
Pukul dua malam Rara menggerakkan tubuhnya, tidak seperti biasanya di jam segini ia berguling ke sana ke mari sampai terlepas dari pelukan Ali. Entah mimpi apa intinya dia tidak sadar jika bergerak bebas seperti masih tidur sendiri aja.
Suaminya tetap di posisi yang sama, tidak terganggu sama sekali, mungkin karena kecapekan. Mereka tadi malam seharusnya bisa mendengarkan bunyi kembang api maupun terompet namun dikarenakan pada fokus dengan ibadah. Jadinya tidak terdengar apapun, yang ada di fikiran masing-masing hanyalah wajah lawan mainnya.
Gedebug
Seperti bunyi benda jatuh tapi ini bukan benda melainkan manusia. "Ya Allah ya robbi.."
Ali yang mendengar suara sang istri langsung terduduk, mengucek-ucek mencari keberadaan Rara.
"Astagfirullah! kamu kenapa Ra duduk di sini?" tanya Ali keheranan melihat istrinya malam-malam duduk di lantai yang dingin.
"Kok duduk sih! aku jatuh mas," serunya.
"Hah, kok bisa," Ali belum paham mungkin otaknya belum full seratus persen.
"Gak tahu, bantuin dong," Rara mengulurkan kedua tangannya, namun dia terkejut ketika menyadari suaminya itu masih polos begitu juga dengannya.
"Eh stop!" Rara menutupi tubuhnya dengan kedua tangan sedangkan Ali menatao istrinya bingung.
"Kok malah dian di situ, ayo," tangannya menyentuh Rara untuk menggendong.
"Kita belum memakai apa-apa mas," laki-laki itu membuka matanya lebar-lebar saat menyadari ucapan itu.
Dia baru tersadar kalau tadi malam. "Halah kelamaan," ucapnya kemudian langsung menggendong tubuh Rara setelah itu ikut menutupi tubuh dengan selimut juga.
"Orang kok nggak tahu malu," lirih Rara tapi masih bisa didengar suaminya.
"Siapa yang gak tahu malu?"
"Ah, enggak maksudku malam-malam enaknya makan tahu," entah kupingnya mas Ali yang terlalu awas atau memang suara Rara yang terlalu keras, sampai dia kedengengaran segala.
"Bukan makan tahu, tapi enaknya makan kamu," tangannya kembali memeluk Rara.
"Kok bisa jatuh itu gimana hm?" mas Ali merapikan surai yang menutupi wajah sang istri.
"Aku tu mimpi mas, mimpi berada di kasur yang luasnya seperti lapangan sepak bola
jadi ya berguling-guling gitu, eh malah jatuh," jawab Rara seraya menarik-narik selimut agar bisa menutupi tubuhnya secara sempurna. Karena mata suaminya itu terus memandang tidak berpaling sama sekali.
"Gak usah ditutupilah," mas Ali menghalangi tangan Rara yang baru saja menutupi kulit mulusnya.
__ADS_1
"Rara malu mas,"
"Tadi kan kamu yang mul-" dia langsung membungkam mulut suaminya dengan tangan, tidak tahu apa kalau melakukan hal tadi malunya bisa sampai ubun-ubun.
"Gak usah diperjelas bisa kan mas Ali.. " ucap Rara gregetan.
"Kenapa harus malu, toh sudah sama-sama merasakan," jawab laki-laki itu setelah bungkaman itu terlepas.
Kenapa mas Ali jadi berubah 180 derajat begini? kemarin-kemarin dia masih grogi jika dekat Rara, tapi sekarang kalau ngomong sudah bikin pipi istrinya memerah seperti udang rebus. Malam tahun baru memang merubah segalanya.
"Tau ah, mas Ali nyebelin," Rara memunggungi sang suami.
"Katanya mau nyeritain tentang Arjuna, jadi nggak?" tangan mas Ali memeluk pinggang Rara dari belakang, sedangkan dagunya ditaruh di pundak mulus tersebut.
Rara jadi merinding sendiri hingga jantungpun bergerak tak beraturan. 'tenang Rara, tenang.. mas Ali itu suamimu jadi wajar saja jika memelukmu,' batinnya terus menyemangati.
"Dia itu masa laluku waktu SMP, jadi dulu itu kan aku gak pernah pacaran sama sekali ya tapi begitu kita cuman saling memendam pera-saan," di perkataan terakhir dia tergagap karena tubuhnya menggeliat merasakan geli.
"Terus?" tanya mas Ali sambil meneruskan aksinya.
"Ki-kita sulit bersatu, mungkin dia malu kali ya kan aku jelek dekil lagi dan temannya tidak setuju kalau Juna dekat denganku,"
"Terkadang yang baik bagimu belum tentu terbaik menurut tuhanmu,"
"Lalu kalau tidak dipersatukan kenapa tuhan mempertemukan?" tanya Rara.
"Gini loh sayang... Allah mempertemukan kita dengan seseorang agar bisa memberikan sebuah pengalaman, dan tidak seharusnya kita menaruh harapan," Ali tetap berusaha menjelaskan, meskipun ada kobaran api cemburu saat istrinya menceritakan seseorang di masa lalu.
"Jikapun kamu tidak bisa bersatu dengan orang yang kamu doakan, bisa jadi kamu dipersatukan dengan orang yang diam-diam mendoakan, seperti mas ini," ucapnya lagi dengan bangga.
"Rara menyesal ya nikah sama mas?" tanya laki-laki itu, karena istrinya hanya diam belum menanggapi.
"Enggak kok, Rara malah bersyukur bisa mendapatkan laki-laki yang begitu tulus seperti mas,"
"Berdamailah dengan masa lalu Ra, agar bisa terlupakan dengan sendirinya. Bagaimana mas bisa menggapaimu jika kamu masih berlari mengejar sebuah harapan dari laki-laki itu," mas Ali meng*c*p bahu Rara.
"Maaf, Rara akan berusaha biar mas Ali nggak kecewa lagi," perempuan itu kembali merasakan tangan suaminya bergerak kemana-mana.
"Buat adonan aja yuk," ucap mas Ali kemudian, kupingnya panas jika terus-terusan membahas Arjuna.
"Ya Allah, aku capek mas,"
__ADS_1
Rara akhirnya menyesal, kenapa harus menggoda suaminya duluan. Jadinya begini kan.
"Yaudah kalau gitu kita cerita-cerita aja yuk, tapi jangan tentang Arjuna," mas Ali mengalah karena juga merasa kasihan ketika melihat wajah lelah istrinya.
"Oke kamu aja dulu mas yang buka topik,"
"Menurutmu, mas sama Arjuna itu lebih gantengan mana?"
Lah gimana nih orang, katanya jangan bahas Arjuna kok malah dia sendiri yang membuka topik itu. Rara juga bingung kan ngejawabnya, kalau dilihat dari wajah mereka sama-sama ganteng tapi lebih berkharisma suaminya sih. Karena mempunyai roti sobek seperti artis korea tuh.
"Dijawab jujur atau bohong?" tanya Rara kembali.
"Ya harus jujur dong,"
"Gantengan mas Ali,"
"Pasti ni versi bohongnya dan versi jujurnya ya tetap Arjuna,"
"Ya Allah ya robbi... ini dah jujur loh mas, badanmu lebih bagus loh dari pada Arjuna," Rara tak habis fikir dengan tingkah suaminya itu.
"Oh berati kalau badan mas jelek bakalan gantengan Arjuna gitu?"
Mata Arjuna kayaknya bakalan kedutan malam ini, karena sedang dijadikan sidang para pasutri tersebut.
"Gantengan kamu mas, tetap gantengan kamu," Rara bingung menjelaskan gimana lagi.
"Halah bohong buktinya kamu sudah mencintai Arjuna sedangkan ke mas belum," protes suaminya itu.
"Ya maaf, kan Arjuna cuma masa lalu nih yang bakalan Rara lupain. Jadi sekarang mulai belajar mencintai mas Ali,"
"Kok harus belajar, sama Arjuna dulu pasti gak belajar, langsung sepontan begitu saja,"
Rasanya Rara pengen menyanyikan lagu setan apa yang telah merasukimu... hingga kau marah-marah kepadaku. Lalu kupukul kepalamu.
"Mas,"
"Hm," jawab mas Ali, kayaknya nih mode ngambek yang tidak jelas mulai muncul.
"Bikin adonan yuk," terpaksa Rara mengajak yang tadi, dari pada membahas Arjuna yang bikin pusing kepala.
bersambung...
__ADS_1