Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Tak tahan


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan, Jhon dan Tina berstatus suami istri. Laura yang sempat tinggal beberapa minggu di sana pun sudah kembali ke Penang, setelah sebelumnya suami dan anak – anak Laura datang menjemput sekaligus untuk memberi ucapan selamat pada pasangan pengantin baru itu.


Jhon dan Tina tinggal di apartemen milik Jhon. Rencananya, weekend ini Jhon ingin mengajak sang istri ke apartemen milik Tina untuk bernostalgia. Apartemen yang penuh kenangan dan kebersamaan yang sengaja Jhon berikan untuk Tina sebagai kado anniversary mereka yang kedua.


Ceklek


Jhon membuka pintu apartemen. Baru beberapa langkah memasuki apartemen itu, ia melihat Tina tertidur di sofa ruang tamu. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia baru saja pulang dari kantor.


Jhon mendekati sofa. Ia tersenyum menatap wajah cantik istrinya yang sedang terlelap. Jhon yakin sedari tadi sang istri menunggunya pulang hingga tertidur di sini.


“Kamu pasti menungguku hingga tertidur,” ujar Jhon pada Tina yang masih terlelap.


Pria itu kembali tersenyum. “Aku merindukan moment ini.”


Kemudian Jhon mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke kamar. Sesampainya di kamar, ia meletakkan tubuh sang istri perlahan dan dengan penuh kehati – hatian. Jhon tidak ingin istrinya terbangun.


Benar saja, Tina tetap tidak terbangun. Wanita itu justu menggeliat dan memeluk guling yang ada disampingnya, hingga dres yang Tina kenakan tersingkap dan menampilkan paha mulus hingga ke pangkal bagian atas.


Jhon pun meneguk ludahnya kasar, apalagi segitiga pengaman yang menutupi area sensitif istrinya itu semakin terlihat jelas.


“Sayang, kamu selalu saja membuatku tidak tahan,” gumam Jhon yang memang sejak mengucapkan ijab qobul, belum menyentuh istrinya sama sekali.


Bagaimana bisa menyentuh Tina, jika selama hampir sebulan itu apartemennya penuh dengan keluarga baru Laura yang datang dari penang. Keluarga yang sudah Jhon anggap sebagai keluarganya juga.


Ibrahim yang merupakan ayah sambung Jhon dan berprofesi sebagai dokter, sengaja datang selain untuk memberi ucapan selamat juga untuk memeriksa keadaan Tina. Ibrahim memang bukan dokter mata, tapi sebagai dokter ahli bedah, ia sedikit tahu tentang yang terjadi pada Tina.


Menurut dokter yang me-vacum mata Tina untuk mengambil benda itu, Tina mengalami robek di retinanya usai tindakan dilakukan. Dan itu terjadi pada kedua mata Tina. Satu resiko yang sudah diprediksi dokter ketika tindakan ini dilakukan. Ibrahim pun mendiagnosa yang sama. Ibrahim berjanji akan mencari donor retina mata yang pas untuk Tina.

__ADS_1


Naluri Jhon sebagai laki – laki yang sudah lama hibernasi, mulai beraksi. Tangannya menyentuh betis jenjang yang mulus itu. Semula Jhon hanya ingin meraba tubuh Tina, tapi nyatanya bibirnya tak tahan untuk tidak mencium bagian – bagian tubuh yang ia sentuh itu. Sambil menelusuri kaki Tina, Jhon pun mengecupnya. Bahkan pria bule yang terkenal mesum ini menciumi telapan kaki Tina yang bersih.


“Ssshh … baru cium kakinya aja, ular kobra udah beraksi.” Jhon memegang miliknya sendiri yang sudah terjaga sejak tadi.


Tina kembali menggeliat.


Melihat gerakan sang istri yang sepertinya akan terbangun, Jhon terpaksa pergi. ia bergegas lari menuju kamar mandi. Walau keinginan itu sudah di ubun – ubun, tapi Jhon tetap menghargai Tina. Ia ingin Tina sendiri yang menginginkan dirinya untuk disentuh, karena sejauh ini Tina pun belum mengungkapkan keinginan itu. Jhon bersabar, mengingat segala yang terjadi pada Tina akhir – akhir ini sangat berat. Dan Jhon berusaha untuk membuat wanita itu nyaman tanpa paksaan dalam melakukan segala hal termasuk bercinta.


Brak


Jhon tidak sengaja menutup pintu kamar mandi dengan sedikit kencang hingga menimbulkan suara.


Suara itu pun membuat Tina terjaga. matanya terbuka dan langsung bangkit memanggil nama suaminya.


“Jhon.”


“Jhon,” teriak Tina lebih kencang.


“Iya, Sayang,” jawab Jhon dari dalam kamar mandi.


“Kamu di mana?”


“Di kamar mandi. Maaf, sayang. Aku baru pulang.”


Tina kembali bangkit dan meraba untuk melangkah mendekati suaminya berada.


“Mau aku buatkan minum?” tanya Tina lagi dari luar kamar mandi yang ada di dalam kamar.

__ADS_1


“Tidak usah, Sayang.”


“Ah.”


Suara Jhon yang merintih itu pun terdengar oleh Tina, apalagi saat ini Tina sengaja mendekatkan telinganya dari balik pintu di mana Jhon berada.


“Jhon, kamu lagi apa?”


“Mandi,” jawab Jhon sembari melakukan aktifitas lain sebagai cara kedua melampiaskan sesuatu yang sudah berproduksi sejak kapan tahu.


Sudah lama sekali benih itu terbuang sia – sia, hanya karena Tina.


“Uh.”


“Ah.”


“Arrgg … Sayang, aku tidak tahan. Tinaaaa.”


Akhirnya, Jhon melepaskan sesuatu yang seharusnya terlepas sejak beberapa minggu lalu. Jhon memanggil nama wanita pujaannya dan Tina mendengar jelas nama yang diteriaki sang suami.


Tina pun merasa bersalah. Sungguh, ia merasa tidak berguna sebagai istri. Ia benar – benar tidak peka. Seharusnya, walau secara lahiriah ia tidak bisa menyediakan kebutuhan suaminya, paling tidak ia memberikan kebutuhan batiniah Jhon. Dan yang lebih miris, Jhon tidak pernah mengeluh akan hal itu.


Di depan Tina, pria itu selalu tampak ceria, hal itu bisa Tina rasakan ketika Jhon berbicara.


“Maafkan aku, Jhon,” lirih suara Tina terdengar dari balik luar pintu itu dan Tina meneteskan airmata.


Sedetik kemudian, Tina pun menghapus jejak aairmata itu dari pipinya. Ia bergegas keluar dari kamar dan ingin melakukan sesuatu untuk Jhon. Tina beralih ke dapur untuk membuatkan Jhon minum.

__ADS_1


__ADS_2