
“Benarkah? Alhamdulillah.”
Suara Hasna menggema. Wanita itu terdengar gembira.
“Ya allah, Alhamdulillah. Akhinya doa Ummi terkabul,” ucap Hasna sembari memegang telepon genggam dan menempelkan di telinganya.
Di samping Hasna, ada Zahra yang ikut mendengar percakapan ibu mertua dengan menantunya di Jakarta.
“Terima kasih, Nak Jhon. Sekali lagi terima kasih.” Hasna tampak haru, sampai meneteskan airmata.
Zahra langsung memeluk bahu ibu mertuanya.
“Sama – sama, Ummi. Saya juga berterima kasih karena Ummi sudah mempercayakan Tina ke saya,” jawab Jhon di sana.
“Tentu. Ummi ikhlas lahir batin, kamu jadi suaminya Bira.”
Di kursi kebesarannya, Jhon duduk dengan menampilkan senyum sumringah. Ia baru saja dipuji ibu mertua sendiri.
“Kapan kalian ke Penang?” tanya Hasna.
“Besok, Ummi. Doakan, operasi mata Tina berjalan dengan lancar.”
“Tentu.” Hasna langsung menjawab. “Doa Ummi selalu menyertai kalian. Setiap sholat lima waktu Ummi tidak lupa menyematkan nama ketiga anak – anak Ummi dan keluarganya.”
“Terima kasih,” sahut Jhon.
“Kebetulan, minggu depan Ummi, Abid, Zahra, Ayash dan Ameena akan ke Jakarta. Semoga minggu depan, kalian sudah kembali dan Ummi bisa melihat kondisi Shabira.”
“Iya, Ummi. Alhamdulillah kalau begitu. Kami tunggu!”
“Assalamualaikum,” terdengar suara Abid memasuki rumah
Hasna dan Zahra melihat ke arah itu dan menjawab salam Abid.
“Ini ada Abid, Nak Jhon mau ngomong?”
Hasna terlihat sangat antusias. Abid yang sedang lesu karena banyak pikiran, langsung ditarik bajunya dan di suruh untuk menerima telepon Jhon.
Abid pun tidak menolak. Ia memegang telepon genggam yang Hasna berikan dan berbincang dengan Jhon. Abid memilih tempat yang berjarak dari istri dan ibunya itu.
__ADS_1
Setelah sepuluh menit, berbincang dengan Jhon, Abid terlihat menjawab salam dan menutup sambungan telepon itu.
“Abid, Jhon sudah menemukan pendonor mata untuk Bira,” ucap Hasna gembira.
Abid hanya tersenyum dan memegang bahu ibunya. “Iya, Ummi. Alhamdulillah. Jhon tadi juga cerita.”
Sikap Abid terlihat datar. Pria itu tidak segembira ibunya. Abid malah berlalu menuju dapur untuk memgambil air minum.
Zahra yang sudah tahu kebiasaan sang suami ketika pulang pun langsung mengambil alih untuk melayani. Namun, sebelum itu ia saling melirik dengan ibu mertuanya.
“Kenapa suamimu?” tanya Hasna pada Zahra.
Zahra hanya mengangkat bahunya. “Ndak tahu, Ummi.”
Hasna pun menyuruh Hasna untuk segera mengejar Abid dan melayaninya. Zahra menurut dan langsung berjalan cepat mengekori suaminya.
Zahra mengambil air minum dan meletakkan di meja tepat di depan Abid duduk. “Kamu kenapa, Mas?”
Abid menggeleng. “Tidak apa. hanya lelah saja.”
Zahra mendekatkan wajahnya pada sang suami. Ia melihat lekat wajah suaminya yang sedang meminum gelas yang baru saja ia letakkan tadi. Zahra tahu betul suaminya dan Abid memang tidak pernah bisa menyimpan rahasia dengan sang istri.
“Kamu yakin Mas tidak apa – apa? Yakin hanya lelah saja?” tanya Zahra.
“Benar, aku hanya lelah saja. Alhamdulillah pendaftaran santri tahun ini cukup banyak. Itu artinya semakin besar juga tanggung jawab kami untuk mendidik mereka.”
Hasna menepuk bahu putranya. “InsyaAllah ini jadi ladang amal jariah kamu yang tidak pernah putus. Apalagi sampai anak didik kamu itu memegang teguh apa yang kalian ajarkan. Pahalanya akan mengalir untuk kalian juga.”
Abid mengangguk. Tidak, ia tidak lelah untuk hal itu. Baginya, mengajar ilmu ke orang lain memang sudah bagian dari hidupnya. Justru, Abid akan merasa hidupnya hampa jika tidak mensyiarkan agama. Ada hal lain yang menganggu pikirannya. Yaitu, sejak kedatangan Mustofa siang tadi.
****
Keesokan harinya, Jhon membawa Tina ke bandara. Ia langsung menyiapkan akomodasi menuju Penang. Tiket pesawat, hotel yang dekat dengan rumah sakit, serta kendaraan yang akan membawa mereka selama di sana, sudah ia siapkan.
“Kamu siap, Sayang?”
Tina mengangguk. “Iya.”
Jhon tersenyum. “Kamu akan melihat lagi, Sayang.”
__ADS_1
Tina membalas senyum itu. “InsyaAllah.”
Perjalanan dari Jakarta ke Penang pun terlaksana. Jhon kembali meninggalkan kantor untuk kesembuhan sang istri. Sebelum berangkat dan menyiapkan perjalanan, ia sudah memastikan bahwa selama satu minggu ke depan perusahaan tetap aman. Ia tidak ingin melihat Bima uring – uringan, seperti yang pernah terjadi saat ia berada lama di kampung Tina.
Di Penang, Jhon dan Tina langsung disambut oleh Laura. Anak pertama Laura pun ikut menemani sang Ibu.
“Hai, Justin. Apa kabar?”
“Fine.”
Jhon mengcaka – acak rambut adiknya.
“Mom, apa ada kabar tentang Jhonny?” tanya Jhon di sela langkah mereka menuju mobil.
“Tidak. Tapi sepertinya semua sudah membaik. Grace juga sudah membaik. Mereka bisa membuat anak lagi, nanti. Biar kejadian kemarin menjadi pelajaran juga untuk mereka.”
Jhon mengangguk.
“Sekarang, uruslah urusanmu sendiri. Istrimu lebih penting,” ucap Laura pada putranya.
Jhon kembali mengangguk. Ia tak melepaskan genggamannya pada Tina sedetik pun. Tina yang belum bisa melihat dunia, memiliki Jhon sebagai perantaranya.
Dengan tidak ada rasa malu, Jhon menuntun Tina, menjadi mata untuk wanita itu saat melangkah dan setiap hendak melakukan apa pun.
Sesampainya di luar, Jhon memasuki mobil Laura. Ia duduk di kursi penumpang belakang bersama istrinya. Sedangkan di depan, Laura bersama Justin, adik Jhon yang kini berusia sembilan belas tahun dan duduk di kursi kemudi.
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Laura berdering. Laura langsung mengangkat dan terdengar kata iya dan iya sembari menganggukkan kepala, lalu menutup telepon itu.
“Jhon tadi telepon dari Ibrahim. Papimu bilang, pendonor Tina sudah meninggal. Kita harus cepat sampai di rumah sakit dan segera tindakan. Menurut Ibrahim, untuk melakukan tranplantasi retina dari orang yang baru meninggal, tidak boleh lebih dari lima jam. Dan, menurut ibrahim tadi, orang itu meninggal sekitar dua puluh menit yang lalu.”
Jhon melihat jam di tangan kanannya. Walau masih ada waktu sekita lebih dari empat jam. Namun, alangkah lebih baik jika sebelum waktu lima jam itu, transplantasi sudah benar \= benar selesai dilakukan. Agar jaringan yang dmiliki si pendonor yang sudah tidak memiliki nyawa itu tetap berfungsi dengan baik.
“Justin, cepat sedikit,” ujar Laura paik.
“Justin, kalau kamu tidak bisa ngebut. Tepikan mobilnya, biar aku yang bawa,” ujar Jhon, mantan si pembalap mobil yang saat remaja sering mengikuti balap mobil liar dan beberapa kali masuk bui, walau hanya cuma sehari.
Jhon tak merasakan dirinya yang lelah. Sebelum berangkat ke kota ini, ia menyempatkan diri ke kantor pagi - pagi, lalu balik lagi untuk menjemput istrinya dan berangkat ke bandara. Perjuangan Jhon memang tidak diragukan lagi. Ia akan melakukan apa pun untuk Tina, walau selama dua hari kemarin ia hanya sempat memejamkan mata untuk istirahat tidak lebih dari empat jam. Namun, ia tidak lelah, karena semua hanya untuk Tina, wanita pujaannya.
__ADS_1
Dan Tina tidak akan melupakan perjuangan Jhon. Ia akan mengabdikan seluruh hidupnya pada sang suami.
Jika Jhon mengejar waktu untuk kesembuhan mata istrinya. Abid dari sekarang mulai mengejar waktu untuk mengembalikan dana Mustofa yang hanya diberi tenggang dua minggu.