
Matari menatap pengumuman mengenai "Seluruh EKSTRAKULIKULER tanpa terkecuali LIBUR" di papan pengumuman. Minggu depan, ujian nasional kelas 3 sudah mulai. Matari merasa waktu begitu cepat berlalu. Sepertinya baru kemarin dia kelas 1, sekarang dia telah berada di penghujung waktu menjelang masa-masa
kelas 1 nya berakhir.
Anak-anak kelas 3 telah sibuk dengan persiapan ujiannya. Dan minggu ini adalah minggu terakhir mereka sebelum berperang. Saat itu Matari pun telah beberapa kali Latihan main band di rumah Lisa. Jika tidak ada ekskul, Davi akan ikut datang menemani mereka. Termasuk kembaran Ricko, Rocky. Meskipun satu kelas, nyatanya, mereka tidak cukup dekat. Sehingga saat-saat menunggu Latihan band, digunakan oleh Davi untuk main games di handphonenya. Sedangkan Rocky duduk di dekat kembarannya, terkadang mengkritik permainan gitarnya.
Ketika menyanyi, Matari masih sering salah, terutama untuk awal masuk lagu dan menyesuaikan tempo. Maklum, saat ini Kak Nana tidak ada di sampingnya untuk membantu. Semuanya dilakukan sendiri secara otodidak. Guru Les Lisa yang hanya diminta bantuannya untuk membuatkan aransemen, angkat tangan. Alasannya, dia bukan pelatih vocal, dia hanya pelatih alat musik. Lisa pun tak bisa membujuk lebih banyak lagi.
“Abis mereka ujian, kita yang ujian.” Kata Davi tiba-tiba, berdiri di sebelah Matari yang masih terpaku menatap papan pengumuman.
“Iya, bener. Aduh mana bentar lagi pensi. Gimana dong, gue masih salah-salah mulu kalau ambil nada.”
“Nggak konsul sama Kak Nana?” tanya Davi.
“Nggak enak. Biar surprise aja.” Sahut Matari.
“Kalo gitu latian sama aku gimana? Aku bisa kok gitar dikit-dikit…” kata Davi menawarkan.
Matari meringis. “Jangan deh. Bisa grogi gue.”
Davi mengerutkan dahinya. “Maksudnya?”
“Ehhh… enggak, nggak papa, Dav.”
“Ehhhh, apa tuh maksudnya?”
“Nggak papa, Davi….”
“Iya, kenapa bisa grogi kalau Latihan sama aku?”
Matari bingung, dan hendak menjawab, namun bel masuk tanda istirahat telah selesai, menyelamatkannya.
“Gue ke kelas dulu ya….”
***
“Liburan kalian ke mana?” tanya Thea.
“Bukan liburan beneran woi. Banyak tugas nih….” Sahut Matari.
“Iya nih. Padahal gue rencana mau ke tetangga sebelah…” tandas Lisa.
“Mau ke Singapore lagi lo?” tanya Thea.
“Iyaaa, ada pemotretan. Sama Mama Papa juga sih. Mau ikut?” tanya Lisa menawarkan.
__ADS_1
“Hmmm, gue tanya bokap ama nyokap dulu. Sama cek paspor juga sih. Masih berlaku enggak. Tapi akomodasi elo yang tanggung kan?” tanya Thea.
“Iya dong. Anggap aja lo asisten cilik gue. Pokoknya terima beres. Paling duit taksi aja dari bandara waktu pulang, karena kita nggak searah. Kalo berangkat sih lo bisa anterin nyokap lo ke rumah gue dulu. Gimana?” atur Lisa.
“Boleh, boleh. Yuk yuk. Asiiiikkk ke Singapore lagi. Matari, mau ikut nggak?”
Matari memutar bola matanya. “Bercanda lo? Punya paspor aja enggak.”
“Yaaa nggak papa, nanti barengan nyokap gue bikin. Nyokap gue pas mau perpanjang paspor.” Saran Lisa.
Matari menggeleng. “Nggak, makasih. Gue ada arisan. Rumah gue pas dapet jatah arisan. Kebetulan, minggu depan udah selesai di renov. Sekalian tasyakuran rumah.”
“Wahhh, sekarang lo punya kamar sendiri dong?” tanya Lisa. “Kita bisa main dong ke sana…”
“Bisaaaa, tapi gue masih nunggu tempat tidur diambil dari rumah lama gue. Kasur juga. Beberapa furniture bekas dari rumah bokap. Mungkin baru diantar sebulan lagi, nunggu bokap agak selow kerjaannya. Jadiiiii meskipun udah
jadi, gue belum bisa pakai. Baru si Sandra doang, karena Tante Dina udah langsung bawa beberapa furniture rumah lamanya sebelum dikontrakin.”
“Oh gitu, okelah. Nanti kita bawain oleh-oleh deh…. Lo mau apa?”
“Hmmm, nggak ada sih. Thank you ya….”
Lisa tahu, meskipun tanpa adanya arisan, Matari akan tetap menolak ajakannya. Sudah beberapa kali ajakannya ditolak, bahkan hanya ke Bandung atau ke Anyer yang tanpa memakai paspor, Matari selalu tidak mau. Mungkin takut oleh Eyangnya atau Ayahnya. Padahal seluruh biaya akomodasi ditanggung oleh keluarga Lisa. Matari tinggal berangkat. Seperti ke Singapore saat ini, Paspor pun akan dibantu pengurusannya oleh Mamanya. Semua akan dipermudah dengan koneksi keluarga Lisa. Namun, Matari tidak pernah mau.
***
Hari Sabtu, di akhir bulan April, hari terakhir sebelum liburan ujian nasional, seluruh siswa mengatur kelasnya masing-masing. Kelas-kelas 1 dan 2 akan dipakai juga untuk anak-anak kelas 3 ujian nasional karena setiap orang hanya duduk sendirian di setiap meja. Tak terkecuali kelas 1 F. beberapa anak mengatur meja dan kursi sesuai aturan yang diajukan oleh wali kelas. Bu Anita mengawasi dari pintu dengan cukup ketat.
Saat Matari dan Lisa berjalan menuju toilet, mereka berpapasan dengan Davi dan Abdi yang sedang membawa pel dan ember. Keduanya tampak lucu dan kocak.
Lisa bertepuk tangan. “Gila, gila, tuan muda Tao Ming Tse bawa-bawa pelllll!” ledek Lisa sambil menyebutkan tokoh utama serial tv Taiwan berjudul Meteor Garden, yang sedang hits di jaman itu.
“Tao Ming Tse apaan?” hardik Abdi. “Kaga mirip sama sekali kecuali kekayaannya, hahahaha. Jangan marah ya, Mat.”
Matari cuma mencibir. Davi memukul Abdi dengan tongkat pel, tidak serius, hanya bercanda saja.
“Eh eh, gue sama Thea mau ke Singapore besok lusa. Gue titip Matari ya guys.” Kata Lisa sambil tersenyum senyum penuh arti.
“Kok Matari nggak diajak sekalian?” tanya Abdi polos.
Lisa menyenggol Abdi dengan cepat.
“Matari nanti gue ajak pergi.” Kata Davi kemudian. “Nggak usah takut lo, dia aman sama gue sama Abdi, hehe.”
“Ya udah, gue percaya sama kalian berdua. Beberapa tugas kita kan sama, udaaahhh, kalian kerjain aja bareng-bareng. Ya nggak, Ri?”
__ADS_1
Matari cuma meringis. Setelah berbasa-basi sebentar, Matari berjalan menuju toilet bersama Lisa.
“Kalian kapan jadiannya sih?” tanya Lisa kemudian.
“Apaan sih, Lis? Kok jadi nanya gitu?”
“Bukan gitu, gue liat, lo aja kayanya udah mulai dikit-dikit nerima si Davi. Jangan cuma deket-deket nggak jelas, lo kudu mastiin juga mau di bawa ke mana? Mau gini-gini terus?”
Matari mengangkat bahunya.
“Lo suka sama Davi kan?”
Jantung Matari langsung berdegup dengan kencang. Padahal pertanyaan itu dilontarkan bukan oleh Davi secara langsung. Tak terbayang rasanya jika suatu hari nanti Davi akan menanyakan hal yang sama.
“Tahu gueee, lo mulai suka juga sama dia. Karena sikap lo beda banget sama waktu Thea dideketin sama Davi. Walaupun caranya kurang lebih sama, sering nelepon, ngasih-ngasih…”
“Nggak, itu nggak bener. Gue baru dikasih sekali sama dia, itu pun cokelat. Itu aja cokelatnya dimakan semuanya sama Kak Bulan.”
“Oke, gue ralat. Tapi tanggapan lo itu beda sama waktu Thea dulu. Lo kaya nggak nolak semuanya tapi masih bersikap hati-hati. Jadi gue berkesimpulan lo mungkin ada rasa juga sama dia. Thea juga mikir yang sama, Ri, kaya gue. Gue yakin deh, Davi juga mulai merasakan hal yang sama. Tapi dia juga hati-hati, takut buat nyakitin lo.”
Matari menarik napas. “Banyak yang gue pikirin daripada sekedar jadian, Lisa. Ada agama, ada orangtua gue, ada Eyang, terusss… band kita, banyak banget yang gue pertimbangkan untuk jadian sama dia. Kalo lo nanya sekarang, apakah gue suka sama dia? Mungkin iyaaaa… tapi masih belum sebesar rasa suka dia sama gue.”
“Pikiran anak SMP kelas 1 kaya lo pusing juga ya? Kaya banyak banget beban hidupnya. Tuh kan bener, akhirnya mengakui juga lo. Nggak papalah, Ri, lo kudu bisa senang-senang kali ini. Gue dukung. Masalah agama, gue ingat Kak Nana bilang apa sama lo, yang waktu itu lo ceritain sama gue. Lo nggak mau nikah sekarang kan? Enggak kan?”
“Ya masa gue mau nikah? Gue masih SMP!”
“Nah! Lo itu, menurut gue, butuh orang buat nemenin lo. Gue tahu rasanya kaya apa kesepian itu. Gue juga ngerasain hal yang sama kaya lo. Dalam hal berbeda. Nyokap Bokap cuma ada beberapa kali di rumah. Gue anak tunggal, Ri. Lo bayangin fasilitas segede gaban di rumah, gue nikmati sendirian. Makanya gue seneng banget tiap anak-anak main band di rumah gue, rumah gue rasanya hidup. Beda kan sama lo, rumah lo rame, tapi lo selalu ngerasa sendirian aja di sana. Kita sama-sama anak yang kesepian.”
Matari menundukkan wajahnya. Berpikir. Lisa menepuk-nepuk bahunya.
“Kalau ada yang bisa ngisi kesepian lo, kenapa enggak? Gue malah pengen kok ada yang bisa gue ajak teleponan sampe lama setiap pulang sekolah. Tapi apa? Gue disuruh les kalo nggak photoshoot. Nyokap gue kan mantan model di jaman mudanya. Obsesi itu diturunkan ke gue. Eh, bukan berarti gue nggak suka ya, gue
seneng banget modeling. Di sana gue ketemu banyak orang. Gue suka spotlight. Gue suka berdandan cantik dan berpakaian cantik. Sampe sekarang pun gue seneng banget berada di lokasi foto.”
Matari menarik napas, menatap Lisa, sahabatnya yang cantik rupawan. Menyadari gadis sesempurna dia bisa merasa kesepian juga. Dulu sekali, Matari pernah berpikir pasti enak menjadi anak tunggal keluarga kaya raya yang memiliki semuanya. Tidak perlu berbagi kamar. Tidak perlu berbagi kasih sayang. Ada asisten rumah tangga yang siap sedia 24 jam. Air panas pun tak perlu memasaknya di dalam kompor. Bahkan untuk meminta sepatu baru, tidak perlu banyak berpikir seperti Matari.
“Kalo misalkan nggak ada kegiatan, biasanya lo ngapain aja?” tanya Matari iseng.
“Ya nggak ngapa-ngapain. ART di rumah gue banyak banget. Salah satunya, usianya ada yang nggak jauh beda dari kita. Enak sih, dia kadang nemenin gue main. Kadang juga dia duduk di kamar doang, nungguin gue, dengerin cerita soal gue sama temen-temen gue. Lucunya, dia selalu senang sama cerita yang gue bawa dari sekolah. Kasihan sih, semuda itu jadi ART. Pernah, dia ditawarin Mama buat lanjut sekolah. Tapi nggak boleh sama orangtuanya di kampung. Ya udah, kalo gue lagi nggak capek, kadang-kadang gue ajak dia ngerjain PR. Atau gue jelasin soal beberapa kalimat Bahasa inggris. Kadang dia juga ikut ke tempat photoshoot. Gue dandanin dan gue bilang ke orang-orang kalau dia asisten gue. hahaha.”
“Iseng banget lo… Tapi dia nggak tersinggung kan?”
“Nggak. Dia malah seneng banget. Kadang kan di lokasi foto suka ketemu artis atau model kelas atas gitu ya yang sering nongol di tv dan majalah. Kata dia bisa ketemu seleb gratis trus bisa poto-poto juga. Makanya gue ajarin dia beberapa hal. Kaya attitude, table manner, basic English, yah hal-hal remeh temeh gitulah, biar dia nggak keki di
depan mereka. Kan dia asisten gue, jadi harus kelihatan beda.”
__ADS_1
Sisi humanisme Lisa seperti inilah yang selalu membuat Matari nyaman. Dia dibesarkan dengan cukup baik oleh orangtuanya. Meskipun kaya raya, dia selalu mau berkumpul dengan kalangan manapun. Nilai akademis yang tidak terlalu bagus, diimbanginya dengan sifatnya yang baik pada siapa saja. Walaupun kadang, ketidaksengajaannya untuk memamerkan sesuatu yang memang dipunyainya dan orang lain tidak bisa memilikinya, adalah yang memang dilakukannya karena dia adalah seorang Lisa. Seorang Lisa yang kaya raya.