
DI PAGI HARINYA...
Emily benar benar terkejut saat mendapati dirinya tengah meniduri dada bidang dan perut rata yang begitu enak dipandang..
ia mengerjap ngerjap kan matanya ia pikir ia tengah bermimpi..
( astaga... ini bukan mimpi,) pikir Emily lagi,
ia mengingat ingat kejadian semalam apa saja yang ia dan omnya lakukan.
( aku melakukan hal itu lagi,) dalam hati Emily lirih.
Emily pun berlahan lahan turun dari ranjang besar itu, ia tak mau membangunkan omnya yang tengah tertidur pulas dan ia membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.
" bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari sini," gumam Emily di dalam kamar mandi, yang sekarang ia pikirkan adalah keluar dari kapal ini,
" aku tidak mau laki laki gila itu menyentuhku lagi," ucap Emily lirih..
" aku tau aku memang menyukainya, tapi jika dia beranggapan aku ini mirip seperti wanita yang di cintainya, sama saja aku ini bodoh," ucap Emily tak munafik ia memang suka jika di sentuh seperti itu oleh Om yang ia cintai ini.
" apa yang harus aku lakukan," ucap Emily lagi.
" kenapa om Natan belum juga menemukanku," gumam Emily pelan.
ia mengingat jelas ketika omnya ini menculiknya dan membawanya saat usia 7 tahun mengarungi samudra, hanya satu atau dua hari saja Omnya itu menemukan Emily,
" tapi kenapa kali ini, om Natan lama," gumam Emily lagi.
" padahal, ini sudah satu hari satu malam," ucap Emily pelan.
" aku ingin cepat cepat keluar dari sini," ucap Emily lagi.
" aku tidak mau laki laki itu menyentuhku lagi," ucap Emily lagi.
setelah selesai membersihkan tubuhnya Emily memakai baju yang disediakan sakira kemarin, ia mengambil baju dres polkadot berwana pink yang begitu pas di tubuhnya dan itu terlihat cantik, serta cocok di pakai nya.
ketika ia melihat James masih damai dengan tidurnya Emily berlahan lahan mencoba keluar dari kamar itu, baru saja ia mau membuka pintu sudah di kagetkan suara James.
" mau kemana," tanya James dengan suara berat khas bangun tidur.
Emily melihat James sedang menumpu tangannya di pipi dan memperhatikan Emily yang diam diam akan keluar dari kamar ini, suara berat milik James membuat Emily terlonjak kaget.
" astaga, kau mengagetkan ku saja," ucap Emily terkejut.
" kau mau kemana," tanya James lagi.
" perutku sangat lapar, dari semalam aku tak sempat makan apa apa dan aku mau mencari makanan," ucap Emily pelan.
" tunggu saja di sini, nanti. biar sakira yang membawakan makanan untukmu," ucap James pelan.
__ADS_1
" tidak... tidak usah, kasihan dia, mungkin pagi pagi ini dia sedang sibuk, biar aku saja yang menemuinya, lagi pula aku juga ingin melihat lihat kapal ini," kata Emily pelan.
" baiklah...tapi ingat jangan kemana mana," kata James tegas.
" kemana,! memangnya aku bisa kemana," ucap Emily aneh.
" siapa tau kau kabur seperti pertama kali kita bertemu," kata James tersenyum.
" kabur...! memangnya aku bisa kabur dari kapal seperti ini hah, bisa kabur pun hanya dengan cara berenang aku bisa melarikan diri, kamu pikir aku gila kabur dari kapal ini dan rela berenang seperti itu, yang ada bukannya selamat malah mati di makan hiu aku nanti," ucap Emily panjang lebar dan itu membuat James tersenyum..
" kalo begitu tetaplah di sini," kata James lagi.
" kamu pikir aku punya pilihan lain selain ini," kata Emily kesal.
" baiklah,kau boleh makan di luar, tapi ingat kau harus kembali lagi ketika kau sudah selesai makan, apa kau mengerti Emi,," ucap James tegas.
Emily hanya mengangguk.
" baiklah... selagi kau makan, aku akan kembali tidur," ucap James pelan, Emily hanya mengangguk dan meninggalakan James yang masih mengantuk.
Emily pun menyusuri lorong dan beberapa kabin di sana, ia pun menemukan di mana letak dapur di dalam kapal ini.
" loh non, non kok malah keluar dari kamar," tanya Sakira saat melihat Emily berada di dapur kapal itu.
" aku lapar," ucap Emily pelan.
" tidak usah, lagi pula tuan gila mu itu juga sudah mengijinkan aku untuk keluar makan," kata Emily langsung menutup mulutnya karena ia menyebut om nya tuan gila di depan pelayannya.
" maaf," ucap Emily lagi.
" tidak apa apa," ucap pelayan itu tersenyum mengerti.
" non duduk saja dulu, nanti saya siapkan makanan untuk non," kata Sakira lagi dan Emily pun duduk di meja makan menunggu Sakira menyiapkan makan untuknya.
" kenapa kau senyum senyum seperti itu," tanya Emily aneh karena melihat Sakira selalu tersenyum.
" aneh saja, baru kali ini saya mendengar seorang kekasih mengatakan gila pada kekasihnya," ucap Sakira tersenyum.
" kau...kau salah paham, aku bukan kekasih laki laki gila itu," kata Emily kesal.
" benarkah, aku pikir non ini kekasihnya tuan, karena baru kali ini tuan membawa seorang gadis berpergian," kata Sakira lagi.
" kau salah paham, aku ini bukan kekasihnya, aku ini tawanannya," kata Emily lagi dengan nada kesal.
" kau lihat sendiri kan dia membawaku bagaimana, dengan cara di culik, apa itu di sebut kekasih jika ia menculik seorang gadis," kata Emily lagi.
" saya tau tuan membawa nona dengan cara salah, tapi menurut saya, tuan sangat menyukai non," kata sakira lagi.
" menyukai... heh, yang ada dia itu hanya menyukai tubuhku saja," kata Emily dengan polos nya,
__ADS_1
" dia bilang dia sudah punya kekasih, dan bilang padaku namanya Regan," kata Emily kesal.
" Regan, ah maksudnya nona Regina," tanya Sakira yang ternyata tau segalanya.
( Regina, jadi namanya Regina,) pikir Emily pelan.
" Regina, kau tau siapa wanita itu," tanya Emily menelisik.
" saya sedikit mengetahuinya non," kata pelayan itu lagi.
" lalu kemana wanita itu, apa dia menolaknya," tanya Emily semakin penasaran.
" yang saya dengar katanya nona yang di cintai tuan telah meninggal 18 tahun yang lalu," kata pelayan itu lagi.
" apa...jadi wanita itu telah meninggal," kata Emily tak percaya.
" iya non, dan yang saya tau, wanita yang di cintai tuan itu, kakaknya sendiri, begitulah yang saya tau," kata pelayan itu lagi.
" apa... kakaknya sendiri," ucap Emily terkejut.
( jadi selama ini, om menyukai bunda,) batin Emily sedikit sakit mendengarnya.
( pantas saja... wajahku kan sangat mirip bunda,) batin Emily lagi.
( jadi karana itu, dia ingin bersamaku,) dalam hati Emily sedih.
" iya... tapi bukan kakak kandung, non Regina adalah kakak angkatnya tuan James, non," kata Sakira yang aneh melihat wajah Emily yang terlihat pucat menyalah artikan raut wajah Emily.
" apa nona cemburu," tanya Sakira pelan.
" tidak...aku tidak cemburu," kata Emily lirih.
DI TEMPAT LAIN....
" berapa lama lagi kita menemukannya," tanya Jhonatan pada anak buahnya yang manjadi mata mata sejak lama bersamanya.
" sebentar lagi tuan, saya harap kita secepatnya melihat kapal yang di tumpangi nona Emily," kata anak buah Jhonatan lagi..
" kita sudah satu hari satu malam di lautan ini, namun kapal sialan yang membawa keponakanku tak terlihat juga," kata Jhonatan.
" sabarlah kak, mungkin kapal sialan itu sudah menuju setengah perjalanan nya," kata Jordan lagi.
" aku hanya takut terjadi apa apa pada Emi, Jo," kata Jhonatan lirih.
" jika terjadi apa apa padanya, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri," kata Jhonatan lagi.
" kak...bukan hanya kau yang mencemaskan Emi, kami juga sama sepertimu mencemaskannya," kata Jacky pelan.
" akan ku pastikan penculik itu mati jika menyakiti Emi," kata Jhonatan marah.
__ADS_1