Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Dua Sa berpose


__ADS_3

"Mas, kamu yakin pulang ke Jakarta sendirian?” tanya Tina sambil memberikan krim ke area jenggot dan kumis Jhon.


Jhon yang semula menatap dirinya ke cermin, beralih pada wajah sang istri. “Memangnya kamu mau ikut pulang?”


Tina hanya memberi jawaban dengan senyuman, membuat Jhon ikut tersenyum dan menoel ujung hidung lancip itu.


“Aku tahu, kamu masih ingin di sini. Kamu pasti masih ingin bersama keluargamu, apalagi ada Arafah juga.”


Tina nyengir. “Kamu memang suami yang paaaling pengertian.”


Jhon pun mencibir. “Kalau begitu, apa imbalanku?”


“Mau sekarang?” Tina balik bertanya dengan pertanyaan yang membuat Jhon sumringah.


“Boleh. Siapa takut! Kucing dikasih ikan asin, mana nolak.”


Tina tertawa. “Kalau begitu bersihkan dulu jenggot dan kumismu. Sini!”


Tina merebut alat cukur yang berada di tangan Jhon.


Sedangkan Jhon, hanya pasrah, ia membiarkan Tina mengambil alih semuanya. Bahkan, jika Tina ingin mengambil alih perusahaan dan uangnya pun, Jhon pasti tidak akan keberatan. Pria bule ini sudah terlanjur ke pentok cinta Tina, si gadis kembang desa dari Magelang anak Kiyai Utsman.


Dengan telaten, Tina mencukur jenggot dan kumis suaminya. Sementara, Jhon hanya memperhatikan wajah sang istri.


Jhon menyukai bulu mata Tina yang lentik. Bulu mata lentik yang sedari tadi naik turun karena berkedip. Lalu, Jhon tersenyum.


“Mas, diam! Bibirmu jangan bergerak!” pinta Tina.


Bukannya mematuhi perintah itu, Jhon justru semakin melebarkan senyumnya.


“Mas! Nanti ga selesai – selesai. Kalau kumismu botak separoh, jangan salahkan aku!”


Tina pun menghentikan kegiatannya dan pergi.


“Eh, sayang. Kok berhenti. Kumisku hilang separuh!” ucap Jhon panik.


“Biarin,” jawab Tina dengan menahan tawa. Ia melihat ke cermin dan menatap suaminya yang tampak lucu dengan kumis yang separuh terpangkas dan separuhnya tumbuh.


“Sayang, jangan pergi dulu! Kerja itu jangan separuh – separuh! Nanti suaminya bewokan.”


Tina kembali tertawa. “Pepatah dari mana itu? Dasar bule sok tahu.”


Tina kembali menghampiri suaminya dan kembali memegang alat cukur itu. lalu, ia berkata sembari menyelesaikan pekerjaan yang baru separuh tadi.


“Pepatah itu digunakan untuk orang yang nyapunya ga bersih. Nanti, dapet suami bewokan. Tapi itu pepatah kuno dan ga terbukti,” ucap Tina menjelaskan pernyataan Jhon yang sok tahu tadi.


“Oh gitu.” Jhon mengangguk.


“Kalau dapet pria bule bersingkong besar, itu karena kamu sering melakukan pekerjaan apa?”


“Hm.” Tina langsung mengernyit. “Pertanyaan aneh.”


Sontak, Jhon tertawa. ia mengelap jenggot dan kumisnya dengan handuk, usai Tina membersihkannya dengan alat cukur.


“Siapa tahu, kamu terkena karma itu. Makanya, kamu tidak bisa lepas dari aku.”


Tina mencibir dan berpikir. “Mungkin, karena aku tidak suka terong, makanya dikasih terong setiap hari.”


Sontak, Jhon tertawa. Ia merangkul Tina dan memeluknya. Tina pun ikut tertawa.


Sejak pertama kali jumpa, Tina memang selalu membuat harinya menyenangkan dan penuh tawa. Tidak salah, jika ia mengejar sebegitu dalamnya untuk mendapatkan Tina. Baginya, pengrobanan yang telah ia lakukan tidak seberapa, dibanding kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang.


“Kita jadikan?” tanya Jhon.


“Jadi apa?” Tina balin bertanya.


“Ck. Kan! Pura – pura lupa,” ujar Jhon.


Tina terdiam dan berpikir.


“Ayo, sayang! jangan banyak mikir! Dua jam lagi, kita akan ke bandara. Come on!” Jhon langsung mengangkat tubuh istrinya.


Hap


“Ah.” Tina baru sadar dan tersenyum. “Dasar! kalau urusan itu, pasti kamu ingat.”

__ADS_1


“Tentu,” jawab Jhon menyeringai.


Jhon mencium bibir sang sang istri sambil membawanya menuju tempat tidur. Ia membaringkn Tina dan menindih tubuh itu.


“Satu ronde untuk tiga hari ke depan,” ucapnya.


“Yakin kuat?” tanya Tina menggoda.


“Kalau tidak kuat, aku akan menyuruhmu pulang, malam itu juga.”


Bugh


Tina memukul dada bidang itu. “Dasar pemaksa!”


Jhon tertawa dan mulai melakukan aksinya. Dengan lembut, ia mulai menelusuri tubuh sang istri. Jhon memang paling ahli membuat Tina terbang ke langit ke tujuh. Sentuhan itu pula yang tidak bisa dilupakan oleh putri bungsu Kiyai Utsman ini.


“Jhon, Eum!’


“Ah.”


Di pintu kamar Tina, Ummi Hasna berdiri. Baru saja, ia hendak mengetuk pintu kamar itu, tapi yang ia dengar justru suara aneh Tina yang mendayu.


“Mbah Uti, biar Ameena saja yang mengambil charger di kamar Aunty.” Ameena, putri bungsu Abid berlari menghampiri Hasna yang sedang berdiri di depan pintu kamar Tina.


Hasna pun langsung menutup telinga Ameena saat gadis remaja itu sampi di depan pintu kamar putrinya.


“Ayo, Nduk! Nanti saja pinjam charger ke Aunty-mu. Sepertinya, Aunty-mu sedang sibuk. Ayo!” Hasna berhasil mengalihkan cucunya dari suara ghoib itu.


Hasna menggelengkan kepala, padahal hari sudah pagi menjelang siang, tapi dua insan itu memang tidak pernah melihat waktu dan tempat untuk bercinta.


Melihat Ameena ditarik menjauh dari kamar Tina, Zahra pun bertanya. “Ada apa, Ummi? Kenapa jalannya tergesa – gesa begitu?”


Hasna langsung membisikkan sesuatu di telinga Zahra, membuat menantunya tertawa.


“Ummi, ada apa sih?” tanya Ameena pada ibunya.


“Tidak apa, sayang. Ayo, bantu Ummi saja di dapur!” Zahra menggandeng lengan putrinya untuk membantu menyiapkan makan siang di dapur.


Ameena pun menurut.


“Ummi, Jhon mana? Biasanya dia sudah siap solat berjamaah di masjid pondok,” ujar Abid.


“Dia masih sibuk. Kamu ke masjid duluan saja, Bid.”


“Sibuk?” tanya Abid dengan mengernyitkan dahi.


“Ya, sibuk membuat cucu untuk Ummi,” celetuk Zahra membuat Abid kembali mengernyit.


Ceklek


Tak lama kemudian, pintu kamar Tina terbuka.


“Mas, tunggu saya!” ujar Jhon yang langsung berlari ke kamar mandi.


“Suamimu kenapa?” tanya Abid pada Tina. “Bukannya tadi udah mandi?”


“Mas, pake tanya lagi. Jangan sok ga tahu deh,” ucap Zahra.


Tina bingung dan hanya menatap keluarganya. Ia hanya nyengir sambil mengusap tengkuknya. Ternyata, bercinta di rumah orang tua itu tidak leluasa.


“Bira, Bira, siang – siang kok begituan,” ujar Abid meledek sembari melintasi sang adik, membuat Tina tak bisa menahan malu.


Sementara, Ummi dan Hasna hanya tertawa.


***


“Udah di charge?” tanya Abid pada Jhon usai melaksanakan sholat zuhur berjamaan dan kembali pulang ke rumah untuk menikmati makan siang bersama.


Rencananya, Abid sendiri yang akan mengemudi dan mengantarkan adik iparnya ke bandara bersama sang adik.


Jhon tersenyum. “Apa suara kami terdengar sampai keluar kamar?”


Abid mengangkat bahunya dan meninggalkan Jhon yang masih mematung dan berpikir. Lalu, Jhon kembali mengikuti Abid.


Sesampainya di rumah, Abid dan Jhon melihat keluarganya menyambut kedatangan hewan kurban yang mereka pesan.

__ADS_1


“Jhon, kamu lebaran di sini kan?” tanya Abid.


“Tentu saja. Aku hanya di Jakarta tiga hari, lalu kembali ke sini.”


“Bagus.” Abid mengangguk.


Jhon mengerlingkan pandangan dan melihat suka cita keluarga Tina di sana. Dari sekian keluarga Tina yang tertawa bahagia, Jhon memusatkan pandangannya pada Tina yang terlihat bahagia. Ia pun menghampiri sang istri dan memoto istrinya yang sedang berada tepat di saping hewan kurban miliknya.


Tina yang menyadari itu, langsung mengalihkan pandangan ke arah Jhon. Ia tersenyum saat suaminya membidik.


Sungguh, bersama keluarga Tina di sini, membuat Jhon sesaat melupakan kepenatan dan hiruk pikuk pekerjaan yang selalu menumpuk.


Usai makan siang, Jhon pun pamit pada Hasna dan semua keluarga Tina.


“Ayo, Jhon! Nanti kamu telat,” ujar Abid meminta Jhon untuk segera masuk ke dalam mobil.


“Cepat ke sini lagi ya, Nak!” ujar Hasna.


“Pasti Jhon cepat ke sini lagi, Ummi. Orang pawangnya ada di sini,” ledek Arafah pada adik iparnya, membuat Jhon tersenyum.


"Mbak Ara.” Tina memanggil kakaknya dengan nada malu.


Lalu, Tina ikut masuk ke dalam mobil dan menemani suaminya hingga ke bandara.


“Mas, aku udah bawain jinger merah di sini. Jangan lupa di minum untuk imun! Oke.”


“Oke, sayang.”


Cup


Jhon mengecup kening Tina.


Sedangkan Abid hanya melihat dari kejauhan. Ia memberi waktu untuk pasangan suami istri ini bersama, pasalnya setelah ini mereka akan terpisah sesaat.


“Hati – hati! Jangan lupa mengabariku, kalau sudah tiba di Jakarta!”


“Of Course, my Queen.”


Tina pun tersenyum.


Tring


Tiba – tiba ponsel Tina berdering dan memperlihatkan sebuah notifikasi.


“Kamu bikin status?” tanya Tina pada Jhon yang hendak pergi.


Jhon mengangguk. “Yap. Dan aku men-tag namamu.”


Karena penasaran, Tina pun langsung membuka notifikasi itu.


Cup


Jhon kembali mengecup kening sang istri yang sedang menunduk dan berfokus pada benda pintar itu.


Tina yang menyadari kecupan itu pun mendongak dan melihat Jhon sudah menjauh berjalan ke dalam bandara.


“Dua Sa sedang berpose."


Tulis Jhon di bawah foto yang ia pajang di sosial medianya.


Tina pun mengomentari foto yang dipajang Jhon di sosmed.


“Maksudnya?”


Tring


Jhon langsung membalas komentar istrinya.


“Sabira dan Sapi.”


Sontak, Tina memanggil suaminya yang sudah berjalan jauh di sana.


“Jhoooon.”


Jhon pun menoleh ke belakang dan tersenyum, lalu melambaikan tangan disertai dengan kecupan jarak jauh.

__ADS_1


Tina tersenyum. ia pasti akan merindukan suaminya, meski hanya tiga hari. Jangankan tiga hari, sepertinya sehari saja, mungkin ia akan menyusul sang suami ke Jakarta, atau Jhon yang akan segera kembali ke sini meski pekerjaannya belum selesai.


__ADS_2