
Satu hari
Dua hari
Waktu.berlalu. Tina merasakan kegelapan sejak dua hari terakhir. Sebelumya Abid kembali mengajak Tina ke rumah sakit tempat terakhir.sang adik dilakulan tindakan. Abid meminta pertanggung jawaban dokter tersebut. Namun, Abid sadar bahwa ada tanda tangan dirinya yang menyatakan akan menerima resiko apa pun setelah tindakan ini. Dan, kini resiko itu pun tidak bisa dipertanggungjawabkan atau di asa ke jalur hijau karena dokter sudah menangani sesuai dengan semestinya. Hanya saja sepersekian persen resiki yang sudah sedemikian rupa diantisipasi dokter, ternyata terjadi.
Saat dilakukan tindakan dan tetlalu kiat alat vacum untuk mengambil benda itu, mengakibatkan retina Tina robek dan imbas dari itu, penglihatannya pun hilang.
"Mas Abid, bagaimana keadaan, Bira?" tanya Al melalui telepon.
Sejak tahu bajwa Tina tak lagi bisa melihat. Al tetap berkunjung ke rumah itu. Ia perihatin dengan keadaan calon istrinya. Apalagi saat Tina merambat untuk melangkah menuju kamar mandi. Rasanya Al tak kuasa melihatnya.
"Alhamdulillah, keadaan Bira baik. Subhanallah, Bira sangat berbesar hati. Dia tidak meraung, tidak menyalahkam dirinya sendiri, apalagi menyalahkan Allah atas semua yang terjadi."
"Bira semakin dewasa," ujar Abid lagi dan terdengar memuji sang adik.
Bagaimana tidak. Jika seseorang berada di posisi adiknya kini, mungkin tidak akan sanggup. Tapi Tina sama sekali tidak mengeluh dan ketegaran itu membuat keluarga pun ikut tegar. Bahkan Hasna yang semula meraung, menangis pilu melihat keadaan putri tercintanya, kini bisa menerima keadaan. Apalago, Al tampak tidak terpengaruh, pria itu tetap datang ke rumah untuk menemui Tina.
"Alhamdulillah. Al juga senang mendengarnya, Mas," sahut Al.
"Mas Abid, apa itu telepon dari Mas Al?" tanya Tina dengan sedikit berteriak mendengar suara Abid yang sedang menerima telepon seseorang yang ia yakini adalah Al.
Abid menutup speaker yang ada di dekat mulutnya dan menjawab pertanyaan Tina.
"Iya. Kenapa?"
"Bira ingin bicara padanya."
Lalu, Abid bicara lagi di telepon dengan Al.
"Al, Bira ingin bicara."
Al setuju. Kemudian, Abid memberikan ponselnya pada Tina.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikumusalam. Bagaimana keadaanmu, Bira? Maaf Mas nda ke sana lagi karena besok kita akan menikah."
"Mas," panggil Tina.
"Ya."
"Mas Al yakin akan tetap menikahi Bira? Bira bukan wanita sempurna, Mas."
Abid yang mendengar percakapan itu, aewra meninggalkan kamar Tina dan menutup pintu kamar itu lagi dengan rapat. Sugguh, ia pun tak kuasa. Sebagai laki - laki se sempurna Al, Abid takut sang adik akan diduakan nantinya. Belum lagi keluarga Mustofa terutama Fatimah.
"Apalagi Bira juga punya masa laku kelam yang buruk," ucap Tina lagi. "Tidak ada yang bisa Mas Al banggakan dari Bira."
Tak terdengar suara di sana. Sepertinya, Al tampak diam. Ia sudah mengukuhkan hati untuk tetap melanjutkan pernikahan ini.
"Mas," panggil Tina lagi.
"Sudah, Bira. Jangan terlalu banyak berpikir! Jalani saja semuanya. Mas kan sudah bilang, Mas akan menerimamu apa adanya."
Tina menarik nafasnya kasar. Sebenarnya ia ingin memilih sendiri saja, terlebih dengan kondisinya saat ini.
"Mas yakin? Bira tidak bisa melayani Mas dengan baik nantinya. Bira hanya menyusahkan saja. Mas Al, jika Mas ingin mundur, silahkan! Bira tidak masalah."
Kini, Al yang menarik nafasnya kasar.
"Bira, tidurlah! Ini sudah malam. Besok kita akan bangun pagi - pagi kan?"
Al mengalihkan pembicaraan. Tina pun setuju. Tak lama dari itu, sambungan telepon pun terputus. Di sana, Al kembali termenung.
Di balik pintu kamar Tina, Hasna meneteskan airmata. Abid sang putra sulung yang begitu bertanggung jawab dan menjadi ayah serta kakak bagi adik - adiknya merangkul bahu sang Ibu.
"Semua akan baik - baik saja, Ummi."
__ADS_1
Abid menenangkan sang ibu. Ia memeluk tubuh rapuh itu hingga ujung bawah dagunya menempel pada pucuk kepala sang ibu.
"Ummi tidak bisa bayangkan bagaimana kehidupan rumah tangga Bira nanti, Bid."
Hasna mendongak menatap wajah sang putra. "Kamu tahu bagaimana sifat Fatimah?"
Abid mengangguk. Ia tahu persis.
"Bagaimana jika Bira tinggal bersama mereka. Apa yang akan mereka lakukan pada Bira, Bid? Sedangkan kita jauh darinya."
Setelah menikah, rencananya Tina akan langsubg diboyong ke kediaman Mustofa. Tina akan tinggal bersama orang tua Al.
"Lalu kita harus apa, Ummi?" tanya Abid bingung.
"Batalkan pernikahan ini, Bid. Ummi sangat khawatir," ucap Hasna sedih. Deraian airmatanya masih belum bisa berhenti.
"Bagaimana caranya, Ummi?" Abid melerai pelulan itu. "Abid pikir Al akan mundur. Tapi dia memilih tetap melanjutkan pernikahan ini."
Hasna frustrasi. Sejak menghitung mundur pernikahan sang putri, ia tak bisa tidur. Banyak hal yang Hasna pikirkan. Sebagai seorang ibu, ia hanya ingin memastikan putrinya bahagia dan baik - baik saja, tapi keadaan membuatnya gelisah akan nasib Tina.
"Kita hanya bisa pasrah, Ummi," ucap Abid lagi untuk menenangkan ibunya kembali.
Di dalam kamar, justru Tina sudah sangat pasrah. Ia benar - benar menggantungkan hidupnya hanya pada pemilik kehidupan.
****
Di tempat berbeda, Jhon baru saja melakukan perjalanan. Semula, ia hendak berangkat sore, sepulang jam kantor. Namun, tiba - tiba sang ibu menelepon dan mengatakan bahwa dia sudah ada di apartemen Jhon.
Jhon pun langsung pulang ke apartemen dan berangkat ke Malang dengan jadwal pesawat paling malam.
Jhon berada di pesawat bersama Laura, Mira dan suaminya.
Mira yang ingin menemani Jhon, juga memang ingin menghadiri pernikahan sahabat baiknya. Mira mewakili Bilqis dan Saskiya yang tidak bisa hadir karena urusan yang lain.
__ADS_1