Cinta Tulus Dari Ali

Cinta Tulus Dari Ali
Tidur di luar


__ADS_3

Ternyata benar, Rara tidak main-main debgan ucapannya. Saat mas Ali mengetuk-ngetuk pintu kamar, perempuan itu hanya keluar sebentar seraya memberikan selimut dan bantal ke sang suami lalu masuk kembali, tak lupa pintu tersebut ia kunci.


Tok-tok


Tok-tok


"Ra, buka pintunya mas mau masuk," seru mas Ali sambil menatap bingung selimut dan bantal yang ia bawa.


"Kuncinya rusak, mas Ali tidur di luar aja," jawab Rara dari dalam.


"Jangan becanda dong Ra, gak lucu loh ini," laki-laki itu mengira kalau sang istri hanya mengerjainya.


"Dahlah tidur di luar aja mas," ucap Rara dan tak dihiraukan lagi teriakan mas Ali dari luar.


"Kebangeten banget nyuruh suami tidur di luar,"


"Masa gara-gara tadi siang sih,"


Mas Ali terus ngedumel seraya berjalan ke sofa yang baru dibelinya tadi siang. Aroma barang baru masih tercium di hidungnya.


Ia letakan bantal lalu merebahkan tubuhnya seraya menutupi dengan selimut agar hangat, tangannya terasa hampa jika tidak memeluk Rara.


Berkali-kali ia membatin. Tega banget Rara menyiksa dirinya seperti ini, tidak ada yang mengajak ngobrol dan hanya bisa melihat cicak berpacaran yang ada di atap.

__ADS_1


"Halah, nanti juga nyamperin,"


"Mana berani tidur sendirian,"


Begitulah monolog mas Ali, seakan menyemangati dirinya sendiri.


Satu


Dua


Tiga


Hingga sepuluh menit berlalu tetap tak ada tanda-tanda kemunculan sang istri.


"Hih.. Tega banget kamu Ra, membiarkan mas di sini," rengek mas Ali seperti bocah yang ingin meminta ice cream. Selimut ia kibas-kibaskan karena kesal.


"Rara.. panggil mas dong arghh," dagunya ia taruh di senderan sofa seraya menatap ke tangga berharap sang istri datang tiba-tiba.


Sampai pegal kepalanya karena menunggu si Rara tapi tak muncul juga.


Kemungkinan sang istri sudah tidur dengan meluk gulingnya, itulah yang difikirkan mas Ali, Rara mah enak ada guling untuk dipeluk sedangkan mas Ali mau meluk apa coba. Masa meluk cicak yang ada di atap. Bisa penyet nanti.


Karena mata laki-laki itu belum bisa terpejam, akhirnya dia melihat cicak di atas dengan posisi terlentang. Ada dua cicak yang dekat lampu, mereka mempunyai jarak satu sama lain, dan cicak sebelah kanan menggoyang-goyangkan ekor. Sepertinya itu cicak betina.

__ADS_1


Cicak sebelah kiri belum bereaksi, masih melihat kelakuan sang betina itu, menggoyangkan ekornya lagi seraya berbunyi 'ck ck ck'


Lalu perlahan-lahan cicak jantan mulai menggerakkan kaki, kurang sedikit lagi hingga sampai di dekat betina. Berjalan pelan dan..


Hap


Cicak betina malah sedikit kabur.


"Ya elah cak.. sok-sokan jual mahal segala," ucap mas Ali serasa melihat tontonan menarik.


Lalu cicak jantan tidak menyerah, ia merayap dengan cepat dan akhirnya dapat.


"Nahkan ujung-ujungnya mau juga,"


Kedua hewan tersebut melakukan aksinya, dan membuat mas Ali jengah. Sang cicak seperti mengejeknya.


Masa kalah sama cicak yang sedang bermesraan, akhirnya ia menutup mata dengan lengan agar segera tertidur.


Kelopak mata ia pejamkan berharap kantuk segera datang, membayangkan hal indah seperti sedang memeluk Rara gitu biar cepat tertidur.


Memeluk Rara dengan erat sambil mengusap-usap punggungnya, lalu memegang pipi mulus itu, bayangan itu seolah nyata hingga mas Ali tersenyum sendirinya.


Padahal bukan mengusap punggung Rara, tapi ia mengusap perut dan bukan pipi mulus sang istri yang dipegang, melainkan pipi sendiri dengan sedikit ditumbuhi jambang.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2