Cinta Tulus Dari Ali

Cinta Tulus Dari Ali
Karma untuk Rara


__ADS_3

Memeluk Rara dengan erat sambil mengusap-usap punggungnya, lalu memegang pipi mulus itu, bayangan itu seolah nyata hingga mas Ali tersenyum sendirinya.


Padahal bukan mengusap punggung Rara, tapi ia mengusap perut dan bukan pipi mulus sang istri yang dipegang, melainkan pipi sendiri dengan sedikit ditumbuhi jambang.


Sedangkan di kamar perempuan itu sudah menutup tubuhnya dengan selimut, sempat berfikiran nasib sang suami, namun ia hempaskan fikiran itu begitu saja. Toh hukuman buat mas Ali cuma sebentar, dan Rara akan menyusulnya di luar.


"Masih kurang satu jam, tidur sebentar dululah," monolog Rara, ia berniat ingin menghampiri suaminya setelah satu jam kemudian.


Kelopak mata perempuan itu sedikit demi sedikit mulai terpejam, ya meskipun sepi tanpa adanya pelukan dari sang suami tapi ia harus bisa, karena sesuai peraturan yang dibuat Rara. Jangan menghampiri mas Ali sebelum satu jam berlalu.


Secara berangsur nafas Rara keluar masuk dengan teratur, itu tandanya ia sudah terbawa di dunia mimpi. Hingga tanpa sadar kalau ada mahluk yang sedari tadi mengawasi.


Berwarna hijau dan mempunyai empat kaki, kata orang-orang itu sih tidak menyeramkan, tapi berbeda dengan Rara yang sangat takut pada salah satu jenis serangga tersebut.


Serangga yang biasa dimainkan ipin-upin, kata mei-mei sih bisa diajari kungfu. "cangcongkrang-cangcongkrang bagaimana upin tidur?"


Di daerah Rara biasa disebut 'Walang Kadong' tidak menggigit tapi perempuan tersebut amatlah takut jika bertemu mahluk kecil itu.


Lompatannya cukup jauh yang bermula di atas meja kini sudah berada di atas rambut Rara. Menggerak-gerakan kaki, seolah ingin membangunkan sang empu.


Surai hitam itu ikut bergerak dan berhasil mengganggu kenyamanan Rara, telapak tangannya ia gunakan untuk mengibas helai rambut yang mengganggunya, walaupun dengan mata yang masih terpejam.


Cukup nyenyak ya ternyata, belalang itu melompat agak rendah lalu berlandasan langsung di samping hidung Rara. Kakinya digerakkan kembali sampai tiba mata perempuan tersebut terbuka secara perlahan.


Samar-samar dia melihat ada hijau-hijau yang ada di depan mata, dan diamati dengan intens sambil mengumpulkan nyawanya. Mempunyai empat kaki lalu mata itu.., Rara bisa mengenalinya. Iya ia ingat meskipun harus memandang mata hewan tersebut terlebih dahulu.


"Wa-walang kadong..." pekiknya, menggelengkan kepala dengan cepat dan tangan juga ikut membantu menghempaskan hewan itu.


Mata yang masih mengantuk ia buka paksa, agar bisa melihat ketika berlari dari ranjang. Selimut tetap menempel di kakinya hingga menjerat saat ia mulai melompat dari ranjang.


Sreg


Brakk


"Mas Ali... " sebagian tubuhnya tergulung selimut sampai tidak bisa berkutik.


Dia menengok ke belakang karena takut jika dikejar belalang itu.


"Mas.." teriaknya lagi.


Laki-laki yang belum tidur dengan sempurna itu langsung terbangun dan lari terbirit-birit, ketika mendengar teriakan sang pujaan hati.


Pintu kamar langsung ia dobrag, tapi yang membuat author heran. Kenapa tidak sejak tadi aja didobraknya mas... Dari pads tidur di luar kan.

__ADS_1


"Mas Ali.. " rengek Rara saat melihat sang pahlawan tiba.


"Astagfirullah.. kamu kenapa Ra?" mas Ali mendekat dengan khawatir, ia melepaskan selimut dan membantu Rara untuk berdiri.


"Itu ada belalang mas, Rara takut.." jarinya menunjuk ke belakang tapi wajahnya ia sembunyikan di dada bidang mas Ali.


"Mana? gak ada kok,"


"Itu loh mas, di sana,"


"Nggak ada yo dek.."


Rara menengok sedikit ke belakang, di tempat tidur maupun sekitarnya memang tidak ada. Tapi ternyata kini hinggap di meja rias Rara.


"Argh.. itu mas! di meja," ia panik dengan sendirinya, kakinya terhentak-hentak karena takut.


"Healah sama belalang aja takut Ra,"


Karena melihat Rara yang terus merengek, akhirnya mas Ali menggendong istri kecilnya seperti koala.


Ya nggak ngerasa keberatan sih, mas Ali kan kategori big boy, dan tubuh sang istri masih imut-imut kayak marmut.


Tangan Rara memeluk erat leher mas Ali, dan kedua kakinya ia lingkarkan di pinggang pria tersebut.


"Terus gimana mas ngambilnya Ra?" heran mas Ali.


"Rara takut.. " ia memejamkan matanya dan bersembunyi di leher sang suami.


"Dah diam aja, jangan bergerak nanti jatuh lagi," satu tangan mas Ali memegangi tubuh Rara, agar tidak terjatuh dalam gendongan.


Berjalan dengan pelan dan berhasil memegang tubuh belalang itu. "Dapat Ra,"


"Ya buang sana hlo mas.."


Mas Ali membuka jendela sedikit lalu membiarkan belalang itu meloncat di dinding luar.


Dia kembali menutupnya, "Dah, gak usah takut lagi,"


Rara tidak fokus dengan apa yang dikatakan mas Ali, bocah itu terhipnotis akan aroma leher sang suami.


Sepertinya mas Ali memakai varian parfum yang berbeda-beda di setiap inchi tubuhnya.


"Ra," mas Ali hendak menurunkan sang istri dari gendongan.

__ADS_1


Tapi tiba tiba..


"Aw.. sakit Rara!" pekik mas Ali sampai tak sengaja melempar Rara di kasur.


"Eh maaf sayang, Rara gak papakan?" sesal mas Ali seraya memegang leher bekas gigitan bocah itu.


Rara menggeleng, "Mas pakai parfum apa?"


"Gak tahu varian apa? langsung beli aja kemarin,"


"Emangnya kenapa?" lanjut mas Ali sambil membantu sang istri untuk merebahkan badan.


"Rara suka baunya kayak permen," dia mengendus-endus lagi.


"Rara beneran suka?"


"Ho'oh tenan mas, Rara suka,"


"Nah parfum ini bakalan lebih wangi pas terkena keringat Ra, kalau nggak terkena keringat gak akan awet. Bahkan bisa juga hambar," jelas mas Ali.


"Rara gak suka kalau aromanya hilang,"


"Nah kalau gitu bantu mas biar bisa keringetan sayang.. "


"Caranya gimana mas? soalnya ini dah malam, masa mas Ali olahraga malam-malam begini," jawab Rara dengan polosnya, tidak tahu aja kalau ada modus di balik ucapan suaminya.


"Rara cukup nurut aja, nanti mas juga keringatan sendiri kok,"


"Hah," raut muka Rara yang masih terbengong, dan rambut sedikit acak-acakan apalagi mata sayu karena habis bangun tidur. Menambah gemas bagi mata yang memandang.


Seperti mas Ali, rasanya ingin segera melahap istrinya detik itu juga.


Tangan berurat tersebut memegang dagu sang istri, lalu mendekatkan bibirnya hingga menempel sempurna. Meresapi tanpa adanya balasan dari Rara.


Perempuan itu belum paham juga ternyata, makanya dia masih diam, hingga sampai kancing baju bergambar winie the pooh terlepas baru dia sadar.


Kalau suaminya bakalan mengajak ibadah malam, ingin menolak tapi dah terlanjur. Karena tangan mas Ali sudah berjelajah kemana-mana.


"Ra, mau ya?" ijin mas Ali dengan suara parau.


"Em.. " mata Rara melirik ke sana ke mari, dia masih malu-malu kucing.


"Argh.. kelamaan kamu Ra," capek mas Ali menunggu jawaban, langsung saja sat set wa wet.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2