Cinta Tulus Dari Ali

Cinta Tulus Dari Ali
HP baru


__ADS_3

Ternyata sebuah haluan bisa juga menjadi nyata, dulu Rara sering berimajinasi tentang kehidupan seperti di dalam novel dan memiliki hp ip*ne. Dia tidak pernah berharap semua itu segera terwujud. Karena Rara sadar diri wajahnya tak secantik tokoh pada cerita fiksi itu, ya apa mungkin bisa terwujud?


Sedangkan hp yang sangat digandrungi tersebut sebenarnya jika meminta ke ortunya juga mampu, tapi ayah Rara selalu mengajarkan prinsip menabung sejak dini. Jadi jika sang anak menginginkan sesuatu yang terlalu mahal maka harus berhemat terlebih dahulu.


"Mas.. " Rara memandang suaminya dengan berkaca-kaca.


Mas Ali belum menyahut apapun sudah dikejutkan oleh tindakan sang istri, yang memeluknya secara tiba-tiba.


"Makasih.. "


"Makasih telah merawat Rara dengan tulus, padahal kan Rara jelek, gak pinter dandan juga seperti perempuan yang lain


tapi kenapa mas Ali mau nikahin Rara hah.., mas kan ganteng bisa nyari perempuan yang cantik di luaran sana


kenapa harus milih Rara?" ucap perempuan itu dengan air mata yang mungkin sudah membasahi kaos mas Ali.


"Kamu ngomong apa sih sayang?" diusapnya punggung Rara untuk menenangkan.


Perempuan yang baru lulus SMA tersebut merasa tak pantas menerima perlakuan baik dari sang suami, ibarat kata ia seperti diratukan oleh laki-laki yang saat ini menyayanginya. Selama remaja Rara merasakan kasih sayang laki-laki itupun hanya dari keluarganya saja.


Dari orang lain pernah tapi seperti ditarik ulur waktu jaman SMP, ketika dekat dengan Arjuna.


"Rara kan istrinya mas, dah sepantasnya nerima ini semua,"


"Tapi Rara banyak kurangnya mas, gak pantas untuk dicintai," bantah Rara yang belum juga mengurai pelukan.


"Hust gak boleh ngomong begitu, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan sayang..


siapa yang bilang Rara gak cantik, kamu itu cantik di mata orang yang tepat, termasuk di mata mas,"


"Ayo pulang.. " Rara menghentak-hentakan kakinya, karena hidungnya sudah mengeluarkan ingus, jika melepas pelukan otomatis benda kental itu akan meluber.


"Heh cup-cup, kita belum milih teflon dan perabotan lainnya sayang,"


Mereka tadinya masih memilih aneka perabotan rumah tangga, tapi yang paling fokus hanyalah mas Ali dan Rara cuma melamun sampai tragedi nangis seperti ini.


"Kaos mas sampai basah Ra.. Ra.." laki-laki itu merasakan dingin di kaosnya, beruntung belum banyak pengunjung yang datang karena jam-jam segini belum waktu istirahat.


"Makanya ayo pulang..


Rara malu dah keluar ingus nih mas," tanpa rasa malu Rara berucap begitu.


"Dilap dulu pakai tisu ya


bawa tisu kan?" tanya mas Ali.

__ADS_1


"Tolong ambilkan di tas Rara,"


Mas Ali mengulurkan tangannya ke tas selempang yang biasa disebut slingphone, tak susah untuk mencari karena ukuran tas tergolong kecil jadi tinggal ngambil tisu satu lembar saja.


Laki-laki itu mengurai rangkulan Rara lalu lendir yang keluar dari hidung ikut molor bak jajanan kornodog mozarela.


"Hm.. ingusnya sampai keluar tuh," ucap mas Ali seraya membersihkan ingus sang istri.


"Maaf.. kaos mas juga kena," lirih Rara.


"Dah gak papa," mas Ali juga membersihkan kaosnya setelah itu menaikan resleting jaket yang tadinya terbuka kini menjadi tertutup.


"Nanti biar Rara cuci di rumah,"


"Emangnya bisa?" tanya mas Ali seperti tak yakin, karena belum membeli mesin cuci, dan dia mengira kalau di rumah neneknya Rara biasa menggunakan pengaduk pakaian tersebut.


"Ya bisalah bahkan mengucek pakai tangan," Rara menyentuh teflon dan mengecek harganya.


"Lah, bukannya pakai mesin cuci?" mas Ali mendorong troli untuk didekatkan ke sang istri.


"Simbok gak suka pakai mesin cuci mas pas ditawarin mamah, katanya lebih bersihan dikucek


jadi Rara sampai sekarang tetap pakai sistem kucek," setelah memilah-milah aneka teflon akhirnya Rara menemukan yang cocok.


"Gimana mas? menurutku kualitasnya bagus," ditunjukkan satu paket teflon yang ada tiga ukuran.


"Ini bagus, punya mas yang ada di rumah lama kayak gini awet juga kok," dimasukan benda itu ke dalam troli.


"Nanti mas aja yang nyuci," mas Ali menyambung topik yang tadi.


"Terus Rara ngapain? kalau masak kan belum bisa,"


"Sementara kamu nemeni mas sambil belajar sayang.. soalnya cuciannya banyak hlo," laki-laki itu tak tega jika membiarkan sang istri terlalu kecapekan, apalagi Rara masih masa pemulihan.


Sudah ada dua sprei beserta selimutnya hingga baju tebal lain yang belum dicuci. Bisa dibayangkan capeknya jika menggunakan tenaga kucek tangan, kalau mas Ali kuat-kuat saja jadi jangan sampai Rara turut membantu.


"Bukanya sedikit ya mas? kan kita baru sebentar tinggal di rumah baru," Rara mengambil panci berukuran sedang lalu ia masukan karena dirasa cocok.


"Spreinya sudah ganti berapa kali sayang?" laki-laki itu menaik turunkan alisnya seperti mengingatkan malam panjang yang pernah mereka lewati.


"Gak taulah gak ingat," Rara malah berjalan cepat menuju rak sebelah meninggalkan suaminya, karena malu jika teringat malam-malam itu.


...----------------...


Jodoh maupun maut tiada yang tau. Terkadang ada yang berpacaran bertahun-tahun ternyata malah jagain jodoh orang.

__ADS_1


Ada juga yang belum mencapai usia dewasa tapi maut sudah mendahuluinya.


Sebagai manusia tugas kita hanyalah beribadah, dan cintailah tuhanmu seluas-luasnya maka akan ia dekatkan laki-laki yang bisa menemanimu ke surganya kelak.


"Mas tadi ada cctvnya gak ya?" tanya Rara ketika mereka sudah sampai rumah.


"Mestinya ada," mas Ali menata aneka perabotan yang sudah mereka beli.


"Ih.. Rara malu mas," rengek Rara kemudian seraya menarik-narik kaos suaminya.


"Mas lagi masang paku Ra, jangan goyang-goyang," jari mas Ali ikut bergerak saat menancapkan paku.


"Dahlah gak papa," setelah tidak ada gangguan lagi, mas Ali mengetuk-ketuk paku tersebut menggunakan palu.


"Kalau ada yang ngomong gimana mas?"


"Halah.. yawis ben," mas Ali menggantungkan barang yang biasanya dibuat untuk menaruh spatula dan lain-lain.


"Mas.. " rengek Rara lagi, dia belum membantu masang apapun, karena masih khawatir dengan peristiwa memalukan tadi.


"Hoalah kok lupa nggak beli susu," kali ini mas Ali menghadap Rara.


"Mas Ali suka susu?"


"Ya buat kamu lah Ra,"


"Gak beli juga gak papa, toh Rara nggak terlalu suka juga,"


"Susunya buat kamu sayang.. biar gak rewel terus, hih jadi gemes," kedua tangan mas Ali mencubit pipi Rara.


"Aw.. sakit mas," ia pukul-pukul tangan tersebut agar segera melepaskan.


"Lagian Rara rewel terus sih, kan mas jadi pusing nenanginnya," dikecupnya pipi Rara yang agak memerah, padahal tadi nyubitnya kayak mengambang.


Perempuan itu belum menjawab, malah memasang wajah cemberutnya.


"Kalau mas ngapain harus beli susu buatan pabrik, toh minum susu dari sumbernya lebih menyegarkan," mas Ali mengedipkan sebelah matanya.


"Mas Ali.... " Rara menghadiahkan sang suami dengan cubitan keras di pinggang.


"Mbohlah, nanti mas Ali tidur di luar!"


"Yakin berani tidur sendirian?" tanya mas Ali seraya mengusap bekas cubitan sang istri yang meninggalkan rasa nyeri.


Perempuan itu tetap berjalan menjauh tak dihiraukannya ucapan laki-laki itu.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2