Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama
Bab 21 Tanpa Kata


__ADS_3

Hari Senin, hari pertama liburan, Matari mulai membuka LKS yang sudah ditandainya dengan post note beberapa hari yang lalu. LKS yang dibukanya pertama adalah IPS Sejarah. Dia mendongak menatap jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul setengah 10 pagi. Sandra telah pergi sejak pukul sembilan ke rumah Lia untuk mengerjakan tugas bersama. Kakaknya, tidak libur, karena ujian nasional untuk setingkat SMA akan diadakan di bulan Mei.


Matari menatap beberapa list PRnya dengan enggan. Ingin dikerjakan namun tak ada semangat. Akhirnya dia beranjak ke halaman belakang, di mana Mbok Kalis berada sedang membersihkan rumput.


Mbok Kalis berusia lebih tua sedikit daripada Ayahnya. Ikut Eyang Putri saat masih seusia dirinya. Sudah pernah menikah tiga kali, dua kali bercerai, yang terakhir suaminya meninggal terlebih dulu. Mbok Kalis sudah punya banyak cucu. Mungkin sekitar 5 atau 6 orang dari ketiga anak-anaknya yang lahir dari masing-masing perkawinannya.



Mbok Kalis orang yang pendiam namun ulet. Jarang berbicara, jarang berbasa-basi, dan jarang ikut campur urusan rumah tangga keluarga majikannya. Rumah Mbok Kalis di Cirebon. Sesekali dia akan pulang naik kereta di akhir pekan untuk mengunjungi anak-anaknya secara bergiliran. Sifatnya yang pendiam sangat disukai oleh Matari. Seringkali setelah dimarahi Ayah, Eyang atau Bulan, dia akan duduk di halaman belakang. Terkadang sambil menangis, terkadang hanya cemberut, atau terkadang sambil menggerutu saja, Mbok Kalis akan dengan setia menemani majikan kecilnya namun tanpa berbicara apa-apa.


Bagi Matari, itu sudah lebih dari cukup. Kehadirannya ada, namun bukan untuk memberikan wejangan-wejangan lain, yang mana hampir tiap hari didapatkannya. Dia hanya akan sibuk dengan pekerjaannya, hingga Matari merasa baikan dan meminta teh hangat. Namun, Mbok Kalis sebenarnya akan sedikit terbuka dan ramah pada Matari, majikan kecil yang menjadi favoritnya karena banyak berada di rumah dibanding yang lainnya. Dan sering menemaninya di halaman belakang seperti ini tanpa mengganggunya sedikitpun.


“Mbok, ada jajanan apa?” tanya Matari sambil jongkok di dekat Mbok Kalis.


“Neng maunya apa?” tanyanya berbalik.


“Pengen yang pedes-pedes, Mbok,” sahut Matari.


“Neng mau dapet ya? Ya udah nanti Mbok bikini rujak atau tahu gejrot, tergantung ada bahan apa di kulkas ya,” kata Mbok Kalis sambil kembali menekuni pekerjaannya.


“Asyiiikkk, makasih, Mbok. Eyang ke mana, Mbok?”


“Ke rumahnya Bu Indira, diskusi makanan buat nanti tasyakuran dan arisan hari Sabtu.”


“Banyak yang datang, Mbok?”


“Nggak tahu saya. Yang pasti sih semua anggota arisan RT/RW dateng semua. Kayanya bapak-bapaknya diajak juga.”


“Emangnya Eyang duitnya banyak, Mbok? Kok ngundang orang banyak banget?”


“Kurang tahu saya, neng. Kayanya semua warga sih nyumbang snack masing-masing.”


Matari mengangguk-angguk. Pantas saja Mbok Kalis merapikan rumput di halaman belakang. Biasanya hanya jika akan ada acara tertentu saja rumput-rumput itu dirapikan. Selebihnya akan dibiarkan meninggi hingga banyak nyamuk dan serangga-serangga lain. Jika sempat, Ayah akan memotong sedikit-sedikit. Jika tak sempat dan ada yang protes, yang protes akan dihukum oleh Eyang untuk memotong rumput-rumput tersebut.


Telepon rumahnya berbunyi. Matari langsung berjalan ke meja telepon yang telah dikembalikan ke tempatnya semula. Di rumah Eyang, siapapun yang mendengar telepon harus mengangkat telepon itu. Mbok Kalis tidak wajib mengangkatnya, karena banyak pekerjaan rumah yang harus dia urus.


“Halo, assalamualaikum….”


“Walaikumsalam… Hai, Ri, ini aku…”


Matari menatap jam dinding di rumahnya yang masih menunjukkan pukul 10. Dulu kalau jam sekolah, Davi akan menelepon jam 2an setelah mereka tiba di rumah mereka masing-masing. Jika libur memang lebih maju jadwalnya, dan Matari lupa akan hal itu.


“Oh, elo, Dav…”


“Lagi apa?”


“Lagi di halaman belakang sama si Mbok.”


“Ohhhh… kirain ngerjain PR.”


“Tadinya mau ngerjain, tapi laper banget.”


“Kamu mau aku ke sana buat bawain sesuatu buat kamu?”


“Hmmmm, nggak usah, Dav. Udah deh, mendingan lo kerjain PR lo juga.”


“Kerjain sama-sama aja, yuk.”


“Di mana?”


“Ya dirumah kamulah. Nggak mungkin kamu aku bawa ke sini. Bisa diinterogasi orangtuaku semalam suntuk, hahahaha.”


“Gue juga nggak pernah main ke rumah cowok. Dari dulu tiap kerja kelompok di rumah cewek-cewek terus. Jadi gue juga nggak mikir bakalan ke sana, Dav. GR aja lo!”


“Kalo udah jadi pacarku, mau ya?”


Deg! Matari langsung berdegup kencang. “Nggak ah, Dav. Nggak berani gue.”

__ADS_1


“Hahaha, iya Matari…. Aku tahu kamu cewek kaya apa. Bercanda juga gue, hehehehe… tapi….”


“Tapi?”


“Nggak… nggak papa. Jadi gimana? Aku ke sana ya?”


“Sekarang?”


“Iyaaaa… boleh nggak sih?”


“Nggak tahu gue. Belum pernah ada temen cowok main buat ngerjain tugas. Terakhir kan yang waktu acara duka Papanya si Sandra. Itu pun rame-rame. Sisanya gue belum pernah sih…”


“Wah, aku coba ke sana aja ya. Aku ajak Abdi deh. Gimana?”


“Ya udah…”


Matari menutup teleponnya. Jantungnya berdegup kencang sekali. Ditatapnya wajah lusuh dirinya di cermin rumahnya. Nggak mungkin kan tetiba dandan atau gimana? Akhirnya Matari hanya menyisir rambutnya lebih rapi dan mengikatnya ke atas. Kemudian dia segera mengganti baju rumahnya yang lusuh dengan kaos dan celana panjang. Berjaga-jaga jika Eyang tiba-tiba datang. Aturan lain di rumah ini saat menemui tamu adalah memakai celana panjang. Siapapun tamu itu. Dan tidak ada yang berani membantah. Daripada Eyang memarahi mereka di depan tamu tersebut. Lebih malu dan mengesalkan.


Dalam waktu setengah jam, Davi dan Abdi sudah berada di depan rumah. Mereka masing-masing membawa sepeda. Matari tak menyangka jika Davi memiliki sepeda. Di ransel punggung mereka terselip LKS Sejarah dan Matematika. Dua mata pelajaran yang kebetulan guru mereka sama.


Saat mereka datang, Eyang Putri juga datang. Matari menarik napas. Matilah. Akhirnya dia mengurungkan diri untuk membukakan pintu.



“Siang, Eyaaaaang….” Sapa kedua anak laki-laki itu ramah dan sesopan mungkin.


“Oh siang. Teman Matari atau Sandra ya?” tanya Eyang sambil menyambut Davi dan Abdi yang mencium tangannya.


“Matari, Eyang. Matarinya ada kan? Kita janjian mau kerjain PR bareng.” Kata Abdi sambil menunjukkan buku-bukunya, untuk membuktikannya pada Eyang Putri.


“Cowok semua?” tanya Eyang lagi.


“Iya, Eyang. Kebetulan yang cewek-cewek pada sibuk liburan. Kita pengennya cepet selesai, biar bisa kerjain PR yang lain. Matari kebetulan jago IPS Sejarah. Kita mau belajar sama dia,” Kata Abdi panjang lebar.


“Oh, gitu. Iya, iya. Mau masuk?” Kata Eyang Putri.


“Di teras aja, Eyang, biar bisa sambil lihat-lihat mobil….” Sahut Davi yang membuat Matari tertawa dalam hati.


Matari yang mendengarkan Langkah kaki Eyang segera berpura-pura sedang duduk sambil mengerjakan PR di kamar lama mereka.


“Temen-temen kamu tuh datang. Mau kerjain PR, bener?” tanya Eyang sambil menatap penuh selidik pada Matari.


“Ya benerlah, Eyang. Ni bukunya sama. Udah pada datang ya? Aku keluar dulu ya, Eyang.”


“Jangan ngobrol terus ya. Kerjain PR yang bener. Kalo nggak nanti Eyang samperin ke wali kelas kamu, Eyang akan bilang kalo kalian main-main selama liburan.”


“Iyaaaaa…” sahut Matari sambil melangkah keluar teras.


Davi cukup terpana melihat Matari yang keluar dengan baju biasa. Ini kali pertama baginya, melihat Matari dengan baju biasa seperti itu. Baju rumahan yang sopan. Celana training panjang dan kaos bergambar Mickey Mouse. Rambutnya yang dikuncir kuda, memiliki pesona tersendiri bagi dirinya. Biasanya, balutan seragam


putih biru, atau seragam panahan yang berwarna cokelat, baju pramuka, atau baju olahraga, Matari mampu mempesonanya. Saat dulu Papa Sandra meninggal, Matari hanya mengenakan baju muslim putih yang kebesaran. Selain itu kostum 80-an, saat Matari naik panggung menyanyikan lagu Rinto Harahap waktu itu.


“Widiiiih, Britney Spears lewaaaattttt…” bisik Abdi. “Haiiii Mat. Seger amat, baru mandi ya?”


Matari tersenyum. “Enggak, udah dari pagi. Cuma tadi ngantuk ya cuci muka aja gue.”


“Dav, Dav, halo? Ada lalat masuk lho, Dav!” ledek Abdi saat melihat Davi hanya diam saja melihat Matari datang.


“Eh, kita di sini aja ya. Kalian mau minum apa?” tanya Matari kemudian mempersilahkan kedua tamunya duduk di kursi teras yang berbentuk melingkar mengikuti mejanya yang bulat.


“A… air putih ajaaa…” sahut Davi tanpa mengalihkan pandangan dari Matari.


Matari mengangguk kemudian masuk ke dalam. Abdi terus mengejek sahabatnya. Namun terhenti saat seorang wanita berusia 60-an, keluar dengan balutan baju rumah yang sama sopannya dengan Matari.


“Eh, Eyang…,” sapa Abdi sambil berdiri dan memberi isyarat agar Davi mengikutinya.


“Duduk aja duduk, kerjain PR, saya cuma mau ngecek aja,” kata Eyang sambil berdiri di dekat mereka.

__ADS_1


Matari membawa nampan berisi tiga gelas minuman kosong dan teko plastik berisi air dingin. Di nampan itu juga terdapat setoples cemilan dari Mbok Kalis. Matari meletakkan nampan itu di meja lain yang terdapat di teras, yang memang biasanya dipakai untuk meletakkan tanaman yang akan dijemur. Dia hanya melirik Eyangnya sekilas


dengan malas kemudian membuka Lks IPS Sejarahnya dengan kesal.


“Kalian udah ada nyicil ngerjain?” tanya Matari pada Abdi dan Davi.


Mereka kompak menggeleng.


“Gue juga belum sih. Ya udah yuk kerjain.” Kata Matari sambil memberikan saran.


Meskipun terasa kikuk, Eyang bertahan dalam sikap yang sama selama 15 menit, kemudian keliling pekarangan sebentar dan masuk ke dalam.


“Huh, cuma Eyang lo yang bisa nyaingin angkernya Bu Anita. Pantesan….” Kata Abdi kemudian terhenti.


“Pantesan apa?” tanya Matari penasaran.


“Pantesan lo jadi anak rumahan.” Kata Abdi sambil tertawa pelan.


“Enak aja lo. Kakak gue malah rajin ekskul asal lo tahu aja. Sepupu gue? Si Sandra lebih-lebih. Main terus ke rumah temennya. Gue sih emang suka doing nothing di rumah aja.” Sahut Matari protes.


“Yaaa iya sih, Mat. Siapa juga yang betah kalau ada orang semacem Bu Anita ada di rumah. Jadi wali kelas lo pula ahhahaha. Apes banget lo Mat. Nggak di rumah, nggak di sekolah…,” ledek Abdi lagi.


“Elo yahhhh. Kasih tahu temen lo tuh tumben pendiem amat. Sakit lo Dav?” tanya Matari kemudian. “Atau takut sama Eyang gue? Santai aja. Dia kadang baik juga kok.”


“Dia sih lagi mikirin masa depannya, kalo jadian sama lo, ngapelin lo, kudu ngomong apa aja sama Eyang lo…. Hhahahaha…” kata Abdi lagi.


Matari kemudian menginjak kaki Abdi. Davi pun tertawa.


“Nggaklah. Gue mah pantang menyerah. Gue maju terus.” Kata Davi.


“Ya udah, yuk kerjain lagi….” Kata Matari mengalihkan pembicaraan.


Setelah berlembar-lembar mengerjakan PR, datang Mbok Kalis membawakan roti bakar. Kata Mbok Kalis, Eyang Putri yang menganjurkan untuk membuatkan, karena pasti lapar setelah banyak mengerjakan soal.


“Tuh kan, baik kan Eyang gue. heheheh….” Kata Matari sambil memberikan roti bakar tersebut pada Abdi dan Davi. “Eh, eh, Mbok, tunggu dulu. Sini aku kenalin temen-temen aku.”



Mbok Kalis dengan sikap kikuk menyalami teman-teman majikan kecil kesayangannya. “Yang ini Davi, yang ini Abdi.”


“Oh, ini yang sering nelpon Neng Matari ya?” tanya Mbok Kalis.


“Iya, Mbok. Salam kenal yaaa…..,” kata Davi malu-malu.


“Bentar-bentar, saya kayanya nggak asing sama kalian.” Kata Mbok Kalis.


Matari mengerutkan keningnya. Mbok Kalis terdiam cukup lama. Namun baik Davi dan Abdi pun tidak bisa mengerti maksud perkataan Mbok Kalis sebelumnya.


“Oh, iya! Saya inget. Neng inget nggak waktu sakit yang waktu masih ada almarhum


Pak Budi?” tanya Mbok Kalis.


“Iya, ingetlah, itu rasanya pusing banget cuma buat ngebuka mata aja. Itu sakit paling parahku, Mbok. Kenapa memangnya?” sahut Matari.


“Iya, Mbok pernah bilang sama Neng kan kalau ada dua orang dateng sampe depan pagar doang nanyain Neng sakit apa? Kayanya mereka berdua deh, Neng.” Jawab Mbok Kalis sambil tersenyum-senyum penuh arti.


“Hahhh? Udah lama banget dong itu?” tanya Matari.


“Si Mbok ni buka kartu aja. Anaknya malu tuh,” kata Abdi sambil tertawa-tawa.


“Hahhaha, iya. Ya udah, Mbok permisi dulu yaaa. Dimakan roti bakarnya biar bisa kerjain PR,” kata Mbok Kalis sambil kembali masuk ke dalam.


Matari menatap Abdi dan Davi bergantian. Abdi tetap tertawa-tawa usil dan Davi hanya menunduk malu.


“Jadi….?” Tanya Matari.


“Jadi, hari pertama lo nggak masuk, dia nih lihat Lisa jalan sendirian. Trus iseng nanya. Katanya lo sakit kalo Thea lagi kumpul sama team basket atau apa sih? Lupa gue. pokoknya intinya si Lisa bilang lo sakit aja udah. Ya udah kita iseng aja lewatin depan rumah lo. Eh, Mbok Kalis pas ada, yaaaa kita iseng nanya aja. Hahahaha. Trus…. Eh, gue boleh lanjutin nggak nih, Dav?” jawab Abdi sambil memperhatikan Davi yang makin menunduk malu.

__ADS_1


“Sialan lo. Udah ah. Ngapain si?” seru Davi.


Matari bisa melihat wajah Davi memerah. Abdi pun menghargai sahabatnya dan tidak melanjutkan lagi pembicaraan mereka.


__ADS_2