Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
"Genggamlah keimananmu, sekuat genggaman tangan Abi"


__ADS_3

"Bira, kenapa Abi sama Ummi bisa begini? Kenapa?” tanya Arafah panik melihat kedua orang tuanya berada di ruang ICU.


Ustman da Hasna dipindahkan ke ruangan intensive care unit, mengingat peralatan di sana lebih lengkap. Hasna pun mendapat perawatan yang sama karena wanita paruh baya itu sempat mengalami sesak nafas hebat.


Hasna yang memiliki tukak lambung kronis, ikut drop karena stres. Penyakit lama yang sudah cukup lama tidak kambuh itu pun kembali kambuh.


Tina hanya diam membisu. Ia tidak tau harus menjelaskan dari mana, rasanya kejadian ini sangat cepat.


“Ck. Kamu selalu saja bikin Abi dan Ummi susah,” kata Arafah kesal.


Arafah yang tidak pernah marah, kini terlihat marah.


“Maaf, Mbak.” Tina menunduk, matanya masih sembab.


Alif yang sampai bersama istrinya pun langsung mendekati Al dan menannyakan yang terjadi. Arah mata Alif menatap kepada Jhon.


Pria bule itu berdiri sendirian. Mental Jhon sudah teruji, dia cukup kuat untuk menghadapi hal ini. ia tidak peduli dengan cibiran orang yang mengatakan bahwa apa yang terjadi pada Hasna dan Utsman adalah karenanya. Karena yang terlihat secara kasat mata memang demikian. Utsman tumbang setelah mendengar kejujuran Jhon, walau kejujuran itu atas perilaku Al dan Randy yang sudah mendesak Tina hingga mengambil keputusan yang mengejutkan.


“Kenapa kamu selalu membuat susah Abi dan Ummi? Kenapa kamu selalu membuat mereka sakit, Bira?”


“Maaf.” Lagi – lagi, Tina hanya bisa memohon maaf pada sang kakak.


“Kamu tahu, dua tahun lalu Ummi juga dilarikan ke rumah sakit karena penyakit lambungnya kambuh memikirkan kamu yang ada dikota orang. Ummi tidak mau makan karena khawatir kamu makan apa di sana.”


“Mbak.” Tina memanggil kakaknya lirih. Mendengar pernyataan tadi, cukup membuat hati Tina tersayat. Ia sungguh menyesal karena pernah menjadi anak pembangkang.


Baru Arafah yang datang, apalagi ketika Abid datang nanti, Tina pasti akan habis dimarahi oleh kakak pertamanya itu. Terlebih jika Abid sampai tahu penyebab tumbangnya kedua orang tua mereka. Entahlah.


Malam semakin larut, Tina hanya bisa duduk di ruang tunggu. Ia tidak berani memasuki ruangan Hasna, sedangkan ruangan Utsman memang tidak boleh dimasuki, hanya satu dua orang saja yang diperbolehkan dengan waktu yang dijadwalkan.


Al, Rendy, dan Alif pun tampak sudah tidak ada di ruangan ini. Al hanya menemui Tina untuk pamit dan Tina pun tak berekspresi. Sedangkan Arafah menemani sang ibu di ruangannya bersama Munah. Munah sudah tiga kali mondar mandir untuk membawa keperluan Hasna dan keperluan Arafah yang akan menginap di ruangan sang Ibu setelah dipindahkan lagi ke ruang perawatan.


“Minumlah!” Jhon menyerahkan gelas yang berisi cokelat hangat pada Tina.


Tina yang sedang duduk, sedikit mendongak dan melihat orang yang memberinya minum. “Pulanglah, Jhon. Kembali ke Jakarta.”


Jhon menggeleng dan ikut duduk di samping Tina. “Tidak. aku akan menemanimu di sini.”


Tina menoleh ke arah pria bule itu. “Bisakah sekali saja menuruti kemauanku?”


Jhon terdiam.


“Orang tuaku seperti ini karenamu,” ucap Tina kesal.


“Aku tidak akan mengatakan hal itu, jika kamu tidak mengambil keputusan sepihak. Aku terkejut, Tina. Kamu seolah tidak menghargai usahaku yang sedang memantaskan diri di depan kedua orangtuamu.”


Tina semakin membulatkan matanya. “Cukup, Jhon. Aku harap kita tidak bertemu dulu. Aku tidak ingin melihatmu.”

__ADS_1


“Tina,” panggil Jhon lirih. “Sayang.”


Tina tidak lagi menoleh ke arahnya. Wanita itu kembali menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Pergi, Jhon! Pergilah!”


Jhon pun pasrah. Ia pun bangkit dari tempat duduknya. Tina memang butuh sendiri saat ini. Jhon pun berusaha mengerti.


“Aku tinggalkan minuman dan makanan ini di sini. Sejak siang tadi, aku tidak melihatmu makan dan minum.” Jhon meletakkan makanan dan minuman yang Ia beli itu tepat di samping Tina, di kursi yang semula ia duduki tadi.


“Aku akan pulang, besok aku akan kembali ke sini. Aku juga ingin memastikan kondisi Abi baik – baik saja.”


Tina tetap diam.


Tanpa semua orang ketahui, Jhon lah yang sudah meminta rumah sakit untuk memberi pelayanan maksimal pada kedua orang tua Tina.


Dengan ragu, Jhon pun meninggalkan wanita pujaannya sendiri di sana. Sungguh, ia merasa tak tega. Jhon ingin sekali dadanya menjadi tempat bersandar Tina saat ini, seperti yang selalu wanita itu lakukan dulu.


“Sayang, jangan lupa dimakan makanannya! Aku tidak ingin melihatmu sakit.” Kaki Jhon tetap tidak bisa melangkah meninggalkan Tina, hingga kembali berkata.


“Pergilah!” sahut Tina, membuat Jhon akhirnya meninggalkan tempat ini.


Hingga hampir subuh menjelang, Tina masih duduk di ruang tunggu.


“Mbak Fah, Ning Bira kasihan di luar,” ujar Munah yang melihat Tina tertidur duduk di ruang tunggu.


Arafah pun keluar dari ruang perawatan sang ibu dan melihat sang adik. Lalu, ia mendekati. “Bira.”


“Sudah lebih baik.”


“Aku ingin bertemu Ummi, Mbak. Bolehkan, aku masuk ke dalam?” tanya Tina memelas.


Arafah yang tak tega pun mengangguk. “Boleh, tapi Ummi masih tidur. Jangan sampai kebangun ya!”


Tina mengangguk senang, karena akhirnya ia bisa mencium punggung tangan sang Ibu. Tina memasuki ruangan itu dan melihat Hasna yang terbaring lemah dengan balutan infusan di tangan.


“Ummi.” Tina duduk di samping sang ibu dan mengambil tangan itu untuk dicium. Tina menempelkan punggung tangan HAsna pada pipi, dan wajahnya.


“Maafkan Tina, Ummi. Maaf. Tina satu – satunya anak Ummi dan Abi yang bandel. Tina sudah merusak nama baik Ummi dan Abi. Tina minta maaf.”


Deraian airmata Tina mengalir deras. Isakan yang ia tahan dengan sekuat tenaga untuk tidak berbunyi pun akhirnya terdengar Hasna.


Kelopak mata Hasna terbuka. Ia melihat sang putri yang bersimpuh di sampingnya.


“Bira.”


“Ummi. Ummi maafin Bira, kan?”


Hasna mengangguk. sebesar apa pun kesalahan anak, pasti akan ia maafkan. Begitulah orang tua.

__ADS_1


“Maaf, keluarga Kiyai Utsman?” tiba – tiba perawat datang ke ruangan Hasna dan berdiri di pintu.


“Iya,” jawab Arafah.


“Maaf, ayah anda unfall lagi. salah satu diantara kalian harus ikut kami,” ucap perawat itu.


“Abi.” Hasna langsung ingin bangkit, tapi Arafah menahan tubuh itu.


“Jangan bergerak Ummi! Ummi masih lemas. Biar Arafah yang melihat kondisi Abi,” sahut Arafah.


Kemudian, para perempuan yang ada di ruang perawatan Hasna melihat salah satu perawat yang membisiki perawat itu.


“Shabira. Di sini ada yang bernama Shabira,” ucap perawat itu.


“Ya, saya.” Tina langsung menunjuk tangan.


“Pasien memanggil namamu. Ayo ikut kami!”


Dengan cepat, Tina mengikuti langkah dua perawat itu. sesampainya di ruang ICU, ia melihat mata sang ayah yang sudah terbuka dan menatapnya, walau mta itu tidak terbuka penuh.


“Abi.” Tina langsung menghampiri sang ayah dan mengenggam tangannya.


Ustman membalas genggaman tangan itu, kini dengan semakin erat.


“Genggamlah keimananmu, sekuat genggaman tangan Abi.”


Tina dapat merasakan genggaman yang erat itu, hingga sedikit membuat tangannya sakit, bahkan mungkin jika genggaman itu terlepas, tangan Tina akan memerah. Namun, Tina tidak peduli. Ia tetap menurut. Kepalanya pun mengangguk.


“Iya, Abi.”


Utsman tersenyum. Tiba – tiba matanya sayu dan perlahan mulai tertutup, membuat Tina panik setengah mati.


“Abi, tetaplah bersama Bira, Bi. Abi,” ucap Tina lirih berkali – kali agar sang ayah tetap terjaga.


Namun sang ayah tetap pada sesuatu yang ditakdirkan, hingga lantunan nama Allah terucap dibbirnya dengan sangat pelan hingga hanya terdengar ditelinga Tina.


“Laa ilaha illallah.”


Tuuuuuut


Mesin detak jantung Utsman pun tidak lagi bergelombang.


“Abiiiiii …”


Tepat di hari yang sudah memasuki hari jumat, Utsman menghembuskan nafas terakhirnya.


“Kewajibanku belum selesai.” Di alam lain, Utsman tengah menangis, seperti Tina yang kini menjerit meratapi kepergian sang ayah.

__ADS_1


Utsman merasa gagal menjadi nahkoda. Namun, semua takdir sudah digariskan. Iman tak dapat diwarisi, meski dari seorang ayah yang bertaqwa. Akan tetapi, Allah maha baik. Dia akan mengampuni setiap orang yang bertaubat dengan sungguh – sungguh.


__ADS_2