Cinta Tulus Dari Ali

Cinta Tulus Dari Ali
Janda Berambut Pirang


__ADS_3

Kafe dengan desain yang terbuka membuat nuansa malam menjadi nyata, terlihat kerlap-kerlip bintang ditemani oleh sang bulan.


Terlihat banyak sekali pengunjung di tempat tersebut, mungkin karena terkenal akan menu khasnya yang enak.


"Jangan cemberut terus dong Ra.. "


Istrinya itu menjawab dengan tatapan jengah, dia masih kesal karena tadi belum puas bermain air.


"Mas fotokan deh, kamu pose ya," rayu mas Ali sambil membuka kamera hp.


Rara menghadap tapi tidak menuruti ucapan sang suami, masih menekuk dan enggan bergaya apapun.


Cekrekkk


Suaranya nyaring hingga banyak tatapan mata yang mengarah ke laki-laki tersebut. Mas Ali belum mematikan deringnya, dia jadi malu sendiri.


"Lagi yuk Ra," setelah mematikan, diarahkannya lagi kamera ke sang istri.


Rara berpaling tanpa ada pose sedikitpun, tapi mas Ali berhasil mengambil keindahan tersebut. Sedikit-sedikit dia juga pintar jika perihal memfotokan, tetapi suaminya Rara itu malah tidak suka berfoto.


"Mas post ke story W'a ya,"


Mendengar ucapan mas Ali, Rara langsung merebut hpnya dan melihat tangkapan hasil kamera tadi.


"Gimana, bagus kan?" tanya mas Ali dengan bangga.


"Jelek," lain dimulut lain juga di hati, awalnya Rara ingin menghapus, karena mengira fotoya jelek. Tetapi setelah melihat malah pengen segera dia edit di capcut.


"Halah..  Bilang aja bagus, ayo foto lagi," mas Ali terus membujuk Rara dengan hal itu.


Karena dia tahu jika sang istri sangat hobi foto maupun selfi, biasanya kalau difotokan hanya satu kali Rara belumlah puas, pasti minta sampai ratusan kali.


Ya, mas Ali menunggu permintaan Rara yang bakalan muncul, tetapi jurusnya juga tak mempan. Bocahnya itu masih menekuk wajah.


Rara berpangku tangan, menangkup dagu karena bosan menunggu pesanan. Wajahnya berpaling ke kanan menatap gelapnya malam, apalagi tempat dia duduk berada di pinggir sendiri.


Momen itu tetap diabadikan mas Ali, meskipun Rara tidak berpose. Tapi menurutnya sangatlah bagus dan lucu.


Pengunjung di sini beraneka ragam, ada yang dari luar kota maupun penduduk daerah sini. Jadi cara berpakaian mereka juga berbeda.


Termasuk wanita yang perkiraan berusia 28 tahun itu, terlihat pakaian minim berwarna maron tanpa lengan terpasang indah di tubuhnya.


Tubuh berbentuk bag gitar spanyol dengan tinggi yang seperti model papan atas, hingga banyak pasang mata terutama laki-laki melihat wanita itu sejak memasuki kafe tersebut.


Tapi berbeda dengan mas Ali, dia hanya memalingkan mata dan melihat suasana yang lain.


"Hem..  Kayaknya seneng tuh lihat yang seger-seger," ketus Rara,  dia juga menyadari kalau ada perempuan cantik yang lewat.


"Siapa sih yang gak suka seger-seger,"


"Dasar laki-laki!"


"Laki-laki emang sama aja Ra, tetap suka yang segar-segar. Masa ada es tetap gak diminum,"


Pelayan datang membawakan pesanan mereka berdua. Rara jadi semakin kesal ketika tahu kalau mas Ali mulai mengerjainya.

__ADS_1


"Tuh janda kembangnya gak sekalian dilihat," ucap Rara ketika pelayan sudah menjauh.


"Kok tahu kalau janda?"


"Iya tahulah," Rara melihat wanita tadi dari atas sampai bawah, kulitnya mulus bag porselen seperti full perawatan. Jadi insecure sendiri.


"Dari mana?"


"Ngira-ngira sendiri, rambutnya aja pirang," Rara jadi teringat dengan kata-kata yang lagi trend itu, 'janda berambut pirang'


"Ada-ada aja kamu Ra," mas Ali tersenyum seraya mengusap rambut sang istri gemas.


"Gak mungkin masih gadis tubuhnya kayak gitu," bantah Rara, dia mendadak jadi iri, makanya berucap demikian.


"Heh..  Gak boleh bilang begitu,"


"Halah..  Pasti mas suka kan ngeliat yang begonoh,"


"Suka, suka banget ngelihat tubuh cantik dan senyumannya manis kayak kamu,"


"Aku sama tante itu cantikkan siapa?"


"Cantik semua,"


"Tuh kan, pasti cantikan tante menor," mata Rara terus melihat wanita itu.


"Mas gak omong hlo ya.. "


"Pasti di dalam hati bilang begitu,"


"Tahu kok, laki-laki normal pasti sama aja"


"Cantikan Rara kok," jawab mas Ali tersenyum.


Istrinya masih melihat ke arah lain, dan wanita tadi kini diam-diam malah melihat mas Ali.


"Tapi dia kan tinggi terus bodynya juga bagus, beda sama Rara," dia agak mengeraskan suara, niat hati ingin memberitahu perempuan tadi. Jika mas Ali adalah miliknya.


"Halah.. Dah tua kok, masih enakan Rara kalau dipandang," mas Ali mengusap-usap rambut sang istri lagi.


"Beneran?"


"Yakin tuh?"


Tanya Rara beruntun seraya mata melihat tante itu dari bawah hingga ke atas, yang dilihat jadi salah tingkah dan malah melihat penampilannya.


Apakah ada yang salah dari tubuhnya? Kenapa bocah kecil itu melihat seperti menguliti. Fikir tante tersebut.


"Ho'oh tenan.. "


"Ini makanannya kapan sih datangnya?" jengah Rara.


"Sabar.. Kan masih dimasak dulu," ucap mas Ali, dia bolak-balik memfoto sang istri.


Rara diam aja sudah malas menanggapi, entah tuh foto mau di post ke mana ya biar terserah dia.

__ADS_1


"Coba kepalanya miring ke sana Ra,"


"Tau lah gelap," Rara malah menelungkupkan kepala di meja.


"Yaudah kalau gak mau difoto, mas foto tante itu aja deh.. "


"Noh sonoh, mumpung sudah ready tuh," dia tendang kaki mas Ali dari bawah.


"Astagfirullah.. Punya istri bar-bar sekali ya Allah," mas Ali mengusap-usap lututnya yang terasa nyeri karena ditendang kaki Rara.


"Permisi mas.. " tiba-tiba ada suara yang mengalun lembut datang.


Sontak mereka mendongakkan kepala, mata Rara menelisik dan bertanya-tanya mau apa tante itu kemari?


"Mohon maaf saya ijin ngambil tisu," tangan mulusnya terulur mengambil tisu yang ada di sebelah Rara.


Mata mas Ali menunduk dan menyibukkan diri dengan HP, berbeda dengan Rara yang terus menatap, di hatinya malah pengen menjadi seperti tante itu.


Perempuan tersebut membandingkan kulitnya, ah ternyata dia kalah putih. Masa harus suntik vitamin C?


"Heh malah bengong," senggol mas Ali yang menyadarkan Rara.


"Putih banget ya mas,"


"Gak tahu,"


"Ih... Masa gak tahu, padahal tadi ke sini,"


"Mas kan sibuk ngedit foto Ra,"


"Kalau melihat emangnya boleh?" goda mas Ali sambil menaik turunkan alisnya.


"Emboh!"


"Kulitku gelap banget ya mas?" tanya Rara kemudian.


"Masih hitaman tangan mas Nih," suaminya menunjukkan tangan yang bersawo matang.


"Tapi masih putihan tante itu mas.. "


"Yaudah nanti beli body care,"


"Mana manjur nyatanya tetap kalah putih,"


"Terus pengennya Rara gimana?"


"Pengen putih,"


"Iya berati beli body care kan?"


"Tapi kurang putih kalau makai itu," Rara kesal, suaminya tersebut belum mengerti juga.


"Mas gak tahu Ra caranya gimana, dah gini aja. Rara cari cara agar bisa mencerahkan kulit itu gimana," mas Ali jadi ikut pusing sendiri.


Padahal menurutnya kulit Rara sangatlah putih dari pada temannya yang lain, bahkan Laras sang adik juga kalah dengan Rara.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2