
Diam-diam ternyata ahli, ya itulah mas Ali. Suami Rara yang ganteng sekali. Padahal dulu tidak pernah dekat dengan wanita, karena cuma Rara yang menjadi cinta pertamanya.
Tapi kenapa dia sangat ahli untuk menghanyutkan Rara? bahkan sangat sulit bagi bocah kecil itu untuk menahan suara. Bibirnya ia tutup rapat-rapat karena sudah tidak tertaut lagi.
"Sekarang ya?" ijin mas Ali lagi.
Rara tidak mampu menjawab, tenaganya sudah habis tak tersisa dengan nafas ngos-ngosan. Sudah beberapa kali ia menggapai puncaknya.
"Se-stop mas.." ucap Rara dengan terbata-bata.
Dahi mas Ali menyengrit heran, tak biasanya sang istri memberikan penolakan. Kenapa hari ini berbeda?
"Kenapa Ra?"
"Kayaknya Rara halangan deh mas," lirih Rara.
"Aw... sakit!" pekik Rara kemudian ketika merasakan nyeri di perutnya.
"Sakit gimana Ra?" tanya mas Ali dengan panik.
"Kita ke rumah sakit ya," ajak mas Ali setelah dia memakai pakaian yang tadi berserakan.
"Sudah biasa ini mas, nanti juga sembuh sendiri," jawab Rara seraya memakai piyama yang dibantu mas Ali.
"Tapi wajahmu pucat Ra,"
"Halah.. lebay kamu mas, ini tuh dah biasa,"
Mas Ali langsung diam seketika, dia agak tersinggung dengan ucapan Rara. Padahal laki-laki itu sangat khawatir, tapi malah dianggap lebay.
"Em maaf mas, tadi Rara keceplosan bilang begitu. Soalnya kalau lagi halangan emang agak sensi," sesal Rara.
"Yaudah gak papa, ini mas bantuin gimana biar sakitnya mereda?"
"Tolong belikan roti aja mas, bisa?"
"Emangnya roti bisa meredakan sakitnya Ra?" tanya mas Ali baru tahu akan hal itu.
"Biar gak bocor mas,"
"Gimana sih Ra maksudnya? mas gak paham,"
Rara mengehela nafas lalu menjelaskan, "Roti itu maksudnya pemb*l*t mas, yang biasa dipakai agar tidak nembus,"
"Owalah gitu, kalau ngomong gak usah pakai teka-tekilah Ra. Mas gak paham,"
"Yaudah iya nanti gak pakai teka-teki, sekarang mas pergi deh buat beli itu,"
"Spreinya biar Rara ganti," lanjutnya lagi.
"Gak usah, biar mas aja," jawab mas Ali seraya mengangkat tubuh sang istri dan memindahkannya ke sofa.
Sebelum mas Ali pergi ia mengganti sprei yang terkena bercak itu dengan sprei yang baru. Tapi warnanya sudah pudar karena dulu milik mas Ali. Tidak pernah terfikirkan untuk membuang.
Sprei itu mempunyai berjuta kenangan bagi pria itu. Dimana dulu dia berbaring dengan kain pembungkus tersebut, dan membayangkan wajah pujaan hatinya yang masih berumur belia. Yaitu Rara anaknya pak Candra yang cantik jelita, cantik menurut mas Ali sih..
"Gak ada sprei lain mas?"
"Adanya itu Ra, yaudah mas pergi dulu ya,"
...----------------...
Sudah lama mas Ali memilah-milah aneka roti yang berjejer, ia kira hanya satu jenis dan diambil, dibayar lalu dikasihkan ke Rara. Dah selesai, tapi ternyata sebanyak ini.
"Kok ada ukurannya segala sih, kayak baju aja," mas Ali menggaruk-garuk rambutnya yang tak gatal.
"Mau cari apa mas?" tanya salah satu karyawan Indoapril saat melihat mas Ali kebingungan, dan lama juga berdiri di bagian tersebut.
__ADS_1
"Mbak pembalut untuk perempuan yang usianya 18 tahun ada?" mas Ali menyebutkan usia sang istri ia berharap karyawan tersebut mengerti.
"Untuk keponakannya ya mas?"
"Istri saya mbak, tapi bingung milih yang mana,"
"Owalah istri, untuk usia gak bisa menjadi patokan ukuran mas,"
"Yaudah yang menurut mbaknya aja deh," pasrah mas Ali.
"Kalau menurut saya yang ini mas, gak ribet makainya," karyawan itu menunjukan yang tidak memiliki sayap.
Mas Ali menurut dan mengucapkan terimakasih, lalu dia memilih yang isinya banyak dan mengambil 3 pack untuk persediaaan. Agar tidak perlu bolak-balik beli. Dia menjadi pusat perhatian ketika menenteng keranjang. Meskipun agak malu tapi tetap ia tahan.
"Buat istrinya ya mas?" tanya ibu-ibu yang juga mengantri di kasir.
"Iya bu,"
"Wah.. masnya ini memang suami idaman," puji ibu tersebut.
Mas Ali hanya tersenyum ramah, 'Idaman orang lain belum tentu menjadi idaman istri saya bu. Bahkan saya belum tahu hatinya itu buat siapa, ' batin mas Ali.
Setelah keluar dari Indoapril, mas Ali membuka hpnya dan mengeklik aplikasi mbah google, dia mengetik di kolom pencarian. 'cara menyenangkan perempuan yang lagi haid,'
Banyak judul yang bermunculan, tapi mas Ali hanya mengeklik beberapa saja dan membacanya sebentar. Dia memilih satu cara yaitu membelikan makanan kesukaan Rara.
Nasi goreng menjadi makanan pilihan, karena malam begini paling enak makan yang hangat-hangat. Bahkan kedai nasgor kesukaan Rara pasti sudah buka.
...----------------...
"Ke rumah sakit aja ya Ra?" bujuk mas Ali karena mendengar rintihan sang istri saat dipeluknya.
"Ini dah biasa mas," lirih Rara.
Rara membalikan tubuh, memunggungi sang suami. Dia hanya ingin mencari posisi yang nyaman.
"Mas.. Rara ini hanya cari posisi yang nyaman bukan marah, tolong ngertiin ya," jelas Rara agak jengah karena suaminya malah berfikiran negatif.
"Yaudah mas minta maaf,"
Rara tidak menjawab, tangannya ke belakang untuk meraih tangan mas Ali. Lalu diletakkan pada perut rampingnya.
"Elus-elus biar gak sakit lagi,"
"Rara nggak ngadep mas?"
"Mas.. jangan banyak omonglah!" kesal Rara.
"Iya wis iya, maaf,"
"Hem,"
Telapak tangan mas Ali mengusap-usap perut sang istri, walaupun agak keberatan karena Rara tidur membelakanginya. Namun dia harus mencoba mengerti kali ini.
"Ra, itu nasi gorengnya gak dimakan?"
"Enak nggak?"
"Ya jelas enak, kan Rara sering beli di situ," salah satu tangan mas Ali mengusap rambut Rara.
"Yaudah deh mau," mas Ali membantu Rara untuk duduk bersender pada ranjang.
Laki-laki itu membuka bungkusan kertas minyak, hingga aroma bumbu menguar dan masuk ke indra penciuman.
"Ayo ak.. " ucap mas Ali mengisyaratkan agar sang istri membuka mulut.
"Kebanyakan mas.. " Rara memandang aneh pada gumpalan nasi yang ada pada sendok. Itu bukan porsi suapan untuknya.
__ADS_1
"Biar kenyang Ra,"
"Ya Allah, ya nggak cukuplah mas mulutku,"
"Segini?" mas Ali menyerok nasi lagi pada sendok.
"Gimana sih mas! masa gak hafal juga sama porsiku, " jengah Rara, padahal sudah beberapa kali suaminya itu menyuapinya.
"Mas lupa Ra,"
"Tau ah, lupa mulu
mas makan aja deh nasinya," Rara segera mengambil air minum lalu menarik selimut dan memejamkan mata kembali.
"Ra.. mas kan beli dua, masa mas semua yang ngehabisin," tangan laki-laki itu memegang pundak Rara yang membelakanginya.
"Bodo amat,"
"Ra.. jangan gitu lah," rayu mas Ali lagi.
"Tau lah mas, Rara ngantuk," tangan mas Ali dihempaskan begitu saja.
"Padahal mas tadi rela antri lama Ra, buat beli nasi goreng kesukaanmu," lirih mas Ali.
Kecewa? tentu saja, siapa yang tidak kecewa ketika sudah berusaha menyenangkan hati seseorang tapi malah disia-siakan.
Maklum, mas Ali baru kali ini membujuk perempuan yang lagi PMS, Laras sang adik dulu tak pernah ia bujuk sama sekali.
"Yaudah kalau gak mau," pasrah mas Ali, dan beranjak keluar.
Rara tetap pada posisi awal tidak menengok sama sekali, sampai beberapa menit menunggu tak ada tanda-tanda kalau suaminya akan masuk.
Dia membalikan tubuh, "Ke mana mas Ali?"
Beranjak dari ranjang lalu keluar dari kamar, menengok ke sana ke mari. Akhirnya melihat tubuh seseorang yang duduk di balkon.
Rara berjalan menghampiri, setelah sampai ia langsung duduk di samping sang suami. Kepalanya ia senderkan ke dada bidang tersebut seraya memeluknya.
"Ngantuk mas,"
"Tidur," mas Ali menjawab dengan acuh, dia melanjutkan makan nasi goreng tadi. Jadinya ia makan dua porsi.
"Hem,"
Rara hanya menjawab dengan gumaman, hais mas Ali memang terlalu banyak berharap pada istrinya yang sulit peka ini.
Dia mengira kalau Rara menyusulnya karena ingin minta maaf, eh ternyata tidak.
"Dingin mas," gumam Rara yang matanya sudah terpejam.
Mas Ali tak menghiraukan, ia mengayunkan tempat yang ia duduki itu. Sebuah ayunan dan didalamnya terdapat busa jadi nyaman jika dibuat istirahat berdua.
"Untung sayang.., jadi kayak jengkel tapi cinta.." monolog mas Ali seraya mengusap-usap kepala Rara agar tertidur pulas.
"Mas dingin.." keluh Rara mengeratkan pelukan.
"Iya-ya bentar, mas habiskan dulu nasi gorengnya,"
Perut mas Ali terasa begah ketika berhasil menghabiskan dua nasi goreng sekaligus. Pertanyaan dia tentang laki-laki yang gendut setelah menikah terjawab sudah.
Pastinya mereka bernasib sama kayak mas Ali ini, jika sang istri tidak bisa menghabiskan makanan. Maka sang suami harus rela menampungnya.
"Utututu tayang.. " dengan susah payah mas Ali mengendong si Rara yang sudah terlelap. Laki-laki itu tidak ingin istrinya terbangun.
Apalagi tangannya juga harus membawa bungkus bekas nasi goreng.
bersambung...
__ADS_1