Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu


__ADS_3

Jhon duduk di tepi tempat tidur kamarnya. Kamar yang berada di dalam rumah singgah milik Utsman yang sengaja ia dirikan untuk menampung para tamu yang datang dari luar karena kemalaman dan harus bermalam. Banyak para Kiyai dan ulama besar yang pernah singgah dan mengisi rumah ini, walau hanya semalam.


Selama mengajar program talaqqi, Ustad Abdullah pun ikut tinggal di rumah singgah ini. Namun, pria itu lebih sering berada di masjid. Tinggal satu atap dengan Ustadz Abdullah, membuat Jhon banyak belajar. Apalagi keseharian yang dilakukan pria itu, membuat Jhon kagum dan sedikit meniru.


Ceklek


Rumah itu terbuka, Ustadz Abdullah melewati kamar Jhon yang juga sedikit terbuka. Ia melihat pria bule itu melamun.


“Jhon. Ada apa?” tanya Abdullah menghampiri.


Pria itu ikut duduk di samping Jhon. Jhon menoleh ke arah Abdullah dan tersenyum tipis.


“Saya pernah menyakiti seorang wanita, tidak memperjuangkannya, padahal dia sudah memberikan segalanya untuk saya. Dan sekarang, dia membalasnya. Mungkin, apa yang dia rasakan dulu, seperti ini. Kecewa, sedih, marah. Saya marah, Ustadz. Saya marah. Saya sudah melakukan semua untuknya. Saya sudah melakukan semua untuknya.”


Tiba – tiba, Jhon menangis. Airmatanya tak kuasa terbendung. Ia menjadi pria melankolis. Padahal, Jhon anti meneteskan airmata. Sedih – sedihnya dia, Jhon pantang untuk menangis. Tapi kali ini tidak, rasanya dunianya memang benar – benar runtuh. Ia tidak bisa membayangkan kehilangan Tina. Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa wanita itu. Jhon tipe pria yang sulit jatuh cinta. Ia rasa, ia tidak akan pernah bisa jatuh cinta lagi setelah ini.


Abdullah memeluk Jhon. Ia tidak tahu persis apa yang sedang Jhon alami dan siapa wanita yang Jhon maksud, tapi ia hanya bisa memberi bahu dan sedikit ketenangan sebisanya.

__ADS_1


“Manusia memang selalu dihadapkan oleh rasa sedih, kecewa, dan marah. Karena yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. Kecewa, sedih, marah, itu datang karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Tapi yakinlah, bahwa yang terjadi adalah yang terbaik. Berbaik sangkalah pada Allah, Jhon. Dan berbaik sangkalah pada wanita itu. Bisa jadi, dia bukan ingin menyakitimu, tapi hanya tidak ingin menyakiti orang lebih banyak lagi.”


Jhon melepaskan pelukan. Ia mengusap airmatanya seraya berkata, “Tapi saya tidak ikhlas, Ustadz. Saya tidak ikhlas melihat dia bersanding dengan pria lain.”


“Bukan tidak, tapi belum. Hanya membutuhkan waktu,” ujar Abdullah, membuat Jhon terdiam.


Abdullah memang tidak cukup tahu tentang Jhon dan Tina. Hanya saja, Abdullah sering memergoki Jhon yang menatap Tina tak biasa, hingga terkadang Abdullah sering menyenggol siku muridnya itu agar menjaga pandangan saat melihat putri bungsu almarhum Kiyai Utsman itu.


Dan, sebelum sampai di rumah ini, Abdullah mampir ke rumah Utsman dan berbicang sebentar dengan Mustofa juga keluarga Tina yang sedang membicarakan tentang lamaran.


Jhon mengangguk. Lalu, merogoh saku celana. “Sebelum meninggal, Abi menerima lamaran saya dengan memberikan ini.”


Abdullah terkejut. Ia ikut memegang tasbih yang biasa digunakan Utsman. Beberapa kesempatan, Abdullah memang sempat melihat Jhon menggunakan tasbih ini selepas sholat fardu. Tasbih yang sangat Abdullah kenal, karena saat Utsman diberikan benda istimewa ini, Abdullah ada bersamanya. Saat itu, mereka menjadi tamu kerajaan Saudi karena keberhasilan program mereka yang telah mencetak sepuluh penghafal Al Quran dalam tiga puluh malam.


Tasbih ini adalah kenang – kenangan yang diberikan raja Saudi untuk mereka sebagai bentuk apresiasi, walau di negeri sendiri tidak mendapatkan keistimewaan seperti ini.


“Tidak ada yang tahu tentang ini?” tanya Abdullah pada Jhon.

__ADS_1


Jhon menggeleng.


“Kamu tidak mengatakan hal ini pada Abid?”


Lagi – lagi, kepala Jhon menggeleng. “Tidak.”


Kemudian, Jhon menceritakan semua kisahnya dengan Tina dari A sampai Z, termasuk cerita hingga Utsman meninggal dan memberikan tasbih itu.


“Saya pendosa, Ustadz. Saya telah merusak anak perempuan seorang Kiyai. Dan ini balasan untuk saya.”


Abdullah terdiam sejenak dan mulai berkata sembari menepuk bahu Jhon. “Allah menyukai orang yang mengakui kesalahan. Allah menyukai orang yang bertobat. Ini bukan balasan, melainkan ujian. Menjadi orang baik memang tidak mudah. Tapi dibalik ketidakmudahakn itu, selalu tersimpan hikmah. Semoga kamu bisa mengambil hikmah dari semua hal yang kamu alami, Jhon.”


Jhon mengangguk. Berbincang dengan Abdullah, membuat hati Jhon sedikit tenang.


Abdullah kembali menyemangati muridnya dengan kembali menepuk bahu itu.


“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu.”

__ADS_1


__ADS_2