
[Ra, nanti akadnya pakai bahasa arab atau bahasa indonesia?] mas Ali mengirimkan chat kepada Rara.
[Kalau pakai bahasa Arab, emangnya kamu bisa mas?]
[Ya tak hafalin dulu, pakai bahasa indonesia aja mas masih nghafalin kemarin 😅]
Rara langsung tepuk jidat pas membaca balasan dari calon suaminya. [Pakai bahasa Indonesia aja mas, yang penting lancar. Gak usah neko-nekolah]
[Baiklah nimas tunggu mamas ke situ ya]
[Byuh, gombale mukiyo a] setelah menjawab itu, Rara memandangi wajahnya di cermin. Riasan khas adat jawa sangat cocok buat gadis yang masih belia tersebut.
"Masya Allah mbakku.. cantik banget kamu," seru Maudi sepupu Rara yang tiba-tiba datang lagi.
"Eh mbak, katanya Laras mas Ali saat ini lagi termor," ucap Maudi sambil mengingat chat dari temannya itu.
"Termor gimana?" Rara mengerutkan alisnya.
"Ya ndredeg gitu, bahkan keringat dinginnya gak berhenti-henti,"
"Kok bisa gitu ya Di, terus aku gak ngrasain apa-apa malahan,"
"Soalnya kamu belum ada rasa mbak sama mas Ali, coba kalau ada rasa pasti jadi ndredeg mbak," sejak awal Rara memang belum ada rasa apapun dengan calon suaminya. Namun dia ingin belajar mencintai laki-laki itu.
"Mungkin,"
"Pesanku jika sudah jadi istri, tolong jangan buat kecewa suamimu ya mbak,"
"Insya allah Di, minta doanya semoga bisa until janah," pinta Rara.
"Amiinn,"
__ADS_1
"Kamu cantik banget sayang .., pasti Ali bakalan takjub melihat istrinya seperti ini," mamanya Rara terkejut ketika masuk dan melihat riasan sang anak sangat mangklingi.
"Oh iya, calon suami sudah datang dan bentar lagi bakalan ngucap akad. kamu di sini dulu ya sayang sama Maudi. Nanti kalau dah selesai Mama jemput," ucap sang mama, lalu beliau keluar lagi.
*******
"Gimana para saksi?
sah?"
"Sah!" seru para saksi dan dilanjutkan kalimat Alhamdulillah lalu berdoa bersama.
Batin Ali berucap beribu-ribu syukur, akhirnya penantian dia di sepertiga malam bisa membuahkan hasil. Ternyata benar jika raga yang terjaga bakalan bertemu juga dengan jiwa yang terjaga.
Perbedaan usia diantara mereka tidak menjadi halangan untuk Ali. Meskipun dulu dia bertemu Rara kecil tapi saat itulah ia merasakan cinta pandangan pertama.
Setelah itu mama Rara berjalan untuk menjeput sang anak di kamar yang sudah rapi dengan riasan.
Ketika dituntun tiba-tiba Rara memeluk mamahnya. "Mah, berati kita akan berpisah?"
"Sayang.. meskipun kamu nanti bakalan ikut nak Ali, bukan berarti Rara gak bisa ketemu sama mama lagi,"
"Rara tetap anak mama kok, jangan nangis kasihan mbak riasnya kalau harus memperbaiki bedaknya," lanjut mama rara sambil membersihkan air mata sang anak.
"Wes cup-cup mbak, tadi tante gak bawa botol dot jangan nangis ae," canda Maudi.
"Emangnya aku anak kecil?" ketus Rara, tapi dia mengerti jika sepupunya hanya berniat mencandainya.
"Yaudah wes, jangan berantem. Suami dan para tamu sudah menunggu kita," lerai sang mama.
"Te, aku kok jadi ndredeg ya," ucap Maudi ketika baru berjalan.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang ndredeg, kok malah kamu to Di," sahut Rara.
"Mbakmu memang aneh di, jadi pengantin kok gak ndredeg blas,"
"Jangan-jangan terkena gejala gangguan jiwa te,"
"Nggak tante nggak keponakan sama aja, aku tak jalan sendiri e wis," Rara melepas tangan mereka berdua.
"Eh jangan ngambeng dong sayang.. ayo-ayo segera," cegah mamanya.
Tap-Tap
Langkah kaki mereka bertiga sudah terdengar dan para tamu udangan menjadi gagal fokus saat melihat sang mempelai perempuan.
Ali belum berani menatap ke arah sana, dia hanya menunduk. karena masih menetralkan jantungnya.
"Bang, lihat Rara cuantik banget," bisik Laras.
Ali jadi penasaran, lalu ia mendongakan kepalanya. Dia termangu melihat paras ayu Rara saat ini. Jantungnya berpacu hebat dan tangan gemetaran.
"Masya Allah... "
Tiba-tiba tubuh laki-laki itu oleng dan..
BRUG
Matanya menggelap lalu seruan sang adik maupun yang lain ikut mengiringi.
"Bang Ali!"
"Ali!"
__ADS_1
Bersambung...