Cinta Tulus Dari Ali

Cinta Tulus Dari Ali
Kepercayaan Ali


__ADS_3

Aku bergegas keluar ketika mendapat pesan berlogo hijau dari mas Ali, terlihat Maudi masih santai menonton tv sedangkan simbok dan mbah kakong entah pergi kemana.


"Mas,"


"Duduk," ia jawab dengan datar lalu kujatuhkan tubuh ini ke kursi sebelahnya.


"I-itu bukan aku mas, Rara tidak pernah melakukan itu," air mata lolos begitu saja tanpa bisa dicegah. Rasa cemas terus mendominasi bayangan buruk berlalu lalang tiada henti.


Tiba-tiba tubuhku tertarik dan jatuh di pelukan mas Ali, dia memelukku dengan erat. "Ini yang mas takutkan sebenarnya,"


"Mas sudah tahu kalau semua ini akan terjadi gitu?" tanyaku.


"Bukan, tapi mas takut jika Rara nanti bakalan nangis kayak gini," dia berkali-kali mengecup pucuk kepalaku, aku jadi bingung maksudnya mas Ali itu apa.


"Mas percaya kalau itu bukan kamu dek,"


Deg


Jantungku langsung berdetak hebat ini nggak mimpikan? ini bukan perkara dia percaya aku atau tidak, tetapi sebutan 'dek' itu bikin 'denyut jantungku berdetak.. terasa indahnya dunia milik kita bersama.. ' ah malah nyanyi lagi, waktunya belum tepat Rara...


Bagaimana tidak berdetak, soalnya baru kali ini dipanggil 'dek' oleh orang yang benar-benar mencintaiku. Bukan dipanggil 'dek' hanya sebagai formalitas seperti mas-mas Indomei saat kutanyai face wash. "Face wash Sari Cantik lagi kosong dek stoknya," ya begitulah kira-kira saat kuingat.


"Mas," kepalaku mendongak agar bisa menatapnya.


"Iya sayang ... mas percaya kok sama Rara,"


"Ih bukan itu, tapi coba panggil aku kayak tadi,"


"Sayang .."


"Bukan, yang lain lagi mas,"

__ADS_1


"Apa sih sayang .. mas bingung, kamu tinggal omong kan bisa,"


"Ah gak seru, masih muda sudah pikun aja,"


"Makanya mas segera nikahin kamu dek, agar tidak lupa nantinya,"


"Nah ituloh mas," seruku agar dia mengulanginya lagi.


"Dek, kalau mas manggil gitu aku jadi baper banget ..." ucapku dengan tu de point, percuma juga harus kode-kodean kadang dia suka lemot kok.


"Owalah jadi mulai sekarang mas harus manggil 'dek' gitu?" tanya mas Ali dan kami belum melepaskan pelukan sama sekali, untung tidak ada tetangga lalu lalang, karena sekarang kita ada di teras rumah.


"Iya, tapi mas percaya beneran kan sama Rara?" aku mengurai pelukan tersebut, dan bertanya lagi.


"Hati mas sangat yakin kalau itu bukan kamu,"


"Tapi semisal yang ada di foto itu beneran aku gimana? Apakah mas akan membatalkan pernikahan ini?" kali ini aku ingin mencoba mengetesnya. Walaupun dengan hati deg-degan.


"Karena hanya kamu cinta pertama mas, sekuat tenaga mas akan membimbingmu kembali ke jalan yang benar, jika memang kamu melakukan hal seperti di foto itu,"


Aku langsung memeluknya, terharu akan kalimat yang ia ucapkan. Inikah yang dinamakan cinta sejati? Bertahun-tahun aku mencari sesosok itu, sesosok yang bisa memperjuangkanku dengan setulus hati. Hingga pernah timbul rasa iri ketika melihat teman-temanku berjalan tidak sendiri.


Tuhan .. Kejutanmu sungguh istimewa, dipertemukan dengan seseorang yang juga belum pernah pacaran bahkan hanya diriku cinta pertamanya dan semoga menjadi terakhirnya di surga.


"Kamu kenapa nangis lagi hm?


Kaos mas jadi basah nanti karena air matamu," mas Ali mengusap-usap punggungku.


"Mas bantu aku ya buat cari pelakunya, di foto itu bukan Rara beneran deh,


Aku nangis karena terharu dengan ucapan mas, ternyata ada laki-laki tulus yang mencintaiku,"

__ADS_1


"Mas akan bantu tenang saja, masmu ini juga tak terima melihat kamu digitukan, nanti biar tak selidiki siapa pelakunya


teman mas juga pintar mengatasi seperti itu, jadi entah gimana caranya foto editan tersebut nanti tidak akan bisa disebar oleh pelaku,"


"Makasih ya mas sudah percaya denganku," kueratkan pelukan, sungguh seperti mimpi dicintai oleh lelaki setulus ini.


"Iya dek .. Jangan nangis terus ya, mas gak tega melihat sayang menangis begini," mas Ali mengurai pelukan lalu mengusap air mataku.


"Mas gak akan ninggalin aku kan nanti?" entah kenapa pertanyaan tersebut melontar begitu saja.


"Tidak dek, percaya sama mas biarkan maut yang memisahkan kita nanti, meskipun kamu belum membuka hati untuk mas


Tetapi percayalah mas akan setia menunggu hatimu, dan tetap di sini menemani sang pujaan hati,"


"Meskipun nanti ada yang lebih cantik dari aku, apakah mas tidak berpaling?" tanyaku lagi.


"Jika kita mencari sesosok sempurna bakalan tidak ketemu, karena dalam hidup itu saling melengkapi, hati mas sudah terikat denganmu dan ikatan itu sangat erat bahkan sulit dilepaskan. Jadi mas nanti tidak akan tergiur meskipun ada sesosok bidadari di bumi ini.


Hanyalah Rara bidadari surga mas, percayalah sayang .." belajar dari mana dia bisa berkata-kata seperti ini?


Benar kata postingan yang pernah kulihat di instagram, 'tidak pernah berpacaran, tapi nanti bakal dipertemukan oleh seseorang yang melebihi ekpetasinya' kurang lebih kalimatnya seperti itulah.


"Lihat rumah baru kita yuk, daripada nongas-nangis mulu disini," ajak mas Ali kemudian.


"Rumah yang seharga du-dua," ah aku tak bisa menyebutkan nominalnya, dulu sangat terkejut ketika mas Ali membawa kertas seperti sebuah nota atau transaksi pembelian atau apalah itu pokoknya, yang intinya itu seperti hadiah untukku, dan dibeli dengan tabungannya sendiri.


"Iya dek .. Kamu belum lihatkan? Ayo langsung cus aja kesana," dia menggandeng tanganku.


Percaya tidak percaya mungkin sudah menjadi garis takdir, ketika masa remaja seakan sepi tanpa ada cinta, namun ternyata tuhan mendatangkan sesosok itu tanpa terduga. Mungkin ini akan menjadi penutup cerita dari kisah pencarian cinta dari sang Clara.


Terima kasih tuhan.. Padahal di sepertiga malam tak pernah sekalipun kusebut nama laki-laki, tetapi namaku malah disebut oleh mas Ali

__ADS_1


Cerita ini merupakan lanjutan dari cerbung "Apakah Itu Cinta?" yang pernah saya post di grup fb. Silahkan cari aja di akun Ririn Wulan di grup noveltoon indonesia. Terima Kasih 🙏😻


__ADS_2