Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Pria beruntung


__ADS_3

"Mister Louise. Akhirnya, anda datang juga.”


Pria paruh baya yang menyebalkan dan mengantarkan Tina pada dosa berulang antara dirinya dan Jhon waktu itu pun membentangkan kedua tangannya. Pria itu memeluk tubuh Jhon.


“Apa kabar, Mister Louise.”


“Alhamdulillah, baik,” jawab Jhon dengan menerima pelukan itu.


Sementara Tina yang berdiri di samping Jhon pun hanya tersenyum. Begitu pun dengan wanita yang berdiri di samping pria yang memeluk Jhon tadi. Wanita yang usianya sudah tidak muda dan tetap terlihat cantik itu pun tersenyum.


Ya, pria itu adalah Hendra dan di sampingnya adalah istri Hendra. Jhon menghadiri anniversary pernikahan Hendra dan istri yang ke dua puluh lima tahun.


“Sayang, ini Jhon. Rekan kerjaku.”


Hendra memperkenalkan Jhon pada istrinya. Dan, mereka berjabat tangan.


“Nah, wanita cantik di samping Jhon itu, sekretarisnya,” ucap Hendra lagi.


“Tidak, Tina sudah tidak lagi menjadi sekretarisku,” sanggah Jhon.


“Kalau begitu kalian pacaran?” tanya Hendra senang.


“Lebih dari itu,” jawab Jhon.


“Kalian suami istri?” tanya istri Hendra.


“Yap, benar sekali, Nyonya.”


“Wah. Congratulation!” seru Hendra. Ia terkejut, tapi senang mendengar berita ini.


“Berarti, kau berhutang padaku, Mister Louise.” Hendra tertawa.


“Ya, aku berterima kasih padamu. Jika tidak karena itu, mungkin kami tidak akan bersatu.”


Tina membulatkan mata. Meski kejadian itu memang awal dari hubungan mereka, tapi tetap saja tindakan Hendra tidak dibenarkan.


“Ya, ya. Saya faham. Tindakan saya memang tidak dibenarkan. Tapi kalian sudah menikah kan? Dan itu bagus.”


Istri Hendra melirik suaminya seolah ingin bertanya apa yang terjadi? Hendra pun berbisik di telinga istrinya.


“Oh, ya ampun. Suamiku memang suka iseng,” ucap wanita paruh baya itu.


“Tidak apa, nyonya. Lagi pula, semua sudah berlalu,” sahut Jhon.


Istri Hendra dan Hendranya pun mengangguk setuju.


“Kalau begitu, selamat menikmati acara kami,” ucap Hendra lagi.


Jhon mengangguk, sementara Tina kembali mengucapkan selamat pada istri Hendra dan mereka berpelukan.

__ADS_1


“Istri anda sangat cantik, Miser Louise,” ucap Istri Hendra.


“Ya, itu sebabnya saya tidak bisa melupakannya,” jawab Jhon dengan melirik ke arah Tina, membuat wanita itu malu.


Jhon dan Tina menghabiskan waktu malam ini di atas kapal pesiar. Jhon lebih banyak bersama Hendra dan rekan – rekan bisnis yang ia kenal. Tina pun tidak merasa sendiri, karena istri Hendra juga kerap menemani. Mereka berbincang cukup akrab, walau baru kali ini bertemu.


“Jadi, apa permintaanmu tetap sama, Jhon?” tanya Hendra saat mereka hanya duduk berdua.


“Ya, Tuan. Saya mohon kepada anda untuk membebaskan Kiyai Mustofa.”


“Aku sadar, aku juga bukan manusia baik. Dan, apa yang diucapkan Kiyai itu tidak sepenuhnya bohong. Tapi itu aibku. Tidak perlu dia mengumbarnya depan publik, karena itu merusak reputasiku,” ucap Hendra.


“Ya, saya mengerti. Tapi dia sudah menjalani hukuman beberapa minggu ini. sebelum berkasnya jatuh ke pengadilan, saya mohon anda bisa berbesar hati untuk memaafkannya.”


“Tergantung. Kita lihat saat restorative justice nanti. Apa dia akan meminta maaf? Jika dia dan keluarganya melakukan itu di depan umum, maka itu akan menjadi pertimbangannya untuk bebas.”


Jhon mengerti. Ia pun mengangguk.


“Kau memang pantas mendapatkan wanita secantik dia, Jhon.” Hendra menepuk bahu Jhon sambil mengarahkan matanya pada Tina yang sedang berbincang dengan istrinya.


“Ya, anda juga beruntung mendapatkan wanita secantik Nyonya Angela.”


Hendra mengangguk. “Ya, saya sangat beruntung. Walau saya nakal, dia adalah wanita tersabar dan selalu menerimaku apa adanya.”


Jhon menoleh ke wajah Hendra. Tiba – tiba ia melihat wajah itu berubah sendu. Mungkin banyak yang sudah mereka lalui selama dua puluh lima tahun pernikahannya ini dan Jhon mengerti karena setiap rumah tangga pasti akan ada ujiannya masing – masing.


Jhon mengangguk. “Ya, sama sepertiku. Di sisa usiaku, aku juga hanya ingin membuat Tina bahagia.”


Hendra tertawa. Ia mengangkat gelasnya dan mengajak Jhon untuk bersulang.


“Untuk pria yang beruntung,” ujarnya.


Jhon tersenyum dan mengikuti Hendra. “Ya, untuk kita, pria yang benar – benar beruntung.”


Kedua pria itu pun meminum minuman yang tak beralkohol itu, lalu tertawa.


Di seberang sana, Angela menatap suaminya.


“Lihat, suami – suami kita, Tina. Mereka pasti membicarakan kita.”


Arah mata Tina pun menoleh ke dua pria yang bersulang itu.


“Kamu tahu, terkadang aku lelah mendampingi Hendra. Tapi dia adalah cinta pertamaku. Sebagaimana pun dia pernah menyakitiku, aku tidak pernah bisa membencinya.”


Tiba – tiba Angela mencurahkan isi hatinya pada orang yang baru dikenal. Entah, mengapa Angela langsung nyaman berbincang dengan Tina.


“Ya, saya pun merasakan yang sama, Nyonya.”


Angela tertawa. “Apa kita wanita bodoh?”

__ADS_1


“Tidak. Saya rasa tidak. Hanya saja, cinta memang tidak menggunakan logika.”


Angela tersenyum dan mengangguk. “Ya, kamu benar.”


****


Jhon dan Tina mengantar keluarga mereka langsung pulang ke kampung. Tina pun sudah rindu kampung halamannya. Bukan hanya Tina, Jhon pun rindu tempat yang membuat ia mengerti banyak hal.


“Mas, kapan kita ke rumah Al?” tanya Jhon pada Abid.


“Nanti malam saja. sekarang istirahat saja dulu, Jhon.”


Jhon mengangguk. Untuk pertama kali ia memasuki kamar Tina. Bibirnya tersenyum lebar saat menemukan sebuah bingkai foto dirinya.


“Wah, ada fotoku di sini.”


Tina langsung menoleh dan segera mengambil foto itu. Lalu, memasukkannya ke dalam laci.


“Hei, kenapa disembunyikan?” Jhon berusaha untuk menarik laci itu, tapi Tina menahannya.


“Jangan, Mas!”


“Kenapa?” Jhon tersenyum.


“Malu.”


“Coba, aku mau lihat.”


“Jangan!” Tina tetap menahan laci itu.


“Aku mau lihat, Sayang. jangan – jangan kamu mencetak fotoku yang lagi jelek.”


Tina tertawa. “Tidak. kamu tidak pernah jelek.”


“Oh, ya? kalau begitu lihat!”


Tina mengalah dan Jhon pun membuka laci itu, lalu mengambil fotonya.


“Ya, ampun. Fotoku yang bertel*nj*ng dada?”


Jhon menganga karena foto itu ternyata Tina ambil tanpa sepengetahuan Jhon saat pria itu berada di kolam renang dan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya saja.


Blush


Tina nyengir. Pipinya pun memerah. Sungguh, ia malu.


“Dasar wanitaku nakal!”


Jhon langsung mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya ke ranjang. Walau, mereka lelah dan baru tiba setelah perjalanan yang panjang. Namun tak menyurutkan mereka untuk tetap beraktiftas ranjang. Bagi Jhon, amat disayangkan melewati sehari saja tidak bercinta dengan Tina.

__ADS_1


__ADS_2