Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Dunia Jhon runtuh


__ADS_3

Dret … Dret … Dret …


Ponsel Jhon berdering dengan nomor yang tak di kenal. Tanpa ingin berniat mengangkat telepon itu, Jhon pun mematikan dan menaruh kembali ponselnya ke saku.


“Mas, kamu udah ditunggu Abi.” Suara Tina menghentkkan Jhon. Ia pun tersenyum dan menjawab. “Iya, sayang.”


“Aww …” tiba – tiba Jhon memekik.


“Sakit, Sayang. kok dicubit,” protesnya dengan raut wajah bingung.


“Sudah aku bilang, jangan panggil sayang! Apalagi di depan Abi.” Kini Tina yang protes dengan suara sedikit berbisik.


Keduanya masih berada di meja makan. Jhon masih duduk di kursi meja makan itu, sementara Tina berdiri dengan jarak. Semula jarak itu cukup berjarak, tapi kini agak sedikit mendekat.


“Aku ga bisa, Sayang. udah kebiasaan,” sahut Jhon santai.


Namun, gaya itu membua Tina kembali kesal dan memelintir lagi kulit perut Jhon yang rata.


“Ah … ssshhh … Sayang.”


Mata Tina kembali membulat, karena lagi – lagi pria bule ini memanggilnya dengan sebutan sayang.


“Bira,” suara Hasna, sontak membuat Tina mundur dan memberi jarak pada Jhon.


“Iya, Ummi.” Tina menatap ke arah sang Ibu.


“Abi sudah menunggu bosmu.”


Tina mengangguk dan beralih ke arah Jhon yang malah memainkan ponsel. “Mas, udah ditunggu Abi.”


“Iya, sebentar. Bima lagi tanya kerjaan nih. Sebentar ya, Sayang.”


Tina memutar bola matanya malas, karena Jhon adalah pria yang justru akan terus melakukan jika dilarang.


Tina pun meninggalkan Jhon di sana dan menemui sang ayah.


“Abi, maaf. Jhon sedang mengurus pekerjaannya dulu sebentar.”


Utsman mengangguk. Ia tidak masalah. Lagi pula, di depan Utsman saat ini sedang ada Al. Al tersenyum pada Tina dan begitu pun sebaliknya.


Lalu, Tina menyusul sang Ibu yang sedang merapikan beberapa tanaman dan rumput yang ada di depan pintu rumah mereka.


“Sini, Bu. Biar Tina yang menyapu.” Tangan Tina langsung beralih memegang sapu lidi yang semula dipegang Hasna.


“Loh, kok kamu malah bantu Ummi. Tidak temani Nak Jhon dan Mas Al?”


Tina menggeleng. “Ngga ah, Mi.”


“Kenapa?” tanya Hasna.


Tina masih menggeleng.


“Kamu bingung?” tanya Hasna lagi.


“Entahlah, Mi.”

__ADS_1


“Sudah istikharah?”


Kepala Tina kembali menggeleng. “Belum.”


“Iskharah lah, agar keyakinanmu semakin yakin dan dimantapkan.”


“Kalau menurut Ummi, Abi lebih menyukai siapa? Mas Al atau Jhon?”


Hasna tertawa mendengar pertanyaan putrinya. “Jika ditanya seperti itu, pasti jawabannya Al, karena Al kan anaknya Gus Mus, sahabat Abimu, apalagi Al juga mantan santri kesayangan Abi.”


“Itu artinya, walau Jhon bisa memenuhi syarat dari Abi, itu akan percuma?” tanya Tina lemas.


Hasna kembali tertawa, terlebih setelah melihat ekspresi putrinya.


“Kamu mencintai Jhon? Apa di Jakarta kalian sangat dekat?”


Pertanyaan sang Ibu, membuat bibir Tina kelu. Ia hanya mengangguk pelan kepalanya dan Hasna tak lagi banyak bertanya.


“Abi, apa saya masih ada kesempatan?” tanya Al langsung pada Utsman.


“Berdoa saja.”


“Al sangat ingin mempersunting Bira, Abi.”


Utsman mengangguk. “Ya, Abi tahu.”


Jhon bangkit dari kursi meja makan, usai masalah pekerjaannya bersama Bima selesai. Lalu, Jhon melangkah menuju ruang tamu. Ia melihat Al yang sedang dipeluk Utsman.


“Kamu tetap anak Abi dan akan selalu menjadi anak Abi,” ucap Utsman pada Al yang didengar Jhon.


Jhon membalikkan tubuhnya dan menyandarkan di dinding.


“Mas bul,” panggil Munah.


Dahi Jhon mengernyit. “Mas Bul?”


“Iya, Mas bule. Jangan patah semangat. Ayo temui, Pak Yai. Mas bule pasti menang.” Tiba – tiba Munh memberi semangat.


Dahi Jhon masoh mengernyit.


“Munah pernah lihat ponsel Ning Bira, gambarnya Mas Bule. Jadi Mas bule tenang aja. Walau Abi lebih condong ke Mas Al, tapi Ning Bira kan sukanya sama Mas bule.”


Seketika, Jhon kembali bersemangat. Ia pun tersenyum ke arah Munah yang sedang mendongak, hanya untuk melihat wajah Jhon.


“Terima kasih, Munah.”


“Sama – sama, Mas Bul.”


Jhon melihat Munah yang berlalu sambil mengambil gelas yang ada di meja tempat Jhon duduk tadi.


Jhon kembali melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Di sana, Al tampak sudah pergi dan kini ia melihat Al yang sedang berdiri bersama Tina dan Hasna.


“Bira, Mas pamit ya,” ucap Al setelah berpamitan dengan Hasna.


Hasna pun membiarkan putrinya dan Al bicara.

__ADS_1


“Bira kira, Mas masih mengajar di sini,” sahut Tina basa basi.


Al yang tahu dengan basa basi itu pun tersenyum.


“Bira, boleh Mas Al tanya sesuatu?”


Tina mengangguk.


“Apa yang Randy katakan benar?”


Deg


Seketika jantung Tina terpacu cepat.


“Apa yang Randy katakan?” tanya Tina.


“Tentang kamu dan Jhon di Jakarta. Apa Ummi dan Abi tahu itu?”


Tina menggeleng. “Tidak.”


“Itu sebabnya kamu tidak menerimaku sekarang?” tanya Al lagi.


Tina mengangguk.


“Apa jika aku tetap menerimamu, kamu akan menerimaku?”


Tina yang semula menunduk karena malu akan kelakuannya, kini terangkat dan menatap Al. ”Apa kamu tidak jijik padaku, nanti?”


Al menggeleng. “Aku tahu, sekarang kamu sudah mengakui kesalahanmu di depan Rabb-mu, dan tidak akan melakukan kesalahan itu lagi. Aku yakin kamu sudah taubat dengan sungguh sungguh, Bira.”


”Mas Al aku mohon, jangan katakan hal ini pada Abi dan Ummi. Cukup aku saja yang menaggung kesalahan ini. Jangan biarkan Abi dan Ummi tahu. Aku tidak ingin mengecewakan mereka.”


Tina kembali menunduk. Hanya itu yang paling ia takutkan. Jika harus memilih, maka Tina akan lebih memilih kedua orang tuanya, dibanding Jhon. Ia akan lebih rela melepas Jhon, dibanding kehilangan Utsman dan Hasna.


Di dalam sana, Jhon dan Utsman sedang berbicara. Sekilas ia melihat Tina yang berbicara dengan l di luar namun, Jhon memfokuskan lagi pada Utsman yang duduk di depannya.


“Bagaimana? Apa kamu sanggup memenuhi syarat dari Abi?” tanya Utsman yang sudah mengungkapkan satu syarat untuk Jhon.


Utsman meminta Jhon untuk membuat menara penguat sinyal, serta membuat sistem teknologi yang canggih untuk pondok pesantrennya. Selama ini, pondok pesantren miliknya memang terkendala dengan sistem. Apalagi saat ujian nasional, sinyal lemah karena lokasinya yang sedikit lebih pedalaman, membuat para santri kesulitan ketika harus menjalani ujian berbasis komputer.


“Siap, Bi. Saya akan memenuhi syarat yang Abi berikan.”


Walau syarat itu membutuhkan biaya yang tak sedikit serta waktu yang tak sebentar. Jhon tetap akan memenuhi syarat itu.


“Dan selama syaratmu belum selesai. Jaga jaraklah dengan Bira,” kata Utsman lagi.


Jhon mengangguk setuju.


“Abi.” Tiba – tiba Tina memanggil.


“Tidak perlu memberi syarat pada Jhon, Bi.” Lalu, Tina menoleh ke arah Jhon. “Bira menolak lamarannya. Bira memilih Al.”


Sontak, Jhon terkejut. Utman pun demikian. Hasna yang baru saja datang membawa kopi untuk Jhon dan Utsman pun ikut terkejut, karena kemarin – kemarin Tina tidak menunjukkan keputusan ini, tapi entah mengapa secara tiba – tiba ia memberi keputusan yang mengejutkan, bukan hanya untuk Utsman dan Hasna, terlebih untuk Jhon.


Kepala Jhon menggeleng. Tubuhnya melemas dan rasanya seketika dunianya runtuh.

__ADS_1


__ADS_2