Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Setelah pergi, baru berasa berarti


__ADS_3

"Sekarang kita lanjutkan bahas ke pertanyaan selanjutnya. Bagian ini untuk menjawab pertanyaan sepuluh sampai dengan lima belas. This section for number ten to fifteen.”


Pagi ini, Tina mengisi kelas untuk santri wanita dengan bidang study bahasa Inggris. Waktu Tina membantu pengajar yang seharusnya bertugas dan sedang cuti melahirkan ini tidak akan lama lagi. Selain memang jatah cuti pengajar itu hampir usai, Tina pun akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Dan lusa, acara lamaran akan dilaksanakan besar – besaran. Menurut Alif, Al akan datang dengan membawa banyak rombongan.


Dua puluh lima santri wanita yang biasa disebut santriwati itu menganguk, menuruti ucapan Tina. Mereka membuka lembaran kertas yang menjadi soal ulangan harian yang sebelumnya mereka kerjakan.


“Running is the most basic of sport that involves the lower limb and movement in a reasonably straight line. Because of the high knee …”


Tina berdiri di depan dua puluh lima santriwati itu sembari membacakan teks bacaan soal bahasa inggris untuk kelas sebelas.


Dret … Dret … Dret …


Tepat di samping kelas Tina, Jhon menerima telepon.


“Iya, Lex. Aku berangkat ke Jakarta hari ini.”


Jhon menerima telepon dari Alex, pemilik K-Neth korporate yang dibangun bersama dengan Jhon.


“Bener ya, Jhon. Soalnya aku ga bisa berangkat ke Jakarta lagi. Baru kemarin aku tinggalin Bilqis dan twins.”


“Oke, siap,” jawab Jhon.


“Di Jakarta lagi banyak trouble, Jhon.”


“Oke, oke. Aku ngerti. Terima kasih selama ini banyak kompensasi untukku.”


Terdengar suara nafas Alex yang terdengar lega. “Sabar, Jhon. Jodoh tidak akan lari ke mana.”

__ADS_1


Jhon tertawa. Kepalanya mengangguk. Ia pun berdoa seperti itu sepanjang waktu. Namun, ia pasrahkan semuanya pada yang kuasa.


Alex adalah orang pertama yang Jhon ceritakan semua kehidupannya di sini, bahkan Alex melihat dengan mata kepalanya langsung bagaimana Jhon bertransfomasi dan menemukan jati diri di sini. Kebetulan, dua minggu setelah meninggalnya Utsman, Alex dan Bilqis sengaja berkunjung ke tempat ini dan menemui Tina untuk takziah. Hanya saja saat itu, Sazkia dan Mira tidak dapat ikut karena ada urusan lain yang mendadak.


“Oke, Lex. Aku pamit dulu sama Abid.”


“Kakaknya Tina?”


“Yup,” jawab Jhon.


“Aku kira kisah percintaanku yang paling rumit diantara kita,” ujar Alex mencontohkan kisah cintanya dengan keempat sahabatnya, Damian, Xavier, Jhon, dan Jason. “Tapi ternyata, kisah cintamu lebih pelik, Jhon.”


Jhon tersenyum getir. “Mungkin ini balasan dari dosa yang aku lakukan dahulu, Lex. Ini balasan karena sudah merusak anak Kiyai.”


Alex tertawa. “Tapi bener, Jhon. Sampai sekarang aku dan Bilqis tidak pernah menyangka kalau Tina adalah anak dari sahabat baik Ustadz Abdullah.”


“Siapa yang menyangka? Aku pun tidak.”


Jhon kembali melanjutkan langkahnya, walau saat menerima telepon tadi ia pun tetap melanjutkan langkah kakinya dengan pelan.


Jhon menengok ke kelas – kelas yang terisi santri beserta pengajarnya di dalam sana. kemudian, ia menangkap sosok yang sudah dua hari ini tak ia temui. Bahkan, Jhon tak lagi menjadi stalker Tina dengan diam – diam menguntitnya dan melihat aktifitas yang wanita itu kerjakan secara sembunyi.


Kaki Jhon berhenti sesaat. Ia memandang ke arah wanita itu dari luar jendela.


“Ah, aku pasti akan merindukanmu, Tina,” gumam Jhon dalam hati sembari tersenyum ke arah itu.


Sayangnya, di sana Tina begitu fokus pada dua puluh lima santriwati yang ada di depannya. Tina tak sekali pun menoleh ke arah luar jendela.

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian, Jhon keluar dari sebuah ruangan yang merupakan ruangan Utsman dulu dan kini diiisi oleh Abid. Selepas kepergian sang ayah. Abid mengundurkan diri dari tempatnya bekerja di Kairo. Ia pun tidak kembali ke negara itu dan memilih melanjutkan pondok pesantren ini.


“Terima kasih, Jhon. Terima kasih atas bantuanmu.”


“Sama – sama,” jawab Jhon. “Ini adalah tanggung jawabku untuk Abi.”


Abid terenyuh. Ia menaik nafasnya kasar. “Kamu pulang lebih cepat. Apa ini karena adikku?”


Jhon tersenyum. “Tidak. Tidak sama sekali. Sebelumnya malah aku berniat untuk hadir di acara lamaran Tina lusa. Tapi ternyata kantor di Jakarta banyak trouble. Aku ditelepon bos besar untuk menghandle. Jadi, terpaksa aku harus kembali cepat.”


Abid mengerti. Kepalanya mengangguk – angguk. “Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya.”


Abid mengulurkan tangan pada Jhon dan Jhon pun menerima uluran tangan itu.


“Aku juga berterima kasih untuk semuanya. Selama lebih dari seratus hari di sini, aku menemukan banyak hal. Banyak ilmu yang aku pelajari di sini.”


“Alhamdulillah.”


Abid mengantar Jhon hingga berjalan jauh dari ruangannya. Dan dari kejauhan langkah Tina terhenti. Ia melihat Jhon berpelukan dengan sang kakak. Jhon terlihat akan pergi. Ia juga menyalami banyak pegawai pondok pesantren yang sebelumnya bersinggungan dan membantu pengerjaan proyek tower, mengingat dalam hitungan minggu, projek itu akan selesai.


Keesokan harinya, Tina bertugas mengantarkan makanan ke area proyek. Ia mengerlingkan pandangan. Tidak ada sosok pria tinggi dan bertubuh tegap yang biasanya menghiasai area itu. sosok pria yang berkulit putih dan berambut ikal berwarna


pirang. Ternyata baru satu hari kepergian Jhon, Tina sudah merindukan pria itu.


Tina pun menunduk. Ia mulai menata makanan di meja untuk prasmanan makan siang seperti biasa. Tina mengingat kembali kejadian beberapa minggu lalu saat ia berada di posisi ini. Jhon mendekati dan membantunya menuangkan makanan.


Tina termenung sejenak dan mengingat kejadian itu.

__ADS_1


“Ini kan yang kamu mau, Tina? Jangan sesali keputusan yang sudah kamu ambil sendiri!” ungkap sesuatu yang keluar dari diri Tina sendiri.


Lalu, ia menggelengkan kepala. Sungguh, kehilangan itu memang hal yang paling menyakitkan, sama seperti saat Tina kehilangan Utsman. Tina baru menyadari bahwa Jhon begitu berarti. Jhon adalah pria ketiga yang ia cintai setelah Utsman dan Abid.


__ADS_2