Cinta Tulus Dari Ali

Cinta Tulus Dari Ali
Malam Apa ya?


__ADS_3

Langit sudah berganti malam dan cahaya rembulan kini mengambil peran untuk menyinari bumi.


Di kediaman Rara kini mulai senyap, meskipun sebagian para kerabat menginap tapi mereka sudah tidur di kamar yang telah disediakan.


Berbeda dengan dua perempuan yang sedang berdiri di kamar pengantin baru tersebut.


“Mereka kira-kira ngapain ya Ras?” tanya Maudi sambil menempelkan daun telinganya di pintu meskipun belum mendengarkan hal aneh apapun.


“Gak taulah dengar aja enggak,”


“Seharusnya sebelum begini kamu bolongin dikit pintuya, biar ada celah untuk mengintip,” lanjut Laras lagi.


“Tapi seingatku dulu ada celah di sini Ras,” jawab Maudi seraya mencari apa yang dimaksud.


“Mana? gak ada Di,”


“Ada kok aku masih ingat letaknya dekat dengan coretan ini,” untaian benang ruwet yang terbuat dari tinta itu merupakan hasil karya Rara di masa kecilnya dulu, dan Maudi masih ingat jika di sampingnya ada sedikit celah.


“Jangan-jangan yang ini Di,” tangan Laras menyentuh sesuatu yang lengket.


“Nah ini Ras, tapi ini apa kok buntet,” Heran Maudi, pasalnya celah itu tertutup oleh benda yang kira-kira seperti kain dan juga lengket.


“Lakban Di, pasti Rara sengaja masang beginian,”


“Iya! Emang sengaja dipasang


lagian kalian kenapa nguping di depan kamar orang!” dua perempuan tersebut seketika terkejut saat mendengarkan suara Rara.


“Kok Rara bisa tahu Di?” tanya Laras, padahal sejak tadi mereka sudah memelankan suaranya.


“Aku juga gak tahu

__ADS_1


kita kabur aja deh cari aman,” jawab perempuan itu dan langsung kabur begitu aja.


"Eh Maudi, tungguin!" seru Laras karena Maudi tiba-tiba meninggalkannya.


\*\*\*\*\*


"Kamu kok bisa tahu Ra kalau mereka bakalan ngelakuin ini?" tanya mas Ali ketika melihat sang istri tertawa puas.


"Mereka itu sangat kepo mas, jadi bisalah ditebak,"


'Kira-kira setelah ini ngapain ya?' batin Rara, saat suaminya sudah duduk di atas ranjang miliknya.


Perempuan tersebut juga ikutan duduk, tapi mereka masih sama-sama diam, sehingga suasana menjadi canggung dalam sekejap.


'Kenapa bocil ini semakin cantik aja sih? pengen megang pipinya, tapi takut kalau marah,' batin mas Ali.


Ya entahlah drama membatin ini kapan ujungnya. Padahal dari segi usia mas Ali sudah matang, tapi apalah daya kali ini nyalinya semakin ciut.


"Kado dari siapa aja tuh mas? kok banyak banget," akhirnya gadis belia tersebutlah yang membuka obrolan terlebih dahulu.


"Kan yang datang banyak Ra, ya kalik mas suruh nghafalin semua," jawab mas Ali sambil membantu Rara untuk membuka kado.


"Wah ada teflon mas!" seru Rara kegirangan ketika membuka salah satu kado yang berisikan perabotan dapur tersebut.


"Alhamdulillah..., lumayan bisa buat mas,"


"Bukan hanya masak aja mas, tapi buat gampar kamupun juga bisa kok," perempuan itu memainkan alisnya untuk mengajak sang suami bercanda.


"Jangan digampar dong sayang..


kan belum ngerasain malam pertama, ups!" mas Ali langsung menutup mulutnya, sungguh ceplas-ceplos hingga pikiran Rara jadi traveloka.

__ADS_1


"Bilang apa tadi mas?" Rara menanyakan ulang takutnya kalau dia salah dengar.


'jangan bilang kalau ngajak begituan malam ini, ya Allah ya robbi.. mama Rara belum siap' batin Rara terus menjerit-jerit.


"Hah enggak, em kita langsung tidur aja yuk dah malam," mas Ali menjadi gugup karena omongannya tadi.


'Alhamdulillah aman kayaknya, mana mungkin dia ngajak begituan. la grogian mulu kok' batin perempuan tersebut dengan lega.


"Bentar mas, tak buka kado dari Maudi dulu soalnya aku penasaran dari kemarin," Rara mengambil kotak bermotif pemberian dari sepupunya.


Ketika kotak dibuka penampakan yang pertama kali dilihat yaitu kain merah mencolok berbahan tipis, Rara jadi heran sebenarnya baju atau apa ini?


Mas Ali yang sudah tahu langsung mencegah sang istri, "jangan dibuka, sudah taruh kembali aja," cegahnya kepada Rara sebelum membuka lipatan kain itu.


"Kenapa sih mas? hanya beginian aja kok," Rara menjawab dengan enteng karena dia mengira mungkin hanya baju santai atau apa. Tapi ternyata...


"Astagfirullah... " jantungnya langsung berdetak kencang, dia tidak habis fikir kalau sepupunya itu akan memberikan kado sebuah lingrie. Begitupun dengan mas Ali, laki-laki tersebut seketika memalingkan kepalanya.


"Kan mas dah bilang jangan dibuka," ucap mas Ali sambil mengambil alih kotak itu dan merapikannya, meskipun dengan mata yang agak dipejamkan.


"Rara gak tahu kalau kadonya begituan," bantahnya seraya menutupi wajah dengan kedua tangan, mungkin saking malunya.


"Yaudah ayo kita tidak aja, gak usah dipikirkan,"


"Rara tidurnya samping tembok, mas Ali di pinggir aja," kebiasaan bocil itu hingga dewasa kini belumlah berubah, ia masih senang sekali jika tidur menempel pada tembok. Jadi ranjangnya sudah nempel gitu nanti Rara tinggal mepet aja pada tembok.


"Iya sayang.. "


Seharusnya yang ditempelin itu suamimu Ra, bukan malah tembok. Hadeh....


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2