
Jhon masih menatap punggung Tina yang menjauh. Ia pun melihat wanita pujaannya itu duduk di sebuah tempat bersama pria dan wanita yang sepertinya adalah pasangan.
Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jhon, Tina duduk bersama Arafah, Alif, dan Al. Sebenarnya, Tina ingin menengok ke belakang dan melihat Jhon, tapi ia berusaha menepis. Jujur, saat ini Tina pun merindukan pria itu. tidak dipungkiri, Jhon adalah pria pertama yang membuatnya jatuh hati. Jhon adalah pria pertama yang menyentuh seluruh tubuhnya hingga tak tersisa.
“Apa dia masih berdiri di sana?” tanya Tina dalam hati.
Arafah, Alif, dan Al sedang asyik membuka menu makanan yang diberikan pelayanan. Dua bukan makanan untuk keempat orang yang duduk dalam satu meja. Arafah tampak menempel pada suaminya untuk melihat buku menu itu bersama, sedangkan Al masih melihatnya sendiri.
Jhon memang sengaja menunggu Tina menengok. Ia sengaja duduk di sana sambil menatap me arh itu, lalu menghitung mundur.
“Aku tahu kamu juga merindukanku, Tina. Kita lihat apa kamu juga merindukanku? Jika iya, maka dalam hitungan lima detik, kamu akan menengok ke arahku.” Jhon bermonolog sendiri dan mulai berhitung mundur.
“Lima, empat, tiga, dua, sa …”
Rasa penasaran pun mendera. Akhinya, hati Tina memutuskan untuk menoleh ke belakang, ke arah musholla kecil yang tadi ditinggalkan.
Kepala Tina berputar sedikit ke belakang dan benar saja, ia melihat Jhon yang masih berada di sana. Seperti bule ke sasar, Jhon malah duduk di tangga masuk musholla tepat ketika orang melepaskan alas kakinya untuk memasuki tempat itu.
Sontak, senyum pria bule itu mengembang. Ia pun memiliki Jawaban atas pertanyaannya tadi.
Melihat Jhon tersenyum, Tina justru cemberut dan segera kembali meluruskan kepalanya. Di sana senyum Jhon semakin mengembang, apalagi setelah melihat wajah cemberut itu. Rasanya rindu itu sedikit terobati.
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Jhon berdering. Deringan telepon untuk ke sekian kali yang datang dari Grace. Jhon melihat nama yang tertera di layar ponsel itu. ia menarik nafasnya kasar. Sejak meninggalkan hotel, ponsel itu terus berdering, walau dirinya sudah mengabaikan tapi tetap saja Grace terus menghubunginya.
Jhon bangkit dan memilih tempat duduk dan dengan berat hati ia mengangkat telepon itu.
“Halo.”
“Jhon, kau di mana?”
Jhon kembali menarik nafasnya kasar. “Sudah ku bilang, kita sudah tidak ada urusan.”
“Jhon, Michelle kejang – kejang.”
“Aku sudah menyuruh orang untuk menemanimu. Dia ada di kamar 402, disebelahmu. Kamu bisa minta tolong padanya.”
“Jhon. Kau tega sekali,” ujar Grace.
“Kau lebih tega. Jhonny yang meninggalkanmu, malah aku yang jadi tumbal. Kau sudah menghancurkan hubunganku dengan Tina. Kau membuatnya pergi.”
Klik
Habis sudah kesabaran Jhon, padahal sejauh ini Jhon lebih dikenal sabar dibanding Alex, Zavier, dan Damian. Jhon pria yang tidak enakan dan tidak pernah menolak setiap kali temannya meminta bantuan. Dan sifat itu juga yang dimanfaatkan oleh seorang Grace.
Jhon memilih tempat duduk yang cukup jauh dari tempat duduk Tina dan rombongannya. Namun, ia tetap bisa melihat wajah manis itu.
Tina duduk bersebalahan dengan Arafah, sementara Alif dan Al berada di hadapan mereka. dan dari kejauhan, Tina dan Arafah juga mampu melihat keberadaan Jhon, sedangkan Alif dan Al memunggungi tempat yang Jhon duduki.
__ADS_1
Hingga saat ini, Arafah belum menyadari keberadaan Jhon. Walau ia masih ingat betul pria bule yang bersama adiknya saat di Bali.
“Dek, kamu mau makan apa?” tanya Alif pada adik iparnya.
Kebetulan saat ini, Alif yang sedang memegang alat tulis dan menulis pesanan pada kertas yang diberikan pelayan tadi saat memberikan buku menu.
Sedari tadi Tina terdiam. Ia sedang berpikir, apa yang dilakukan Jhon di Jogja? Mengapa mereka bisa kebetulan bertemu?
“Dek, mau makan apa?” Alif mengulang pertanyaannya.
Arafah yang masih melihat buku menu menoleh ke arah sang adik. Di sampingnya, Tina hanya melamun dengan berpangku tangan dan belum meluruskan pandangan dan melihat Jhon yang tepat berada lurus sejajar di tempat yang ia duduki.
“Dek, hei! mau makan apa?” Arafah langsung menggoyangkan lengan Tina.
Seketika, Tina pun terlepas dari lamunannya. “Ah, apa aja deh, Mbak.”
“Ya, apa? Mas Alif udah nulisin pesanan Mbak dan Mas Al, sekarang giliran kamu.”
“Hm. Apa ya? Gudeg aja deh, Mbak,” jawab Tina asal.
“Ciye, pesananmu ternyata sama loh dengan Mas Al,” goda Arafah.
“Itu tandanya jodoh,” sahut Alif yang ikut menggoda.
“Ih, apa sih?” Tina terlihat risih tapi tidak untuk Al.
Al malah tersenyum senang mendapat godaan dari Alif dan istrinya.
“Kenapa sih, Dek? Dari tadi cemberut aja? Ga suka ya diajak ke sini?” tanya Alif.
“Mungkin Ning Bira ga suka, karena ada aku,” celetuk Al.
“Ih, ngga.” Tina langsung menggoyangkan ke sepuluh jarinya. “Aku seneng kok jalan – jalan, Cuma sepertinya kita kesiangan, jadi nanti ga bisa lama di Malioboro.”
“Justru semakin malam di sana semakin seru, Dek.” Sahut Arafah.
“Ya, kita pulang tengah malam juga nda apa – apa kok.” Alif ikut menyahut.
Sementara Al hanya mengangguk. Ia mengikuti saja. Lagi pula, kebetulan hari ini ia tidak memiliki jadwal terbang syiar.
Tak lama kemudian, pesanan datang. Arah mata Tina masih saja sesekali melirik ke arah meja Jhon yang terus memperhatikan dan Tina pun sadar bahwa di sana Jhon sedang memantaunya.
Diam – diam Arafah pun mengikuti arah mata Tina, hingga ia terbelalak. Refleks, Arafah menginjak kaki sang adik.
“Awww.”
“Ada apa?” tanya Al mendengar Tina menjerit.
“Nda ada apa – apa,” jawab Arafah.
__ADS_1
Tina langsung membulatkan mata ke arah sang kakak, seolah bertanya apa yang dia lakukan. Kemudian, Arafah mendekatkan telinganya pada sang adik dan sang adik pun mengangguk.
“Ada apa sih?” tanya Alif bingung.
Kedua wanita itu langsung menggeleng. “Nda ada apa – apa.”
Lalu, Tina berdiri. “Sebentar ya, aku belum cuci tangan.”
Tina beralh ke kamar mandi yang berada di ujung restoran. Melihat sang kekasih beranjak dari tempatnya, Jhon tak ingin melewatkan kesempatan. Ia berlari menghampiri Tina.
Tina yang baru saja memasuki kamar mandi khusus wanita, tiba – tiba pintu itu kembali terbuka dan langsung dikunci oleh seseorang.
“Jhon.”
Jhon langsung mendekat dan menghimpit Tina. Pria bule itu pun langsung menyambar bibir itu.
“Mmpphh …” Tina memukul dada Jhon dengan brutal agar ciuman itu terlepas.
Namun, semakin dipukul justru Jhon semakin memperdalam ciumannya.
“Mmpphh …” Tina terus meronta, hingga Jhon puas melampiaskan kerinduan itu, ia pun melepaskan pagutan.
“Hah.” Nafas Tina tersengal, ia sangat marah. “Br*ngs*k! Kamu pria menyebalkan yang pernah aku kenal. kamu tidak pernah bisa menghargaiku.”
Jhon yang mendapat cacian hanya menatap rindu wanita itu. Ia pun ke kembali mengulangi kesalahan, yang ia kira bukan kesalahan, karena dinegara ciuman bibir adalah hal biasa. Jhon mencium lagi bibir itu, hingga Tina kesal dan terpaksa menggigit bibir Jhon hingga berdarah.
“Ah. Mengapa kamu lakukan ini?” tanya Jhon.
“Seharusnya aku yang bertanya, mengapa kamu lakukan ini? Kamu tidak lihat, kalau aku bukan lagi Tina yang dulu? Aku ingin menjadi lebih baik.” Tina meminta Jhon untuk melihat cara berpakaiannya sekarang.
“Tapi aku sangat merindukanmu, Sayang. Dan aku tahu, kamu juga merindukan sentuhanku.”
Tina mendorong keras dada itu hingga himpitan itu pun terlepas. “Kamu tidak pernah bisa menghargai wanita. Yang ada dipikiranmu hanya kesenanganmu saja, nafs*mu saja.”
Jhon menggeleng. “Tidak, aku tidak seperti itu. Aku hanya cemburu melihatmu bersama pria lain. siapa dia?”
“Dia calon suamiku. Puas!”
Jhon terkejut, kepalanya kembali menggeleng. “Bohong! Kamu bercanda. Aku tahu, kamu tidak bisa mencintai pria lain. Cinta pertamamu adalah aku.”
Tina merutuki kebenaran itu. Ia pun segera membuka pintu yang Jhon kunci tadi dan hendak keluar.
“Baiklah, besok aku akan datang ke rumahmu untuk melamar,” teriak Jhon.
Tina tidak peduli, ia malas mendengar Jhon yang selalu mengumbar janji. Tina tetap keluar dari kamar mandi itu tanpa menoleh.
“Tina, aku akan menemui orang tuamu.” Jhon masih berteriak dan ikut keluar dari ruangan itu.
Sementara, di depannya ada seorang ibu – ibu yang ingin menggunakan ruangan itu, namun terhenti dan terlihat bingung pasalnya kamar mandi itu jelas tertulis khusus perempuan, tetapi yang keluar seorang laki – laki bule.
__ADS_1
Ibu itu menggeleng. “Dasar bule gila. Nda bisa baca?”