Cinta Tulus Dari Ali

Cinta Tulus Dari Ali
Sakit


__ADS_3

Adzan Subuh sudah berkumandang hingga bisa membuat mata mas Ali terbangun, meskipun sangat susah untuk dibuka tapi dia tetap berusaha karena bagaimanapun shalat merupakan kewajiban umat muslim. Tidak memandang dia pengantin baru atau lama, selagi masih hidup tetaplah menunaikan shalat.


Laki-laki itu ingin membangunkan sang istri tapi setelah melihat wajah yang begitu kelelahan ia jadi tak tega, biarlah dia mandi bersih terlebih dahulu nanti baru membangunkan Rara.


Hawa dingin menyeruak menembus kulit, mas Ali mengisi bathup dengan air hangat dan tak lupa diberikan aroma terapi. Tak seperti biasanya jika mandi hanya berekpresi biasa, kali ini wajahnya tersenyum bahagia.


Tidak menyangka di tahun 2023 ia bisa melepas masa lajanya sekaligus melepas setatus keperjakaan, ya meskipun ibadah tersebut kemarin ditunda-tunda hanya karena dia gampang grogian. Tapi sekarang berkat ilmu dari mbah google akhirnya berhasil.


Mas Ali berharap semoga ibadahnya tadi malam bisa membawa keberkahan, yaitu bertumbuhnya seorang insan yang sholeh maupun solehah di rahim sang istri.


Setelah selesai dengan mandi besarnya, tak lupa dia menyiapkan air hangat juga untuk mandi Rara, dan saat keluar menggunakan handuk yang dipasang setengah laki-laki itu melihat istrinya belum terbangun sama sekali.


"Ra, bangun dah subuh nih," mas Ali menggucang pelan lengan Rara.


"Rara.." panggilnya lagi karena sang empu belum merespon sama sekali.


"Loh kok panas," kagetnya saat menepuk-nepuk pipi tersebut lalu berlanjut memegang dahi dan terasa panas.


"Apaan sih mas? Rara masih capek," ucap perempuan itu ketika merasakan tangan suaminya meraba-raba kepala. Dia mengira kalau mas Ali akan meminta lagi.


mas Ali bingung harus bagaimana melihat kondisi Rara saat ini. Ingin menelfon mamah mertuanya tapi malu juga, masa sudah dewasa masih bingung menghadapi istri yang lagi sakit. Akhirnya dia berusaha untuk menangani sendiri, karena teringat waktu merawat Laras adik satu-satunya yang dulu juga pernah mengalami panas.


"Ra, bangun yuk mandi lalu shalat Subuh mas sudah siapkan air hangatnya," ucap mas Ali lagi serya duduk di pinggiran istrinya. Tak lupa tangan kokohnya mengelus-elus surai hitam itu.


Perlahan tapi pasti mata Rara akhirnya terbuka meskipun sambil mengucek-ucek dengan tangan, karena masih ngantuk.


"Badanku gak enak mas," keluh Rara saat sudah duduk tapi tubuh itu ingin ia tumbsngkan kembali. Beruntung suaminya segera menahan.


"Iya, badan Rara lagi panas makanya gak enak


mas bantu ya ke kamar mandi," jawab mas Ali sambil membetulkan selimut yang melorot dari tubuh istrinya agar bisa tertutup sempurna.


Rara tidak menolak saat mas Ali menggendongnya, karena pusing di kepala seakan tak tertahan. Mungkin karena efek peningkatan dari suhu tubuh ditambah tidur perempuan itu juga kurang cukup.


"Dah mas keluar aja, aku bisa sendiri," ucap Rara ketika mereka sudah ada di dalam kamar mandi.


"Biar mas bantu," bantah mas Ali dia tetap membantu istrinya.


"Kepalamu apa pusing juga?" tanya laki-laki itu karena melihat Rara memegangi pelipisnya.


"Sakit semua mas hiks-hiks," air mata keluar begitu saja, perempuan tersebut seperti merasakan sakit berlipat-lipat, tubuhnya remuk redam dan kini malah kepala juga ikut pening.


"Cup-cup, mas minta maaf sampai membuatmu seperti ini," rasa sesal menyelimuti hati laki-laki itu, entah siapa yang salah. Rara yang terlalu menggoda ataukah mas Ali yang memang terlalu sensitif?

__ADS_1


"Nanti mas panggilkan dokter ya," ucapnya lagi.


Tak ingin berlama-lama di kamar mandi apalagi melihat kondisi istrinya seperti ini, setelah selesai memandikan, dia segera membawa Rara keluar dan juga membantunya untuk berpakaian.


...----------------...


Kepala Rara dikompres menggunakan kain yang sudah diberi air hangat. "Nanti mau makan apa hm?" tawar mas Ali, tangannya sibuk mengelus-elus rambut sang istri.


"Belinya sekarang atau nanti?" Rara malah balik nanya. Sebenarnya ia ingin makan segera meskipun masih petang.


"Terserah Rara pengennya sekarang atau nanti?" laki-laki itu menoel hidung sang istri, karena gemas melihat hidung Rara yang berbeda jauh dengannya. Kalau dia mancung sedangkan Rara malah tenggelam.


"Sekarang, pengen bubur sumsum yang ada di pasar," pinta Rara.


"Baiklah, mas tinggal dulu sebentar ya," pamit laki-laki itu, dia tetap menuruti kemauan istrinya.


"Rara ikut.." perempuan tersebut menahan tangan suaminya.


"Kamu lagi sakit Ra, mas cuma sebentar aja kok,"


"Terus yang nemenin Rara siapa?" matanya mulai berembun. Memang seperti itu sifat Rara ketika dilanda sakit pasti sedikit manja dan cengeng.


"Yaudah iya mas temenin, biar nyuruh Laras aja yang belikan," mas Ali akhirnya tak tega ketika melihat sang cinta pertama mengeluarkan air mata lagi.


"Mas Rara ikut.. lama gak ke pasar pagi-pagi, " baju Ali ditarik-tarik oleh sang istri, karena posisinya masih berdiri.


"Mas gak jadi pergi sayang.." jelas mas Ali, karena dia mengira kalau istrinya itu takut ditinggal.


"Maksudnya Rara pengen ke pasar pagi-pagi," tadinya perempuan itu hanya ingin bubur sumsum tapi dia tiba-tiba pengen juga pergi ke pasar.


"Ra, badanmu panas loh di luar dingin," ucap mas Ali dengan penekanan. Hatinya dilanda kekhawatiran akan keadaan Rara, namun sang empu malah kepengen macem-macem.


"Ya biasa aja kali mas! gak usah bentak!" ketus Rara seraya memunggungi sang suami.


"Pengen pulang.. mama Rara kangen.. " isak perempuan tersebut dengan bahu terguncang.


Mas Ali menarik nafasnya panjang sambil mengusap wajah, dia naik ke atas ranjang yang bertepat di belakang punggung sang istri. Lalu tangan ia ulurkan untuk memeluk tubuh mungil itu.


"Siapa yang marah hm?" tangan kokoh itu mengusap pipi yang sudah dipenuhi air.


"Suaranya aja begitu!" Rara bukannya lebay tapi hatinya sangat sensitif waktu sakit seperti ini.


"Suara mas biasa aja kok, kecuali kalau keras-keras,"

__ADS_1


"Rara pengen ikut hiks-hiks," dia malah membahas keinginannya lagi.


Mas Ali berpindah posisi agar bisa di depan sang istri, lalu merangkulnya dan ditaruh di dada bidangnya. "Dah Ra, gak jadi beli wis," laki-laki itu bingung bagaimana menghadapi Rara yang lagi rewel.


"Tapi laper mas.." Rara mendongakan kepala dan merengek, berharap sang suami membuka matanya lagi.


"Sekarang diam jangan nangis, panasmu makin naik nanti. Biar dibelikan Laras ya? jangan ikut,"


"Biar aku aja yang chat Laras pakai hp sampean,"


"Mas tadi aja nelfon gak diangkat sayang apalagi kalau dichat," sebenarnya mas Ali berniat menelfon berkali-kali agar adiknya itu segera menerima panggilan.


"Beda lagi mas kalau aku yang ngechat langsung fast respon dia,"


"Nih hpnya," mas Ali nurut saja memberikan benda kotak tersebut ke sang istri.


Setelah berkirim pesan dan dibalas juga oleh Laras, Rara tidak langsung mengembalikan hp itu tapi malah membuka google play store.


"Mas aku pinjam hpnya ya buat main game,"


"Gak ada gamenya itu Ra," jawabnya sambil mengendus-endus rambut Rara yang masih basah.


"Aku instal di google play store,"


"Tapi mas pinjam hpmu ya?" pinta mas Ali kemudian.


"Okay,"


Setelah mengambil HP Rara mas Ali langsung pindah ke sofa dan membuka benda kotak tersebut.


"Kamu kok di situ sih mas?" protes Rara saat melihat suaminya berpindah tempat.


"Mas gak tahan Ra," ucap mas Ali secara tu de point tapi sang istri malah gak paham.


"Gak tahan kenapa?


biasanya kalau Rara panas selalu dikelonin sama simbok, tapi mas Ali malah menghindar," jelas Rara panjang kali lebar.


"Mas gak tahan kalau meluk kamu terus, bisa-bisa Rara nanti kemakan," laki-laki itu serasa tidak terkendali saat menghirup aroma wangi dari rambut sang istri. Ia juga tak tega kalau melakunnya lagi.


"Gak mau tahu pokoknya kelonin Rara," paksa bocah yang masih berusia dibawah 20 tahun tersebut.


"Ya Allah ya Robbi.. iya sayang iya," akhirnya diturutin lagi permintaan Rara, ia langsung memeluk tubuh mungil itu dan kakinya ikut ditautkan juga.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2