
Pov Author
"Mbak kamu merasa dag-dig-dug-ser gitu nggak?" tanya Maudi kepada sepupunya.
"Biasa aja kok," jawab Rara, dia sedang dirias sama MUA sebelum menjalankan akad.
"Hla kok aneh gini, seharusnya kamu ndredeg mbak,"
"Iya- ya Di," Rara menjadi keheranan, terkadang ia merasa termor waktu ketemu sama Ali. Namun pas dihari sakralnya malah biasa aja.
"Tak doakan aja deh semoga lancar,"
"Amiin.., tapi males Di,"
"Astagfirullah.., malas kenapa loh mbak? gak boleh ngomong begitu,"
"Maksudku bukan begitu Di, kan seharusnya cuman di KUA nggak harus pakai rame-rame begini," ya diawal permintaan Rara cuma diiyain saja, tapi tiba-tiba malah dibuat acara serame ini. Perempuan tersebut hanya tidak ingin terlalu capek jika menghabiskan banyak waktu di pelaminan.
"Ciee.. yang sudah gak tahan untuk ibadah bareng," canda Maudi.
"Halah ngomong apasih kamu," rona merah tiba-tiba timbul di pipi Rara.
__ADS_1
"Tuhkan jadi malu-malu garong,"
"Garong? apaan lagi to itu Di?"
"Ya kucing garong itu loh mbak, masa gak tahu,"
"Heh.. sudah, Maudi jangan gangguin mbakmu nanti bisa berubah jadi kucing beneran dia," mamahnya Rara tiba-tiba datang dan ikut menimpali perkataan keponakannya.
"Ih mama gak lucu tau nggak.. " rengek Rara.
"Nanti malam pasti mas Ali ketakutan lihat kamu berubah jadi kucing garong mbak," Maudi terus mengejek Rara.
"Iya terus kamu bakalan aku makan sampai habis tanpa tulang,"
ayo Maudi kita cabut, takut nanti kalau dimakan Rara," mama Rara mengajak Maudi pergi dari kamar itu.
Di tempat calon mempelai Pria, Laras sedang menenangkan sang abang. Jantung Ali terus saja berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Tarik nafas.. terus hembuskan bang," Laras mencoba memberikan intruksi.
"Tetap saja masih ndredeg Ras," sudah beberapa kali Ali melakukan hal seperti itu, namun tetap saja sama. Keringat terus saja bercucuran di dahi. Sampai laras capek membersihkannya.
__ADS_1
"Ya Allah.. tisu sebanyak ini buat apa tadi Ras?" tanya bapaknya Laras ketika ingin mengecek sang anak yang sebentar lagi akan menikah.
"Bang Ali tuh pak, katanya ndredeg mulu. Sampai pegel nih tanganku bersihin keringetnya." bocah remaja tersebut mengadu kepada sang bapak.
"Hoalah.. bapak dulu nggak seperti kamu loh, santai aja jangan berfikiran yang macam-macam. Agar bisa lancar nanti ngucapnya," pria yang sudah beruban tersebut mencoba menenangkan anak laki-lakinya.
"Ali juga gak tahu pak, jantungnya sulit diatur,"
"Sudahlah Ras kamu maklumin aja abangmu ini, namanya juga baru mengenal perempuan," ucap bapaknya Laras sambil terkekeh.
"Bang, nanti malam pastinya kamu bakalan ngelakuin ibadah loh sama Rara masa ya juga ndredeg. Jangan malu-maluin adikmu ini dong.. "
"Huss bocah masih bau kencur ngomongin hal begituan, gak boleh bisa dosa nanti," Ali sudah tahu maksud dari perkataan sang adik.
"Ya benar to apa yang adikmu bilang, nantikan kamu bakalan menjadi imam pas ibadah termasuk shalat sama istrimu, ya masa terus ndredeg gemeteran kayak gini," Bela bapaknya Laras.
"Nah kan, pikiranmu itu loh bang yang keburu ngeres,"
"Owalah ngeres to Ras, ambilkan sapu coba Ras biar bapak bersihkan agar tidak ngeres," canda bapaknya Laras.
Kata 'ngeres' dalam bahasa jawa itu berati kotor jadi bapaknya nyuruh ngambil sapu agar otak Ali bisa bersih tanpa memakai detergen. wkwkwk, author cuma becanda ya mas Aliii jangan diambil serius. Tapi jika diseriusin Authornya juga mau kok 😆
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih bagi yang masih stay membaca, mohon maaf jika sudah beberapa bulan author hilang tanpa kabar, karena masih jadi maba dan tugasnya juga numpuk. Semoga bisa ngatur waktu agar bisa meneruskan cerita ini 🙏😻