
Hari mulai malam. Perjalanan hari ini cukup melelahkan, apalagi untuk Jhon. Sebelum berangkat ke Penang, pagi – pagi sekali ia harus ke kantor untuk mengurus sisa pekerjaan yang akan ia tinggalkan dalam jangka waktu yang cukup lama. Sesampainya di kota itu, ia juga harus berjibaku dengan waktu, demi tercapainya sebuah tujuan yaitu membuat kedua mata Tina kembali melihat.
Perjuangan Jhon pun sangat membahagiakan. Usaha memang tidak mengkhianati hasil, tapi tidak juga melupakan doa, karena setiap usaha yang dilakukan terselip seuntai doa tulus dari orang – orang sekitar terutama orang tua.
Tina terbangun. Ia melihat Jhon yang meringkuk di sofa dan tertidur di sana tanpa selimut. Sungguh, ia tidak pernah menyangka bahwa pria bule ini akan mencintainya sebesar ini. Saat menjadi orang yang tidak diprioritaskan kala itu, Tina berfikir bahwa selama ini Jhon hanya menginginkan tubuhnya saja, pelayanannya saja, tetapi kini Jhon membuktikan bahwa itu tidak benar. Banyak hal yang membuat Tina yakin seratus persen jika pria ini adalah jodoh terbaik yang Tuhan kirim untuknya.
Tina menurunkan kakinya ke lantai. Sembari menggeret tiang infus yang masih menempel di pergelangan tangannya, Tina menghampiri Jhon yang meringkuk di sofa.
Dokter menganjurkan Tina untuk tetap dalam perawatan selama dua atau tiga hari, sekaligus untuk melihat perkembangan selanjutnya selama itu dan memastikan tidak ada indikasi penyakit lain yang ditimbulkan usai operasi dilakukan.
Tina duduk di sofa kecil yang tepat bersebelahan dengan sofa panjang yang Jhon tiduri. Wanita itu mengelus rambut Jhon. Ia sangat senang bisa melihat dengan jelas wajah Jhon.
“Terima kasih atas kesabaranmu selama ini. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa?”
Lirihan suara Tina dan gerakan tangan yang mengelus rambut serta wajahnya dengan lembut, Jhon pun terbangun. Ia bergerak, bangkit dan menoleh ke arah Tina.
“Sayang, kenapa bangun? Dokter nyuruh kamu banyak istirahat,” ujar Jhon yang kini duduk dengan sempurna.
Tina menggeleng. “Loh, kok kamu malah bagun juga? Aku ganggu ya? Ya udah kamu tidur lagi. Aku kembali ke tempat tidurku.”
Tina yang sudah bangkit dan hendak menjauh dari sofa yang Jhon duduki, langsung dicegah. Jhon menahan lengan Tina.
“Hei, kebiasaan! Kalau bertanya, malah dijawab sendiri.” Jhon tersenyum dan berkata lagi. “Aku tidak terganggu sama sekali, Sayang.”
“Tapi kamu tadi lagi pules banget. Hari ini sangat melelahkan kan?”
Jhon menggeleng. “Tidak. Aku sama sekali tidak merasa lelah. Lelahku tidak ada artinya saat melihatmu sembuh seperti ini.”
Ah, Jhon kembali membuat Tina meleleh. Entah mengapa pria itu gemar sekali menggombal, membuat Tina selalu jatuh hati padanya berulang kali.
“Jangan menunduk!” ucap Jhon yang melihat Tina menatap ke arahnya yang sedang duduk sementara, Tina berdiri.
“Mau duduk di sini atau kembali ke tempat tidurmu?”
Jhon menepuk sofa empuk di sebelahnya dan tempat tidur Tina.
Setelah operasi, dokter memberi beberapa pantangan pada Tina. Salah satunya adalah tidak boleh mengangkat berat dan menunduk. Arah pandang mata Tina untuk sementara harus lebih banyak datar.
“Ke tempat tidur aja deh.”
“Ayo!” Jhon segera bangkit untuk mengantar sang istri kembali ke tempat tidur itu sambil mendorong tiang infus yang Tina bawa.
Setelah beberapa kali melangkah, mereka pun sampai di tempat tidur yang sedari tadi Tina berada. Tina duduk di tepi. Jhon juga membantu Tina untuk naik di tempat itu sempurna. Namun, Tina menahan kakinya tetap menggantung.
“Kamu belum ngantuk? Mau makan sesuatu atau minum?”
Tina menggeleng. “Sudah, ga usah. Nanti, aku bisa ambil sendiri. Aku sudah merepotkan dari tadi.”
“Aku suka direpotkan. Karena itu artinya, kamu membutuhkanku.”
Tina tersenyum. “Aku memang selalu membutuhkanmu, Mas.”
Jhon tersenyum lebar. Ia ikut duduk di tepi tepat di sebelah Tina, hingga kedua paha mereka menempel.
Tina menatap Jhon. Jhon pun demikian. Mereka saling bertatapan hingga Jhon menginginkan sesuatu dan memiringkan kepalanya.
Tina sadar, bahwa Jhon sedang ingin menciumnya. Namun, wanita itu menahan dada Jhon.
“Mas.”
“Hm.”
“Aku mau buang air kecil.”
Jhon tersenyum. “Kenapa ga bilang dari tadi? Pasti kamu tahan ya?”
Tina mengangguk dengan senyum lebar hingga jejeran giginya yang rapih dan putih itu terlihat sempurna.
“Ck. Kebiasaan!” Jhon bangkit dan mengacak – acak rambut Tina.
Lalu, pria bule itu menaruh lagi infus Tina ke tiang yang bisa di dorong seperti tadi.
__ADS_1
“Ayo, aku antar!”
Tina bangkit dan mengikuti langkah sang suami ke kamar mandi. Jhon membuka pintu kamar mandi itu. Ia sengaja berada di dalam untuk membuka lebar pintu. Lalu, menutup pintu itu dari dalam setelah Tina sudah berada di dalam.
“Mas, kok masih di sini?” tanya Tina melihat Jhon yang tetap berdiri dan tidak menunggu di luar.
“Memang kenapa?” Jhon balik bertanya, karena tanpa Tina ketahui ternyata setiap kali Tina meminta di antar ke kamar mandi saat masih belum bisa melihat, Jhon menunggunya di dalam. Padahal pria itu mengatakan ya saat Tina memintanya menunggu di luar.
“Malu, Mas. keluar dulu sana!”
“Biasa juga seperti ini,” jawab Jhon santai. Lalu sedetik kemudian tersadar dan menutup mulutnya.
Tina mendelik. “Jadi, setiap kali aku minta di antar ke kamar mandi, kamu tidak pernah menunggu di luar?”
“Tidak.” Jhon menggeleng.
“Mas.”
Jhon tertawa melihat pipi Tina yang langsung merona.
“Memang kenapa sih? Kita juga sudah suami istri. Lagi pula, aku sudah hafal bentuknya.”
“Mas.” Tina kembali merengek, membuat Jhon tertawa.
“Ya sudah, duduk sana!” Jhon menyuruh Tina untuk melaksanakan keinginannya tadi.
Tina pun duduk di tempat pembuangan yang berbentuk seperti kursi.
“Berbalik, Mas!”
Tina meminta Jhon untuk membalikkan tubuhnya. Namun, pria itu tetap mematung.
“Mas.”
“Ngga usah. Udah ga apa – apa.”
“Ish, mupeng banget sih kamu.”
Tina pun dengan terpaksa melakukannya di depan sang suami. Saat Jhon melihat Tina yang kesusahan untuk membersihkan, Jhon pun segera mendekat.
“Gimana cara membersihkannya? Tanganku di infus,” keluh Tina dengan menunjuk infusan yang ada di tangan kirinya.
Perawat memang tidak bisa menginfus tangan kanan Tina, sehingga tangan kiri yang akhirnya harus tertancap jarum infus.
Dengan senang hati, Jhon mengambil alih selang air yang Tina pegang dan tangan kirinya menyentuh bagian tubuh Tina yang hendak akan dibersikan.
“Mas, jangan! Kotor,” ucap Tina.
“Bahkan aku sering menjilatnya, Sayang.”
Tina menggeleng. ia pasrah dan membiarkan Jhon melakukan itu.
“Ah.” Tina bersuara karena gerakan tangan Jhon di sana, memberi efek berbeda pada tubuh Tina.
“Sayang, aku kangen banget.”
Tina menggigit bibirnya. “Mas.”
Sesuatu yang sebelumnya tidak bangkit karena urusan kesehatan Tina dan pekerjaan, kini bangkit. Tina pun melihat celana bahan suaminya yang menggelembung di area itu.
“Mas, itu kamu!” Tina menunjuk ke arah itu.
Seketika, arah mata Jhon mengikuti arah mata Tina.
“Ini gara – gara megang kamu.”
“Ya udah jangan di pegang atau kamu mau melakukannya di sini?”
Jhon menatap mata Tina. Hasratnya kian naik. Apalagi sang istri pun mengajak.
“Serius?”
__ADS_1
“Serius,” jawab Tina yakin.
Setelah sekian banyak yang telah Jhon lakukan untuknya, Tina pun ingin memberikan pelayanan yang istimewa padanya.
Jhon menarik tangannya dan berbalik untuk membersihkan tangannya.
“Kalau sudah selesai, ayo keluar!”
Tina bingung. Ia bangkit dan memakai kain segitiga pengamannya lagi. Tina bingung melihat sikap Jhon. Namun, ia tetap mengikuti langkah Jhon hingga sampai di tempat tidurnya kembali.
Jhon meluruskan kedua kaki Tina, usai berada di atas tempat tidur itu.
“Istirahatlah! Kata dokter, matamu harus banyak istirahat.”
Tina mengangguk. Dan saat Jhon hendak menjauh, Tina menahan pergelangan tangan kokoh itu.
“Kamu marah?”
“Kenapa marah?” Jhon bingung dan balik bertanya.
“Tadi, kenapa menolak?”
Jhon pun tersenyum. “Tidak ada kamusku menolak kamu. Apalagi itu enak. Hanya saja, aku tidak ingin kita melakukan malam pertama di kamar mandi.”
“Kalau begitu di sini.” Tina menepuk temapt tidurnya.
Jhon tertawa. kepalanya menggeleng. “Tidak juga di sini.”
Jho melihat wajah Tina yang sedih dan menangkupnya. “Kamu juga udah ga sabar ingin bercinta?”
Tina mengangguk. “Aku ingin melayanimu.”
Senyum di bibir Jhon semakin lebar. Rasanya senang mendengar hal itu.
“Aku ingin malam pertama yang berkesan,” ucap Jhon. “Sebelumnya, aku memberikan malam pertama yang tidak berkesan. Walau tempatnya oke, di sebuah kapal pesiar, tapi saat itu kamu sedang dalam pengaruh obat.”
“Lalu?”
“Nanti, kita juga akan malam pertama di kapal pesiar. Tapi, tidak dalam keadaan kamu yang terpengaruh karena obat per*ngs*ng.”
Kemudian, Jhon memajukan wajahnya dan menempatkan bibirnya di telinga Tina. “Aku ingin menikmati keliaranmu dalam keadaan kamu sadar.”
“Mas.”
Tina malu. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Jhon tertawa. Ia memeluk wajah yang semula ditangkupnya itu.
Tina pun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jhon. Cukup lama mereka mengutarakan rasa cinta itu dari bahasa tubuh yang sedang berpelukan. Kemudian, pelukan itu terlerai dan Tina mendongak sedikit, karena posisi Jhon yang berdiri dan Tina duduk di tepi tempat tidurnya.
“I love you, Jhon.”
“I love you more, Shabira.”
Keduanya tertawa dan kembali berpelukan.
Di antara mereka tidak ada yang menyangka, bahwa ikatan cinta mereka akan sekuat ini. Semula, mereka kira hubungan satu malam yang terjadi karena satu tragedi itu tidak akan berakhir indah. Hubungan yang dilandasi sebuah dosa, akan berakhir nista. Nyatanya, mereka bangkit dari kenistaan. Berupaya untuk merubah diri satu sama lain dan berlomba untuk menjadi yang lebih baik, hingga takdir membawa mereka memulai hubungan ini kembali dengan jalur yang benar.
T A M A T
__________________________________________
Malam pertama Jhon dan Tina, penyelesaian tagihan hutang Mustofa ke Abid, juga kehidpan rumah tangga sehari - hari pasangan absurd ini akan terangkum di bab BONUS CHAPTER.
See you di kisah lain dalam novel baru author yang akan tayang minggu depan.
Love you more, my readers. Makasih sudah setia menunggu kisah cinta Jhon dan Tina, walau updatenya sering lama. Mohon maaf 🙏
Salam manis
Elis Kurniasih
__ADS_1