
"Rumahnya siapa yang bersihin mas?" tanya Rara saat mereka sudah memasuki hunian baru tersebut.
"Kemarin nyuruh beberapa orang untuk membersihkan," Rara hanya menganggukan kepalanya pertanda sudah paham.
"Terus yang bersihin setiap hari kita mas?" rumah yang dibeli mas Ali untuk Rara lumayan besar, perempuan itu berfikir sungguh capeknya nanti jika membersihkan sendiri.
"Biar mas aja yang ngurus," laki-laki tersebut menggandeng istrinya menaiki tangga.
"Hah, gak capek?" Rara jadi tak tega jika suaminya mengurus sendirian soalnya laki-laki itu juga harus bertanggung jawab penuh di bengkel.
"Kalau kita sama-sama repot lebih baik menggunakan jasa orang lain aja sayang," tangan mas Ali membuka knop kamar lalu membukanya.
Rara dibuat takjub melihat desain ruangan itu. Sangat berbeda jauh dengan kamar miliknya. Sudah ada kamar mandi di dalam, ranjang, meja rias dan lain-lain semua lengkap ada di sini. Jadi di dalam rumah itu yang kurang hanya sofa ruang tamu dan perabotan dapur lainnya.
"Gimana kamu suka?"
"Suka banget, apalagi ada tvnya bisa begadang sambil tiduran nih," seru Rara.
"Tapi masa nanti malam nggak malam tahun baruan sih mas?" tanya Rara saat keingat kalau nanti sudah malam pergantian tahun.
"Di rumah saja ya, mas malas keluar," ucap mas Ali seraya melepaskan jaket dan mengantungkannya di tempat yang telah disediakan.
"Yah masa gak keluar sama sekali sih mas, ayolah," rengek Rara sambil menggoyang-nggoyangkan lengan suaminya.
"Lebih baik kita nikmatin malam tahun baru di rumah, itu lebih seru sayang. Beli camilan yang banyak terus dimakan sambil nonton drakor,"
"Lah, mas Ali juga suka drakor?" tanya Rara antusias.
"Suka banget malahan," mas Ali berbohong lagi demi menyenangkan hati sang istri, karena ia ingin menyempurnakan malam ini bersama Rara.
"Kebetulan Rara punya stock filmnya,"
"Punya mas aja bagus, pasti kamu belum pernah nontonkan?"
"Yaudah kalau gitu punyamu aja mas, Rara jadi penasaran sama filmnya,"
"Berarti tinggal beli camilannya a-" ucapan Rara terpotong saat melihat suaminya sudah tidur dengan nafas teratur. Ya mungkin mas Ali sedang kelelahan itulah yang dipikirkan perempuan tersebut.
Bocah itu berjalan mendekati jendela dan menyibak tirainya, dia melihat ada beberapa anak SMP yang sedang lari-lari kecil di jalanan depan rumahnya. Mungkin lagi ada pelajaran Olahraga. Dia jadi teringat kenangannya bersama Arjuna, dulu Rara sering bermain kejar-kejaran dengan pria itu. Senyumannya masih terbayang diingatan Rara.
'Andai laki-laki yang bersamaku saat ini adalah Juna sungguh senangnya hatiku,'
__ADS_1
'Astagfirullah.. nggak seharusnya bicara seperti ini padahal mas Ali sudah baik sama aku,' Rara jadi menyesali omongannya tersebut, hingga logika berperang dengan batin.
perempuan itu menengok ke belakang untuk melihat suaminya yang tidur menyamping menghadapnya, mata teduh dan penyabar semoga bisa meluluhkan hati Rara, lalu dia ikut berbaring di samping mas Ali dan memeluknya.
Laki-laki itu membuka mata saat merasakan ada pergerakan, akhirnya mata mereka beradu. Lengkungan senyuman tercetak jelas di wajah mas Ali dan dia menarik tubuh mungil itu untuk membalas pelukannya.
Hingga waktu sore tiba, Rara sudah bersiap untuk mencari makan malam maupun camilan sesuai rencana tadi. dia masih menunggu suaminya yang masih mandi.
tok
tok
"Mas sudah belom?" Rara heran dengan suaminya, masa laki-laki mandi selama itu.
"Iya sayang.. " pintu kamar mandi terbuka namun membuat wanita tersebut terkejut seketika.
"Kenapa gak pakai baju dulu sih," protes Rara, saat suaminya keluar dengan badan yang bawahannya hanya terbungkus handuk.
Mata Rara jadi ternoda, apalagi badan itu tinggi tegap ditambah ada roti sobeknya.
"Nanti kamu juga lihat semuanya," kini mas Ali malah melepas handuk itu hingga Rara spontan menutup matanya dengan kedua tangan.
"Astagfirullah mas, jangan aneh-aneh deh," pekiknya.
"Sudah selesa nih," lanjutnya agar istrinya itu segera membuka mata.
...----------------...
Segala macam camilan sudah tersiap kini selepas shalat isya mereka sudah membuka tayangan drakor.
"Masya Allah gantengnya," seru Rara saat melihat tokoh idolanya muncul.
"Halah, masih gantengan mas," bantah mas Ali.
beberapa menit kemudian, muncul adegan yang disukai kalangan remaja yaitu ci*m*n. Laki-laki itu terheran saat istrinya tidak menutup mata sama sekali ketika melihat hal itu, Rara malah senyum-senyum sendiri.
Dalam fikiran mas Ali kemungkinan Rara juga ingin melakukan seperti dalam drakor tersebut.
"Ra,"
"Iya?" jawab Rara yang masih terfokus dengan layar.
__ADS_1
"Lihat mas dong, masa kok cuekin mulu," protesnya.
"Iya apa?" Rara menengok ke arah suaminya tapi langsung dihap.
Bola mata bocah itu ingin keluar, ketika bibir sucinya langsung disergap oleh mas Ali. Dia tidak menyangka jika akan secepat ini.
Beberapa saat kemudian tautan itu terlepas, tangan mas Ali mengusap bibir istrinya. Rara sangat malu waktu menyadari tingkahnya tadi, ia malah membalas serangan dari suaminya sesuai drakor yang pernah ditonton.
"Ra,"
"Hm?"
"Sebenarnya mas sudah gak bisa menahannya, apa boleh jika meminta hak di malam ini?" ijin mas Ali dengan hati-hati.
Rara bingung harus bagaimana, jika menolak takut dilaknat malaikat tapi dia juga belum siap untuk melakukan.
"Bismillah Rara siap mas," nah kan kenapa mulut Rara tidak singkron dengan hatinya. Malah sepontan aja bilang begitu.
Malam itu merupakan malam spesial bagi mereka. Mas Ali meneruskan c*um*n bibirnya itu, dan Rara hanya bisa membalas sebisanya. Mungkin kalau dilogika laki-laki kebanyakan mengikuti naluri sedangkan perempuan hanya bisa mengikuti.
Tangannya tidak tinggal diam, menggapai apa yang sudah halal untuk digapai. Rara ingin menahan suara anehnya namun tetap tidak bisa.
"Argh sakit.." pekik Rara saat merasakan tubuhnya seperti terkoyak. Untung saja mas Ali dapat membujuknya hingga bisa melanjutkan perjalanan lagi untuk menembus puncak dunia.
mendaki terus saja mendaki hingga mereka sampai ke tempat tujuan dengan menyebutkan nama masing-masing.
"Rara.."
"Arjuna," lirih Rara tapi mas Ali bisa mendengarnya,"
"Arjuna?" pupus sudah harapan suami Rara, saat istrinya itu malah menyebut laki-laki lain disaat melakukan malam spesial ini.
"Maaf mas tadi," Rara baru sadar jika menyebut nama masa lalunya secara tiba-tiba, dia ingin menjelaskan tapi bingung.
Dengan kecewa mas Ali langsung memakai kembali celananya, dia mengira jika Rara sedang membayangkan berhubungan dengan laki-laki lain.
"Kamu mau kemana mas?" tanya Rara seraya menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Biarkan mas sendiri terlebih dahulu
segera pakai bajumu dan tidurlah agar tidak masuk angin," ucap mas Ali kemudian lalu dia keluar dari kamar.
__ADS_1
bersambung...