Cinta Tulus Dari Ali

Cinta Tulus Dari Ali
Sprei Usang


__ADS_3

"Mas,"


"Dalem... dek.. "


"Biyuh.., pakai embel-embel 'dek' segala," Rara mengulum senyum.


"Biar lebih uwuw gitu hlo dek.. " mas Ali sedikit mengibaskan sprei yang terkena bercak merah.


"Pelan ajalah mas, sampai muncrat nih busanya,"


"Biar mas bila lihat Ra, nodanya dah hilang apa belum,"


Mas Ali sedang mencuci pakaian, sekaligus sprei maupun baju sang istri yang terkena noda. Sebelumnya Rara sudah bangun pagi untuk menyuci, tapi sudah keduluan mas Ali.


Pakaian tanpa noda ditaruh di mesin cuci, sedangkan yang ada noda membandel dikucek oleh tangan mas Ali.


"Sini biar Rara aja,"


"Halah gak usah, ini sudah bersih kok tinggal membilas,"


"Rara yang bilasin ya mas," ucap bocah itu antusias. Sejak tadi ia merasa gabut karena tidak diperbolehkan memegang apapun.


"Nggak usah nanti Rara capek," cegah mas Ali seraya mengecek baju yang masih tergiling.


Satu persatu rumah ini sudah terisi dengan perabotan, sejak awal mas Ali membelinya secara ofline bersama sang istri. Namun yang sebagian dibeli secara online, karena dia ingin memanfaatkan waktu libur kerjanya di rumah berduaan dengan Rara.


"Capek apanya sih mas, hanya bilasin aja kok


toh Rara juga pernah nyuci pakai tangan," perempuan itu nekad mengambil sprei yang masih banyak busanya tersebut.


"Rara.. "


"Dah sana-sana kamu bocor lagi tuh," tangan mas Ali mengambil alih.


"Hah, masa sih mas?" Rara membolak-balikan tubuh, dengan kepala menengok ke belakang.


"Kapan sih mas bohong Ra,


cepat sana gih ganti, nanti yang kotor sekalian bawa ke sini biar mas cuci,"


...----------------...


"Akhirnya selesai juga," mas Ali masuk kamar seraya merenggangkan ototnya.


"Dasar tukang bohong," sindir Rara.


"Lah, gak jadi bocor ya Ra?" tanya mas Ali merasa tak bersalah sama sekali.


"Gentengnya tuh mas bocor gede!"


"Owalah yaudah nanti mas benerin," jawab mas Ali dengan polosnya.


"Hais mbohlah mas," Rara membalikkan tubuhnya untuk tengkurap.


"Hlo! spreinya yang tadi mana Ra?" panik mas Ali saat menyadari sprei usang miliknya sudah terganti.


Dia mencari di sudut-sudut kamar, rak meja rias, maupun lemari. Tapi nihil tidak temu jua.


"Rara di mana spreinya?" mas Ali mengguncang pelan pundak sang istri.


Baru saja dia merasa lega karena segala pekerjaan rumah sudah terselesaikan, tapi kini malah dikejutkan oleh sprei lusuhnya.

__ADS_1


"Biasa aja kali mas, toh spreinya sudah tipis banget,"


"Bagusan sprei punya Rara nih malah, gambarnya winnie the pooh," Rara membanggakan sprei miliknya. Tadi dia menyuruh Maudi untuk mengambilkan sprei di rumahnya.


"Terus sekarang di mana Ra spreinya?" tanya mas Ali frustrasi.


"Ya aku buanglah mas di belakang,"


"Astagfirullah Rara! kamu tega banget sih Ra sama mas.. " ucap mas Ali mencoba bersabar, dengan tergesa ia menuju belakang rumah.


Rara heran dengan tingkah suaminya itu, toh sudah lusuh kenapa harus dipertahankan?


Dia mengikuti mas Ali ke belakang dan melihat laki-laki itu yang sibuk mondar-mandir mencari kain kesayangannya.


"Kok taruh di mana Ra? ya Allah.. "


"Tadi di situ mas, sebelahnya pohon,"


Mas Ali melihat ke arah situ lagi dan mengacak-acak sampah plastik yang sebagian telah terbakar.


"Di sini Ra katamu?" tanya mas Ali memastikan lagi.


"Iya mas pokok di situ," ucap Rara tanpa niat membantu sama sekali.


"Ya ampun Ra, sudah jelas-jelas mas tadi bakar sampah di sini, dan spreinya malah kok taruh di dekatnya,"


"Kamu berniat membakarnya Ra?" sambung mas Ali dengan penekanan.


"Ya gak niat sih mas, cuma pengen nyingkirin aja,"


Mas Ali tidak menghiraukan ucapan sang istri, dia fokus mengkorek-korek tumpukan sampah plastik yang mengakibatkan debu dari abu tersebut sedikit berterbangan.


Hingga tangannya menemukan benang yang tak sengaja menyangkut di kukunya, lalu mencari asal-muasal benang itu. Matanya dapat melihat sebuah kain yang sedikit menghitam dan terkoyak karena terbakar.


"Ya ampun mas, masa karena sprei buluk aja sampai nangis begitu," ejek Rara.


"Sprei ini sangat berarti Ra buat mas," jawab mas Ali dengan menatap mata Rara serius.


"Berati Rara salah?" tanya Rara yang belum menyadari kalau dia benar-benar salah.


"Iya salah!" ucap mas Ali dengan penuh penekanan, dan pergi masuk meninggalkan sang istri begitu saja.


"Yaudah, Rara minta maaf.." Seru Rara berjalan mengikuti.


"Dahlah percuma,"


"Berati mas Ali sudah maafin Rara kan?" bocah itu memeluk suaminya dari belakang.


"Maafmu tidak bisa mengembalikan sprei mas Ra," dilepaskan pelan pelukan dari Rara, padahal biasanya dia sangat suka kalau istri kecilnya itu bersikap manja.


"Emang spreinya dari siapa sih mas? sampai segitunya," Rara memincingkan mata.


"Bukan dari siapa-siapa, mas beli sendiri," setelah berucap begitu dia langsung masuk ke kamar mandi.


Lima menit kamudian akhirnya mas Ali keluar dengan handuk yang membalud di bawah. tubuh kekar tersebut masih menyisakan sedikit buliran air.


"Mas Rara minta maaf,"


Hening


"Mas Rara minta maaf,"

__ADS_1


Hening tidak ada jawaban juga.


"Gak mungkin mas Ali beli sendiri, pastinya ada yang ngasih kan?" ucap Rara menduga-duga, sambik memalingkan wajah. Karena mas Ali tanpa malu memakai pakaiannya.


"Banyak kenangan dari sprei itu Ra, termasuk masa lalu mas, cinta pertama mas dan sampai kini menjadi penyemangat hidup mas juga," ungkap mas Ali dengan jujur, tanpa disadari hal itu sangat membuat hati istrinya sakit.


"Mas Ali bercanda kan?" lirih Rara, dia merasa tertipu dengan segala kelembutan sang suami.


"Serius, gak becanda,"


"Mas Ali jahat! katamu hanya Rara yang menjadi cinta pertama dan terakhir. Tapi ternyata mas Ali mempunyai masa lalu juga!" kecewa, sakit seakan tercabik-cabik. Jika mendengar suatu fakta jika sang suami masih terjerat dengan masa lalunya.


Sebenarnya Rara sudah berusaha untuk mencintai suaminya itu, kelembutan dari mas Ali terkadang bisa membuat hati Rara luluh. Tapi apa nyatanya sekarang malah bocah itu seakan dibohongi.


...----------------...


"Mas Ali jahat hiks-hiks," isak Rara di belakang rumah seraya menatap langit yang mulai mendung.


"Mama.. bawa Rara pulang," lirihnya.


"Rara gak kuat menjalani rumah tangga seperti di novel-novel," dia takut jika nanti akan menjadi tertindas seperti tokoh yang ada di dalam novel.


Tiba-tiba ada tangan besar yang hinggap di pundak Rara, dan mengejutkan bocah itu.


"Astagfirullah!" pekik Rara membalikkan tubuh, lalu bernafas lega ternyata mas Ali yang memegangnya.


"Masuk,"


"Pulangkan Rara! talak sekarang juga!" matanya memanas, sekuat tenaga ia menahan agar tidak menangis. Tapi tetap tidak bisa.


Mas Ali langsung membawa tubuh mungil tersebut ke dalam pelukan, "Sstt diam,"


"Kejar sana masa lalu mas, biarkan Rara pergi!"


"Dikejar bagaimana sih Ra? kan dia sudah ada di dekat mas,"


"Tuhkan! berati mas Ali sudah menemukan dia! yaudah nikahin aja sekalian!" Rara meronta dan terhisak.


"Ra.."


"Cinta pertama mas hanyalah kamu, kan mas dulu pernah bilang gitu masa lupa,


dan tentang masa lalu memang benar mas punya, yaitu hanya kamu. Rara pernah jadi masa lalu mas dan masa depan mas,"


"Halah bohong! apa hubungannya dengan sprei!"


"Ada, sprei itu tempat mas menghalu. Membayangkan wajah Rara yang imut lucu pada saat dulu.. banget, jadi sangat berarti buat mas,


eh malah Rara membakarnya,"


"Emang sudah jelek kok," ketus Rara.


"Yaudah biarin deh terbakar, mas juga sudah ikhlas, yang penting seseorang di dunia bayangan itu sekarang sudah menjadi milik mas,"


"Sudah.. jangan nangis," mas Ali membawa tubuh Rara dalam gendongan.


"Sudah gede masa nangis, nanti kalau anaknya Rara cengeng seperti ibunya bagaimana?


mas jadi bingung dong, nenangin siapa dulu,"


Cie.. cie.. ada kode keras tuh Ra.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2