
Waktu cepat sekali bergulir, yang tadinya siang kini menjadi malam. yang awalnya sayang sekarang malah ngilang.
Eh, mas Ali kagak gitu ya. Author menciptakan tokoh beda dari yang lain kok, tapi othor cuma nyindir cowok yang kek gitulah pokoknya, halah skip sudah.
Gemerlap bintang tak ingin menampakkan diri, mungkin sedang berselimut awan untuk menghangatkan. Karena langit terus saja mengguyur tanah hingga menciptakan hawa dingin di sekitarnya.
Sepasang anak Adampun juga sedang bersembunyi di balik selimut yang tebal, dan sibuk dengan acara televisi.
Kaki mungil Rara bergoyang sana-sini lalu menyenggol kaki suaminya. Mata tetap fokus ke depan tapi beda dengan kaki, mereka tidur tidak berpelukan. Entah bagaimana kok tumben banget, belum ada yang memulai untuk berdempetan kayak perangko seperti kemarin.
Mata Rara melirik sang suami yang masih fokus dengan tv, lalu kakinya menyenggol lebih keras, tapi ini bukan nyenggol deh tapi kayak nendang.
"Apa sih Ra?" tanya mas Ali kemudian.
"Gabut,"
"Yaudah nonton tv aja," laki-laki itu tetap fokus dengan tayangan yang ada di depan itu.
"Pengen tidur,"
Tangan mas Ali menarik kepala Rara tapi bukan hanya kepala saja deh, tubuh juga ikut dia gapai untuk didekatkan ke badan tegapnya.
"Tapi gak ngantuk," ucap Rara seraya mendongakan kepalanya, karena posisi tubuh miring sedangkan mas Ali masih terlentang dan lengan dijadikan bantalan untuk istri kecilnya.
"Minum obat aja gimana?" mata elang itu menatap Rara.
"Huh.. besok aja deh mas," pasalnya Rara belum meminum obat setelah makan malam. Dia tadi terus-terusan merengek untuk satu waktu aja tak minum obat.
"Sebenarnya minum obat harus tepat waktu loh Ra," jari berurat tersebut mengusap surai hitam sang istri, membujuk secara perlahan agar Rara bisa mengerti.
"Mas.. " bocah itu malah menanggapi dengan rengekan. Dia benci dengan ramuan yang berasa pahit tersebut.
"Pengen sembuh nggak?"
"Kan dah sembuh,"
"Kalau kambuh lagi gimana?"
"Ya jangan berdoa begitu!" dipukulnya dada mas Ali.
"Sayang.. "
"Mas Ali.. " Rara menirukan nada suaminya.
"Ayo minum obat," tiba-tiba mas Ali mendudukan tubuhnya, hendak beramjak mengambil obat Rara.
"Nggak mau!" bocah itu menarik tangan sang suami dengan kencang hingga tubuh tegap tersebut bisa terhuyung di ranjang.
Rara segera menimpanya, dan ia duduk di perut mas Ali.
"Mas Ali... " wajah mulusnya mencoba mendekat, tak peduli dengan jantung yang mulai bertalu-talu.
__ADS_1
Semakin dekat secara perlahan sampai kini hembusan nafas Rara bisa dirasakan oleh laki-laki yang selalu mencintainya itu.
"Mas Ali.. minum obatnya besok aja ya?" bisik Rara di telinga mas Ali seperti sengaja menggoda sang suami.
Ya sepertinya bocah cilik itu mulai pandai untuk merayu maupun menggoda, kan Rara suka baca novel tuh. Mungkin novel berbau ++ juga ia terabas, bisalah dijadikan referensinya.
"Ra.. " lirih mas Ali saat merasakan lehernya d*kec*p oleh sang istri.
"Tandanya kurang bagus mas," hasil yang dicetak Rara ternyata tak secantik tanda merah bikinan mas Ali.
Satu dua tiga sampai kelima Rara membuat berharap bisa sempurna, tapi tetap saja sama. Sedangkan nasib mas Ali jangan ditanya lagi. Wajahnya sudah memerah karena tersiksa akan tingkah sang istri.
Jari-jarinya menggenggam erat kepala Rara seperti mengisyaratkan agar sang istri segera berhenti.
"Stop sayang.. " pekik mas Ali kemudian, ketika Rara mencetak tanda lagi.
"Hasilnya jelek mas," dengan tampang polosnya ia berucap begitu.
"Sudah hentikan, itu cukup bagus tandanya," mas Ali mencoba mengatur nafas.
"Aku penasaran mas dengan perut kotakmu itu, kok bisa kotak-kotak kayak batako itu gimana?"
"Bentuknya biasa, tinggal rajin olahraga nanti juga bentuk sendiri," mas Ali mencoba menurunkan Rara tapi bocah itu tetap bertahan.
"Rara pegang ya?" perempuan tersebut begitu penasaran dengan bentuk kotak-kotak seperti artis korea yang pernah ia tonton.
Meskipun waktu kemarin ia sudah menyentuh perut padat itu tapi dia ingin memegang lagi.
"Ih pelit banget," tanpa menanggapi ucapan sang suami, Rara langsung menyingkap kaos laki-laki itu. Lalu menyentuh perut kotak-kotak tersebut.
Mas Ali terus beristigfar, dicegahpun juga percuma Rara sangatlah keras kepala. Ia biarkan perut six packnya disentuh sang istri. Rasa penasaran bocah itu cukup tinggi, ingin mengecek apakah perut kayak batako tersebut juga keras?
Aneh memang, kan kemarin sudah memegang tapi rasa penasaran tetap saja bergelayut.
Hingga tanpa diduga mas Ali menurunkan Rara, dan mengukung tubuh mungil itu, lalu melakukan apa yang ingin ia lakukan dengan pasangan halalnya.
Entah sadar atau tidak, karena di fikiran mas Ali berusaha untuk menahan rasa itu sampai Rara sembuh. Tapi kali ini dia tidak bisa menahannya.
Sepertinya langit mendukung tindakan laki-laki itu, guyuran yang sampai tanah terus saja diturunkan tanpa henti, bahkan semakin deras.
"Raraku sayang.. " lihir mas Ali dengan buliran keringat yang mulai membasahi.
Secara perlahan tapi pasti, ia tidak ingin terlalu cepat-cepat, karena masih khawatir dengan kondisi sang istri.
...----------------...
"Kamu baik-baik saja kan sayang?" pertanyaan ini terus berulang sejak bangun tidur hingga sekarang, saat mereka akan keluar belanja perabotan beserta hp buat Rara.
"Ya Allah mas, capek aku jawabnya," kesal Rara.
Mas Ali takut karena kejadian semalam, nanti sang istri malah panas kembali. Dia menyesal kenapa tadi malam tidak bisa menahannya sampai menyergap Rara begitu saja.
__ADS_1
"Ayo mas," ajak Rara yang sudah berdiri di samping motor mas Ali.
"Eh iya ya," lamunan laki-laki itu terbuyarkan lalu segera menyusul sang istri, takut kalau Rara nanti ngamuk karena nunggu kelamaan.
Di perjalanan mata Rara diserang kantuk, angin sepoi-sepoi menerpa rambutnya yang dibiarkan tergerai, dan hawa sejuk serasa menghipnotis kelopak matanya agar segera terpejam.
Ia mengeratkan pegangan di pinggang mas Ali, dan salah satu tangan laki-laki itu menggenggam tangan sang istri.
"Mas ngantuk," ucap Aleria seraya menyandarkan kepalanya di punggung tegap tersebut.
"Pejamkan aja matanya," mas Ali semakin mengeratkan genggaman agar jika Rara tidur beneran tidak bakalan jatuh.
Tadi pagi Rara sudah meminum obatnya, dan efek dari obat pasti ada rasa kantuknya ditambah bocah itu tadi malam diajak lembur sama mas Ali. Jadi ya ngantuk kali ini berkali-kali lipat.
Beberapa menit akhirnya mereka sampai di pusat perbelanjaan tersebar di kotanya. Aneka perabotan, elektronik dan kebutuhan lainnya tersedia di sini.
"Nanti beli hp yang berapaan mas?" tanya Rara ketika berjalan menuju tempat penjualan benda canggih tersebut.
"Terserah Rara mau yang tipe gimana," mas Ali merangkul sang istri, tinggi mereka berbeda jauh.
Tinggi Rara tak sampai pundak sang suami, entahlah sebenarnya memang mas Ali yang terlalu ketinggian atau hanya Rara saja yang terlalu pendek.
"Yang murah ajalah mas, penting bisa dibuat selfi dan ramnya besar," ucap Rara yang sudah memasuki tempat itu
"Selamat datang kakak, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu karyawan ketika mereka berdua baru melihat etalase.
"Mau yang merek apa sayang?"
"Boleh saya lihat tipe hp Op*o kak?" tanya Rara ke karyawan tersebut.
"Boleh kak di sini aneka tipe hp kami sediakan, mari kak ikut saya,"
"Bentar mbak," ucap mas Ali yang enggan mengikuti langkah karyawan itu.
"Saya mau lihat hp yang ini," mas Ali menunjuk salah satu hp di etalase yang menarik perhatiannya.
"Baik kak, ini Ip*ne tipe-" karyawan perempuan tersebut mulai menjelaskan segala kelebihan hp tersebut.
Rara ketar ketir ketika mendengarkan, kemungkinan harganya tidak main-main. Apalagi logo apel dimakan secuil itu terkenal dengan harganya yang mahal. Bahkan temannya di sekolah hanya mampu beli second.
"Kali ini ada diskon kak yang normalnya 10juta dua ratus kini cuman 10juta saja," ucap karyawan itu kemudian.
"Yang tipe op-" Rara meminta merek yang lain karena sudah pening mendengar harga tersebut. Tapi mas Ali sudah memotongnya.
"Bungkus ini aja mbak," putus mas dengan yakin.
"Mas.. " lirih Rara memprotes akan tindakan sang suami.
"Ssttt, doakan saja rejeki mas selalu lancar," mas mengusap-usap rambut sang istri.
bersambung...
__ADS_1