Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Merestui


__ADS_3

Di jalan, hati Jhon tidak tenang. Entah apa yang sedang ia rasakan saat ini, tapi rasanya sangat tidak enak.


“Kita kembali ke rumah sakit!” perintah Jhon tiba – tiba pada supirnya.


Sudah tiga hari supir Jhon setia menemani. Pria yang bernama Edi itu tinggal di area pesantren dan tetap berada di sana selama bosnya ada di sana. Saat Utsman mengalami serangan jantung, kebetulan Edi berada di sekitar rumah itu., sehingga Edi pun sigap membawa dan memasukkan Utsman ke dalam mobil untuk menuju rumah sakit.


“Tapi Ibu Tina kan minta Sir pulang,” ujar Edi yang mendengar perdebatan Jhon dan Tina di ruang tunggu rumah sakit.


Edi juga cukup mengenal Tina sebagai sekretaris dan kekasih Jhon.


“Iya, tapi hati saya tidak tenang meninggalkannya sendirian,” jawab Jhon. “Ayo, Ed. Putar arah dan kembali ke rumah sakit. Hati saya semakin tidak tenang.”


Edi menurut, ia mencari jalan untuk putar balik menuju rumah sakit.


“Abi, tolong jangan tinggalkan Bira. Abi.” Tina masih meraung di samping tempat tidur Utsman.


Kaki Arafah yang bergerak cepat meninggalkan ruangan sang ibu pun, berdiri di ambang pintu itu.


“Abiiiiii …” teriaknya pilu.


“Abiiiiii.” Tangis Arafah pecah. Hanya ada dua anak Utsman di sana.


Suster memberitahu kepada Arafah untuk menemui ayahnya di ruangan ini, lalu Arafah meminta Munah untuk menjaga Hasna. Di dalam ruang perawatan, Hasna tidak tahu kondisi terakhir suaminya.


“Bira, Abi kenapa? Bira.” Arafah menggoyangkan bahu sang adik. Ia syok, Tina pun sama. Wanita itu tidak bergerak dan hanya bisa menangis.


Dokter yang sedari tadi berada di sana bersama tim medis yang lain pun akhirnya, pasrah. Mereka tidak bisa membuat monitor yang semula menunjukkan garis atar untuk kembali bergelombang, padahal mereka sudah berupaya semaksimal mungkin.


Dada Utsman terus dipompa melalui alat hingga beberapa kali, tapi hasilnya nihil. Utsman tetap tidak memiliki pergerakan berarti. Jantungnya tidak kembali berdetak.


“Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, pasien tidak dapat tertolong.”


“Huwaaa ….” Tagis Arafah semakin pecah, begitu pun dengan Tina. Dua anak perempuan Utsman yang begitu dekat dengan sang ayah, harus kehilangan cinta pertama mereka.


“Abiiii …”


Tina sudah tidak bisa lagi berteriak. Ia juga tidak bisa menangis meraung – raung. Justru Tina hanya diam. Pandangan matanya kosong, hingga suara seorang pria mendekati.


“Tina, ada apa? Tina, Abi kenapa?”


Pertanyaan Jhon diabaikan Tina. Wanita itu sibuk dengan mentalnya sendiri.


“Jhon. Abi.” Arafah yang tak pernah berinteraksi dengan Jhon, justru memanggil nama itu lirih.

__ADS_1


Arafah menjadi saksi bahwa Jhon sangat peduli. Sejak ia sampai di rumah sakit, ia melihat Jhon yang mondar mandir mengurus perawatan Utsman. Arafah juga melihat bagaimana Jhon meminta penanganan yang ekstra untuk ayahnya.


“Arafah, Abi kenapa?” Jhon yang tidak bisa bertanya pada Tina, akhirnya bertanya pada Arafah.


“Jhon, Abi. Abi.” Arafah tak kuasa mengatakan bahwa ayahnya sudah tiada.


Jhon yang penasaran, mendekati Utsman dan dokter yang masih berdiri di sana.


“Ayah saya, Dok?” tanya Jhon pada dokter itu dan dokter itu hanya menggelengkan kepala.


Seketika, airmata Jhon ikut luruh. Entah mengapa perasaannya begitu dekat dengan Utsman, padahal ia baru berinteraksi beberapa hari. Namun, berdekatan dengan Utsman rasanya seperti memiliki ayah sendiri.


“Abi. Maafkan Jhon, Bi. Maaf.” Jhon langsung memeluk Utsman. Sungguh, ia beruntung bertemu dengan orang yang mirip dengan guru spiritualnya selama ini, yaitu Abdullah.


Melihat sosok Utsman memang sebelas dua belas dengan orang yang menuntunnya saat mengucapkan dua kalimat syahadat. Orang yang juga membuat Alex menjadi pribadi yang baik, sehingga Jhon pun tertarik.


Jhon mengangkat tubuhnya. Ia menatap wajah teduh Utsman dengan mata yang tertutup rapat. Utsman terlihat hanya seperti sedang tidur saja. Wajahnya berseri dan tidak pucat lagi.


“Saya janji akan tetap meneruskan permintaan Abi. Saya juga berjanji akan menjaga Agustina Shabira, putri bungsu Abi dengan sepenuh hati. Saya, Jhon Louise berjanji di depan Abi.”


Arafah menangis melihat kesungguhan Jhon. Walau semula, ia setuju sang adik dijodohkan dengan sahabat suaminya, tapi melihat kesungguhan pria bule ini, Arafah pun simpatik. Rasanya aura ketulusan Jhon untuk Tina, sampai pada keluarganya termasuk Hasna.


“Bira.” Arafah menyentuh bahu Tina. Wanita itu tetap tidak bergerak. Pandangannya masih kosong. Arafah pun prihatin melihat sang adik.


“Bira.” Arafah kembali menyentuh bahu Tina.


Tina tidak melihat ke arah Jhon. Matanya hanya tertuju pada jasad Utsman yang terbujur di atas tempat tidur pasien.


“Sayang. Hei! Semua akan baik – baik saja.”


Tina masih tidak bergerak. Sungguh, mentalnya tergerus. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada sang ayah kini.


“Bira.” Arafah kembali menangis. Kini, ia menangisi keadaan sang adik.


“Arafah, temani Tina dulu! Aku akan mengurus Abi.”


Arafah mengangguk. Ia pun menemani adiknya yang masih syok berat. Sementara, Jhon mengurus administrasi dan pemakaman Utsman.


Sambil menunggu Tina yang hanya terdiam dengan tatapan kosong di sana, Arafah menelepon Alif.


“Inalillahi, Abi.” Alif terkejut. kebetulan ia sedang berada di Masjid.


“Siapa yang meninggal, Lif?” tanya Al yang juga ada di sana.

__ADS_1


“A – a – bi.” Alif berkata dengan terbata – bata. Sungguh, seperti tersambar petir di siang bolong, Alif sangat erkejut. Tubuhnya pun gemetar.


“Innalillahi.” Sontak kabar kepergian Utsman untuk selama – lamanya membuat gempar seluruh desa hingga ke kota.


Kepergian Utsman meninggalkan tangis oleh semua orang yang mengenalnya, bahkan para santri dan jamaah yang sering mendengarkan tausiahnya.


Hanya Hasna yang tidak tahu tentang suaminya. Keluarga sepakat bahwa Hasna akan diberitahu tentang ini, jika wanita itu sudah dinyatakan sembuh dan boleh kembali ke rumah.


Abid yang berada di Kairo pun langsung terbang ke Magelang. Ia memboyong seluruh keluarganya untuk pulang, karena istri dan anaknya pun ingin melihat kakek mereka untuk yang terakhir kali.


“Kak Abid.” Arafah langsung berlari ke arah sang kakak yang baru saja tiba.


Suasana pondok pesantren pun begitu ramai.


“Arafah, apa yang terjadi? Mengapa Abi tiba – tiba seperti ini?” Abid benar – benar tidak mengerti. Semula, ia mendengar kabar bahwa sang ayah masuk rumah sakit dan kini dalam waktu beberapa hari terdengar kabar lagi bahw ayahnya sudah tiada.


Arafah menggeleng. “Tidak tahu, Mas.”


Abid memeluk Arafah dan menarik kepalanya memang tidak bisa bertanya kenapa? Karena ajal memang datang pada siapa saja, bahkan pada orang yang terlihat sehat dan masih muda.


“Di mana, Bira?” tanya Abid lagi pada adik pertamanya.


“Di kamar. Sejak kejadian itu, Bira tidak bicara, Mas. Dia juga tidak mau makan.” Arafah sungguh cemas. Ia tidak bisa menyalahkan sang adik karena kondisi Tina saat ini sangat tidak baik.


Lalu, arah mata Abid melihat ke arah pria yang berparas berbeda dari orang – orang yang membantu pemakaman Utsman.


“Siapa dia?” tanya Abid.


“Dia bosnya Bira. Dua hari lalu, dia melamar Bira pada Abi dan Dia juga yang mengurus semua keperluan Abi di rumah sakit.”


Abid menatap Jhon yang tengah sibuk. Bahkan, Jhon tidak tidur seharian demi mengurus semua keperluan calon ayah mertua yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.


Proses pemakaman berjalan lancar. Hampir seluruh kampung ingin mengantarkan Utsman ke peristirahatan terakhirnya. Dan Jhon berada di sana hingga semua selesai.


Jhon tidak bisa menemani Tina karena di sana Tina tak pernah sendiri. Wanita yang terlihat depresi itu selalu ditemani Arafah, Munah, atau istri Abid yang bernama Zahra. Al pun sangat terpukul. Ia tak dapat bicara, ia juga memiliki rasa bersalah yang sama. Ketiga orang yang terlibat itu pun kini berjalan sendiri – sendiri.


Usai pemakaman, Al bersama Randy dan keluarganya pulang, setelah semua warga yang ikut memakamkan pulang. Di pusaran itu hanya tinggal keluarga inti. Tina masih belum beranjak sementara Jhon hanya melihat sang kekasih yang sangat rapuh itu di sana.


Jhon merogoh saku celana yang ia gunakan sejak kemarin, tepat sejak mengantar Utsman ke rumah sakit. Ia ingat sebelum kejadian itu, dimana saat ia dan Utsman duduk berdua dan Utsman memberitahu tentang satu syarat yang diajukan.


Saat itu, Utsman berkata, “ini tasbih Abi. Jika kamu lulus dan Abi menerimamu, maka Abi akan memberikan tasbih ini.”


Ketika Jhon mengikuti tempat tidur yang membawa Utsman ke ruang ICU, Utsman sempat membuka matanya sesaat dan menggenggamkan tasbih itu padanya.

__ADS_1


Jhon berdiri menatap tasbih yang ia langsung masukkan ke dalam saku celana saat inseden berlangsung. Semula ia tidak tahu benda apa yang diberikan Utsman untuknya. Jhon hanya fokus pada Utsman saat itu, sehingga ia hanya memasukkan saja benda yang diberikan Utsman ke dalam saku tanpa melihatnya.


Jhon tergugu. Ia terkejut saat membuka telapak tangan dan melihat benda yang pernah ditunjukkan Utsman sebagai tanda bahwa calon ayah mertuanya itu merestui.


__ADS_2