
Lima belas menit berlalu sejak Tina berad di dalam ruang operasi. Jhon dan Laura menunggu tepat di depan ruangan itu. Sementara remaja yang bernama Justin, juga menemani ibu dan kakaknya.
"Mom, Maaf Jhon tinggal sebentar, dari tadi Jhon lupa memberi kabar pada Ummi Hasna."
Laura mengangguk. Ia mempersilahkan sang putra untuk berkomunikasi dengan ibu mertuanya.
Tut ... Tut ... Tut ...
Terdengar nada sambung di sana.
Jika nama yang tertera di ponsel milik Hasna yang dahulu sempat dibelikan Tina itu berbunyi, maka sedang aktifitas apa pun Hasna, wanita itu segera mengangkatnya.
"Assalamuaalaikum."
"Waalaikumusalam, Ummi."
"Nak, Jhon." Mendengar suara Jhon, Hasna langsung senang. "Kalian sudah sampai?"
"Iya, Ummi. Sudah. Malah, Tina sudah ada di ruang operasi sekitar lima belas menit lalu."
"Bira langsung operasi? Sekarang?" tanya Hasna terkejut.
"Iya, Ummi. Doakan Tina ya, Mi. Semoga operasinya lancar dan tidak ada kendala. Tina bisa melihat kembali seperti sediakala."
"Aamiin ya robbal'alamin. Tentu, Nak. Tentu saja. Ummi selalu mendoakan kalian sepanjang waktu."
Jhon tersenyum. "Terima kasih, Ummi."
"Ummi yang terima kasih, Nak."
"Kabari, jika sudah sampai Jakarta ya, Nak! Ummi akan segera ke sana," kata Hasna lagi.
Jhon mengannguk. “Iya, Ummi. Itu pasti.”
“Sekali lagi, Mohon doanya ya, Mi. Semoga operasi Tina di dalam sana berjalan lancar.”
“Iya.”
Hasna begitu terharu melihat kasih sayang dan perhatian yang diberikan Jhon pada Tina. Sungguh, Hasna tak menyesal sama sekali, putri bungsunya mendapat pria bule. Walau kata orang budaya mereka berbeda, tapi Jhon mampu mengikis perbedaan itu. Jhon bisa menempatkan diri dan membaur dengan keluarga Tina, bahkan dengan orang – orang sekitar yang ada di pondok.
Percakapan melalui sambungan telepon itu pun berakhir. Jhon menutupnya dengan salam dan Hasna menjawab salam itu.
Usai, menerima telepon, Hasna langsung mengambil air Wudhu. Kebetulan setelah menutup telepon dari menantunya, adzan ashar pun berkumandang. Setelah melaksanakan sholat, Hasna menengadahkan tangan, melantunkan doa untuk kesehatan sang putri. Di tengah doa itu, Hasna meneteskan airmata.
Ceklek
Setelah lebih dari empat puluh menit, akhirnya Ibrahim keluar bersama rekannya yang berprofesi sebagai dokter spesialis mata.
“Bagaimana, Sayang?” tanya Laura yang langsung menghampiri suaminya.
Jhon yang tidak bisa duduk dan mondar mandir di depan pintu sejak operasi berlangsung pun langsung mematung saat pintu terbuka.
“My wife is fine?” tanya Jhon dengan menatap ke kedua pria paruh yang memakai seragam dokter serta pelapis seragam bedah yang berwarna biru.
Pria paruh baya yang berdiri di samping Ibrahim pun mengangguk. Bibirnya tersenyum membentuk bulan sabit. “Operasi berjalan lancar. Tranplantasi sudah dilakukan dan sekrang istri anda langsung dibawa ke ruang perawatan.”
Ibrahim tampak ikut mengangguk. lalu menepuk bahu Jhon. “Istrimu bisa melihat lagi, Jhon.”
Jhon tersenyum lebar. Sungguh ia sangat senang. Wajah Laura pun terlihat sama.
__ADS_1
Bruk
Tiba – tiba, Jhon menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia bersujud sembari mengucap syukur. Sedangkan Ibrahim hanya bisa menatap Jhon sambil merangkul bahu Laura dari samping.
Ibrahim menoleh ke arah rekannya yang terharu melihat Jhon yang sedang bersimpuh. “Thank you, Fan.”
“Ini sudah menjadi tugasku. Dan aku senang melihat orang bahagia.”
Ibrahim mengangguk.
“Jhon, temani Tina di ruang perawatan. Biar Mommy yang mengurus administrasi.”
Jhon kembali berdiri dan menoleh ke arah ibunya. Ia juga menoleh ke arah ayah sambung dan rekannya.
Ibrahim mengangguk, begitu juga dengan rekannya yang masih berdiri di sampingnya. Pria itu berkata, “Ruang perawatannya ada di ruang Rosemary 15.”
Jhon yang masih tersenyum, langsung mengangguk dan pamit. Kakinya yang panjang, segera berlari menuju ruang yang disebut rekan dokter ayah sambungnya tadi.
Jhon bertanya pada petugas di sana, hingga sampai di ruang perawatan Tina. Dari balik pintu yang bagian atasnya terbuat dari kaca, dapat terlhat jelas Tina sedang duduk di atas tempat tidur pasien dengan mata yang diperban dan menyandarkan punggungnya pada dinding tempat tidur pasien itu.
“Sayang.” Jhon memanggil Tina, usai membuka pintu ruangan.
Kepala Tina langsung menoleh. “Mas.”
Jhon tersenyum lagi dan segera menghampiri. Pria bule itu memegang tangan Tina dan mengecupnya. “Kata Papa dan Dokter Arfan, operasimu berjalan lancar, Sayang.”
“Alhamdulillah,” ucap Tina.
“Ya, alhamdulillah,” sahut Jhon.
Mereka sama – sama mengucap syukur, walau perban itu belum dibuka, tapi mendengar clue dari Ibrahim dan dokter spesialis mata yang mengoperasi Tina, mereka pun sudah bahagia.
Tina hanya tinggal menunggu waktu untuk membuka perban itu sesuai yang dianjurkan dokter.
Di Magelang, Hasna tampak ceria. Abid yang baru saja pulang bersama istri dan kedua anaknya, segera dihampiri Hasna.
“Abid, besok kita harus ke Jakarta,” ujar Hasna.
“Besok? Bukan besok Ummi, masih tiga hari lagi,” jawab Abid.
“Besok, Bid, karena tadi Jhon telepon Ummi katanya Bira sedang dioperasi sekarang.”
“Benarkah, Mi?” tanya Zahra.
“Iya, Ra. Tadi Jhon mengabari Ummi, ternyata operasinya di percepat.” Hasna menjawab dengan antusias.
“Terus, bagaimana hasilnya, Mi? Operasinya berhasil kan?” tanya Zahra lagi.
Abid hanya menatap ke kedua perempuan yang ia cintai.
“Kata Nak Jhon, dia akan menelepon melalui video call, kalau perban Bira dibuka.”
Hasna yang antusias menoleh ke jam yang menempel di dinding. “Nah, sepuluh menit lagi, Jhon akan telepon ke ponselmu, Bid. Karena tadi Ummi bilang, kalau mau video call ke hape Abid aja, karena hape Ummi jelek gambarnya.”
Zahra tersenyum. Mendengar pernyataan sang ibu, Abid juga tersenyum.
“Iya, Ummi. Kita akan sama – sama menyaksikan hasil operasi Bira di sana. Ummi tenang ya.” Abid mengelus bahu ibunya yang begitu antusias.
Benar saja, sepuluh menit kemudian, ponsel Abid berdering menampilkan sebuah panggilan melalui video call.
__ADS_1
“Abid, Nak Jhon telepon,” teriak Hasna.
Abid yang baru saja memasuki kamar kecil, terpaksa menunda, demi sang ibu yang berteriak memanggilnya.
“Iya, Ummi. Angkat saja.” Abid menoleh ke arah sang istri. “Dek, diangkat dong. Mas lagi tanggung nih.”
Zahra malah tertawa melihat raut wajah suaminya yang tak bisa diartikan. Zahra mengambil alih, sementara Abid kembali ke kamar mandi.
Klik
“Assalamualaikum, Nak Jhon.”
“Waalaikumusalam, Ummi.”
Jhon langsung mengalihkan kamera ke Laura.
“Assalamualaikum, Bu Hasna.”
“Waalaikumusalam, Bu besan.”
“Ummi, jangan panggil bu besan dong! Kesannya ndak elit,” ucap Zahra berbisik pada mertuanya.
“Terus Ummi panggil apa?”
“Tante.”
“Ngaco kamu.”
Zahra tertawa. Untung saja percakapan Zahra dan Hasna yang diluar dari kamera, tidak terdengar di sana.
“Ummi, sebentar lagi perban Tina dibuka,” ujar Jhon lagi sembari mengarahkan kamera ke arah Tina beserta tiga orang tim medis di sana termasuk dokter spesialis mata tadi.
Jhon juga mengedarkan ke semua orang yang menemani Tina di rumah sakit itu. Hasna semakin lega melihatnya karena kedua orang tua Jhon terlihat hadir dan begitu perhatian pada putrinya. Hasna pun semakin tidak khawatir, walau Tina berada jauh dari jangkauannya.
Abid yang baru selesai dari kamar mandi, segera bergabung dengan istri dan ibunya. Ayash dan Ameena yang merupakan anak – anak Abid pun ikut duduk di sana.
Perlahan, dokter membuka perban Tina. Gerakannya juga dibantu oleh dua orang perawat.
“Nah, sekarang perbannya sudah terbuka semua. Buka matamu perlahan. Perlahan – lahan, oke!”
Tina menggngguk. Ia melaksanakan yang diperintah dokter. Tina membuka matanya perlahan. Dan pertama kali yang ia lihat adalah Jhon, karena pria itu memang berada dekat di depannya.
“Jhon.”
Suara Tina yang memanggil nama itu, membuat airmata Hasna luruh. setelah semua prahara yang terjadi, akhirnya ia bisa melihat putrinya bahagia. Hasna menutup mulutnya agar isakan itu tidak nyaring terdengar.
Abid dan Zahra pun langsung memeluk bahu sang ibu. Keduanya ikut terharu dengan menempelkan kepala mereka ke kedua bahu Hasna.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah,” ucap Abid penuh rasa syukur.
Walau masalahnya dengan Mustofa belum menemukan titik terang karena hingga kini ia baru bisa mengumpulkan sebagian, tapi paling tidak satu masalah yang ada sudah terselesaikan.
"Kamu sudah bisa melihatku?" tanya Jhon senang.
Tina mengangguk dan menatap ke arah suaminya dengan senyum termanisnya. Senyum yang teramat manis menurut Jhon dan ia akan cemburu berat jika Tina melakukan ini di depan pria lain.
"Kamu semakin tampan, Jhon," ucap Tina. "Mas buleku."
Jhon tersenyum dan langsung menubruk tubuh Tina. Ia juga langsung menyerbu bibir Tina dan memagutnya tanpa lihat suasana.
__ADS_1
Abid dan keluargnya yang sedang melihat ke arah kamera, segera menutup mata Ameena, Zahra juga menutup mata Ayash.
Justin yang memegang kamera, tidak mensensor adegan itu. Laura, Ibrahim, dan para tim medis hanya menggelengkan kepala melihat pasangan absurd ini.