Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Macan tutul


__ADS_3

Tina membuka mata perlahan. Ia tertidur dengan memeluk erat kepala Jhon yang saat ini sedang berada di dadanya. Pria bule itu tampak begitu tenang, suara dengkuran itu pun masih halus terdengar. Jhon begitu nyaman berada dalam dekapan dada Tina. Kepalanya terhimpit oleh dua gunung kembar Tina yang bulat. Tiap kali bercinta, bukan Tina yang dipeluk erat oleh Jhon saat tertidur dan beristirahat setelah menghabiskan banyak peluh. Tapi sebaliknya, Jhon justru yang meminta dipeluk erat oleh Tina.


Tina tersenyum sambil mengelus rambut Jhon yang pirang dan ikal. Pertempuran yang terjadi hingga menjelang pagi, membuat mereka cukup merasa lelah. Namun lelah yang seolah menjadi kado terindah, karena setelah melewati badai dpenuh liku, akhirnya mereka bersatu. Setelah sekian lama, akhirnya mereka kembali bercinta dan dengan rasa berbeda.


Senyum Tina masih terbit. Ia mendekatkan bibir Jhon dan mengecup sekilas bibir tipis itu. lalu, perlahan melepaskan dekapan. Jhon sama sekali tidak terbangun. Kepalanya hanya bergerak sedikit saat Tina benar – benar melepaskannya.


“Dasar kebluk!” gumam Tina sambil tertawa menatap wajah Jhon yang tidak terbangun saat ia tak lagi berada di sisinya.


Tina bangkit dan perlahan beranjak ke kamar mandi. Ia menggelengkan kepala, mengingat pertempurannya semalam. Jhon begitu kuat, hingga membuatnya merasakan pelepasan beberapa kali.


“Ah, ssstt …”


Tina menggigit bibirnya saat bangkit dan merasakan sesuatu mengalir dari bawah sana. Jhon menembakkan banyak benihnya, hingga tempat yang Tina miliki pun tak menampung.


Tina kembali menoleh ke belakang, melihat Jhon yang masih tertidur dengan bergumam. “Dasar bule. Kuat banget!”


Tina memakai kembali lingeri yang tergeletak di lantai. Lalu, membersihkan area itu sembari mengisi air hangat di dalam bath up. Tiba – tiba tenggorokannya merasa kering. Tina pun keluar dari kamar mandi dan mengendap membuka pintu kamarnya untuk keluar menuju dan dapur dan mengambil air minum.


Tina meyakini bahwa di sana tidak orang, mengingat hari yang masih gelap dan belum terdengar adzan subuh.


“MasyaAllah, Bira.” Hasna berteriak melihat wanita yang berdiri di depan lemari es dengan menggunakan baju setengah tak berbusana.


“Ummi.” Tina yang malu pun langsung menutupi dadanya dan menghambiskan minum sembari berjongkok.


“Bira, pakaian apa yang kamu kenakan?” Hasna tercengang, pasalnya seumur hidup ia baru melihat pakaian yang dikenakan Tina saat ini.


“Eum. Ini …”


Tina bingung menjelaskan. Sebelumnya, ia hanya ingin sebentar ke dapur dan berlari lagi ke kamarnya, tapi malah kepergok Hasna. Untung lah, hanya Hasna, bukan Abid atau Ayash.


“Bira akan balik lagi ke kamar kok, Ummi,” ucap Tina lagi.


“Kalau Abid atau Ayash yang lihat, bagaimana?” Hasna begitu khawatir. Walau, Abid dan Ayash haram untuk menikahi Tina, tapi tetap saja tidak etis melihatnya seperti ini.


“Iya, Ummi.” Dengan segera, Tina meletakkan gelasnya yang sudah habis.


Sementara, Hasna menggelengkan kepala. Apalagi melihat tubuh putrinya yang penuh dengan bercak keunguan.


“Aaa …” Tiba – tiba seseorang pun menjerit.


Seketika, Hasna dan Tina menoleh ke arah suara itu. Mereka pun bernafas lega karena ternyata yang berteriak adalah Zahra.


“Ya ampun, Bira. Kamu sexy sekali.” Zahra bukannya malu dan melarang Tina berpakaian seperti itu, malah memuji.


“Bira berpakaian tidak sopan begini kok malah dipuji sih, kamu,” ucap Hasna pada menantunya. “Ada – ada saja.”


Zahra mendekati ibur mertuanya. “Ini salah satu bentuk ibadah, Ummi. Zahra juga mau beli baju haram itu untuk Mas Abid.”


Dahi Hasna mengernyit. “Tau baju itu haram, malah dibeli.”

__ADS_1


Sontak, Zahra tertawa dan Tina hanya tersenyum. Sebelum semua terbangun, Tina piun bergegas untuk kembali ke kamar. Namun, Hasna menahan bahu Tina saat melintas.


“Tunggu! Bahumu kenapa? Kok ungu – ungu begitu?” tanya Hasna melihat banyak bekas gigitan Jhon tertinggal di sana.


“Digigit serangga, Ummi.” Zahra mmbantu menjawab pertanyaan itu sambil mengulum senyum.


“Memang di kamarmu banyak serangga? Di kamar Ummi nda ada. Kalau kamar Ummi nyaman, kenapa tidak pindah ke kamar Ummi saja, biar Ummi yang ada di kamarmu.”


Luar biasa seorang ibu, rela menderita asal anaknya tak menderita.


Zahra pun menggeleng, sementara Tina bingung dan hanya bisa tersenyum.


“Bukan serangga beneran, Ummi,” sambung Zahra lagi.


“Terus?”


“Serangga yang rambutnya bule yang selalu nemenin Bira kalau tidur. Iya kan, Bir?”


Tina hanya tersenyum dan tidak menjawab secara gamblang pertanyaan kakak iparnya itu. “Udah ah Tina ke kamar lagi ya. Dah, Ummi!”


Hasna masih menatap putrinya yang berlari dan menghilang ke kamar.


“Jadi, keunguan itu ulahnya Jhon?” tanya Hasna lagi pada menantunya.


“Ya, siapa lagi?” ucap Zahra sembari mengangkat bahu. Ia pun terbagun karena ingin minum.


“Abi tidak pernah membuat Ummi seperti itu,” ucap Hasna heran.


“Beda, Ummi. Kalo bule nafs*nya lebih besar.”


“Itunya juga besar?” pertanyaan Hasna semakin ambigu.


“Pasti.” Jawaban Zahra pun lebih ambigu.


Seketika, Hasna mengerdikkan bahunya. Membayangkan saja sudah membuatnya ngeri.


“Kasihan dong Bira, Ra. Dia pasti selalu kesakitan kalau berhubungan.”


Zahra tertawa. “Bukan kesakitan kali, Ummi. Tapi keenakan.”


Plak


Hasna memukul pelan bahu menantunya. Zahra memang selalu bicara apa adanya. Hubungan keduanya sudah seperti ibu dan anak sesungguhnya.


“Ada apa, sih? Ribut sekali.” Tiba – tiba Abid keluar dari kamar dan menyapa dua wanita yang sedari tadi berghibah membicarakan si pemilik rumah.


“Nda … Nda apa – apa kok, Mas. ayo ridur lagi!” Zahra langsung mendekati kamarnya dan mendorong sang suami untuk masuk lagi ke dalam kamar.


“Sudah mau subuh, tanggung tidur lagi,” jawab Abid.

__ADS_1


“Masih lama, Mas. Masih ada waktu dua puluh menit lagi.”


Ceklek


Zahra mengunci kamar setelah keduanya berada di dalam sana. Ia pun membuka kancing piyamanya.


“Dek, kamu mau apa?”


“Mau, Mas. Udah lama, kita ga begituan kan?”


Zahra pun mendekati suaminya sambil menanggalkan piyama tidurnya satu persatu. Abid bingung, ia tercengang. Matanya membulat tak berkedip melihat Zahra yang tiba – tiba menggoda.


“Kamu ga salah makan kan, Dek?” tanya Abid bingung.


Zahra menggeleng. “Ngga, Cuma lagi pengen aja. Yuk! Mumpung belum subuh.”


Sebagai pria normal, Abid pun tidak menolak. Entah mengapa akhir – akhir ini, Zahra lebih sering meminta lebih dulu. Walau Abid terlihat dingin dan kaku, tapi untuk masalah ranjang, pria itu selalu meminta lebih dulu jika ingin bercinta, hanya saja Abid tidak melakukannya dengan kata – kata, melainkan langsung to the point dengan meraba tubuh Zahra atau membuka pakaian yang istrinya kenakan.


Bruk


Tina menutup pintu kamar dengan nafas terengah, membuat Jhon yang masih berada di atas ranjang pun terjaga dan menoleh ke arah itu.


“Sayang, kamu habis dari mana? kenapa nafasnya seperti itu?”


Tina mendekati Jhon. “Aku haus, terus keluar sebentar untuk ambil minum, eh malah ada Ummi dan Mbak Zahra. Ummi syok melihat pakaianku seperti ini.”


Jhon tersenyum. Ia pun memindai tubuh istrinya yang sexy. Jhon yang sudah duduk di tepi tempat tidur menarik Tina dan mendudukkannya di pangkuan.


“Kamu sexy, Sayang. aku suka. Kalau keluargamu sudah pulang. Berpakaian seperti ini terus di rumah ya.”


“Uh, mau nya.” Tina mendorong dada Jhon dan bangkit dari pangkuan itu.


“Hei, mau ke mana?”


“Mandi.”


“Ikut.” Jhon ikut bangkit dan mengikuti Tina.


Namun, Tina menahan pintu agar Jhon tidak masuk ke dalam. “Tapi, jangan macam – macam ya! Janji hanya mandi.”


Jhon menaikkan dua jarinya ke atas. “Janji hanya mandi.”


Namun, ia mengubah jari itu dengan menyilangkan kedua jarinya yang diangkat ke atas. Dan, Tina melihat itu. sayangnya, Tina melihat saat Jhon sudah berada di dalam kamar mandi.


“Maaass … bohong!”


Jhon tertawa. Wanita itu sudah tidak dapat lagi mengelak, apalagi tubuhnya kini sudah berada dalam gendongan Jhon.


Jhon yang mesum, tidak akan melewatkan kesempatan ini.

__ADS_1


__ADS_2