
"Aku antar pulang.”
Tina menggeleng. “Nda usah.”
“Ayolah! Sekali saja.” Jhon terus berusaha untuk bisa mengantarkan Tina pulang.
Setelah cukup lama tidak berinteraksi dengan Tina, rasanya hari ini pertemuannya dengan Tina begitu singkat. Ia masih ingin bercengkerama lebih lama, walau Tina terlihat sedikit kaku dan canggung.
“Takut ada fitnah, Mas,” jawab Tina.
Rantang yang semula terasa berat, kini menjadi ringan karena semua isi di dalamnya sudah berpindah ke piring yang tersaji di meja besar itu.
Jhon mengikuti langkah kaki Tina yang hendak meninggalkan lokasi. Ia berjalan di samping Tina dan tetap ingin mengantarkan wanita pujaannya itu sampai di rumah. Langkah mereka pun melewati para pekerja yang sedari tadi menjadikan Tina sebagai pusat perhatian.
Namun, para pekerja itu pun sadar diri, bos mereka lebih unggul, sehingga mereka hanya bisa bersuara untuk memberi dukungan pada bosnya yang sedang pendekatan dengan anak Kiyai itu.
“Bos, ciye …”
“Pepet terus, Bos.”
“Jangan sampai lepas, Bos!”
Anak buah Jhon, terus menyemangati bosnya. Entah kata itu berupa dukungan atau ledekan, tapi yang pasti anak buah Jhon tahu bahwa bosnya memang mengincar anak bungsu Kiyai Utsman. Bahkan mereka pun tahu bahwa kerjasama projek ini tidak menggunakan dana pesantren sama sekali. Jhon membangun ini dengan uangnya sendiri, sementara saat membangun sistem di pondok pesantren milik Mustofa, perusahaan Alex mendapat keuntungan juga. Kerjasama itu memang kerjasama yang saling menguntungkan untuk keduanya, karena perusahaan yang dibangun Alex dan Jhon itu tidak mengambil keuntungan dalam jumlah besar.
Tina tidak bisa menolak, karena Jhon terus membuntutinya. Jhon terus berada di samping Tina saat ia berjalan melangkah menuju rumah.
“Sekarang kamu mengajar di pesantren?” tanya Jhon di sela langkah kaki mereka yang terus berjalan pelan, bahkan Jhon sengaja memelankan lagi langkah kakinya agar sampai ditujuan lebih lama dan ia bisa menatap wajah cantik itu juga lebih lama.
Tina menoleh ke arah Jhon. “Kamu tahu dari mana?”
Jhon mengangkat bahunya. “Kamu tahu bagiku, tidak sulit mencari informasi, apalagi jika tentangmu.”
Tina tersenyum. Namun, ia telihat menahan senyumnya dan Jhon pun ikut tersenyum sambil menatap Tina dari samping.
__ADS_1
Kemudian, wajah Tina yang semula diluruskan saat tersenyum, kini kembali menoleh. “Mengapa kamu melakukan ini?”
Sejak projek ini dilakukan, benak Tina selalu ingin mempertanyakan hal ini pada Jhon. Namun, komunikasi mereka yang sengaja terputus, membuat Tina segan untuk bertanya. Dan, hari ini kesempatan mengajukan pertanyaan ini pun ada.
“Apa menurutmu, aku melakukan projek ini untukmu?” Jhon balik bertanya.
Tina mengangguk dan Jhon pun tertawa. “Ge – er.”
Singkatan yang dulu sering terlontar dari mulut Tina dan tidak dipahami Jhon, kini Jhon gunakan untuk menjawab pertanyaan Tina.
Seketika raut wajah Tina berubah. Ia pun menjadi kesal, karena sejauh ini ia memperkirakan bahwa Jhon melakukan hal ini untuk menarik perhatiannya lagi.
“Aku menjalankan projek ini bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri, untuk memenuhi janjiku pada Abi.’
Seketika, mata Tina membulat.
“Projek ini adalah syarat yang diajukan Abi untukku,” sambung Jhon.
“Tapi kita tidak jadi menikah, seharusnya kamu tidak perlu melakukan ini,” jawab Tina.
Jhon berjalan sembari tetap menolehkan wajahnya ke arah Tina, begitu pun sebaliknya, Tina melakukan hal yang sama.
“Aku juga ingin menjadi manusia yang lebih baik, Tina. Semula, aku berubah hanya ingin memantaskn diri untukmu, tapi semakin ke sini, aku semakin merasa bahwa perubahan diri itu bukan untuk orang lain, bukan demi orang lain, tapi untukdiri kita sendiri,” sambung Jhon lagi, membuat Tina menganga.
Ya, banyak yang berubah dari diri Jhon. Tina sampai tidak mengenali dengan siapa ia berdiri saat ini. Jhon sangat berbeda dari Jhon yang Tina kenal sebagai Bos mesumnya dulu. Jhon pun melihat hal yang sama di diri Tina. Banyak yang berubah dari diri wanita itu. Tina semakin anggun dan bersahaja, sehingga mungkin ketika Tina kembali ke kantor, orang kantor tidak akan mengenalinya. Seketika predikat Tina yang dulu dikenal sebagai sekretaris bar – bar, sepertinya sudah hilang.
Keterkesimaan Tina atas kata – kata Jhon tadi, membuat kakinya berhenti melangkah dan menatap lekat wajah itu, hingga akhirnya ia menyadari dan melepaskan pandangan, lalu menunduk.
“Akh, tahan pandanganmu Tina,” gumam Tina dengan menggelengkan kepala.
“Kenapa?” tanya Jhon dengan tetap menatap Tina.
Pola pikir Jhon memang sudah berubah dan lebih matang, tapi untuk kelakuan, terkadang masih tidak bisa terkontrol sedikit, terutama saat bersama Tina.
__ADS_1
“Tidak apa – apa.” Tina menggelengkan kepala dan kembali melangkahkan kakinya.
“Oh, ya. Terima kasih atas bantuanmu untuk acara nanti malam,” ujar Tina.
Lepas sholat isya berjamaah, akan diadakan empat puluh hari meninggalnya Utsman. Acara itu pun akan digelar di masjid. Dan Jhon sudah mengirimkan banyak sembako yang akan diberikan pada seratus orang lebih jamaah yang mengikuti acara itu.
“Kamu tidak perlu berlebihan seperti itu, Jhon. Kami bisa membelinya sendiri,” kata Tina lagi.
“Itu bukan hal yang berlebihan, Tina. Aku menganggap ayahmu seperti ayahku sendiri. Sungguh!”
Tina kembali menoleh ke arah Jhon da tersenyum. Kali ini, senyum Tina terbit tanpa ditahan. Ia pun mengembangkan senyum manisnya, senyum yang sering Jhon lihat dulu saat mereka masih tinggal bersama di apartemen yang ia berikan khusus untuk Tina di hari ulang tahunnya.
Melihat senyum manis itu, tiba – tiba rindu yang teramat mencuat itu pun luruh, bahkan si ular kobra yang sempat bangkit karena menyentuh tangan Tina pun seketika layu. Hati dan jiwa Jhon meleleh melinat senyum tulus Tina.
Jhon ikut tersenyum menyambut senyum manis itu.
“Tina, masih adakah kesempatan untukku?”
Tina belum menjawab. Ia masih memilih untuk tersenym.
“Masih adakah kesempatan untuk kita bersama lagi?” tanya Jhon lagi.
Sungguh, ia masih sangat berharap bisa menjadikan Tina sebagai teman hidupnya, karena menurutnya hanya Tina yang begitu mengerti dirinya.
“Tina,” panggil Jhon untuk meminta jawaban.
Dengan segala nilai plus dan minus tentang apa yang sudah Jhon lakukan, Tina akui bahwa nilai plus itu masih lebih besar dibanding minus-nya.
Tina pun menganggukkan kepala. Seketika, jawaban yang diberikan dari sebuah gestur tubuh itu membuat Jhon sumringah.
Tina yang malu pun langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat menuju rumah. Kebetulan, pertanyaan yang Jhon lontarkan memang tepat saat kaki keduanya sudah berada di pekarangan rumah Utsman.
Senyum Jhon semakin mengembang dengan terus menatap Tina yang menjauh dan hilang dari balik pintu rumahnya.
__ADS_1
Di balik pintu rumah itu, Tina menyandarkan tubuhnya. Ia memegang dadanya yang berdegup kencang. Tina baru menyadari bahwa cinta itu masih ada untuk Jhon.