
Assalamualaikum.” Abid datang dan membuyarkan perasaan Jhon yang tak karuan karena ucapan Tina yang mengejutkan dan membuat dunianya runtuh seketika.
“Walaikumusalam.”
Semua orang yang ada di dalam rumah itu pun menoleh ke arah Abid, termasuk Tina. Kebetulan, Jhon adalah pria pertama yang sampai ke rumah itu setelah acara di Masjid selesai. Jhon datang bersama Aji. Namun, Aji meminta Jhon untuk ke rumah Utsman lebih dulu saat melewati rumahnya.
Tina melihat Jhon yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan tatapan sendu.
“Jhon, kenapa masih di pintu? Ayo masuk!” Abid mengajak Jhon yang masih mematung di sana.
Jhon mengangguk. Ia mengikuti Abid yang datang bersama Mustofa dan kedua putranya, juga bersama Alif, suami Arafah.
Jhon mencari keberadaan Ustadz Abdullah, karena hanya Kiyai itu yang membuatnya percaya diri. Namun, sosok yang Jhon cari, ternyata tidak ada di sini.
Entah mengapa, Jhon merasa kerdil jika berhadapan dengan Mustofa dan keluarganya. Ia menjadi orang yang sangat kecil. Mungkin karena tanpa sadar, lisan Mustofa sering mengecilkan orang lain, perkataannya menjatuhnya psikis orang lain, termasuk Jhon.
“Ayo, Jhon! Duduk!”
Jhon kembali mengangguk, karena Abid kembali memanggilnya.
“Sudah selesai acaranya, Bi?” tiba – tiba, Fatimah berada di ruang tamu dan menghampiri suaminya.
“Sudah, Mi. Alhamdulillah, acaranya berjalan lancar. Bukan begitu, Bid?”
Abid mengangguk. “Iya, Pakde Yai, Alhamdulillah.”
“Masya Allah, yang mendoakan almarhum banyak sekali, Mi. memang Almarhum sosok yang disukai jamaah.” Mustofa kembali berkata.
“Alhamdulillah,” jawab Abid dan Hasna yang juga ada di ruang tamu.
“Alhamdulillah, kalau begitu,” sahut Fatimah juga.
Sementara, di dapur, Munah dan Arafah membuatkan minum untuk para tamu yang telah banyak membantu, sekaligus menjadi donatur terbesar dalam acara itu.
“Dek, kamu beneran nerima lamaran Mas Al?” tanya Arafah.
Tina diam.
“Ning Bira, kasihan Mas Bul. Dia langsung sedih loh, pas Ning Bira mengatakan itu ke Nyai.” Munah pun bersuara.
“Terus Bira harus bagaimana, Mbak? Mbak ga lihat bagaimana Bude Nyai menyudutkan Ummi?”
“Iya, Mba Fah lihat, Dek. Tapi tidak lantas kamu mengorban diri kamu seperti ini kan? Kalau kamu tidak menyukai Mas Al, ya jangan dipaksa!”
Munah mengangguk. wanita itu setuju dengan pernyataan Arafah.
“Dulu, Mbak memang selalu memaksa kamu bersanding dengan Mas Al, karena Mas Al sahabat baiknya Mas Alif. Pikir Mbak, pasti seru kalau kita double date karena suami kita bersahabat. Tapi melihat kamu seperti ini, Mbak tidak memaksa.” Arafah berkata lagi.
Tina diam. Ia mencerna perkataan sang kakak, hingga suara istri Abid membuyarkan pembicaraan mereka.
“Fah, udah belum minumannya?”
Arafah mengangguk ke arah kakak iparnya. “Udah, Mbak.”
Munah langsung membawa nampan itu keluar, dibantu dengan istri Abid. Nampan yang sudah ada di tangan Tina, langsung dialihkan Arafah.
“Sudah, kamu ga usah keluar. Pikirkan keputusanmu baik – baik. biar, Mbak yang bawa ini!” ucap Arafah menyuruh Tina untuk tetap berada di dapur. Tina pun setuju. ia memilih duduk di meja makan.
__ADS_1
Di ruang tamu, Jhon hanya menjadi pendengar. Ia ingin sekali pulang. Namun, ia masih berada di sini untuk memastikan keputusan Tina tadi.
“Oh, iya. Bi. Al. Ada berita baik.” Fatimah interupsi di tengah obrolan ringan para lelaki itu, sembari menatap ke arah suami dan putra sulungnya.
Mustofa dan Al pun melihat ke arah Fatimah.
“Tadi, Bira mengatakan bahwa dia menerima lamaran Al.”
Sontak, Al pun tersenyum senang. “Benar, Ummi?”
Al melirik ke arah Jhon. Seolah ia telah menang.
“Benar, Ummi?” Mustofa juga terkejut.
Fatimah tersenyum dan mengangguk. “Benar. Kalau tidak percaya, tada saja Hasna dan Arafah. Munah saja dengar. Iya kan, Mun?”
Fatimah bertanya pada Munah. Munah pun mengangguk, karena yang ia dengan memang demikian.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.” Binar bahagia tampak jelas dimata Al. Pria soleh itu pun mengusap wajahnya sebagai tanda syukur.
“Ini karena lobby, Ummi, Mas. Coba Abi mu tidak pernah berhasil terus,” ledek Fatimah pada suaminya.
“Iya, deh. Ummi memang hebat,” ujar Mustofa.
Hasna dan Arafah hanya saling melirik. Sedangkan di meja makan, Tina tidak mendengar percakapan itu. Tiba – tiba pikirannya kosong. Ia benar – benar tidak bisa berpikir untuk kebahagiaannya sendiri. Ia tidak ingin harga diri keluarganya diinjak – injak karena jasa keluarga Mustofa dulu.
Yang pertama kali Abid lihat saat mendengar kabar ini bukanlah Al, tapi Jhon. Entah mengapa Abid ingin melihat ekspresi pria bule yang saat ini tengah membantunya untuk membuat sistem demi kemajuan teknologi pondok pesantren itu.
Saat ini, Jhon memang tidak sedang baik – baik saja. Dadanya bergemuruh. Semua rasa, rasanya sedang menjadi satu. Ingin sekali, ia marah dan mengobarak abrik ruangan ini, tapi ia menahannya. Jhon sudah belajar banyak tentang kesabaran dan ia pun belajar untuk ikhlas saat ini. namun, rasanya ikhlas itu sangat sulit.
“Bagaimana, Bid? Apalagi yang ingin kamu tunggu? Segera nikahkan Bira dan Al, dari paa jadi fitnah,” ujar Mustofa yang lagi – lagi menekan Abid.
“sekali lagi, Pakde Yai, saya tergantung Bira,” jawab Abid bijaksana.
Abid menoleh ke arah adik yang add dibawahnya persis. “Fah, coba kamu panggil Bira ke sini.”
Arafah mengangguk. Ia pun berdiri dan segera melangkah ke arah dapur. Tak lama kemudian, Tina keluar bersama sang kakak. Perlahan, Tina duduk di samping san ibu.
Hasna terus menggenggam tangan putri bungsunya. Sungguh, ia pun tidak ingin Tina mengambil keputusan ini. Kalau pun, ia harus mengembalikan jasa keluarga Mustofa dalam bentuk uang, akan ia usahakan untuk mengembalikan uang itu, asal tidak menggadaikan kebahagiaan putrinya.
“Mas Abid manggil Bira?” tanya Tina pada kakak yang paling ia segani.
Abid mengangguk.
Jangan tanya bagaimana ekspresi Jhon. Sejak Tina ada di ruangan ini, Jhon tak lepas menatap ke arah wanita itu.
“Kamu menerima lamaran Al fatih, Bir?” tanya Abid.
Tina menunduk. Sejak duduk di sana tepat di samping sang ibu, Tina tak kuasa mengangkat kepalanya, apalagi sampai tatapannya bertemu dengan Jhon, karena di sana Jhon berharap demikian.
Tina menganggukkan kepalanya. Ia merasakan kepalan tangannya yang semakin tercengkeram oleh kepalan tangan sang ibu.
“Kamu yakin, Bira?” tanya Hasna untuk meyakinkan keputusan sang putri.
Tina kembali mengangguk. “Iya, Ummi. Bira yakin.”
Seketika, keluarga Mustofa pun sumringah. Dan lagi – lagi, Al melirik ke arah Jhon dengan senyum penuh kemenangan. Sementara, Jhon berharap Tina menoleh ke arahnya. Namun, hal itu tidak mungkin, karena Tina berusaha meneguhkan keputusannya dengan tidak ingin terkontaminasi keputusan itu ketika menoleh ke arah Jhon.
__ADS_1
Abid mengangguk. ia tak bisa mencegah keputusan itu, karena keputusan itu datan dari mulut orang yang bersangkutannya sendiri.
“Saya hanya mewakilan saja, menggantikan posisi Abi untuk menikahkan Bira. Karena keputusan semua ada di tangannya,” ujar Abid dengan menatap ke arah Tina seolah kembalu mempertanyakan keputusan itu.
Namun, Bira tampak yakin dengan keputusannya. Abid pun menarik nafasnya kasar.
“Ah, lega rasanya. Akhirnya, keinginan aku dan Utsman terlaksana,” ujar Mustifa senang.
Abid hanya bisa mengangguk.
“Kalau begitu, sekarang saja kita tentukan tanggal pernikahan,” sambung Mustofa lagi.
“Hush, Abi. Langsung tanggal pernikahan aja. Lamaran secara resmi dulu dong, Bi,” ucap Fatimah.
“Ah, iya. Nanti kita adakan lamaran resmi besar – besaran,” jawab Utsman setuju.
Keluarga Tina, hanya mengikuti saja. Mereka lebih banyak diam. Alif yang biasanya banyak bicara dan seharusnya antusias karena akhirnya keinginannya tercapai pun terlihat diam, sama seperti istrinya.
“Maaf, saya pamit.” Tiba – tiba Jhon menginterupsi. Ia merasa kehadirannya di sini tidak diperlukan lagi.
“Mau ke mana, Jhon?” tanya Al, seolah ia adlaah teman akrab, padahal Al hanya ingin melihat Jhon menyaksikan kemenangannya.
Jhon pun malas menjawab pertanyaan itu.
“Jhon terima kasih karena telah membantu acara ini,” ucap Abid.
“Nak Jhon. Terima kasih sembakonya. Semoga sedekahmu menjadi amalan baik yang diterima Allah.” Hasna pun berujar.
Jhon tersenyum dan mengngguk. “Saya permisi, Ummi.”
Jhon tak kuasa berada di tempat ini. Ia ingin pergi dan menenangkan diri. Langkah kaki Jhon yang panjang, membuatnya cepat menuju pintu.
Abid ikut berdiri melihat Jhon hendak pergi. “Sebentar Pakde Yai.”
Abid meninggalkan tamunya dan mengejar Jhon.
“Jhon.”
Jhon yang sudah berada di luar rumah itu pun menoleh ke belakang.
Abid berlari menghampiri pria bule itu. “Kamu tidak apa – apa?”
Jhon diam.
“Aku tidak tahu sedekat apa kamu dan Bira? Hanya yang aku tahu, hubungan bos dan sekretaris memang banyak yang tidak sekedar hubungan pekerjaan. Seringnya bersama, membuat mereka sering terlibat percintaan. Aku tidak tahu apa kalian termasuk seperti itu? Tapi lepas dari itu, aku ingin kamu ikhlas untuk menerima keputuan Bira.”
Jhon menarik nafasnya kasar. “Ikhlas adalah hal yang paling sulit dilakukan. Tapi, aku akan mencoba melakukannya.”
Hanya ada kalimat itu yang bisa Jhon ucapkan.
Abid pun mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih, Jhon.”
Abid menepuk bahu kokoh bule itu. Dan, Jhon pun ikut mengangguk membalas senyum Abid dengan senyum getir.
“Sama – sama. Kalau begitu, aku permisi.”
Abid tak dapat lagi menahan Jhon. Ia pun menatap kepergian pria bule yang berasal dari Australia itu.
__ADS_1