Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Tidak menerima siapa pun


__ADS_3

"Sssttt …” Zahra menempelkan jari telunjuk di bibirnya saat sang suami mendekati kamar Tina.


“Dia bukan mahromnya Bira, Dek. Masa kamu membiarkan dua orang berlawanan jenis dalam satu kamar?” tanya Abid tidak percaya karena membiarkan Tina hanya berdua dengan pria bule yang Abid tahu hanya bosnya saja.


“Tapi, Bira mau makan sama dia, Mas.”


Zahra membiarkan Jhon masuk ke dalam kamar Tina. Sesaat setelah Jhon menyapa wanita pujaan yang terlihat sangat rapuh itu, Tina pun merespon, bahkan saat ini Tina juga mau makan dari sendok yang diberikan pria bule itu.


“Lagi pula, aku tidak menutup pintu kamarnya dengan rapat. Lihat masih ada celah kan? Kita juga bisa lihat mereka tidak sedang macam – macam,” sanggah Zahra.


Tiba – tiba Arafah pun mendekati pasangan suami istri itu. “Iya, Mas Abid. Biarin aja. Yang penting Bira mau makan. dari pagi perutnya ga ke isi makanan, malah dari sejak Abi masuk rumah sakit.”


Abid pun diam. Ada banyak pertanyaan di dalam kepalanya, tapi ia bingung harus memulai dari mana. Abid bisa melihat kedekatan sang adik dengan bosnya. Baginya, kedekatan itu tidak wajar. Dan ia juga dapat melihat pancaran tak lazim dari pandangan bos berparas internasional itu terhadap adiknya.


“Kamu mau ke rumah sakit, Fah?” tanya Zahra pada adik iparnya.


“Iya, Mbak. Gantian sama Mbak Munah, kemarin dia yang jaga Ibu malam, sekarang aku.”


Zahra mengangguk. “Kalau besok Ummi belum pulang, biar besok Mbak Zahra yang jaga malam.”


Arafah pun mengangguk. “Iya, Mbak. Kalau begitu aku jalan dulu.”


Arafah mencium tangan Abid dan istrinya. Begitu pun dengan Alif yang akan mengantarkan sang istri. Alif hanya pamit pada Abid dan Zahra, tapi tidak dengan mencium punggung tangan mereka.


“Hati – Hati, Lif. Jangan ngebut bawa mobilnya,” ujar Abid pada Alif.


“Iyo, Mas.”


“Sudah, sana! Temani lagi Gus Mus,” kata Zahra sembari mendorong suaminya.

__ADS_1


Abid pun kembali ke ruang tamu dan menemani Mustofa dan Al. Rencananya, sampai tujuh hari ke depan, Mustofa dan Al akan ada di sini untuk mengawal pengajian dalam rangka mendoakan Utsman. Sedangkan Randy akan kembali ke Jakarta, besok. Karena dia masih terikat pekerjaan di sana.


“Satu suapan lagi, Sayang.” Jhon menyodorkan satu sendokan terakhir tepat di depan mulut Tina.


Tina pun mengunyah makanan yang masih tersisa di mulutnya hingga habis tertelan dan kembali membuka mulut itu.


“Alhamdulillah, akhirnya habis juga,” ucap Jhon melihat makanan yang ada di dalam piring itu bersih tak tersisa. “Aku senang, kamu mau makan.”


Tina belum membuka suara. Sejak tadi ia hanya menurut dengan membuka mulutnya dan menerima suapan dari Jhon. Usai, mulutnya kosong, Tina pun meminum minuman yang diberikan Jhon. Ia melihat Jhon begitu telaten mengurusnya.


Senyum Jhon terus terulas, karena sedikit berhasil membuat Tina tidak lagi berdiam diri dengan tatapan kosong.


“Jhon.”


“Ya.”


Jhon kembali menatap Tina, setelah meletakkan gelas yang diminum Tina tadi.


Jhon mengernyitkan dahi. “Kamu menyalahkanku atas semua yang terjadi?”


Tina diam. Ia tidak mengangguk dan tidak juga menggeleng.


“Semua salahku,” ucapnya. “Aku yang paling bersalah dalam hal ini. Aku hanya perempuan kampung yang kabur dari rumah dan bekerja di kota besar, lalu dikerjai bosnya.”


Kepale Jhon menggeleng. “Tidak, Sayang. Tidak seperti itu. Aku mencintaimu dengan tulus. Kalau pun insiden pertama kali itu terjadi karena keadaan, tapi kali ini bukan. Kamu tahu persis bagaimana aku mencintamu, Tina.”


“Tapi semua ini salah, Jhon. Ini salah!”


“Tidak, Tina. Ini tidak salah.” Jhon memegang kedua bahu Tina. “Setelah ini, aku akan bicara pada kakakmu. Aku akan tetap menikahimu, karena aku sudah berjanji pada Abi.”

__ADS_1


Tina yang semula menunduk, Kini mendongak. Ia menatap mata Jhon. “Jangan sebut – sebut nama Abi lagi, Jhon. Aku sakit hati mendengarnya. Menyebut nama itu mengingatkan akan segudang kesalahanku.”


“Sayang.” Jhon memanggil Tina lirih.


“Jhon, ini adalah yang terakhir. Ini adalah kedekatan kita yang terakhir. Kalau kamu benar mencintaiku, maka menjauhlah dariku.”


Duar


Bagai tersambar petir, Jhon mematung. Kedua tangan yang semula menempel pada bahu Tina pun luruh.


“Apa maksudmu?”


Tina kembali menegaskan. “Jika kamu benar – benar mencintaiku, maka menjauhlah.”


“Tina, aku hanya ingin mengabulkan permintaanmu. Bukankah kamu ingin dinikahi? Kamu ingin aku bertanggung jawab?”


Tina menggeleng. “Tidak lagi.”


Jhon mulai kesal. “Apa kamu mau menerima si Al itu? Ustad gadungan yang ingin merebutmu dariku dengan cara licik?”


Mata Tina membulat. “Jangan salahkan orang lain karena kesalahn kita, Jhon.”


“Tapi dia yang membuat jalan kita menjadi rumit.”


“Menikah adalah ibadah dan kita telah mengawali ibadah itu dengan cara dosa. Jadi seperti inilah Tuhan menghukum kita, Jhon.”


Kepala Jhon lagi – lagi menggeleng. “Kamu akan meninggalkanku dan menikah dengan pria lain?”


Tina juga menggelengkan kepala. “Tidak. Aku tidak akan menerima siapa pun. Tidak kamu dan tidak Mas Al.”

__ADS_1


Tubuh Jhon melemah. Punggungnya langsung bersandar pada dinding kursi yang ia duduki. Rasanya semua usaha sia – sia, walau tidak ada usaha yang sia – sia. Jhon telah mendapatkan restu Abi, hanya saja keadaan yang membuat Tina harus memulihkan diri.


Tina butuh ketenangan dalam waktu yang tidak ditentukan. Ia benar – benar ingin sendiri tanpa ada ikatan cinta dengan siapa pun. Soal jodoh, biarlah takdir yang akan membawanya nanti. Untuk saat ini, ia hanya ingin berbenah diri lagi, agar di alam sana sang Abi tidak mendapat siksa dari apa yang ia lakukan di sini.


__ADS_2