Cinta Tulus Dari Ali

Cinta Tulus Dari Ali
Pengen Baby


__ADS_3

"Mas lihat tuh, kayaknya seru ya pergi bertiga boncengan naik motor seperti touring gitu," ucap Rara ketika melihat dua pasangan muda yang juga berpergian tapi sambil membawa anak.


"Yakin pengen?"


"Emangnya mas gak pengen kalau kita nanti punya anak yang imut-imut seperti itu?" bukan menjawab, Rara malah bertanya balik.


"Kalau baby mah pengen banget mas Ra,"


"Hla terus kok bilang begini,"


"Maksud mas, emangnya kamu kuat kalau sering montor-montoran? tadi aja sudah muntah beberapa kali kamu Ra,"


Sudah tiga jam perjalanan mereka lalui, untuk menuruti keinginan Rara yang ingin berpergian ke luar kota, hanya dengan menggunakan montor.


Kurang dua jam lagi kalau di hitung, mereka saat ini sedang memakai sepatu setelah melaksanakan shalat dzhuhur, dan kembali melakukan perjalanan agar tidak terlalu sore sampainnya.


"Kerasa mual lagi gak?" tanya mas Ali seraya memasangkan helm.


"Enggak,"


Resleting jaket Rara dinaikan suaminya, biar tidak kedinginan. Tapi sang istri malah memprotes.


"Kok ditutup sih mas, kan gak kelihatan fashionable nanti,"


"Lah halah.. penting hangat Ra,"


"Dah ayo naik," lanjut mas Ali lagi, karena tidak ada gerakan yang menunjukkan tanda-tanda kalau Rara sudah menaiki jok belakang.


"Ish!" perempuan itu menghentak-hentakan kaki karena kesal.


Lalu dia mendudukan tubuh di belakang sang suami. "Pegangan yang erat," tangan mas Ali meraih telapak Rara dan mengaitkan ke pinggang.


"Kayak anak kecil aja,"


"Kamu kan memang masih kecil," mas Ali mengarahkan spion agar nampak wajah kesal istrinya.


Bibir bocah itu terlihat mengerucut, sampai membuat mas Ali senyum-senyum sendiri.


"Tuh Ra lihat, besar banget pabriknya," ketika berjalan kuda besi itu melewati sebuah pabrik elektronik terbesar di kota tersebut.


Mata Rara berkedip-kedip terkena hembusan angin, "ngantuk Ra?" mas Ali tetap memantau di spion.


"Anginnya kencang banget mas," ucapnya sambil menutup mulut karena menguap.


"Hem, anginnya yang kencang atau memang Rara nih yang ngantuk?" mas Ali semakin mengeratkan tangan Rara.


"Kamu tuh mas bawa motor kencang banget,"

__ADS_1


"Emang dasarnya kamu yang ngantukan Ra,"


"Enggak ngantuk kok beneran dah," bilang gak ngantuk tapi Rara menyenderkan kepala di punggung suaminya.


"Nah pasti bentar lagi merem nih," duga mas Ali, karena merasakan ada beban di punggungnya.


Rara hanya bergumam tak jelas lalu hening, dia sudah tertidur. bocah itu tipekal orang yang tidak susah beradaptasi di manapun. Jadi jika tak ada gangguan langsung merempun bisa.


"Ra, jangan tidur bahaya," mas Ali menggoyangkan tangan Rara.


"Ra, kalau gini mas gak mau montor-montoran lagi hlo ya," ancamnya kemudian.


"Ra.. ayok-ayok pulang aja kalau gitu," tiba-tiba mas Ali menghentikan motornya.


Ketika merasa tidak ada pergerakan seperti semula, Rara langsung membuka mata dan mengucek-ucek, "Dah bangun nih, dah,"


Rara terpaksa membuka mata dan terlihat masih sayu, sebelum melanjutkan perjalanan. Mas Ali memberikan ceramah terlebih dahulu, agar sang istri tidak teledor untuk tidur ketika berkendara.


Setiap ada pemandangan yang bagus, laki-laki itu menunjukkan ke bocah tersebut, dan bercerita tentang sedikit yang ia ketahui tentang tempat itu. Agar Rara tidak memejamkan mata kembali.


"Kemungkinan danau tadi belum ada orang yang tahu, jadi masih terlihat alami,"


"Masa gak diposting di media sosial ya mas? sampai belum ada yang tahu,"


"Sepertinya mayoritas warga di sini belum terlalu mengerti media sosial, setahu mas para pemuda banyak yang merantau ke luar daerah,


jadi bisa dipastikan di sini tidak ada kegiatan karang taruna, yang biasanya bisa membuat desa ini maju," jelas mas Ali.


"Akhirnya sampai juga," Rara menghempaskan tubuh di ranjang putih empuk.


Mas Ali menatap ke jendela penginapan yang tirainya terbuka, dan langsung menghadap pantai. Pohon-pohon kelapa tumbuh tegak di pinggiran disertasi pasir putih yang menambah keelokan.


Sudah ketiga kali ini mas Ali berkunjung ke tempat wisata itu. Pantai menjadi tempat favoritnya seperti Rara juga, makanya dia ayo-ayo aja waktu diajak ke tempat kumpulan air yang berasa asin tersebut.


Mata elang laki-laki itu menerawang jauh ketika melihat gelombang ombak datang silih berganti, dedaunan kelapa menari-nari terkena hamparan angin.


Bibirnya menarik membentuk lengkungan sabit, fikirannya teringat akan indahnya kenangan masa dulu.


Dimana ia pernah bermonolog mengucapkan sebuah rindu ke bocah belia yang bisa mengikat hatinya sampai sekarang. Tak peduli ucapan dalam hatinya itu disampaikan oleh alam atau tidak.


Dia hanya ingin hatinya merasakan ketenangan, karena telah mengucapkan beribu kata rindu yang terpendam.


Kepala mas Ali menengok ke belakang, di mana bocah kecil yang dulu pernah ia kagumi sudah tertidur dengan nyenyaknya.


Kakinya melangkah mendekati ranjang, lalu mendudukan tubuh di sisi tersebut, dia perhatikan raut muka sang istri. Buliran keringat masih menghiasi dahi, tangan mas Ali terulur menyeka.


Dahi Rara nampak berkerut pertanda ia terasa terganggu, "Dah masuk Ashar ya mas?" tanyanya dengan suara parau.

__ADS_1


"Belum, masih lama asharnya," mas Ali melepas jaket lalu menyusul sang istri ke ranjang lagi.


Dia berbaring lebih dekat dan merangkul tubuh Rara ke dalam pelukan, "Dah tidur lagi yuk," ajak mas Ali seraya membantu Rara melepaskan jaket.


"Kamu gak gerah apa Ra.. tidur masih nempel sama jaket begini," tangannya merapikan anak rambut Rara yang sedikit keluar dari ikatan.


"Capeklah mas," Rara menelusupkan kepala di dada sang suami.


Mas Ali hanya tersenyum, padahal sejak perjalanan sang istri hanya duduk anteng di belakang. Tak bergantian dalam mengenderai motor, suaminya juga tak tega jika menyuruh Rara di depan.


Meskipun mas Ali merasa capek berkali-kali lipat tapi tak apalah semua demi Rara.


"Tadi belum ngabarin mama," gumam Rara kemudian.


"Biar mas yang ngabarin," mas Ali terpaksa membangunkan tubuh yang masih terasa capek, untuk mengambil hp.


"Jangan ke mana-mana, nanti aja ngabarinnya," cegah Rara dengan menahan kaos mas Ali.


"Nanti kalau mereka khawatir gimana Ra,"


"Lima menit ajalah mas, temenin Rara tidur dulu,"


"Rara gak bisa tidur kalau mas Ali gak ada," lanjutnya lagi.


"Baiklah tidur lagi yuk," tangan berurat itu mengusap-usap rambut sang istri.


"Dah gak bisa ternyata mas," tubuh Rara langsung terbangun spontan. Dia rasa matanya tidak sepat seperti tadi


akhirnya ia mengambil hp untuk mengabari orang rumah, kalau mereka berdua sudah sampai di kota tujuan.


"Mas Ali bawa uang banyak nggak?" tanya Rara dengan polosnya, setelah selesai mengabari sang mama dari via aplikasi hijau.


"Kenapa tanya gitu sayang?" heran mas Ali.


Rara memainkan jarinya, ia takut kalau berkata jujur. Sebenarnya bocah itu ingin jajan banyak tapi takut jika sang suami hanya membawa ongkos tipis.


"Rara takut kalau uang mas Ali nanti habis, soalnya jajanku banyak," cicitnya dengan menunduk.


"Jika mau apa aja bilang langsung sama mas, uang di atm masih full tuh," mas Ali menarik dagu sang istri agar berani menatap matanya.


"Gak bohongkan?"


"Seminggu yang lalu kan mas ikut turun tangan di bengkel, karena lagi rame banget. Masa bengkelnya rame dompet mas tetap sepi aja,"


Sejak menikah rejeki laki-laki itu kian menambah, apalagi seminggu yang lalu Rara selalu uring-uringan karena ditinggalin mulu.


"Yaudah yuk mas mbas jajan," ajak Rara dengan antusias.

__ADS_1


"Heh.. mandi dulu sana, biar gak bau asem," canda mas Ali.


bersambung...


__ADS_2