
"Bagaimana, Dok?” tanya Abid pada dokter yang sedang menangani adiknya.
Setelah teriakan histeris Tina pagi tadi, akhirnya Abid membawa sang adik ke klinik.
“Maaf, sepertinya adik anda harus dibawa ke dokter spesialis mata. kebetulan di klinik ini tidak ada. Saya tidak bisa menemukan benda itu.”
Abid menoleh ke arah Tina yang tampak panik. Pria yang memiliki postur tubuh serta suara yang mirip ayahnya itu juga melirik ke arah istrinya.
Tina diantar oleh Abid dan Zahra, sementara Arafah harus ditinggal di rumah untuk menyiapkan kepulangan suaminya. Arafah memang berniat tinggal di sini hingga acara pernikahan Tina digelar, mengingat acara itu hanya tinggal satu minggu lagi. Alif yang merupakan pegawai negeri sipil, harus kembali ke kota ia tinggal dan minggu depan ia kembali untuk menghadiri pernikahan sahabat dan adik iparnya.
“Jadi, bagaimana Dok?” tanya Abid lagi.
“Saya akan rujuk ke rumah sakit besar. Rumah sakit yang memiliki alat untuk pemeriksaan mata secara lengkap.”
Abid mengangguk setuju atas saran dokter itu. Di hari yang sama, Abid langsung membawa sang adik menuju rumah sakit yang dirujuk dokter tadi. Dan di rumah sakit yang terdapat di kota besar, Al menunggu Abid, Tina, dan Zahra.
Sejak mendapat informasi dari Alif tentang calon istrinya, Al langsung menghubungi Abid.
“Ummi, maaf Zahra titip Ayash dan Ameena dulu ya,” ujar Zahra ditelepon.
Abid masih mengemudi di depan, sementara Zahra duduk di sampingnya dan Tina di belakang pasangan suami istri itu. Di kursi penumpang belakang, Tina tampak terus menangis. Ia berharap apa yang terjadi pada dirinya saat ini, tidak akan berdampak buruk pada penglihatannya nanti.
“Iya, Nduk. Tenang saja. Terus, Bira bagaimana? Benda di matanya sudah bisa dikeluarkan?”
“Belum Ummi. Dokter tidak bisa menemukan benda itu. Sekarang kami menuju rumah sakit Sehati yang ada di kota. Kami dirujuk ke sana karena peralatan di sana lebih lengkap.”
Sambil memegang telepon, Hasna mengangguk. “Semoga tidak apa – apa ya, Ra.”
“Insya Allah, Mi. Insya Allah Bira tidak apa – apa. kalau bendanya bisa dikeluarkan, insya Allah aman.”
“Ya sudah, kalian hati – hati,” ucap Hasna.
“Iya, Mi. Zahra tutup ya teleponnya. Assalamualaikum.”
“Waalaikumusalam.” Dengan penuh kekhawatiran, Hasna menutup sambungan telepon itu.
“Mas Abid. Tina ga apa – apa kan?” Tina pun masih sangat khawatir.
“Lagian ngapain sih kamu pake benda seperti itu?”
“Bira memang biasa pakai soflens, Mas. Ga apa – apa kok.”
“Ya, tapi jadi perkara kan? Kalau pakai kacamata kan lebih aman. Tidak mungkin ada kejadian seperti ini.”
"Siapa sih Mas yang mau seperti ini. Kalau Bira tahu akan seperti ini. Bira ga akan pakai benda itu."
__ADS_1
"Kamu tuh dari dulu kalau dibilangin jawab terus."
Abid menyalahkan Tina yang menurutnya kebanyakan gaya. Padahal di Jakarta menggunakan benda semacam itu adalah hal biasa, hanya saja malam itu Tina benar – benra teledor. Biasanya ia tidak pernah lupa untuk melepas benda itu. Pernah beberapa kali, Tina lupa, tapi saat itu ada Jhon yang selalu mengingatkannya. Bahkan saat mereka tak lagi tinggal bersama, Jhon selalu mengingatkan Tina untuk melepas benda itu melalui pesan singkat.
Keduanya bersetetu dan saling bersahutan.
“Sudah, sudah, jangan main salah – salahan,” ujar Zahra menjadi penengah. Lalu, Zahra mengusap bahu suaminya. “Bira lagi panik, Mas. jangan kamu marahin! Nanti malah semakin panik. Berdoa saja, semoga tidak terjadi apa – apa dan benda itu dapat mudah dikeluarkan.”
“Aamiin,” ucap Bira. Abid pun mengucapkan hal yang sama, walau pelan.
Setelah menempuh perjalan cukup lama ke kota, akhirnya kendaraan yang dikendarai Abid sampai di rumah sakit yang dirujuk Dokter tadi.
Di lobby, tampak Al berdiri menanti kedatangan Abid, Tina, dan Zahra.
“Mas Abid.”
“Al.”
Kedua pria itu saling menyapa dan berpelukan.
“Bagaimana? Bira sudah didaftarkan?” tanya Abid, usai memeluk calon adik iparnya.
“Sudah. Tnggal menunggu dipanggil saja.” Al mengajak Abid, Tina, dan Zahra ke dalam rumah sakit dan menuju ruang khusus poli mata.
Mata Tina terlihat sembab. Kepalanya menggeleng untuk meyakinkan Al bahwa dirinya tidak apa – apa, padahal saat ini Tina panik setengah mati.
“Agustina Shabira.”
Nama itu pun dipanggil oleh petugas yang mengenakan seragam perawat. Abid, Zahra, Al, dan Tina berdiri.
“Yang sakit yang mana?” tanya perawat itu.
Tina menunjuk dirinya. Al, Abid, dan Zahra menunjuk ke arah Tina.
“Yang mengantar maksimal dua orang ya. Tidak bisa lebih.”
Zahra mengalah. Ia mengangguk dan kembali duduk di ruang tunggu. Kemudian, Al, Abid, dan Tina memasuki ruang dokter. Di sana, Tina pun diperiksa.
Cukup lama Tina diperiksa dengan sangat teliti oleh Dokter ahli itu.
“Bagaimana, Dok? Apa benda itu bisa diambil?” tanya Al.
Abid menole ke arah Al dan mengangguk kepada dokter itu, karena ia pun ingin bertanya hal yang sama.
Dokter yang semula meneropong mata Tina dengan alat khusus itu pun menghela nafasnya kasar. “Saya harus mengambil tindakan lain.”
__ADS_1
“Maksudnya, Dok?” tanya Abid penasaran.
“Bendanya sudah bergerak ke belakang bola mata, jadi untuk mengambilnya harus dengan tindakan, yaitu dengan menggunakan vacum.”
“Segera, Dok. Apa pun itu, benda itu harus diambil,” ujar Al.
“Apa ada efek sampingnya setelah tindakan itu, Dok?” tanya Abid.
Dokter itu menunggu pertanyaan Abid. Pria dengan rambut yang hampir keseluruhannya berwarna putih itu mengangguk. “Ya, efek samping terburuk adalah kebutaan.”
Tina syok. Semua orang yang mendengar pun syok, termasuk Abid dan Al. namun, mereka tak memiliki pilihan. Membiarkan benda itu tetap berada di sana akan membahayakan Tina. Sementara, dilakukan tindakan pun tetap akan memberi efek buruk pada wanita itu.
Abid menatap wajah sang adik yang semakin terlihat panik. Ia bisa merasakan kepanikan yang sedang dirasakan sang adik. Abid menarik nafasnya kasar.
Sementara, di Australia, entah mengapa hati Jhon merasa tak enak. Ia mengeluarkan uang di dompet dan foto Tina terjatuh.
“Apa ini wanita yang kamu ceritakan?” tanya Laura, setelah mengambil foto itu dan melihatnya.
Jhon mengangguk.
“Cantik,” ucap Laura sembari memandang foto Tina yang sudah mengenakan hijab.
“Ya, dia sangat cantik. Wanita tercantik yang pernah aku temui, Mom. Dia yang membuatku banyak berubah.”
Laura tersenyum. Ia dapat melihat perubahan putranya. Tinggal satu malam di rumah Mike, cukup membuat Laura melihat kebiasaan Jhon yang sekarang.
Jhon berubah seratus delapan puluh derajat. Ia benar – benar bukan seperti Jhon yang terakhir kali Laura lihat.
“Boleh Mommy bertemu dengannya?” tanya Laura yang rencananya akan pulang bersama ssang putra kembali ke negara tempat tinggal mereka masing – masing, besok pagi.
Jhon menggeleng. “Tidak bisa. jangan kan Mommy, Jhon pun sudah tidak bisa menemuinya.”
“Kenapa?”
“Karena dia sudah dimiliki orang lain,” jawab Jhon sedih.
Jhon tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Tina. Hanya saja, dalam tiga malam terakhir, ia memang selalu memimpikan wanita itu. Jhon pikir mimpi itu hadir karena dirinya terlalu merindukan Tina, padahal mimpi itu hadir karena Tina pun merindukan dirinya, terlebih saat ini ia sedang mengalami tragedi.
Permintaan update 4917, tapi kenapa yang like cuma 2ribuan ya?
Untuk menambah semangat saya, jangan lupa like, komen atau hadiah dan vote kalo ada. Hehehehe,, makasih 😘
__ADS_1