Cinta Tulus Dari Ali

Cinta Tulus Dari Ali
Perkara parfum


__ADS_3

"Mas, parfumu ganti ya," aroma wangi yang berbeda dari baju Ali menyeruak masuk di indera penciuman Rara.


"Yang lama dah habis Ra,"


"Rara nggak suka," tangan mungilnya berkibas-kibas untuk menjauhkan bau yang tidak ia sukai.


Sekarang mas Ali ketika tidur selalu memakai parfum, karena dia tahu kalau istrinya selalu suka dengan parfum yang terus melekat di bajunya. Namun berhubung parfum yang disukai Rara habis jadi terpaksa memakai aroma yang lain.


"Masa sih habis," tubuh mungilnya langsung bangun dan membuat kompresan yang ada di dahi jatuh begitu saja.


"Rara.. nanti mas beli lagi," mas Ali tak bisa mencegah langkah Rara yang sudah berdiri mencari botol parfum di meja rias.


"Terus yang varian ini gimana?" tanya Rara seraya memegang parfum yang berkemasan baru.


"Biar di situ saja, mas hanya makai waktu keluar," tangan kokohnya melingkar di pinggang dan belakang lutut Rara untuk mengangkatnya kembali ke ranjang.


"Di teras yuk mas, kayaknya enak deh lihat suasana petang begini," ucapnya ketika tubuhnya hendak di turunkan.


"Jangan neko-neko Ra badanmu masih panas," laki-laki itu tetap menurunkan tubuh sang istri namun seakan terjerat terlalu erat hingga tak bisa dilepas.


"Nggak mau," tolak Rara masih berpegangan erat di tubuh tegap itu.


"Tuh lihat Zombiemu pada nyembur ke jurang semua," mas Ali mengalihkan pembicaraan ke game yang baru Rara instal di hpnya. Zombie tsunami merupakan permainan yang sangat seru bagi Rara.


"Lah-lah kok tinggal dua!" pekiknya lalu berguling terjatuh di kasur yang empuk hingga membuat goncangan. Zombie peliharaannya tinggal dua padahal tadi sudah ada dua puluhan.


"Astagfirullah Ra.. lama-lama mas cencang (ikat) tubuh kamu itu," jengkel mas Ali ketika melihat tingkah Rara yang terlalu bar-bar, padahal badannya lagi sakit.


Tapi sang empu malah gak menanggapi dan asik sendiri mengurusi zombie. Tubuhnya telungkup berlandasan bantal di kepala lalu kedua kaki digoyang-goyangkan. Itulah kebiasaan Rara saat asyik dengan dunianya.


Mas Ali membenarkan posisi sang istri. "Yang benar dong Ra tidurnya," lalu menempelkan kembali kompresan tadi.


"Mas sesak," dada Ali dipukul ringan, karena tubuh istrinya itu ia dekap secara erat agar tidak banyak bergerak, dan mengakibatkan zombie punya Rara tinggal satu biji aja.


"Dah gini biar anget," tak dihiraukan protesan sang istri, mas Ali masih sibuk juga dengan hp Rara dan membuka akun instagram untuk mengetahui siapa saja yang di ikuti.


"Tuhkan mati!" kesal Rara pada akhirnya karena mahluk kanibal yang ada di dalam permainan, kini juga sudah masuk jurang.


"Mati tinggal dikubur,"


"Lihat apa sih mas?" tanya Rara tanpa menghiraukan ucapan suaminya. Mas Ali terlihat fokus sekali dengan hp sang istri, perempuan itu ingin menggapai tapi tangan yang megang hp tersebut malah seolah tak msngijinkan.


"Apasih kepo, urusin aja pemakaman zombiemu itu," satu persatu akun cowok yang difollow sang istri telah diunfoll seketika.


"Dih hpnya siapa coba," tangan Rara ia letakan di dada suaminya, menggambar pola abstrak melintang ke sana dan sini. Keras ketika Rara ketuk, hp sudah diabaikan olehnya dan ditaruh di atas bantal.


Lalu ia meletakan indra pendengaran di tempat yang telah ia gambari pola abstrak. Ingin mendengarkan detak jantung suaminya jika berdetak kencang. Tapi nihil tak ada yang terguncang kuat di dada itu, Rara menekan-nekan dengan telapak tangan untuk memastikan lagi.


"Mas," panggil Rara seraya mendongak agar wajah mas Ali bisa terlihat.

__ADS_1


"Hm?"


"Sebenarnya mas Ali sayang gak sih sama Rara?"


Diletakkannya hp Rara yang tadi ia gunakan hanya dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya memeluk pinggang sang istri erat-erat.


Kini tangannya ia tekuk bagian siku buat menopang kepala dan terlihatlah wajah sang istri kesayangan.


"Gak salah tanya begitu hm?"


"Jawab sajalah mas, Ih!"


"Seharusnya mas yang nanya ke kamu Ra, sayang gak sama mas?" mas Ali meng*c*p dahi sang istri.


"Gak tahu," Rara belum merasakan adanya getaran yang masuk menebus jiwa yang telah kosong tersebut. Entahlah di mana kunci yang ia simpan agar sang suami bisa segera membukanya.


"Kalau mas kan sudah pasti, sedangkan kamu entahlah tak pasti mulu,"


"Masih ada Arjuna kah?" lanjut mas Ali kemudian dan kepala Rara tidak bisa memandang mata sang suami lagi.


"E-enggak,"


"Halah masih ada, nyatanya tuh mata gak mau ngelihat mas,"


"Ih.. kenapa bahas masa lalu terus sih mas, lihat nih tubuhku jadi sakit kan gara-gara bujukin mas Ali," entah siapa yang salah author juga tak tahu, Rara yang ingin memakai jalan instan dan suaminya juga gampang memakan umpan.


"Ternyata benar kata orang-orang kalau sudah menikah itu berbeda,"


"Berbeda gimana?"


"Mas Ali gak uwuw lagi, manggilnya hanya pakai nama," ungkap Rara kemudian.


"Rara mau dipanggil gimana hm?" tangan kokoh itu memegang pipi mulus sang istri, tak disangka kini bocah belia yang menjadi cinta pertama akhirnya bisa saling bertatap mata, dan telah menjadi cinta halal baginya.


"Dipanggil umi gitukah?" lanjut mas Ali lagi di iringi kekehan karena melihat tatapan protes dari sang istri.


"Kayak dah ibu-ibu aja," Rara mengubah posisinya menjadi terlentang.


"Diamini aja sayang.. semoga usaha kita tadi malam membuahkan hasil," tangan mas Ali terulur mengusap-usap perut sang istri.


"Ternyata hanya pas butuh aja panggilannya diubah jadi 'sayang',"


"Owalah masalah itu, bilang dong dari tadi biar mas faham," ucap laki-laki itu sambil meng*c*p pipi istrinya lagi. Mungkin terasa candu baginya.


...----------------...


"Mas pergi dulu sebentar buat buka bengkel," pamit mas Ali saat sang adik sudah datang di situ lalu menyuapi Rara dengan bubur sumsum. Kunci bengkel dipegang oleh laki-laki itu dan salah satu karyawan sudah datang untuk menyiapkan peralatan di bengkel, tapi pintu ternyata belum dibuka.


"Mas Ali di sini aja... "

__ADS_1


"Di sini dah ada aku Ra, biarinlah abangku pergi," ucap Laras, sebenarnya ia kesal sejak tadi melihat kebucinan sang kakak.


"Gak mau, Rara ingin disuapi mas Ali," bantah Rara yang kini malah tak ingin membuka mulutnya.


Mas Ali akhirnya pasrah dan melepas jaketnya. Ia mengambil alih mangkok yang dipegang Laras. "Ras kamu aja yang buka bengkel, kuncinya masih di jaket abang,"


"Ya Allah enak banget sih Ra jadi kamu,"


"Dah pergi sana keburu ditungguin yang lain," suruh mas Ali lagi.


"Bang, cariin suami yang kayak kamu gitu dong," pinta Laras, dan Rara hanya bisa cengengesan. Bagaimana tidak, Laras dulu sangat mudah mendapatkan gebetan. Tapi sekarang kok malah minta dicarikan.


"Kuliah dulu yang benar, baru mikirin nikah," mas Ali mengambil tisu untuk membersihkan bibir sang istri.


"Tapi Rara baru masuk kuliah udah kamu nikahin loh bang," jengah Laras, karena ketika dia membahas tentang cowok sang kakak selau tidak suka.Padahal umurnya juga sudah pas jika menjalin hubungan dengan seseorang. Maka dari itu dia selalu sembunyi-sembunyi waktu pacaran di jaman sekolah.


"Kalau Rara kan ada yang ngincar sedari dulu yaitu abang, jadi gak papa langsung dinikahin


la kamu? belum ada kan,"


"Seumpama ada, dibolehin kah bang?"


"Memangnya ada beneran Ras?" sahut Rara.


"Ya adalah,"


"Kok aku gak diceritain,"


"Stay private bestiiiii,"


"Halah, gak usah merhatiin Laras dia orangnya emang gak jelas," mas Ali merapikan mangkok dan akan menaruhnya di dapur.


bersambung...


oh iya, jangan lupa mampir di karya pertama author ya, yang berjudul "Beri Aku Kesempatan" . Terima kasih 😻



prolog


"kenapa harus mimpi itu lagi? padahal aku sudah melupakannya," ucap Aleria Hasmaning Nastiti.


"Beri aku kesempatan," kata-kata itu sering muncul di mimpinya.


Hasyim Putra Ramadhan itulah sesosok yang muncul di mimpi Aleria.


Walaupun Ria sudah tidak mencintainya, namun Hasyim masih setia mencari gadis kecilnya dulu. Dia menyesal memutuskan Aleria secara sepihak hanya karena malu dengan teman temannya, padahal pada relung hati terdalam Hasyim sangat mencintai Aleria meskipun usia mereka terpaut 12 tahun.


Bagaimana dengan kisah Hasyim apakah dia bisa bertemu dengan Aleria yang telah pergi entah kemana, dan jikapun takdir mempertemukan kembali apakah ada kesempatan bagi Hasyim untuk memperbaiki hubungannya dengan Aleria?

__ADS_1


__ADS_2