
Kondisi Rara sudah diperiksa oleh seorang yang memakai jas putih dengan berkalung Stetoskop.
Beruntung tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena dia hanya kecapekan dan istirahatnya juga tak cukup.
"Minumnya pakai susu aja deh mas," pinta Rara saat melihat suaminya sudah menyiapkan air putih beserta butiran obat yang baru dibuka dari bungkusnya.
"Nanti gak manjurlah Ra," jawab mas Ali seraya menyodorkan segelas air minum.
"Teh aja kalau gitu," tawarnya lagi.
Laki-laki itu menghela nafas, ternyata istrinya ini tidak hanya mempunyai sifat manja tetapi juga keras kepala, dia membayangkan bagaimana nanti kalau sudah punya anak pasti akan terasa ramenya. Istri yang masih bocil dan tentunya berkelakuan seperti bocah lalu ditambah lagi sang anak yang pastinya akan selalu rewel.
Tapi manusia yang namanya mas Ali pasti ada saja stock sabarnya. Entah Rara itu punya pelet apa hingga bisa membuat suaminya itu bucin akud.
"Nggak boleh sayangkuh ... teh itu juga mengandung kafein," dengan sabar mas Ali menjelaskan, tapi Rara tak kunjung membuka mulutnya ketika tangan kokoh itu menyodorkan satu buah pil.
Perempuan tersebut menggelengkan kepala,"Rara gak bisa kalau gak dilembutin,"
"Ini kecil Ra,"
"Tetap gak bisa mas, biasanya kalau minum obat selalu dilarutin dulu pakai air," bantah perempuan itu.
"Baiklah bentar mas ambilkan sendok dulu," mas Ali bergegas mengambil sendok lagi untuk melembutkan pil tersebut.
Sejak kecil Rara memang tidak biasa meminum obat dengan langsung, meskipun sekecil apapun bentuk obat itu. Pernah ia memaksa namun berunjung dimuntahkan karena bolak-balik air ia minum agar obar tersebut bisa segera terjun dari tenggorokan. nyantanya nihil malah perutnya yang sudah kenyang duluan dan pil itu masih setia di kerongkongan.
Setelah mengambil sendok, mas Ali segera menggerus obat tersebut menggunakan dua sendok, seperti membantu meminumkan obat kepada sang anak, eh tapi ini istrinya bukan anaknya.
__ADS_1
Dia memberikan air sedikit untuk melarutkan bubuk obat tersebut. "Ayo aaa,"
"Pahit mas," ucap Rara belum berani membuka mulutnya.
"Ra.. " perintah mas Ali dengan peekanan.
Lalu perempuan itu membuka bibir meskipun ragu dan hap rasa pahit menguar begitu saja di lidah, ia segera meminum segelas air dalam sekali tandas.
"Ya Allah pahit banget mas, beh-beh," Rara mengusap-usap bibirnya berharap rasa itu hilang seketika.
"Ini masih ada dua lagi Ra,"
"Nanti aja deh gak kuat dah kenyang," ditaruhnya gelas kosong di nakas samping tempat tidur, perut Rara sudah terasa kenyang karena kebanyakan minum air. Lalu dia membaringkan diri dengan berselimut memunggungi suaminya.
"Ra habiskan ini dulu," mas Ali membalikan tubuh sang istri.
"Pilih minum obat atau infus di rumah sakit?" ancam mas Ali kemudian yang membuat Rara panik seketika.
"Mesti begitu," ketus Rara.
"Kalau gak mau minum obat, sekarang mas akan antar kamu ke rumah sakit dan biar ditemani suster di sana aja,"
"Emang tega ninggalin Rara?"
"Kenapa tidak, kamu dibilangin juga susah,"
"Yaudah iya Rara mau minum obatnya," perempuan itu tak mau membantah lagi karena takut dengan perubahan raut wajah suaminya yang terlihat serius.
__ADS_1
Satu suap sudah masuk dan Rara meminum air lagi tapi perutnya seakan tidak mau lagi menerima kedatangan cairan itu.
"Huek.. " cairan bening langsung keluar begitu saja di pinggiran tempat tidur, terasa sia-sia obat yang telah ia minum tadi.
"Maaf mas.. " air mata Rara turun kembali merasa menyesal karena telah merepotkan suaminya.
"Cup-cup jangan nangis," tangan mas Ali meraih kepala sang istri untuk dipeluknya.
"Biar mas bersihkan nanti diminum lagi obatnya," ucapnya lagi seraya mengurai pelukan tersebut.
"Tapi, Rara gak dibawa ke rumah sakit kan?" tanya bocah itu karena masih takut dengan ancaman suaminya.
"Nggak, asal mau minum obat lagi,"
"Iya," jawab Rara dengan lesu.
Mas Ali bergegas mengambil alat pel untuk membersihkan muntahan tersebut.
Lagi-lagi Rara dibuat takjub oleh suami yang telah ditakdirkan untuknya. Mempunyai kesabaran luas saat menghadapi sifat kekanakannya. Tidak sia-sia ia menghalu bak seperti tokoh di dalam cerita, ternyata dengan begitu Allah tetap mengabulkannya.
Jodoh memang tidak ada yang tahu, dan untuk perempuan hanya bisa menanti seraya memperbaiki diri. Jikapun ia dijodohkan dengan malaikat maut maka harus siap saja mungkin tuhan sudah mempersiapkan bidadara di surga sana, tapi kalau memang berjodoh dengan hambanya sudah pasti Allah akan mempersatukan dengan jalan halalnya.
Rara hanya berpesan untuk author di cerita ini, untuk terus berhalu hingga ada yang mengajak ke penghulu.
chuaksss
bersambung..
__ADS_1