
"Mas, kamu udah beli tiket pulang untuk keluargaku kan?”
Jhon yang berdiri tepat di depan sang istri dan menerima pelayanan Tina saat di pasangkan dasi pun mengangguk. Jhon menikmati pelayanan sang istri sambil memainkan ujung rambut panjang Tina.
“Ummi dan Mas Abid pulangnya lusa ya, Mas. Jangan sampai salah beli tiket!” ucap Tina lagi.
Jhon kembali mengangguk. “Iya, Sayang. Semua sudah disiapkan Bima, bahkan tiket untuk kita.”
“Kita?” tanya Tina bingung.
“Iya, kita. Aku rindu pondok. Kita akan mengantar mereka pulang sampai Magelang.”
Senyum Tina langsung merekah lebar. “Beneran, Mas?”
Jhon mengangguk. “Ya, beneran. Masa bohongan.”
Tina tampak senang. Ia begitu ceria hingga berjingkrakan dan memeluk tubuh suaminya. “Mas, kamu memang selalu tahu apa yang aku mau.”
Jhon menerima dekapan hangat itu. “Ya, karena kamu juga selalu tahu apa yang aku mau.”
Tina melonggarkan pelukan dan menatap mata Jhon. “Tapi semalam, aku ga layanin kamu.”
Tina mamasang wajah sedih. “Maaf ya, Mas. semalam aku ketiduran. Capek banget jadi guidenya Ummi, Mba Hasna, Ayash dan Ameena.”
Jhon mengangguk. Bibirnya mengulas senyum melihat ekspresi wajah Tina yang merasa bersalah karena tak menyambut kedatangannya saat pulang kerja.
Jhon menjepit dagu lancip itu. “Tidak apa, Sayang. aku tahu kamu lelah. Kamu tahu, semalam ada suara aneh di kamar kita.”
Dahi Tina mengernyit. “Suara aneh?”
“Ya, saat aku keluar dari kamar, aku pikir ada suara hantu yang sedang berbisik.”
“Hantu?”
Jhon kembali mengangguk. “Untung aku merekam suara itu. Kamu mau dengar?”
Tina mengangguk antusias. Lalu, Jhon mengambil ponsel yang sudah ia masukkan ke kantong celana kerja yang ia kenakan hari ini. Kemudian, memutar sebuah video.
Ekspresi wajah Tina yang semula antusias, kini malah cemberut dan kesal, pasalnya video itu adalah video dirinya saat tidur menganga dengan suara dengkuran yang cukup keras.
“Maaasss.”
Sontak Jhon tertawa. Ia langsung menjauh dari sang istri yang siap memukulnya.
“Maaass jahat! Tega banget sih. Hapus ga?” Tina kesal dan mengejar suaminya.
Namun, bukannya menghapus video itu, Jhon malah memasukkan ponselnya kembali ke kantong celana sambil tertawa.
“Mas, hapus!”
“Ngga usah, Sayang. Video ini untuk menghilangkan kerinduanku padamu saat di kantor.”
“Maaass …” Tina teriak lagi. “Itu jelek, ih!”
“Hapus!”
“Hapus!”
Tina memukul bahu kokoh Jhon hingga pria itu mencoba menghalau dengan sedikit mengangkat bahunya.
__ADS_1
Jhon tertawa geli.
Tina kesal dan memilih duduk di tepi ranjang dengan wajah cemberut.
“Hei, kenapa?”
Tina mendongak dan menatap suaminya. “Sebel. Seneng banget sih liat kekurangan orang.”
Jhon langsung berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya pada Tina yang duduk di tepi ranjang. “Kekurangan siapa?”
“Aku lah. Itu kan aib aku, Mas. malah divideoin sih. Malu – malu in tau.”
Jhon mengungkung istrinya dengan menyangga kedua tangannya pada ranjang yang Tina duduki.
“Hei, siapa yang bilang kalau itu sebuah kekurangan? Bagiku, kamu tidak ada kurangnya. Kamu anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku. Kamu memiliki banyak kelebihan yang tidak pernah aku miliki termasuk ini. Kamu selalu bisa membuat orang – orang yang ada di sekelilingmu bahagia, ceria. Sedangkan aku, tidak. Aku pria kaku yang tidak bisa bercanda apalagi tertawa. ingat bagaimana sikapku dulu saat pertama kali menjadi bosmu? Mungkin aku lebih menyebalkan dibanding Alex.”
Tina menganggukkan kepala dan mengingat masa itu. “Ya, kamu galak dan ga pernah senyum.”
“Dan …”
“Irit bicara,” sambung Jhon. “itu yang selalu kamu keluhkan.”
Tina pun mulai tersenyum.
“Termasuk saat kita pacaran. Kamu masih irit bicara. Ngomong, cuma karena mau bercinta.”
Kini, Jhon yang tertawa
“Eh salah. Ngga ngomong juga, cuma tangannya yang muali ga bisa diam.”
Jhon masih tertawa. Tangannya terangkat untuk mennyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Tina ke belakang telinganya.
“Itu sebabnya aku tidak bisa melupakanmu,” ucapnya.
“Mas.”
“Hm.”
“Maafkan aku, karena pernah egois dan memilih orang lain,” ujar Tina yang pernah egois dan tidak memperjuangkan Jhon yang sudah sebegitu besar memperjuangkannya waktu itu.
Jhon menggeleng. “Tidak. Kamu tidak salah. Posisimu waktu itu memang serba salah. Lagipula, jika tidak begitu, aku tidak menyadari bahwa cinta aku ke kamu ternyata sebesar ini. Ternyata, aku sangat membutuhkanmu. Cuma kamu yang bisa mengimbangiku dalam segala hal.”
“Termasuk bercinta?” tanya Tina menggoda.
“Ah, Sayang. Jangan goda aku sekarang, karena aku harus berangkat kerja.”
Tina mengelus dada suaminya. “Baiklah, kalau begitu cepat pulang. Aku menunggumu.”
Jhon menggeleng. “Malam ini, aku tidak pulang.”
“Kenapa?” Tina langsung memasang wajah sedih.
“Karena ada klien besar mengundang makan malam di kapal pesiar.”
Bibir Tina langsung mengerucut dan menunduk.
“Aku tidak akan sendiri,” ujar Jhon.
“Bersama sekretarismu?” tanya Tina.
__ADS_1
Jhon tersenyum, pasalnya saat ini ia telah mengganti sekretaris yang baru yang tidak berjenis kelamin perempuan, demi kemaslahatan keluarga dan meminimalisir kecemburuan Tina.
“Iya, dong. Aku kan kalau pergi selalu minta ditemani wanita cantik.”
Bibir Tina semakin mengerucut. “Ya, sudah. Sana , pergi!”
Jhon mengembangkan senyum. Kemudian, ia bangkit dan merapikan kembali pakaiannya yang sedikit kusut karena berjongkok.
“Baiklah, aku berangkat.”
Tina tidak menjawab. Ia memilih diam dan masih duduk di tempatnya.
“Sayang, tidak mengantarku ke depan?” Jhon menatap istrinya.
Tina menoleh dan tetap bangkit, walau malas. hatinya masih cemburu karena sang suami akan pergi dengan wanita lain, walau dalam rangka pekerjaan.
Tina berjalan di belakang suaminya hingga sampai ke pintu. Kebetulan, Abid sudah pergi lebih dulu untuk menyelesaikan urusan, sementara Ummi, Zahra, Ayash dan Ameena sedang berjalan – jalan di taman bawah dengan view buatan yang sangat bagus untuk memuat status di media sosial.
Jhon menatap Tina. “Suami mau kerja kok wajahnya cemberut gitu?”
“Berarti nanti malam kamu ga pulang? Kamu bermalam dengan sekretaris kamu itu?” Tina balik bertanya.
“Ya, aku akan bermalam dengan mantan sekretaris yang sekarang menjadi istriku.”
Seketika raut wajah Tina berubah.
“Maksudmu?”
“Nant sore, Bima akan mengirimkan gaun untukmu. Kita akan datang menghadiri anniversari pernikahan gold Pak Hendra.”
Mendengar nama Hendra, membuat Tina ingat pada sosok pria yang sudah semena – mena memberi obat perangsang di minumannya waktu itu.
“Dia merayakan di kapal pesiar, lagi?”
Jhon mengangguk. “Kita akan mengulang kejadian itu, lagi.”
Bugh
Tina tersenyum malu dan memukul bahu suaminya. “Dasar mesum!”
Jhon pun tertawa. kemudian berkata lagi, “Selain menghadiri undanganya, aku juga ingin bernego sesutua padanya.”
“Apa?”
“Kamu tahu kasus yang menimpa Kiyai Mustofa?”
Tina mengangguk.
“Orang yang dihina dalam cuitan Ayah Al itu adalah Pak Hendra.”
“Oh ya?” Tina terkejut.
“Ya. Dan aku ingin mencoba memintanya untuk mencabut laporan itu.”
Tina langsung terharu. “Mas, kamu baik sekali.”
“Itu karena kamu baik,” jawab Jhon. “Kata orang, dibalik kesuksesan dan sikap baik seorang suami, ada istri yang mendampingi dan mengingatkannya setiap saat. Karena aku adalah cerminan dirimu.”
“Heum.” Tina kembali menghambur peluk. Ia memeluk suaminya erat dan berakhir dengan kecupan sekilas.
__ADS_1
Namun, bukan Jhon namanya jika hanya menempelkan bibirnya saja pada Tina. Ia pun melahap bibir Tina dalam keadaan pintu apartemen yang terbuka.
Dari jarak yang hanya beberapa meter, Zahra dan Hasna terpaksa menutup mata kedua anak kecil yang bersama mereka. Untuk kedua kalinya, dua mata anak yang masih berusia dibawah enam belas tahun itu ternodai.