Cinta Tulus Dari Ali

Cinta Tulus Dari Ali
Si penyuka pantai


__ADS_3

"Enak ya Ras jadi mbak Rara,"


"Pol enaknya,"


"Jadi pengen deh Ras,"


"Yaudah ambil,"


"Gila! Ya kalik aku jadi pelakor di rumah tangga sepupu sendiri!" pekik Maudi yang tidak habis fikir dengan ucapan Laras.


"Ini hlo Di.. Kalau pengen makan kacang ya tinggal ambil, ngomong apa jawabmu apa," Laras menunjukkan bungkus kacang bergambar burung tepat di mata sang teman.


"Owalah kirain," lirih Maudi seraya menggaruk rambut yang tak gatal. Dia mengira kalau temannya itu fokus mendengarkan ternyata malah terus makan.


"Nih makan.. Dari pada ngehalu mulu,"


"Nikah muda itu enak ya Ras?"


"Emangnya aku dah nikah,  sampai kau tanyain begitu,"


"Hanya minta pendapatmu aja Ras, beh..  Ngegas mulu dari tadi," Maudi meminum segelas kopi, minuman favorit Laras, meskipun ia tak terlalu suka.


Tapi apalah daya, Maudi hanyalah tamu yang seperti jalangkung. Datang tak diantar dan pulang tak dijemput.


"Tanya aja sono sama yang dah nikah, atau sama pak Darmin noh. Sudah punya anak lima malah," kepala Laras menghadap ke arah pria paruh baya yang sibuk mengutak-atik motor di bengkel.


"Namanya juga pernikahan nduk, pasti ada senang dan susahnya,"


Ketika pak Darmin menyahut, Maudi seketika terkejut, kenapa bapak itu bisa mendengar? Padahal Laras ngomongnya lirih, dan karyawan lain tidak dapat mendengar juga.


"Pak Darmin itu pendengarannya tajam Di," ucap Laras, seakan tahu apa yang sedang difikirkan Maudi.


"Emangnya kamu budeg," lanjutnya lagi.


"Enggak budeg sih.. Cuma ndableg aja," cengir Maudi dan dibalas tatapan jengah dari sang kawan.


"Sudahlah Di pulang aja sono," Laras mengibas-kibaskan tangan.


"Baru aja datang masa dah diusir," bantah Maudi, dia merasa kesepian di rumah, akhirnya pergi ke bengkel Laras.


"Aku repot dah sana,"


"Aku gabut,"


"Urusanmu," Laras meninggalkan Maudi begitu saja.


Sejak tadi pagi moodnya sedang kacau, ternyata perempuan itu baru merasakan apa yang pernah dirasakan sahabatnya dulu. Yaitu kesepian.


Semandiri-mandirinya perempuan dia juga butuh tempat sandaran, tapi sejak beranjak dewasa Laras malah tak ada yang mendekati.


Di tengah kesalnya Maudi, tiba-tiba ada notif pesan dari Leo pacarnya. "Ras tak pulang dulu ya, soalnya mau encan nib sama ayang,"


"Bay..  Bay..  Laras.. " Maudi pamit dengan melambaikan tangan seperti mengejek temannya.

__ADS_1


"Hih..  Lama-lama kubasuh mukamu dengan oli ya!" kesal Laras sambil menunjukkan oli bekas yang baru saja ditampung.


Maudi tak menjawab dan cabut begitu saja, meninggalkan Laras yang disibukkan dengan montor-montor tersebut.


"Kapan.. Jodohku datang," keluh Laras.


Sebenarnya dia juga malas kalau pacaran, tapi jika diajak nikah ya belum siap. Nah kan membingungkan.


"Sekolah ae sing pinter nduk..  Nanti kalau dah pinter, cantik, dan pinter cari duit bukan kamunya yang bakalan dipilih laki-laki, tapi malah bisa memilih," ucap pak Darmin.


"Capek hlo pak, ke sani-sini sendirian mulu,"


"Sabar..  Nanti kalau sudah waktunya pasti punya kok,"


Selalu itu saja yang orang sekitarnya katakan, ketika dia berkeluh kesah. Menurut Laras kesabarannya itu sudah melebihi batas, perempuan tersebut terakhir kali dekat dengan laki-laki entah kapan. Dia malah lupa sendiri.


"Bang Ali sama Rara sekarang lagi ngapain ya?" monolognya.


Fikiran Laras berkelana, membayangkan sang abang dan sahabatnya itu lagi bercanda tawa di pinggiran pantai, sambil minum air kelapa yang dingin.


Sungguh romantis bukan?


.


"Ombaknya besar banget mas," kaki Rara yang tanpa alas bermain air yang berjalan menghampar di pinggiran.


"Jangan terlalu nengah," mas Ali memegangi tangan sang istri, takut kalau tiba-tiba bocah itu berjalan ke tengah.


Mas Ali tetap tak percaya, karena sudah tahu sifat Rara yang agak ceroboh dan random. Nanti karena asyik kesenengan main air malah berjalan ngejar ombak lagi.


"Sudah-sudah ayo kita minum air kelapa," ajak mas Ali seraya menarik tangan Rara.


"Belum haus aku, mas Ali aja yang beli duluan," Rara menarik tangan dari genggaman, tapi suaminya itu malah mengeratkan.


"Ayo Ra.. " mas Ali agak memaksa, karena Rara sudah lumayan lama bermain air.


"Nggak mau mas," tolak Rara, dia merasa belum puas.


Tangannya berusaha melepaskan pegangan itu, meskipun agak sakit. Mungkin nanti akan meninggalkan bekas kemerahan.


Akhirnya Rara menginjak kaki suaminya, dan mas Ali memekik sakit hingga berhasil melepas sang istri.


Perempuan berkulit putih itu berlari seraya mengejek sang suami. "Wek..  Wek.. "


Ejek Rara dengan mulut komat-kamit, dan mas Ali segera mengejarnya.


Tubuh yang tinggi dan sering berolah raga membuat mas Ali bisa lari sekuat tenaga.


Perempuan itu panik ketika suaminya tersebut mulai mendekat, dia melebarkan langkah kaki berharap bisa cepat.


Karena terburu-buru dan panik, kedua kaki itu seperti oleng dan kehilangan keseimbangan.


Tubuh Rara melayang dan

__ADS_1


Brug!


Dia jatuh dengan tengkurap di pasir yang dirasanya hangat. "Aduh.. " rintih Rara seraya ingin bangkit.


Tapi tiba-tiba tubuhnya terangkat dengan mudah dan berakhir di pundak mas Ali. Ya suaminya itu mengangkat sang istri seperti karung beras.


"Ih apaan sih mas!" protes Rara seraya tangan dan kakinya bergerak-gerak.


"Pulang saja dah," maksud mas Ali yaitu pulang balik ke penginapan, beruntung suasana pantai terbilang sepi. Karena belum ada yang tahu jika ada surga tersembunyi di daerah sini.


"Malu mas dilihatin orang.. " Rara melihat pemilik warung kelapa muda yang melihat tingkah mereka.


"Biarin, toh gak kenal juga,"


.


"Hlo kok malah tidur Ra? Kan kita mau keluar cari makan," tanya mas Ali ketika melihat sang istri yang sudah selesai berganti baju malah menghempaskan tubuhnya di ranjang.


"Ra.. " panggil mas Ali lagi dengan duduk di pinggiran.


"Kamu marah sama mas?" tangannya terulur mengusap rambut Rara.


"Siapa yang marah,"


"Rara,"


"Nggak kok," sanggah bocah yang memakai piyama hello kity itu.


"Terus kenapa diam aja,"


"Masa suruh ngomong terus kayak mbak-mbak sales,"


"Tapi kamu gak kayak biasanya sayang.. "


"Yaudah ayo-ayo keluar ke mana?" akhirnya Rara bangkit dari rebahannya dengan ekpresi kesal.


"Jangan cemberut gitu dong," mas Ali mengambil sisir di nakas untuk merapikan rambut sang istri.


Dia berniat mengikatnya tapi ditahan oleh Rara, "Gak usah di ikat, biar gitu aja,"


"Kan kamu makai jilbap sayang.. "


"Nggak usah, ayo buruan," mas Ali akhirnya tidak memaksa, karena Rara memang masih buka tutup hijab.


"Iya wis iya.. Jangan marah mulu," mas Ali tiba-tiba mengecup bibir yang mengerucut tersebut.


"Gak pakai jaket?" tanya mas Ali kemudian, karena Rara hanya memakai piama lengan pendek tapi untuk celananya panjang.


"Nggak,"


"Oke, baiklah," mas Ali menggandeng tangan Rara, tidak pusing memikirkan kedinginan atau tidak. Toh laki-laki itu juga bisa memakaikannya jaket.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2