Cinta Tulus Dari Ali

Cinta Tulus Dari Ali
Menjelang Malam Tahun Baru


__ADS_3

"Cie-cie... pengantin baru rambutnya udah basah aja," goda Maudi saat tahu rambut sepupunya basah di pagi hari.


"Cie-cie.. yang lagi ngiri, lebih baik nganan deh," sahut mas Ali.


"Kamu bangun pagi gini mau apa?" tanya Rara kemudian, karena tidak biasanya Maudi bangun sepetang ini.


"Lapar pengen nyari makanan sisa kemarin,"


"Huam.. ngantuknya," tiba-tiba Laras muncul dan menguap hingga menimbulkan kecurigaan bagi Rara.


"Ada yang gak beres ini," mata Rara menatap dalam mereka berdua.


"Ki-kita nggak ngapa-ngapain ya Ras,"


"Kalau nggak ngapa-ngapain, kenapa harus gugup begitu?" tanya mas Ali.


"Pagi gini kan dingin bang, jadi wajarlah kalau gugup," Laras tetap mengelak.


"Oh dingin.. enaknya kita ngapain ya dek?"


"Lanjutin ibadah aja yuk mas," Rara mengedipkan mata genitnya sambil merangkul sang suami.


"Gas lah.." mereka berjalan meninggalkan Maudi dan Laras di dapur.


"Ya ampun aku gak nyangka Ras, kalau mbak Rara sudah


astagfirullah... " seru Maudi.


"Wajar saja sih Di, mereka kan sudah sah," lirih Laras, dia juga gak percaya kalau sahabatnya segercep itu melepas masa apalah pokoknya itu.


"Mas Ali kan kemarin masih grogi, tapi sekarang kok?


kita dengerin di depan pintu yuk Ras, jadi penasaran aku," ajak Maudi.


"Gak ah Di capek, tadi malam aku nggak tidur demi nungguin suara itu. Tapi nyatanya nihil nggak ada," tolak Laras seraya mengambil satu bungkus mie instan.


"Ngapain buat mie Ras, makanan sisa kemarin kan masih banyak," ucap Maudi saat tahu Laras membuka bungkusan itu.


"Cuaca jam segini gimana Di?" Laras menghidupkan kompor saat panci sudah terisi air.


"Dingin,"


"Nah pinter...

__ADS_1


kalau dingin enaknya ngapain?" tanya Laras lagi.


"Katanya ibu-ibu sekitaran sini, kalau dingin itu paling enak ya nyari yang anget-anget Ras,"


akhirnya Maudi paham juga dengan apa yang dimaksud Laras.


"Nah pinter... orang kayak kita ini jika kedinginan cocoknya buat mie rebus Di,"


"Nasib e ya Allah.. kapan ya bisa nikah muda," mata Maudi menatap ke atas untuk menerawang masa depan.


PLUK


"Ih Laras.. serbetnya kotor...," protes Maudi saat temannya itu dengan sengaja melempar kain kotor yang biasa digunakan untuk mengangkat barang panas.


"Dari pada ngehalu mulu, lebih baik bantuin buat mie nih,"


"Ogah! mendingan nonton drakor,"


"Pelakor ditontonin, nambah-nambahin dosa aja,"


"Drakor Ras, bukan pelakor.. " ucap Maudi yang seolah tak terima dengan perkataan Laras.


******


"Ya gak papa sih mas, aku ngikut aja,"


"Kamu gak keberatan kan?" kedua tangan mas Ali menangkup pipi Rara.


"Jangan dipaksakan mas, kalau tangannya gemeter gini," bocah itu melepas tangan suaminya yang gemeteran. Tapi dia bersyukur jika mas Ali masih gerogian begitu, karena bisa dipastikan untuk satu minggu ini kemungkinan laki-laki itu tidak akan meminta haknya.


"Maaf ra," lirihnya.


"Santai aja lah mas, jangan bolak-balik maaf mulu," perempuan tersebut mengambil hpnya lalu merebahkan tubuh di ranjang agar bisa nyaman saat berselancar di media sosial.


"Mas, nanti keluar yuk buat tahun baruan


ya kalik di rumah mulu," ajak Rara saat teringat kalau besok sudah berganti tahun.


"Mas," panggil Rara lagi, karena suaminya tidak segera menjawab.


"Di rumah aja enak," jawab mas Ali dengan pandangan yang masih fokus pada layar ponsel.


"Yaudah," kesal Rara sambil membelakangi suaminya.

__ADS_1


Mas Ali yang melihat tingkah laku sang istri hanya tersenyum tanpa membujuk sama sekali.


Rara merasa kalau suaminya itu sudah berubah, ia takut kalau rumah tangganya nanti seperti senetron ikan terbang yang sering ia tonton. Tanpa sadar ia mengeluarkan air matanya hingga ketiduran.


"Ra.." panggil Mas Ali beberapa menit kemudian, karena tidak ada pergerakan sama sekali.


"Sayang.. " ulangnya lagi, tapi sang empu tak kunjung menyahut.


Tangan laki-laki itu membalikkan tubuh istrinya. Dia terkejut saat melihat sedikit air mata di pipi mulus tersebut.


"Maafin mas ya," mas Ali mengecup dahi Rara lalu membawa tubuh itu ke dalam pelukannya.


Mungkin karena cuaca masih dingin Rara malah mendusel-dusel untuk mencari kenyamanan. Di saat itulah darah mas Ali langsung berdesir.


laki-laki tersebut hanya bisa menarik nafasnya perlahan. "Huh.. rasanya pengen langsung tak makan aja,"


Apalagi rambut Rara yang masih wangi karena baru saja keramas, membuat denyut jantung mas Ali makin tak karuan.


Nanti malam memang sudah memasuki pergantian tahun, mas Ali menolak keinginan Rara karena dia punya rencana sendiri. Dia sibuk dengan hp tadi untuk mencari cara agar dirinya tidak gampang gerogian saat dekat dengan sang istri, dan masih banyak lagi yang ia konsultasikan ke mbah google.


Hari telah berganti pagi, semua orang di dalam rumah sudah menjalankan aktivitas masing-masing. Entah membantu beres-beres tenda maupun peralatan yang dipakai pada acara kemarin.


Berbeda dengan Rara yang masih bergelung dengan tebalnya selimut. Tidak ada pengganggu sama sekali, pastinya mereka mengira kalau pengantin baru itu masih kelelahan.


Karena istrinya belum bangun, mas Ali kini mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa pindah nanti. Termasuk baju-baju Rara dialah yang menata, walaupun agak gerogi saat merapikan pakaian dalam bocah tersebut.


Beberapa menit kemudian kelopak mata Rara akhirnya terbuka, dia menguap sebentar dan melihat barang-barang yang sudah tertata rapi di sekitarnya. Perempuan tersebut bingung siapa yang sudah menata semua ini.


"Segera mandi Ra dan makan, kita harus cepat sampai rumah," mas Ali masuk ke kamar dengan baju yang sudah berganti.


"Ini siapa yang ngerapiin?" tanya Rara tanpa pakai sebutan 'mas', mungkin karena masih mode ngambeg.


"Mas yang menata," setelah suaminya berucap begitu Rara segera membuka lemari berniat untuk mencari pakaian dalam, dia masih mengira jika suaminya belum menata perlengkapan yang itu. Tapi nyatanya...


"Semuanya sudah mas tata di dalam koper, segera mandi sana gih," ucap mas Ali dengan lancar, alhamdulillah lumayan ada kemajuan sejak konsultasi dengan mbah google.


"Be-berati yang itu juga mas rapikan?" tanya Rara dengan gugup.


bersambung...


Happy New Year buat kakak-kakak yang masih setia dengan kisah Rara dan Ali. Di tahun ini semoga bisa menjadikan pribadi yang lebih baik lagi, dan segala keinginan semoga segera Allah kabulkan.


Aamiin.. 🙏

__ADS_1


__ADS_2