Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Insiden softlens


__ADS_3

Plak


Wajah Jhon di tampar. Pria yang menamparnya adalah Jonny.


“Tidakkahkau menggantikan posisiku sebentar saja demi Michelle? Kau memang egois, Jhon. Kau hanya mementingkan kepentingan dirimu sendiri. Kau tidak pernah ada untuk keluargamu.”


“Keluarga? Keluara apa? Selama ini aku memang hidup sendiri. Mommy sibuk dengan keluarganya, Daddy yang selalu ada bersamamu. Aku? Bahkan keksaihku saja, kau ambil,” ujar Jhon tak terima.


“Saat aku menemukan kebahagiaan. Grace datang dengan mengatakan Michelle anakku. Dan sekarang aku kehilangan wanita itu untuk selama – selamanya. Lalu, kau menuduhku egois? Ke mana kau selama ini? Huh!” Jhon ikut menggebu – gebu.


Michelle meninggal dan kini ia disalahkan atas semua ini. selain Michelle yang sudah tiada, Grace pun mengalami gangguan mental. Wanita itu seolah tak terima bahwa putrinya sudah tiada.


“Aku? Aku mengurus Daddy. Kau tidak tahu kan kalau Daddy lumpuh? Aku harus membawanya ke Inggris, karena hanya Uncle Asthon yang mau menjamin kesembuha Daddy. kau juga tidak tahu bagaimana usaha Daddy yang mengalami kebangkrutan. Semua, aku yang tanggung Jhon,” tutur Jhonny. “Aku rela meninggalkan Grace dan Michelle demi keluarga. Aku yang meminta Grace untuk menemuimu dan menggantikan posisiku sementara, tapi kau menyia – nyiakan keponakanu.”


“Itu benar, Jhon. Jhonny yang selama ini merawat Daddy, hingga Daddy sembuh sekarang,” ujar Michael, yang biasa dipanggil Mike, yang merupakan ayah kandung Jhon.


Di depan pusaran Michelle, keluarga itu berkumpul, termasuk dua orang tua Jhon dan Jhonny yang sudah puluhan tahun berpisah.


Jhon tertawa getir. “Sejak awal aku memang tidak merasa memiliki keluarga. Jadi, jangan salahkan aku atas semua yang terjadi! Karena aku pun tidak baik – baik saja.”


Menyesal rasanya, Jhon datang jauh – jauh dari Jakarta ke Perth, jika kehadirannya hanya untuk disalahkan, padahal ia datang karena kekhawatiran dan kepeduliannya terhadap orang tua.


“Jhon, mau ke mana kamu?” tanya Laura.


“Mommy ke mana selama ini? Aku yang Mommy bawa, tapi Mommy pergi meninggalkanku karena keluarga baru Mommy.”


“Jhon,” panggil Laura sedih.


“Mommy juga menyalahkanku karena cucu Mommy meninggal dan aku tidak melakukan apa – pun untuknya?” tanya Jhon.


Laura menggeleng.


“Asal Mommy tahu dan Daddy tahu.” Pandangan Jhon beralih pada Mike. “Aku terpuruk saat Grace meninggalkanku. Dia lebih memilih Jhonny. Mereka berselingkuh dibelakngku. Dan saat terpuruk itu, ada bidadari yang menolongku. Namun, saat aku dan dia bahagia, Grace dan Michelle datang, membuatku menyia – nyiakan wanitaku. Kini, aku terpuruk lagi karena dia akan menikah dengan orang lain.”


“Bukan hanya kalian yang memiliki masalah. Aku pun begitu. Jadi, stop menyalahkanku! Lebih baik aku pergi. menyesal aku datang ke sini.”


Jhon benar – benar pergi.


“Jhon,” panggil Laura.


Laura menoleh ke arah Mike untuk meminta pria paruh baya itu menahan putranya. Namun, sejak kecil Mike memang lebih sayang kepada Jhonny dibanding Jhon.


Jhonny hanya bisa terdiam. Biasanya, Jhon tidak pernah meluapkan kemarahannya dengan kata – kata. Jika marah, Jhon lebih memilih diam. Namun hari ini semua yang ada dihati, Jhon ungkapkan semua.


Jhon pun melenggang pergi. Baru beberapa jam ia tiba di kota itu, kini ia harus kembali.


Dret … Dret … Dret …

__ADS_1


Jhon melihat ponselnya yang kembali dengan nama sang ibu.


“Halo.”


“Jhon, kembali lah. Pulang lah sebentar ke rumah Daddy. kita kumpul di sana. Ini adalah momen berharga untuk kita saling berkumpul dan mengerti satu sama lain.”


“Percuma, Mom. Jhon sudah tidak ingin.”


“Come on, Dude. Mommy minta maaf. Dan, Mommy ingin memperbaikinya sekarang.”


Jhon menarik nafasnya kasar. Jika hubungannya dengan Tina tidak bisa diperbaiki, mungkin hubungan dengan keluarganya bisa dan Jhon akan memulai untuk itu.


Di tempat berbeda, suasana begitu riuh. Suasana yang berbanding terbalik dengan suasana yang ada di tempat Jhon berada saat ini.


Jika di rumah keluarga Utsman sedang terjadi perayaan, di kediaman Mike justru sedang berduka.


“Ya, ampun adiknya Mbak cantik banget,” ujar Arafah dengan memandang Tina yang sudah didandani.


Hasna pun berdiri di samping putrinya yang nomor dua. “Mirip Ummi waktu muda.”


Arafah tertawa. “Waktu aku didandani pengantin, Ummi juga mengatakan yang sama.”


Tina tersenyum. “Pokoknya kalau cantik, anaknya Ummi.”


Sontak, Arafah kembali tertawa, begitu pun dengan Hasna. Namun, Hasna tetap tidak melihat aura kebehagiaan di wajah putrinya yang hendak melaksanakan lamran. Hanya ada senyum tipis di sana, tidak ada senyum yang lebar seperti yang pernah Hasna lihat saat Tina bersama dengan Jhon.


“Fah, coba kau lihat diluar! Al udah datang belum?” pinta Ummi pada Arafah.


Hasna duduk di samping sang putri dan menatap lekat ke arah wajah cantik itu. “Kamu selalu pakai itu, apa tidak apa – apa?”


Tina menggeleng. “Tidak apa – apa, Ummi. Lagian nanti dandanannya tidak terlihat kalau Bira pakai kacamata.”


“Dulu kamu tidak pakai kacamata.”


“Kerja di kantor dan berkutat dengan komputer, membuat mata Bira minus, Ummi.”


Hasna mengangguk dan menatap lagi wajah cantik sang putri. “Bira.”


“Hm.”


“Apa kamu bahagia?” tanya Hasna sendu.


Tina tersenyum dan meraih kedua tangan sang ibu. “Jika Ummi bahagia, maka Bira bahagia.”


Hasna langsung memeluk tubuh putrinya. Ia menangis di pelukan itu. “Jika Abimu masih hidup, dia tidak akan suka melihatmu berkorban seperti ini.”


Tina menerima pelukan erat sang ibu, hingga kemudian terlerai. “Bira bosan mendengar mereka mengungkit – ungkit jasanya, Mi. jadi biarlah seperti ini. Kalau pun memang Bira dan Mas Al tidak berjodoh, biarkan keluarganya yang memutuskan duluan hubungan ini.”

__ADS_1


Hasna setuju. kepalanya pun mengangguk. Ia bangga karena Tina sudah semakin dewasa.


Sesua rumor yang beredar, acara lamaran itu berlangsung besar – besaran dan dihadiri oleh para pembesar pondok pensantren yang ada di kota ini dan kota tetangga.


“Ya, Bira beruntung mendapatkan Al. Coba kalau tidak sama Al, tidak mungkin acara lamaran saja hingga besar seperti ini,”ujar Fatimah yang masih saja tetap jumawa dihadapan orang. Dan suaminya pun mengangguk, seolah mengiyakan perkataan sang istri, padahal semestinya dia menegur sikap istrinya yang kurang berkenan dan tidak sesuai dengan gelarnya sebagai seorang Kiyai yang seharusnya renda hati dan tidak membanggakan diri.


Al menoleh ke arah Tina. Ia tersenyum bahagia, melihat wanita pujaannya menerima cincin sebagai tanda pengikat sebuah hubungan yang baru akan dimulai.


“Al, tahan pandanganmu,” ujar Abdullah tersenyum, meledek Al yang tak henti menatap ke arah Tina.


“Maaf, Yai. Keceplosan.”


Para orang tua itu pun tertawa.


“Dua minggu lagi, Al. tahan!” ujar salah satu orang tua di sana.


Abid pun hanya bisa tersenyum tipis, melihat sang adik yang juga hanya brekspresi sama.


Waktu terus berlalu, acara lamaran itu berlangsung sesuai keinginan Fatimah dan Mustofa. Kemasyhuran dan kejayaan itu tampak di tengah warga yang ekonominya biasa.


“Wah, lamarannya sja seperti ini, apalagi pernikahannya nanti yo.”


“Bakal lebih meriah.”


“Keluarga Kiyai Mustofa memang kaya.”


Penuturan itu yang memang ingin didengar oleh Fatimah.


“Nduk, capek ya?” Hasna merangkul bahu putrinya yang duduk di depan meja rias.


Tina membuka kerudung dan aksesoris yang ia pakai sebelumnya di acara itu. Acara lamaran selesai. Hari semakin malam. rombongan keluarga Al pun sudah kembali pulang. Di rumah ini, hanya menyisakan rasa lelah, membuat semua penghuninya sudah berada di dalam kamar masing – masing termasuk Arafah.


“Iya, Mi. capek banget.”


“Yo wis. Istirahat, Nduk. Jangan lupa sholat dulu!” ujar Hasna pada putrinya.


“Bira lagi ga sholat, Mi.”


“Oh, iya. Ummi lupa.” Hasna menepuk keningnya, tersenyum dan pamit keluar dari kamar itu.


Tina menghela nafasnya kasar. Ia mengambil ke sebuah perhiasan yang ada di kotak dan tersimpan rapi. Perhiasan itu adalah kalung pemberian Jhon saat perayaan terakhir anniversary mereka.


Tina mengambil kalung itu dan memakainya. “Jhon, aku merindukanmu.”


Rasa kantuk melanda, Tina menguap beberapa kali. Ia pun memlih merebahkan diri tanpa melepas kalung itu dan justru melepaskan cincin yang semula disematkan Al.


Tanpa membersihkan make up dan membuka softlens, Tina tertidur lelap. Hingga di pagi hari ia pun menyadari sesuatu dan panik.

__ADS_1


“Ummi … Soflens ku hilang.”


Tina menyadari bahwa soflens yang belum ia buka, kini tak ada lagi di matanya.


__ADS_2