
"Ada dua kenikmatan yang paling besar, tapi sering dilupakan. Dia adalah sehat dan waktu. Demi masa, sesungguhnya manusia kerugian, kecuali lima perkara. Sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati.”
“Untuk pertemuan kajian kita kali ini, saya akan mengurai tentang pentingnya waktu. Salah satu dari empat perkara itu.”
Pria muda yang cukup tampan dan duduk di depan para jamaah sembari memegang mic itu pun berkata. Tutur kata yang lembut dan penuh ilmu, sehingga mampu menghipnotis segenap orang yang hadir di sana.
“Mungkin yang saya sampaikan nanti tidak sebagus penyampaian yang sering duduk di sana, karena malam ini saya hanya diminta untuk menggantikan, mengingat Kiyai sedang ada urusan dan bertolak ke Jombang bersama sang istri untuk melayat istri sahabatnya yang sudah beliau anggap sebagai kerabat.”
Pria yang dahulu merupakan santri di pesantren ini, kini mengisi kajian yang biasa diisi oleh Ayah Tina. Pria itu cukup terkenal di kalangan pesantren milik keluarga Tina ini, karena usai menamatkan pendidikan di pesantren ini, lalu tiga tahun di Kairo, pria ini pun kembali untuk berdedikasi di pesantren milik keluarganya sendiri. Namun, Pria yang bernama Al Fatih dan biasa dipanggil Al atau Mas Al ini sering berkunjung ke pesantren yang dipimpin ayah Tina.
Mas Al yang sedang menjadi nara sumber dan duduk di depan para santri itu memiliki pesona seperti Mas Al dalam sinetron. Al fatih yang memiliki rupa menawan, akhlak mendekati sempurna, dan keilmuan yang baik, membuatnya digandrungi para santri dan staf wanita, juga ibu - ibu. Setiap kali ia berkesempatan mengajar di santri putri, maka pesonanya membuat para santri itu tidak bisa fokus memperhatikan materi yang diberikan.
“Mbak, dia siapa sih?” tanya Tina yang hadir di pengajian itu.
“Ish, memang kamu lupa?”Arafah balik bertanya.
Tina menggeleng dengan kepala yang coba mengingat orang yang tengah menjadi nara sumber dan duduk di depan itu.
“Itu Mas Al. Al fatih. Karena dia kamu pergi dari rumah.”
Tina semakin mengernyitkan dahi. “Maksdunya?”
“Ya, kan waktu itu Abi mau jodohin kamu. Terus kamu ga mau, padahal Abi belum ngomong siapa pria yang akan dijodohkan ke kamu itu, tapi kamu udah langsung pergi saja karena ingin memutus kediktatoran Abi."
"Ya aku ga mau abi mengatur sampai ke jodohku segala, Mbak."
"Walau yang dipilih Abi itu benar - benar baik?" tanya Arafah membuat Tina memandang lagi ke arah pria yang duduk di depan itu.
__ADS_1
“Jadi? Dia pria nya?” tanya Tina dengan mengarahkan matanya ke arah Al dari kejauhan.
Mereka berbicara dengan suara sangat pelan dan sengaja di dekatkan ke telinga masing – masing agar tidak menganggu kegiatan yang sedang berlangsung.
“Iya.” Arafah mengangguk.
“Kenapa? Nyesel kan? Main kabur aja, padahal kamu tuh dijoddhin sama laki – laki terganteng se pesantren ini,” ledek Arafah, membuat bibir Tina sedikit manyun.
Di depan sana, entah perasaan Tina atau tidak, Al seolah menujukan matanya ke arah ia dan Arafah.
“Mbak, dia lagi ngeliatin kita ga sih?” tanya Tina berbisik pada Arafah.
“Mungkin, soalnya dari tadi kita berisik.”
“Ck.” Tina kesal dan langsun diam.
“Apa kabar Mas Al?”
“Baik Ning. Apa kabarnya juga?” Al balik bertanya.
“Alhamdulillah, baik.”
“Sepertinya kalian betah di Surabaya,” ucap Al.
“Ya.” Kini suami Arafah yang bernama Alif bersuara. “Dan sepertinya, kamu juga betah menjomblo Gus.”
Al tertawa. “Bukan betah menjomblo, tapi memang belum ketemu yang pas.”
__ADS_1
“Mbak, kok aku ditinggal sih.” Suara teriakan Tina dari balik punggung ketiga orang itu pun membuat mereka menoleh.
Seketika, Tina mematung. “Maaf menganggu. Kalau begitu, Bira pulang duluan, Mbak.”
“Eh, mau ke mana? Sini dulu dong.” Arafah langsung mendekatisang adik dan menahan lengannya.
“Mas Al, inget Shabira?” tanya Arafah langsung pada Al Fatih.
Di sana, Tina tampak malu, ingin rasanya ia segela pulang.
“Apaan sih, Mbak,” kata Tina mengalihkan.
“Tentu ingat,” jawab Al fatih.
Lalu, Al pun mengarahkan matanya pada Tina yang masih menunduk. “Apa kabar Shabira?”
“Hm.” Tina yang dipaggil dengan nama panggilan sayang keluarganya pun langsung mendongak. “Eum, baik.”
Arafah mengaitkan lengannya pada Alif. Keduanya seperti sengaja ingin mendekatkan lagi sesuatu yang seharusnya dekat. Bahkan jika waktu itu Tina tidak membangkang dan memilih pergi, mungkin saat ini ipar Alif adalah sahabatnya sendiri.
Namun, Tina tidak memiliki pemikiran yang sama. Walau diakui fisik Al memang mendekati sempurna, seperti akhlak dan keilmuannya, tapi Tina justru merasa rendah diri. Dosa yang pernah ia lakukan dahulu membuatnya tidak pernah berani bermimpi memiliki suami seperti Al Fatih. Terlebih, dihatinya juga masih tersemat nama Jhon Louise, pria yang katanya akan menemuinya jika fokusnya dengan sang putri selesai.
Al mencuri - curi pandang ke arah Tina. Ia tahu betul bahwa wanita yang berdiri di depannya bersama istri sahabatnya itu adalah Agustina Shabira, wanita yang dua tahun lalu dijodohkan padanya, tapi saat itu Tina memilih kabur dengan alasan tidak ingin ada lagi tradisi perjodohan, karena Tina hanya ingin bersanding dengan pria yang ia cintai.
Al pun sepakat dengan alasan itu, karena ia juga ingin menikah dengan wanita yang ia cintai. Saat itu Al juga tidak setuju dengan perjodohan yang disepakati kedua ayah mereka. Namun Al tidak frontal, ia tetap menerima dan tahu nama wanita yang dijodohkannya.
"Agustina Shabira," gumam Al Fatih sembil tersenyum ketika Tina, Arafah, dan Alif pamit, lalu meninggalkannya sendiri.
__ADS_1