Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Instalasi gawat darurat


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Utsman langsung dibawa ke instalasi gawat darurat. Di sana, keluarga tidak diperkenankan untuk masuk, termasuk Hasna. Ustman segera diberi tindakan sesuai prosedur.


Mendengar Utsman unfall, Tina langsung mengabari kedua kakaknya. Dari Surabaya, Arafah segera berangkat lagi ke Malang. Sementara, Abis hanya bisa berkabar dari adik keduanya saat ponsel Tina tak kunjung diangkat. Dan kini, kakak laki – laki sekaligus pewaris tahta berikut sebagai penerus pondok pesantren itu pun menelepon lagi adik bungsunya.


Dret … Dret … Dret …


Ponsel Tina berdering, Abid terus menelepon sang adik untuk menanyakan kabar ayahnya.


“Bira belum tahu keadaan Abi, Mas.”


“Kamu gimana sih? Kok Abi bisa unfall, kenapa? Apa yang terjadi?”


Suara Abid terdengar panik. Pria yang masih berada di Kairo itu ingin rasanya segera pulang. Namun, keadaan belum memungkinkan. Ia memiliki tanggung jawab yang tak muah untuk ditinggalkan begitu saja di sini. Abid menjadi pengajar sekaligus mahasiswa. Ia meneruskan S2, sekaligus menjadi asisten pada dosen yang membantunya mendapat beasiswa di sini. sedangkan istri Abid, membantu suami dengan berdagang makanan ala Indonesia kecil – kecilan.


“Ceritanya panjang, Mas,” jawab Tina yang tak bisa menjelaskan penyebab sang ayah terkena serangan jantung mendadak.


“Mas tidak bisa pulang cepat, Bira. Tapi di sini Mas juga ga bisa tenang. Mas kepikiran Abi.”


“Sebentar lagi, Kak Arafah dan Mas Alif datang. Mas Abid tenang saja. Ada Bira, Kak Arafah dan Mas Alif di sini,” jawab Tina.

__ADS_1


Abid menarik nafasnya kasar. “Secepatnya, Mas akan pulang. Mas akan usahakan untuk bisa mengambil cuti.”


Tina mengangguk. tak lama setelah itu, Abid pun menutup sambungan telepon dengan mengucapkan salam terlebih dahulu.


Tina pun menjawab salam itu dan memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku rok panjangnya.


Semua orang menunggu Utsman di rumah sakit, termasuk Al dan Randy. Sungguh, mereka tidak menyangka Jhon akan senekat ini, padahal Randy pun tak bersungguh – sungguh akan mengatakan hal itu pada Utsman. Ia hanya ingin menggertak Tina saja dan tidak membuat kakaknya patah hati lagi.


“Tina.” Jhon masih mendekati Tina yang sedari tadi tak henti – hentinya menangis.


Hal ini yang paling Tina takutkan, apalagi kini sang ibu pun tak ingin didekati. Padahal semula, sepertinya Hasna memaafkan kesalahannya. Tapi sekarang, Hasna lebih memilih dipeluk oleh Munah.


“Aku sedang ingin sendiri, Jhon.”


Tina menggeleng. Matanya sembab, hidungnya merah.


Sungguh, Jhon tidak sanggup melihat kesedihan Tina. Namun, saat itu ia pun tak bisa untuk tidak mengakui kesalahannya di depan Utsman. Menurut Jhon, ayah Tina begitu baik dan tidak pantas dibohongi. Lagi pula, Jhon pun ingin memulai semuanya dengan baik, tanpa ada kebohongan sedikit pun. Ia mengaku salah dan Jhon akan mengakui kesalahan itu pada dunia, termasuk pada Utsman. Namun, ia tidak menyadari bahwa kejujuran itu berdampak negatif untuk calon ayah mertuanya. Jhon tidak tahu bahawa Utsman meemiliki riwayat lemah jantung.


“Tina, aku benar – benar minta maaf.”

__ADS_1


“Percuma, Jhon. Maafmu tidak akan meembuat Abi bangun.”


Utsman terbaring lemah di unit gawat darurat. Dokter pun sudah berupaya sedemikian rupa. Namun, Utsman masih belum sadarkan diri.


“Keluarga Kiyai Utsman.”


Hasna segera mendekati dokter yang memanggil nama suaminya. Kebetulan, Kiyai Utsman memang sudah dikenal hingga ke kota.


“Bagaimana keadaan suami saya, Dok?”


Wanita paruh baya dengan pakaian seragam dokternya itu hanya menghela nafas. “Keadaan pak Kiyai, alhamdulilah sudah lebih baik. Tapi, belaiu masih belum sadarkan diri. Kita tunggu saja ya, Nyai.”


Hasna kembali menangis. Tina pun ikut menangis. Ingin rasanya Jhon menghampiri Tina dan memeluk tubuh rapuh itu. Namun, ia tidak punya nyali melakukan hal itu.


Al pun demikian. ia juga merasa apa yang terjadi pada Utsman hari ini ada andil dirinya. Seandainya Al, tidak termakan omomgan sang adik dan menghasut untuk berbuat licik, mungkin hal ini tidak terjadi. Al menyesal karena membiarkan Randy melakukan sesuatu diluar kendali.


Tina hanya bisa menatap sang ayah dari balik kaca transparan. Di sana, Utsman tergeletak tak berdaya dengan berbagai macam alat yang menempel pada dada, hidung, dan jemarinya.


Tina terkulai lemas, begitu pun dengan Hasna. Bahkan Hasna mulai tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Ummi,” teriak Munah yang diikuti teriakan Tina.


Seketika, keadaan menjadi runyam. Dalam satu waktu, Hasna dan Utsman masuk ruang instalasi gawat darurat.


__ADS_2