
Rara menombol ikon merah untuk mengakhiri, sudah ada sepuluh panggilan yang ia tanggapi, dan kebanyakan menanyakan keadaannya.
Dimulai dari mamah, ayah, simbok dan mbah kakung, lalu mbak rasti beserta suami. Hingga sampai keluarganya mas Alipun juga mengikuti. Padahal kalau satu orang telefon ya sudah, tapi ini malah mengajak satu RT.
Sebenarnya mereka menghubungi Rara secara serempak, karena merasa ada hal janggal yang menimpa pengantin baru tersebut. Bagaimana tidak, Perempuan itu tiba-tiba sakit demam hanya karena kecapekan. Nah yang difikirkan mereka yaitu kecapekan sebab terlalu banyak nambah porsi.
Porsi makan ituloh terlalu banyak, tetap berfikiran positif, okay? jangan sampai terbang ke planet mars.
"Biarlah mereka datang Ra," ucap mas Ali, dia mengira kalau semua yang menelfon sang istri karena sangat khawatir dengan keadaannya. Padahal mereka malah membuly Rara.
"Kalau mereka datang bisa malu aku mas," wanita itu langsung menutup wajah dengan bantal, karena teringat lelucon mbak Rista tadi.
'makanya Ra dilereni dulu ojo gas terus,'
'salahmu gak ndungo ndikek, leh grusa-grusu ae'
Dan masih banyak lagi perkataan yang membuat Rara menahan malu.
"Malu kenapa Ra?" tanya mas Ali keheranan.
"Tau ah," Rara tidak bisa menjawabnya, hingga mas Ali kebingungan atas tingkah istri bocahnya itu.
"Jangan disumpet gitu," mas Ali menarik bantal yang menutupi wajah Rara.
"Apaan sih mas," suaranya meredam karena belum mau lepas dari bantal.
"Kamu yang apaan Ra, nutup pakai bantal segala kalau gak bisa nafas gimana," ditariknya lagi hingga terlepas, dan meninggalkan rambut Rara yang acak-acakan.
Mas Ali merapikan dengan tangannya, dan wajah Rara masih cemberut aja.
"Mas Ali gak tahu sih, apa yang mereka bilang,"
"Memangnya mereka bilang apa sayang?" laki-laki itu duduk di pinggiran ranjang yang dekat dengan Rara.
"Dahlah gak usah dibahas,"
"Iya wes iya," mas Ali memilih mengalah, lalu dia keluar membukakan pintu karena makanan yang ia pesan sudah datang.
__ADS_1
Laki-laki itu menimbang-nimbang makanannya, apa dia harus memakan di kamar atau di dapur saja? karena jika membawa di atas takutnya nanti sang istri malah kepengen.
Tapi kalau makan di dapur malah Rara nanti rewel karena gak ada temannya. Hufth ternyata ribet juga ngemong istri yang masih bocah. Ya mau gimana lagi kalau sudah cinta paitnya kopi rasane legi eg.
Akhirnya dengan terpaksa ia melangkahkan sambil membawa satu bungkus nasi goreng ke atas. Semoga saja Rara tidak pengen.
Knop pintu terbuka menimbulkan deritan kecil yang membuat perempuan itu menoleh hingga menyengritkan alis.
"Apa itu mas?" mata Rara menangkap kantung plastik yang bertuliskan 'Nasi goreng pak cuss'
Nasi goreng langganan Rara, dia selalu memesan dengan pilihan level yang fantastis. yaitu level ½ , kalau kata orang jawa biasa menyebut dengan kata sumer-sumer. Dibilang pedas juga tidak terlalu tapi disebut hambar juga tidak.
Perempuan itu berfikir kalau sang suami membeli untuknya, tapi kan mas Ali tadi bilang mau mesan makanan karena belum sarapan, dan ini cuma satu bungkus. Malah mas Ali membuka tanpa menawarinya.
"Kok cuma satu mas?" tanya Rara kemudian.
"Kan buat mas aja," jawab mas Ali dengan santainya seraya menyendokan suapan demi suapan begitu lahapnya.
Rara hanya bisa meneguk ludah ketika melihat nasi goreng merah menyala, perkiraam itu level lima yang tak disukainya, namun kali ini dia malah kepengen.
"Gak ada, Rara gak boleh makan ini," buru-buru mas Ali membereskan bekasnya.
Laki-laki kalau makan ternyata secepat kilat baru dibuka sudah ludes begitu saja, tapi mas Ali melakukan seperti itu agar Rara tidak merengek untuk meminta. Berkali-kali ia menahan panasnya nasi goreng ditambah level lima yang menambah panasnya.
"Mas.. " lirihnya tapi sang suami sudah keburu pergi untuk membuang bungkusan.
Ketika kembali laki-laki tersebut sudah disuguhkan pemandangan yang tak mengenakan. Sang istri memasang wajah cemberut. Tapi mas Ali tidak berniat bertanya maupun membujuk, karena mulutnya masih mengontrol rasa pedas yang tak kunjung hilang. Meskipun sudah meminum air bergelas-gelas.
"Huh.. Ya allah pedasnya," dia mengibas-kibaskan tangan di depan mulut.
"Kualad," jawab Rara seraya menghapus foto-foto random yang ada di ponselnya, ram 2 giga tidak cukup untuk menampung segala foto gaje yang disimpannya.
"Kalau dah sembuh aja mas beliin," mas Ali mengerti kalau istrinya itu lagi ngambeg.
"Sekarang?"
"Ya bukan sekarang Ra, mas bilang nanti kalau dah sembuh," jelas mas Ali sambil melihat tangan lincah Rara.
__ADS_1
"Sekarang aja lah mas, kan dah sembuh,"
"Iya gak papa,"
"Beneran?" tanya Rara dengan antusias. Dia tak percaya kalau suaminya itu malah mengiyakan.
"Iya gak papa, nanti tinggal bawa kamu aja di rumah sakit terus mas tinggal deh,"
"Lak mesti," makin cepat Rara menombol foto-fotonya karena kesal.
"Menghapus apa itu?" tanya mas Ali kemudian.
"Foto," ketus Rara.
"Kenapa dihapus?"
"Memorynya penuh,"
"Beli aja besok,"
"Beli memory?"
"Ya beli hpnya dong sayang.. "
"Emangnya beli hp kaya beli kacang goreng tinggal bilang gitu aja,"
"Mas beneran Ra, besok kita beli hp baru sekalian beli perlengkapan rumah,"
"Beneran?" kaget Rara dia mengira kalau uang suaminya tinggalah sedikit.
"Iya sayang.. doakan saja rejeki mas lancar terus agar bisa nyenengin hati Rara," diusapnya rambut sang istri. Mas Ali tidaklah kaya tapi dia berusaha agar bisa membuat orang yang dicintainya itu bahagia.
Uang bisa dicari tapi sebuah kebahagiaan sangat sulit dicari. Jika uang selalu disimpan terkadang rejeki jarang untuk mendatang, namun beda kalau dikeluarkan untuk kebutuhan maka akan sering berdatangan.
Itulah prinsip yang sering mas Ali terapkan. Makanya bengkel miliknya tak pernah sepi dari pengunjung.
bersambung...
__ADS_1