Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Di sana bahagia, di sini menderita


__ADS_3

Tiga hari berlalu. Selama tiga hari itu, Jhon mengajak Tina dan keluarganya jalan – jalan keliling ibukota. Dan hari ini, ia mengajak Hasna dan keluarga Abid menikmati wahana permainan dari yang biasa hingga memacu adrenalin di area terbuka.


“Aunty … Uncle … Ayo!” teriak Ameena mengajak Jhon dan Tina untuk segera mendekati wahana itu.


Ibu dua anak itu juga tampak antusias dan sudah bersama kedua anaknya di sana, sementara Abid menemani sang ibu yang sudah tidak bisa mengikuti permainan yang didominasi oleh para kaula muda.


“Ayo, Sayang!” Jhon mengajak istrinya.


Tina menggeleng. “Aku takut ketinggian, Mas. Aku nemenin Ummi dan Mas Abid aja di sana.”


“Yah, ga seru dong ga ada kamu,” ucap Jhon lemas.


Tina tertawa. “Ya ampun, Cuma ga aku temenin beberapa menit aja, kok.”


“Ck. Ya udah aku ga jadi naek.” Jhon tidak melepaskan pegangan tangannya pada sang istri.


“Loh, kok gitu? Kamu kan suka. Udah sana!”


Jhon menggeleng, membuat Tina tak tega. Selama ini, pria itu selalu mengikuti apa yang ia mau. Walau hal sederhana, Tina pun berusaha mengikuti apa yang Jhon mau.


“Ya udah, ayo!” ajak Tina pada suaminya.


“Ke mana?”


“Naik itu.” Tina menunjuk pada perahu besar yang di dalamnya sudah di duduki oleh Ameena, Ayash, dan Zahra, serta beberapa orang lainnya.


“Ayo!” Tina menarik tangan suaminya menuju arena yang sudah siap dimainkan.


Namun, Jhon menahan tangan yang tadi ditarik Tina. “Jangan! Kalau kamu takut, tidak usah.”


Tina tersenyum. “Tadi itu, aku bohong. Aku suka kok naik ini. Masa cewek bar – bar kaya aku, takut naik ginian.”


Jhon pun tersenyum lebar dan mencubit pelan ujung hidung lancip itu.


“Nakal. Bisa – bisanya ngerjain suamimu.”


Tina pun tertawa.


“Aunty, duduk sini!” Kehadiran Tina dan Jhon, langsung di sambut Ameena dan Ayash yang sudah lebih dulu duduk di sana.


“Aaaa …” teriak Tina saat permainan berlangsung.


“Aaaa …” Zahra dan Ameena pun tampak sama. Mereka berteriak sambil tertawa.


Jhon dan Tina juga demikian. Jhon memeluk tubuh istrinya dari samping agar Tina tak ketakutan. Mereka sangat menikmati permainan ini, sementara dari kejauhan mata Hasna terus tertuju pada keluarganya yang ada di sana dengan senyum merekah.


“Bid, andai Abimu masih hidup. Kebahagiaan kita akan semakin lengkap,” ujar Hasna dengan mata yang tertuju pada perahu besar yang sedang bergoyang.


Abid tak mampu membalas perkataan itu. Ia hanya bisa merangkul bahu ibunya untuk memberi sedikit ketenangan.


“Hidup itu datang dan pergi. Di saat Allah mengambil Abi, Allah juga memberikan seseorang sebagai pelengkap yang baru. Walau tidak sama, tetap membawa kebahagiaan, Ummi.”

__ADS_1


Abid memperuntukkan kalimat itu pada Jhon. Saat Ustman pergi, Jhon datang sebagai pelengkap kebahagian putrinya dan anggota keluarga yang lain.


Hasna pun menatap sang putra. Yang dikatakan Abid benar, bahkan Hasna tahu tentang dana yang diminta Mustofa dan Jhon yang menyelesaikannya. Walau hal itu tidak keluar dari mulut Abid, tapi Hasna memaksa Zahra untuk bercerita tentang itu.


Hasna mengangguk. “Ya, kamu benar, Bid. Ummi sangat bersyukur.”


Lalu, Hasna menoleh lagi ke arah putranya. “Apa kamu akan menjenguk Pakde Yai?”


Abid mengangguk. “Ya, sepulang dari sini. Jhon mengenal orang yang berseteru dengan Pakde Yai. Dan kami akan menemuinya.”


“Ummi bangga padamu.” Hasna menepuk dada putranya, kemudian menoleh ke arah perahu besar yang sudah terhenti. Hasna melihat Jhon menuntun Tina turun dari tempat itu. “Ummi juga bangga memiliki menantu seperti Jhon.”


“Ya. Ternyata ilmu yang tak didapat sejak kecil, mampu membuat orang lebih baik. Bahkan ebih baik dari orang yang mendapatkan ilmu itu sejak lahir.”


Hasna mengangguk. Ia pun setuju dengan kalimat itu.


Di tengah kesedihan yang melanda keluarga Mustofa, justru Tina dan keluarganya sedang menikmati liburan dengan penuh canda tawa.


Al mendatangi rumah Utsman yang tampak kosong, hanya ada Munah yang sedang hamil besar dan tinggal menghitung hari untuk melahirkan.


“Mas Abid ke mana, Mbak? Kok sepi?” tanya Al sesampainya di pekarangan rumah itu dan hanya mendapati Munah yang sedang menyapu halaman.


“Eh, Mas Al. Lama ndak ketemu,” sapa Munah dengan tetap ramah.


“Ah, iya.” Al tampak malu dan menunduk. Lalu, ia mengedarkan pandangannya lagi ke rumah itu. seseorang ikut menyapanya.


“Eh, ada Mas Al.” Aji, suami Munah langsung menghampiri pria yang sempat ingin menjadi keluarga di rumah ini.


“Semuanya pergi ke Jakarta, Mas.”


“Ke Jakarta?” tanya Al lagi.


“Iyo. Mas ndak tahu yo. Ning Bira sudah mendapat donor mata di luar negeri, sudah dioperasi dan sudah melihat lagi.” Aji tampak senang menceritakan hal itu pada Al, tanpa maksud apa pun.


“Iya, Mas Al. Ning Bira sudah bisa melihat lagi. Sekarang, di Jakarta, mereka sedang jalan – jalan,” tambah Munah, semakin membuat hati Al tersentil.


Al begitu dangkal, saat memutuskan untuk tidak datang di hari pernikahan itu. Padahal penyakit Tina, bukannya penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Ada berbagai cara untuk membuat mata Tin sembuh dan bisa melihat lagi.


Munah yang sengaja agar Al tahu kebahagian Tina sekarang, merogoh kantong rok panjangnya dan memperlihatkan postingan Zahra di ponsel itu.


“Ini dia fotonya, Mas.”


Al yang penasaran pun mengambil ponsel Munah dan melihat foto yang diposting Zahra. Di sana, Zahra memposting delapan foto, termasuk candid yang diambil saat Jhon dan Tina berduaan memakan es krim. Zahra juga memoto mereka saat tertawa dengan tangan Jhon mengusap ke bibir Tina yang terkena es krim.


Al semakin miris. Di sana bahagia, sedang ia menderita. Al meratapi hidupnya kini yang justru semakin terpuruk, terlebih dengan kasus yang menimpa sang ayah. Kedatangan Al ke sini ingin meminta bantuan pada Abid. Dengan menebalkan muka dan menjatuhkan harga diri, Al mencoba mengerahkan segala macam cara agar ayahnya terbebas dari tuntutan itu.


****


Hari semakin larut. Selama tiga hari ini, Tina dan Jhon selalu pergi. Mereka benar – benar menjadi guide untuk keluarganya. Jhon pun sampai cuti dan tidak memegang pekerjaan selama tiga hari itu demi menghormati tamunya yang sudah datang jauh – jauh.


Sebelum menjadi Jhon yang seperti ini, pria bule itu memang selalu memuliakan tamu. Setiap kali teman atau saudaranya bertandang, ia akan meluangkan waktu yang maksimal untuk menyambutnya, termasuk saat Grace dan Michelle datang kala itu, sehingga mengabaikan Tina.

__ADS_1


Tina tersenyum dan menanti kedatangan sang suami yang sedari tadi masih berada di dalam kamar mandi. Tina sudah menggelar dua sajadah untuknya dan untuk Jhon. Di taman bermain tadi, Jhon melewatkan sholat isya berjamaah, karena menemani dua wanita dan dua remaja yang masih ingin bermain. Sementara, Abid dan Hasna sudah ikut berjamaan di mushola terdekat di sana.


Alhasil, Jhon mengajak Tina untuk sholat berjamaah, sebelum mereka tidur.


Waktu menunjukkah pukul sembilan malam. walau masih tidak terlalu malam, tapi keadaan diluar kamar itu tampak sepi. Abid dan keluarganya sudah berada di kamar masing – masing untuk istirahat, karena hari ini benar – benar melelahkan untuk mereka.


Jhon tersenyum melihat Tina yang menyambutnya dengan senyuman manis dengan balutan mukena. Ia mengusap kepala Tina saat melintas.


“Maaf, lama ya.”


Tina menggeleng. “Ngga.”


Jhon tersenyum dan mulai memposisikan diri sebagai imam, sedangkan Tina memposisikan diri sebagai makmum.


“Allahu akbar.”


Jhon mengucapkan takbir sambil mengangkat kedua tangannya dan bersedekap. Suara Jhon begitu merdu saat melantunkan ayat – ayat itu. Tina yang mendengarkan di belakang, tak terasa meneteskan airmata. Airmata bahagia tentunya. Perjalanan dan lika liku hidup, membuatnya tak henti untuk berucap syukur.


“Assalamualaikum warahmatullah.” Jhon menengok ke kanan dan kiri, lalu diikuti dengan Tina.


Kemudian, Jhon membalikkan tubuhnya. Menerima sodoran tangan Tina yang ingin mencium punggung tangannya. Sungguh, jiwanya begitu damai. Sebelumnya, hidup Jhon hanya untuk bekerja dan bekerja. S*x hanya menjadi kebutuhan biologisnya saja. Tapi kini, ia benar – benar menemukan hidup yang hakiki. Hatinya tenang, jiwanya pun damai, apalagi di dampingi oleh wanita yang sangat dicintai.


“Mas, aku udah selesai,” ujar Tina.


Jhon tersenyum dan mengernyitkan dahi. “Benarkah? Kok sebentar?”


“Sudah enam hari. Aku memang tidak lama, kalau datang bulan.”


“Lalu?”


“Ayo sekarang!” ajak Tina.


Senyum, Jhon kembali melebar dan berkata, “Tidak menunggu di kapal pesiar? Aku sudah membookingnya minggu depan.”


Tina menggeleng. “Itu untuk ronde selanjutnya.”


Jhon tersenyum. “Aku juga sudah tidak tahan. Kalau bisa sekarang, kenapa harus menunggu minggu depan?”


Tina mengangguk dan ikut tersenyum.


“Sholat dua rakaat dulu?” tanya Jhon.


Tina mengangguk lagi. “Iya, itu lebih baik.”


“Ayo!” Jhon kembali berdiri dan menjadi imam sholat, kali ini niat sholat yang lain.


“Mas,” panggil Tina saat ikut berdiri tepat di belakang suaminya.


Jhon pun menoleh ke belakang. “Ya.”


“Nanti, jangan salah baca doa ya! bukan doa mau makan loh.”

__ADS_1


Jhon pun tersenyum, sang istri kembali mengingatkan kejadian konyol yang pertama ia lakukan saat bertemu Abi.


__ADS_2