorang anak laki-laki yang menjadi saingan terberatnya. Apalagi Matari selalu berseri-seri
jika berhadapan dengan Davi. Rocky tahu dia sudah kalah meskipun belum berjuang.
“Hai, Dav. Sorry, udah lama?” tanya Matari.
“Hmmm, lumayan. Untung nyanyian kamu bagus,” sahut Davi sambil tersenyum.
Davi berjalan di sebelah Matari. Di belakang Matari berjalan kedua sahabatnya yang sama sekali tidak ingin mendahului dan tertawa-tawa geli memandang keduanya. Sekaligus penasaran kapan keduanya bisa resmi menjadi sepasang kekasih?
Rocky dan Ricko menyusul beberapa meter di belakang. Mengawasi dengan enggan.
***
Di lapangan, seluruh pengunjung pensi tumpah ruah. Penuh dan sangat berdesak-desakan. Udara panas membuat seluruh penonton semakin bersorak. Vokalis Element baru saja naik panggung dan menyapa penonton. Secara khas berupaya untuk mengingatkan agar tetap saling tertib dan jaga keamanan. Anggota band lainnya pun mengikuti di belakangnya dan bersiap di bagian masing-masing.
Matari, Davi, Lisa dan Thea mengambil celah sehingga bisa mendapatkan spot enak berdiri di tengah-tengah penonton, namun tetap bisa melihat dengan jelas ke arah panggung. Meskipun sesak, namun kipas angin air yang berfungsi maksimal membuat udara di sekitarnya cukup dingin.
Intro lagu hits mereka yang pertama, sesuai nama album mereka yaitu Kupersembahkan Nirwana mulai menghentak. Penonton mulai berteriak histeris. Dan saling dorong mendorong pun tak terelakkan terjadi. Lisa dan Thea terdorong ke belakang secara tak disengaja, menjauh dari Matari dan Davi. Davi iba melihat
Matari tampak kebingungan menjaga diri karena penonton tampak berjingkrak-jingkrak tak beraturan di dekatnya. Keningnya berkeringat. Sepertinya itu kali pertama Matari berada di tengah-tengah orang sebanyak itu.
“Kamu nggak papa?” bisik Davi di telinga Matari. “Mau pergi aja?”
Matari menggeleng. Davi tahu, Element adalah band favorit gadis yang disukainya. Davi pun lumayan suka lagu-lagu mereka semenjak tahu Matari suka pada mereka.
Namun lagu Kupersembahkan Nirwana memang lagu bertempo cepat milik Element secara langsung membuat penonton ingin berjingkrak mendengarkan lagunya. Gerombolan siswa-siswa entah darimana bergoyang dengn rusuh membuat baris di depan mereka mundur mendadak. Davi sudah memperhitungkan hal ini dan dengan cepat memegang lengan Matari dan memundurkan langkahnya. Matari pun menurut, memperhatikan lengannya yang dicengkeram oleh Davi dengan begitu erat. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Namun jantungnya berdegup kencang.
Davi tidak mau menggandeng atau merangkul Matari, karena itu bukan haknya. Mereka belum ada kejelasan hubungan. Dengan tetap sopan, Davi hanya mencengkeram lengan Matari. Tidak terlalu kuat agar Matari tidak kesakitan. Dan agar Matari tetap aman di sampingnya. Setidaknya itu yang dipikirkan anak berusia 13 tahun. Bersusah payah, hal itu tetap dilakukannya hingga lagu Kupersembahkan Nirwana berakhir.
“Teman-teman, tetap tertib ya. Ingat di sini juga ada adik-adik yang menonton. Sekarang, kita masuk ke lagu ke dua. Pergilah Adinda!!!” seru Ferdy Tahier, sang vokalis Element kala itu.
Lagu kedua, Pergilah Adinda, memang lagu yang bertipe slow. Oleh karena itu, penonton mulai kalem. Hanya menggoyang-goyangkan tangan ke atas dengan Gerakan lambat dan syahdu.
“Sorry, Dav, sakit….,” kata Matari, meringis menatap lengannya yang masih dicengkeram oleh Davi.
Sebenarnya tidak sesakit itu. Namun Matari merasa malu. Apalagi dia merasa di belakangnya, Thea dan Lisa tertawa-tawa membicarakannya.
“Oh, sorry, sorry. Habis tadi pada rusuh, Ri. Tapi kamu nggak papa beneran kan?” sahut Davi sambil melepaskan tangannya sendiri.
Matari mengangguk. Dia tahu rona wajahnya memerah. Semoga saja suhu udara yang panas ini bisa menjadi alibinya nanti.
Lagu Pergilah Adinda berlalu dengan cepat. Sang vokalis berbasa basi sebentar kepada penonton dan panitia. Kemudian lagu terakhir yaitu Jangan Pernah Takut Mecintaiku. Setau Matari itu lagu yang bertempo cepat lagi namun tidak secepat Kupersembahkan Nirwana. Takut rusuh lagi, Matari secara reflek memegang ujung lengan kemeja Davi.
Tentu saja Davi tidak menolak hal itu. Dia bahkan bingung harus berkata apa dan bersikap seperti apa. Namun akhirnya, dia berbisik pada Matari.
__ADS_1
“Ri, kalau misalkan kamu di rumah lagi senggang, kamu dengerin lagu Element yang ini ya,” kata Davi.
Matari menatap Davi sejenak, namun segera mengalihkan pandangannya ke panggung. Rasa canggung memuncak di kepalanya.